
“KAU NAIK TIGA TINGKAT SEKALIGUS!??”
Arya tersedak makan siangnya sendiri akibat kedatangan Ryan, Turin, dan Qibo yang berteriak tiba – tiba. Sembari mencari air minum ia mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan mereka barusan, ketiganya melongo tak percaya.
Sebenarnya tiga orang ini sengaja berangkat terlebih dahulu menuju sekolah demi menyaksikan hasil ujian, meninggalkan Arya menambah waktu tidur sebentar seorang diri di rumah. Namun sesampainya, fakta tersebut menampar wajah masing – masing pemuda tersebut.
Turin bersama Qibo berhasil mencapai bintang lima sehingga telah memenuhi syarat berpartisipasi, sementara Ryan cuma naik satu tingkat ke Witch bintang dua. Kenyataan pahit kalau dirinya pernah menceramahi Arya karena memilih Necromancer sekarang malah berbalik.
“SIAL....!!!” desis si anak berambut merah sambil membolak – balik buku pelajaran.
“Kau kenapa? Sebaiknya tenangkan dirimu jika tak ingin dikeluarkan dari sini” Arya meliriknya heran, tau sebentar lagi petugas perpustakaan akan datang menghampiri.
Arya sendiri cukup terkejut, bukan disebabkan oleh lompatan tingkatan yang dilakukannya. Kalau mengenai hal itu Brevil sudah memberitahukan terlebih dahulu, tetapi melainkan informasi ada orang lain naik jauh lebih tinggi lagi.
Friska Lullaby, gadis misterius pencapai angka 10.000 pada tes pengukuran sihir dulu. Arya sempat beberapa kali satu kelas dengannya, namun belum sempat berbicara. Walaupun tanpa disengaja terkadang mata mereka saling bertemu seolah sama – sama tertarik.
Selain kegiatan pokok di sekolah, Arya juga belajar sihir sendirian sampai larut malam. Terutama isi pada kristal hitam yang sempat dikiranya sebagai gigi buaya waktu itu, kerumitan kandungan materinya membuat kepala bekunang – kunang. Tapi meningkatkan semangat Arya sebab ini berhubungan erat dengan Class Necromancer.
------><------
“Ahh....ketemu!”
GRAB!
“Eh? Ugh!!!....”
Arya berusaha menarik buku bersampul kulit tebal pada rak perpustakaan, anehnya benda tersebut tak bergeming sedikitpun seolah terhimpit di sana. Kesal, dia menambahkan tenaga lebih kuat dan menyebabkan buku – buku lain terjatuh.
“Bella?”
“Tuan White tolong jangan panggil aku dengan nama depan, kita tidak seakrab itu”
Perempuan beraksesoris penutup mata berada di sisi lain rak, tangannya juga melekat ke buku yang sama. Urat saraf kesal muncul perlahan pada pelipis Arya, akhirnya dia tau alasan mengapa benda ini tidak mau bergerak.
“Baiklah Nona Creighton, maafkan ketidaksopananku. Tapi bisakah kau melepaskannya?”
“Kenapa bukan kau saja? Akulah yang menemukannya lebih dulu”
“Hah?”
Keduanya mulai berdebat, menggunakan suara kian makin tinggi. Menyebabkan keributan sehingga petugas perpustakaan harus datang dan melerai mereka, masalahnya adalah buku tersebut hanya tinggal satu saja. Sisanya sedang dipinjam oleh orang lain.
“Kemarikan, nanti kuserahkan ketika tugasku sudah selesai” bisik Arya menyodorkan tangan.
__ADS_1
“Enak saja. Aku pun membutuhkannya untuk mengerjakan tugas” Bella mendekap sang buku tidak mau kalah.
“Argh!!!”
Bella Creighton, gadis penyihir eksentrik yang terkadang secara kebetulan punya minat sama dengan Arya. Dia merupakan Witch Class Exorcist bintang tiga, baru saja mengalami kenaikan minggu lalu. Karena pada dasarnya mereka berdua ada di satu angkatan berbarengan Ryan, Hanna, Fibetha, dan Friska.
Hubungan antara Arya dengan Bella cukup unik, walau jelas – jelas memiliki Class bertolak belakang. Namun tugas – tugas keduanya selalu berkaitan, apalagi sewaktu Bella resmi menjadi pengurus perpustakaan Divina Academy.
Frekuensi pertemuan mereka bertambah, petugas perpustakaan lagi – lagi mendatangi pria dan wanita keras kepala ini. Jika dibiarkan saja, hanya akan mengganggu pengunjung lain. Begitulah kenapa sekarang ia berakhir berbagi buku bersama.
“Peluang menggunakan....Undead sesaat setelah......”
“Hei? Menurutmu bagaimana cara menyelesaikan pertanyaan begini?” Bella mencolek lengannya.
“Hmm? Ahh....gampang, kau cuma perlu menggabungkan tanduk Grizileon dengan sisik Lecaiver kemudian—tunggu sebentar! Kenapa kau malah bertanya pada seorang Necromancer?! Dasar Exorcist dungu!”
------><------
Suatu hari begitu pelajaran privatnya selesai, Arya meminta tolong kepada Arietta Brevil untuk memberinya izin pinjaman barang ke gudang sekolah. Tentu saja wanita itu langsung menanyakan alasan Arya mau melakukannya.
“Kau ingin belajar mengendarai sapu?”
“Huum, apa kedengarnya aneh?” gumam Arya menggaruk – garuk kepala malu.
“Ahahaha....aku jarang bermain di luar rumah sih....”
“Heeh....memang keluarga bangsawan rupanya, ini. Namun jangan sampai lupa mengembalikan barang pinjamanmu ya”
“Siap! Terima kasih Profesor”
Arya menerima secarik kertas bertuliskan tinta hitam sepanjang masa, cairan ajaib yang tidak bisa hilang kecuali pemiliknya menarik kekuatan sihir dari sana. Tanda tangan Arietta Brevil tertera jelas, membuat penjaga gudang tak berpikir lama membiarkan Arya lewat.
Ruang penyimpanan Divina Academy berupa area sangat luas nan besar, banyak sekali benda – benda sihir berbagai macam memenuhi tempat itu. Susunan rapi dan teratur membuat orang lebih enak memandang juga mudah menemukan barang yang dia cari.
Setibanya di bagian sapu sihir, Arya membaca nama – nama mereka dengan raut wajah serius. Bingung harus memilih apa.
“Sayap Elang?.... Angin Selatan?..... Mentari Pagi?.....Awan Emas?....eh? tunggu dulu! Bukankah tadi dari Anime Dragon Ba—ahh....lupakan....”
Menghabiskan waktu cukup banyak, Arya akhirnya memilih Desiran Rumput sebagai tunggangannya. Selesai melapor tuk mencatat data peminjam dan lain – lain, ia bergegas menuju lapangan sekolah. Salah satu petugas mendatangi bagian arsip.
“Anak tadi meminjam apa?”
__ADS_1
“Hmm? Eee....sapu terbang Desiran Rumput....” jawab temannya malas.
“Ohh....syukurlah, jika mau belajar memang lebih bai—hah?”
“Kenapa?”
“Anu....bukannya seluruh persediaan Desiran Rumput telah digantikan seri terbaru?”
“Ahh....kau benar, disini ada catatan tentang itu. Kalau tidak salah namanya....Topan Abadi....sepertinya ada orang iseng yang sengaja merubahnya”
“Gawat....” mereka berpandangan dengan wajah pucat.
------><------
“WOAAA!!! DESIRAN RUMPUT MATAMU!!!”
Arya berteriak memegang sekuat tenaga sapu terbangnya, benda sihir tersebut terbang kencang secara vertikal. Beberapa menit lalu, ada seorang anak laki – laki berambut putih polos. Naik ke atas sebuah benda asing lalu megucapkan mantra.
“Cian!”
Dan sosoknya tak terlihat lagi, si sapu gila membawa dirinya menemus ketinggian puluhan meter dalam sekejap mata.
“Stop! Stop! Stop! Aku tak mau mati konyol begini!?”
Akhirnya setelah berjuang keras, ia berhasil membelokan arah ujung sapu terkutuk itu. Namun sekarang malah menukik mengerikan, sekali lagi Arya menariknya agar terbang secara normal. Baru saja merasa lega karena berhasil.
Tiba – tiba muncul orang lain sewaktu dirinya mendekati kota sehingga tabrakan tidak bisa terhindarkan, Arya bersama sang pengendara satunya lagi terjatuh ke sebuah bangunan terlantar berlantai tiga.
“Aww....!? Lain kali tolong beri nama sesuai pada produk kalian dasar sial!” umpat Arya.
“Moo....kepalaku....”
“Kau tidak apa – apa? Maaf ya, aku sedang belajar terbang tapi malah membuatmu hampir celaka“
“Hmm....tenang saja, aku juga kurang sigap barusan—Eh? Arya White?”
“Heeh? Kau mengenalku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Gadis itu tertawa dan menjawab tentu belum, dia tau Arya karena menonton pertandinganya melawan Hanna juga Merlin. Setelah berbincang – bincang sebentar, Arya tau kalau perempuan ini bernama Laura Roseberg. Seorang Shaman bintang 6.
“Kau berasal dari angkatan di atasku?” tanya Arya heran.
“Benar sekali, kalau kau tak keberatan. Lain kali kala senggang, maukah kau berkencan denganku?” Laura tersenyum manis.
__ADS_1
“Hah?