Elementalist

Elementalist
Chapter 63 - Sinkronisasi


__ADS_3

“Tahan....tahan....sedikit lagi”


“Ugh....ayo....”


SPLASH!


“Baiklah sekali lagi”


“Hah....hah....hah siap!”


SYUU!


Arya dan Selena terduduk di tanah dengan keringat bercucuran, entah sudah berapa kali mereka mencoba. Arya berhenti menghitung ketika menyentuh angka dua ratus, ternyata melakukan serangan kombinasi tidak semudah yang keduanya kira.


Hal ini dimulai ketika hari pertama persiapan ujian, Arya berencana melatih serangan kombinasi air dan es namun malah berakhir dengan tubuh basah kuyup kurang dari sepuluh menit setelah mulai berlatih.


Astral kemudian menjelaskan kepada mereka semua tentang sinkronisasi, dalam melakukan serangan kombinasi. Dibutuhkan sebuah keahlian khusus, terutama penggabungan kekuatan elemen seperti yang hendak Arya dan Selena lakukan.


Kemampuan ini haruslah dimiliki oleh kedua belah pihak agar berfungs dengani baik, karena jika tidak. Hanya akan membuat kekuatan elemen bertubrukan satu sama lainnya. Dan mereka telah membuktikan hal tersebut.


Misalkan waktu Arya ingin menambah daya serang teknik air milik Selena, dia malah menghambatnya karena teknik itu mengalami pembekuan terlebih dahulu sehingga hasilnya tidak mengenai sasaran.


Selena juga sama, saat dia ingin menambah jumlah air untuk dibekukan Arya. Bukannya membantu, ia hanya menambah penderitaan Arya karena harus mengganti baju sepuluh kali setiap harinya.


“Apa yang salah ya?” gerutu Arya pelan.


“Mungkin kita melewatkan sesuatu”


“Bisa saja karena kita tidak saling mengenal karakteristik satu sama lain dengan baik”


“Itu dia!” Selena menjentikan jarinya.


“Mmm....kalau begitu....aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi”


“Eh?!....itu....agak....”


Arya memiringkan kepala melihat respon terkesiap Selena, dia lupa kalau di ruang latihan kala itu bukan hanya ada mereka berdua saja. Ia tersadar saat punggungnya mulai merasakan tatapan tajam dari berbagai arah, kemudian dengan cepat mengusulkan apa yang terbersit dipikirannya.


“Kalau begitu lebih baik kita saling bertukar informasi tentang diri masing – masing saja, tuliskan beberapa hal mengenai dirimu dan berikan padaku. Aku juga akan melakukan hal yang sama, bagaimana?”


“Aku tidak keberatan sih” Selena menyanggupi.


“Sepakat, kita coba lagi. Selena kau punya zodiak apa?”


“Mmm....Libra kurasa”


“Oktober ya, aku Aquarius. Ingatlah baik – baik”


Kemudian Arya meminta Selena untuk menyerang target boneka kayu dihadapan mereka, walau tidak mengerti. Gadis itu mengikuti perintah Arya tanpa bertanya lebih jauh, sebuah anak panah yang terbentuk dari gumpalan – gumpalan air melesat diudara.


Arya berusaha mengalirkan elemen es miliknya pada anak panah itu dengan hati – hati sambil mengingat – ingat informasi dari Selena, tanpa terduga. Serangan tersebut bertambah cepat lalu menembus targetnya dan menancap beberapa senti dari tempat Timothy berdiri.


“Waa!? Kapten?! Selena! Sebenarnya kalian punya dendam apa padaku hah?!”

__ADS_1


Mata Arya dan Selena melebar setelah melihat panah es yang hampir membunuh teman menyebalkan mereka itu, terlebih lagi boneka kayu mengalami pembekuan hebat akibat terkena serangan tadi.


“Berhasil” seru keduanya kegirangan sambil saling menatap sama lain.


Mereka berdua terus bertukar informasi – informasi pribadi agar bisa saling mengenal dan menyinkronkan diri satu sama lainnya sebisa mungkin sebelum ujian yang semakin mendekat dimulai.


------<<>>------


Arya memejamkan mata sambil memegang Mandalika dengan posisi melintang dihadapannya, berusaha perlahan menarik napas secara teratur untuk menenangkan diri.


“Mandalika” panggilnya sebelum membuka mata.


Pedang itu mengeluarkan cahaya dingin dan berubah ke bentuk aslinya, Arya memainkan Elemental Weapon tersebut dengan lihai disekitar tubuh kemudian tersenyum.


“Kau siap? Kita lakukan seperti biasa”


“Ayah? Apa ini tidak terlalu berlebihan? Kau bisa sakit kalau begini terus” celetuk Efbi.


“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, namun aku punya firasat harus menguasai tarian ketiga sebelum ujian dimulai” sahut Arya berusaha menenangkan.


Memang saat ini sudah sangat larut, para Elementalist lain mungkin sedang berselancar dialam mimpi masing – masing. Sedangkan Arya sendiri malah menyelinap ke ruang latihan bersama kedua atribut miliknya.


“Kak Mandalika katakan sesuatu!” Efbi merengek minta pertolongan.


“Kita tidak bisa mengubah keputusan Tuan, percayalah” timpal Mandalika tertawa geli.


“Kalian ini—“


“Tidak apa – apa Efbi, aku juga tau batas stamina milikku. Ayo Mandalika!”


Setelah sampai diujung ia akan kembali dan melakukan hal yang sama terus menerus, gerakannya semakin cepat sehingga membuat ruang latihan dipenuhi suara tebasan bilah pedang bertemu kayu.


Keesokan harinya Timothy yang hendak berlatih menggerutu kesal karena menemukan lima boneka kayu koyak menghiasi ruang latihan.


“Sebenarnya para Pengawas melakukan apa sih saat malam hari?”


------<<>>------


Tanpa terasa akhirnya hari keberangkatan menuju Dragon Island sudah tiba, semuanya sedang menyiapkan peralatan masing – masing. Arya berusaha mengencangkan ikatan pelindung tangan miliknya dengan gigi tapi selalu terlepas.


“Sini aku pasangkan” tawar Selena.


Gadis itu mendekat kemudian membantu Arya mengenakan perlengkapan sambil bersenandung pelan, Arya ingin mengingatkan Selena kalau ini bisa membuat orang lain salah paham namun ia belum menemukan waktu yang tepat.


“Eee....Selena?”


“Hmm?”


“Aku tidak tau bagaimana denganmu tapi....kita terlalu mencuri banyak perhatian disini” bisik Arya.


“Eh? Ah! Maaf!” Selena segera menjauh.


Keduanya malah menjadi salah tingkah sendiri akibat kejadian barusan, para Elementalist pria sebenarnya tidak terlalu perduli. Berbanding terbalik dengan mereka, suasana hati gadis – gadis Elementalist menurun drastis.

__ADS_1


“Mencurigakan” mata Lexa semakin menyipit.


“Rena? Oi Rena? Apa kau mendengarku?


“Bisakah kau diam sebentar Timothy?” Rena balik mendelik ke arahnya dan membuat wajah si Elementalist besi langsung memucat.


“Kau terlihat kesal, pfft?!” goda Kevin.


“Berisik!” Elizabeth balas membentak dengan Morning Star terangkat.


“Asuna? Tolong....disini jadi sedikit panas” tulisan pasir milik Ali muncul dihadapan gadis yang rambut hitamnya mlai terangkat ke udara.


Pengawas Astral muncul diwaktu – waktu genting dan berhasil mengendalikan situasi, dia membawa mereka semua ke salah satu gedung tertinggi Elemental City. Babel Tower, gedung ini berada di Distrik Emas serta berfungsi sebagai hotel bintang lima.


Banyak orang – orang penting yang telah menginap untuk melepas penat disana, setibanya diatap Babel Tower. Ada sesosok pria berambut hitam dengan mata aneh meyambut mereka.



“Salam pada Tuan dan Nona, aku Glacirus Novis Occulus siap mengantar kalian” dia berlutut memberi hormat.


“Kau keberatan kalau dipanggil Novis saja? Namamu agak terlalu panjang untuk kami” Arya menggaruk kepala.


“Tidak sama sekali Tuan” balas Novis sambil tersenyum.


“Kau seekor naga?” ujar Timothy keheranan.


“Benar, tapi secara teknis. Sedang berada diwujud manusia”


“Kalian punya kemampuan seperti ini juga?” kekaguman terihat jelas diwajah Selena.


“Masih banyak lagi yang belum kalian ketahui, kemarilah. Kita akan segera berangkat”


Mereka bersepuluh berkumpul didepan Novis, Astral memberitahukan akan menyusul mereka sebelum ujian dimulai. Si naga berwujud manusia menyarankan agar tidak saling terpisah, Arya dan Zayn segera mengeluarkan benang kemudian mengikatkannya pada semua.


Sesaat setelah mereka memberikan sinyal siap, sepasang sayap hitam raksasa muncul dari balik punggung Novis. Hanya dengan sekali kepakan, mereka langsung melesat dengan kecepatan sangat tinggi ke angkasa.


Zayn, Kevin, Timothy, Ali, Asuna, Elizabeth, dan Selena berteriak sekuat tenaga saking terkejutnya.


“Jangan terbang lagi” rengek Rena lemah.


“Wohoo!!!” Lexa tertawa kegirangan.


Tubuh manusia Novis sudah digantikan wujud seekor naga raksasa berwarna hitam kombinasi biru dengan tanduk tajam menghiasi kepalanya.



“Semuanya merapat pada tubuh Novis!” perintah Arya.


Sesuai komando Arya, mereka semua segera mendekat kemudian berpegangan pada bagian tubuh sang naga. Novis menambah lajunya sebelum akhirnya menembakan sinar bewarna kebiruan dari mulut.


Serangan tersebut membuka portal baru di langit yang segera mereka masuki tanpa pernah tau tempat seperti apa telah menunggu diujung lubang dimensi tersebut.


Author Note :

__ADS_1


Untuk yang nanya jadwal update, belum ada kepastian. Karena kontrak saya belum diterima Mangatoon, jadinya saya pun gk punya target update tertentu. Dan masih ada juga preview, sehingga chapter baru tidak bisa langsung keluar sesuai keinginan author. Mohon pengertiannya :3, untuk itu banyakin like biar cerita ini dilirik sama mereka lol :v Bye! See you!


__ADS_2