Elementalist

Elementalist
Chapter 252 - Ichiban no Takaramono


__ADS_3

Fajar perlahan menyingsing dibalik tembok – tembok kokoh nan tinggi Elemental City, Louis perlahan membuka matanya ketika cahaya kemerahan menyelinap masuk ke dalam tendanya. Ia menghela napas panjang sebelum bangkit berdiri.


“Seharusnya aku tau tidak akan semudah itu orang – orang menyerahkan mereka bersepuluh....”


“Ketua?” panggil suara dari luar.


“Aku mengerti, waktunya telah tiba....”


Louis segera berjalan keluar kemudian menemukan Mira dan James sudah menantinya, mereka langsung mengekor seperti pengawal untuk ikut serta menuju lokasi para pemimpin ras lain. Meskipun masih sangat pagi, seluruh pasukan nampak segar bugar penuh antusias mengingat cukup lama sejak terakhir terjadinya perang dalam skala sebesar ini.


Sembari mengamati sekitar Louis menanyakan tentang penduduk – penduduk Elemental City yang menyatakan tunduk padanya, Mira mengabarkan kalau semuanya ditempatkan dekat hunian Vanguard agar aman serta tak perlu takut mendapat gangguan.


Louis mengangguk puas, malam sebelumnya dia sangat jengkel sebab Stickman memohon – mohon bertemu dengannya namun tanpa basa – basi ditolaknya karena berpikir buat apa mendengar omong kosong pria itu. Louis punya firasat laki – laki menyedihkan tersebut hanya takut membayangkan nasipnya jika sampai Fatum kalah, yang menurut pendapat Louis kemungkinannya mendekati angka satu persen saja.


“Tidurmu nyenyak?” Kris menyapa sambil tersenyum licik melihat kedatangan mereka.


“Bukan urusanmu....”


“Hehehe....dingin sekali.....”


“Para Necromancer terbaik ras Witch telah siap” celetuk Merlin datar.


“Orang – orang kami juga....” Garyu menimpali.


“Mmmm....karena jumlah Elf terbatas, kuharap kalian mengerti keputusan – keputusanku nanti mungkin agak menyebalkan.....” tambah Orion menundukan badan sebentar.


“Bagus, ada kabar dari pasukan pengintai?”


James menyentuh alat komunikasi pada telinganya menunggu laporan, beberapa saat kemudian terlihat ekspresi terkejut sekilas menghiasi wajahnya lalu akhirnya ia berkata, “Eeee....Boss? Kupikir kau harus dengar yang satu ini.....”.


“Siapa pelapornya?”


“Hayha....”


“Informasinya?”


“Sepuluh Elementalist sudah mengambil posisi diatas dinding Perunggu....”


Mendengar kabar tadi ternyata bukan cuma James bereaksi demikian, masing – masing Louis, Kris, Garyu, Merlin, maupun Orion tersentak. Mereka tidak berencana menyerahkan diri, lalu maksudnya apa? Meremehkan kita dengan santainya berdiri mengisi lini paling depan?.


“Hahaha menarik sekali....” Orion tertawa puas.


“Kirimkan serangan gelombang pertama, aku ingin lihat bagaimana cara bocah – bocah itu mengatasinya.....” perintah Louis jelas sekali tidak senang akan berita barusan.

__ADS_1


------><------


“Eeee....kenapa suasana jadi canggung sekali....?” ujar Arya melirik ke sebelah kiri maupun kanan.


Sembilan Elementalist lainnya hanya terdiam tanpa merespon sedikitpun, semuanya bermula sejak berakhirnya upacara sihir Sumpah Hidup-Mati. Entah mengapa masing – masing bersikap lesu dan kurang bersemangat, terlebih mereka seperti sepakat mengabaikan dirinya bahkan ketika rapat tadi malam.


“Oh....ayolah teman – teman!? Aku belum mati! Hey!?”


“Tapi kau berencana melakukannya....” Rena bergumam.


“Tentu saja tidak! Siapa orang bodoh yang merencanakan kematiannya sendiri?!”


“Kau....” jawab anak – anak lain serempak.


Arya menepuk jidatnya frustrasi, usai memijit – mijit kepalanya sebentar dia menarik napas dalam – dalam mencari kata – kata tepat untuk diucapkan. Cahaya mentari pembawa kehidupan menyelimuti pemandangan indah dihadapannya menghipnotis Arya sebentar, “Aku cuma mau membuat jaminan kawan – kawan, jadi semisal aku tewas di perang ini masih ada kalian nantinya lanjut melindungi umat Manusia. Tak bisakah kalian mengerti hal sesederhana itu?!”.


“Tidak....”


“Astaga.....ya Tuhan....”


“Mengapa kau selalu menempatkan diri sebagai orang yang berkorban? Menjauhlah! Pergi! Lari! Berjuanglah demi hidupmu!” Asuna menggertakan gigi enggan menatap sang Ketua.


“Lalu meninggalkan kalian mati di sini? Jangan bercanda Hime-sama....”


“Hah?! Kenapa sampai sebegitunya? Memangnya apa arti kami semua bagimu....?”


Mendengar ucapan tersebut mata Asuna melebar, ia mengepalkan kuat – kuat tanganya sampai mengeluarkan darah. Para Elementalist lain yang tidak mengerti makna perkataan Arya cukup dengan melihat respon Asuna dapat memahami kalau sepertinya kalimat tadi sangat berharga.


Kesunyian sekali lagi menyelubungi puncak tembok perunggu, udara segar pagi hari seolah mencoba membuat mereka melupakan lautan musuh di kejauhan. Supaya mencairkan suasana, akhirnya Timothy berdeham pelan kemudian menunjukkan sebuah pertanyaan kepada Arya.


“Ehem – ehem!? Kapten? Karena ini mungkin bisa menjadi kesempatan terakhir, kupikir sekarang adalah waktu tepat untuk menanyakannya....”


“Hemm? Ada apa? Katakan saja tak perlu basa – basi....”


“Begini....”


Inti pembicaraan berikutnya cukup menarik perhatian bahkan bagi Asuna yang tidak mau menoleh, hampir semua memasang telinga baik – baik sebab Timothy membawa topik diluar dugaan dalam kondisi kurang mendukung.


“Kalau kita berhasil selamat terus tumbuh dewasa, lalu kau harus memilih. Kira – kira diantara kenalanmu siapakah calon istri paling ideal menurutmu?”


“Umm....pertanyaanmu sedikit unik, menikah ya? Aku belum kepikiran sih tetapi mungkin aku akan me—“


SYUU!? SLASH!? JDUAR!?

__ADS_1


Tembakan sinar cahaya jingga menerjang cepat dari barisan pasukan lawan, Arya gagal menyelesaikan kalimatnya demi menahan serangan barusan menggunakan Mandalika. Bilah pedang dua warna itu langsung membelokan arah sihir dahsyat tersebut ke angkasa sementara tubuh si pemilik terdorong mundur beberapa meter.


“Baiklah, tindakan barusan bukanlah cara menyapa kawan lama favoritku namun ya....terima kasih Merlin....” gumam Arya masih memegang senjatanya yang mengeluarkan asap, nun jauh dia dapat melihat perempuan pembawa payung berdecak kesal targetnya mampu menepis jurusnya.


“Nampaknya belum selesai Kapten, kupikir itu hanya aba – aba menyerang.....” Kevin menyeletuk.


Benar saja layaknya kerumunan semut pasukan Fatum mulai menyerang, gabungan banyak jenis Demon dengan kuantitas luar biasa contohnya Goblin, Zombie, Werewolfl, Gorgon, dan lain – lain menyerbu.


Werebeast asal tiga faksi yaitu darat, laut, maupun udara tidak mau ketinggalan. Mereka mengeluarkan teriakan perang sambil sebagian meniupkan alat mirip sangkakala yang entah terbuat dari bahan apa, kumpulan Mutant hasil penelitian Louis ikut serta menyusul.


Terarkhir juga paling mendominasi adalah para Witch tingkat tinggi asal akademi Death Gates yang menghasilkan gelombang Undead tak terhitung jumlahnya dalam berbagai rupa, jujur saja melihat penampakan dihadapan mereka sekarang bahkan Manusia paling berani di dunia sekalipun pasti gentar dibuatnya.



“Bisakah salah satu dari kalian menghitung jumlahnya untukku?”


“Seribu? Bisa lebih namun mustahil kurang....” jawab Ali hati – hati.


“Aku berharap kau sedikit berbohong Ali demi semangat juang kita tapi....lupakan”


“Maaf”


“Selanjut—“


BRRRR.....!?


Arya bersama empat Elementalist laki – laki tersisa terkejut lalu mundur sedikit karena Agnet deras memancar dari lima anak perempuan dekat mereka, masing – masing melotot penuh napsu membunuh ke tempat Orange Witch sebelumnya berada.


“BERANI SEKALI WANITA BRENGSEK ITU MENGANGGU ORANG KETIKA BICARA.....!? AKAN KUHABISI DIA MENGGUNAKAN TANGANKU SENDIRI!!!”


“O....ke? Kupikir aku tidak perlu mengkhawatirkan tekad bertarung kalian....” Arya bicara pelan masih mencoba menjaga jarak.


“Eeee....Kapten? Menurutku alasan sikap mereka tak sama dengan yang kau pikirkan deh” bisik Timohty menggaruk – garuk kepalanya.


“Hah? Lalu—ah....sudahlah. Ayo kita lakukan bersama – sama.....siap?”


“YA!?”


“MASTER....!!!”


Seketika badan Kesepuluh Elementalist mengeluarkan cahaya menyilaukan, perlahan sosok – sosok agak transparan berukuran besar mulai muncul di atas kepala masing – masing. Mereka menghentakkan kaki secara serentak kemudian tanpa aba – aba puluhan golem berbagai elemen hadir melindungi tembok Perunggu dan bersiap menahan gempuran gelombang pertama.


__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2