
Timothy terhuyung mundur sambil memegangi bagian depan tubuhnya, sebuah bekas tebasan panjang berlumur darah terlihat dari pundak kiri hingga pinggang kanannya. Blokhin membersihkan bercak cairan merah pada kapaknya dan memanggulnya kembali, matanya berfokus ke depan dimana Timothy berkonsentrasi menghentikan pendarahannya.
“Kenapa....?”
“Kau tidak bisa mengendalikan senjataku? Sederhana....” Blokhin perlahan melepaskan kain penutup kehitaman sekitar lengannya.
Ternyata tempat harusnya ada gagang kayu untuk pegangan mata kapak terdapat susunan tulang putih bersih, bukan hanya itu. Bahkan bagian tajamnya benda tajam tersebut juga terbuat atas kerangka manusia pipih nan tajam.
“Keparat ini....” geram Timothy murka.
“Sudah sadar akan identitasku? Aku adalah seorang algojo yang membuat kesenian memanfaatkan bekas anggota badan para korbanku, makanya kau tak mampu mengendalikannya seperti besi – besi milik prajurit Caesar sebelumnya.....”
Perasaan Timothy campur aduk, muncul keinginan besar dalam hatinya supaya maju menerjang namun akal sehatnya menahan. Cara frontal demikian sulit berhasil apalagi lawannya sangat berpengalaman serta kuat, ditengah – tengah kondisi darurat otaknya terus berkerja mencari jalan keluar.
‘Ayo berpikirlah....apa yang akan dikatakan Kapten jika berada pada situasi begini?....’
Blokhin nampak mulai bosan karena Timothy masih berdiam diri, dia menurunkan kapaknya dari pundak dan melangkah ringan, barulah percikan ide terlintas dalam benak Timothy seolah kabel penghubung sel – selnya akhirnya menyatu.
Cuma sepersekian detik Timothy melakukan persiapan, saat Blokhin tiba dihadapannya lalu mengangkat senjata hendak memenggal leher Timothy. Sebuah perisai keperakan melayang melengkung mengincar tengkuk Blokhin, tetapi serangan kejutan itu gagal akibat respon kilat pria tersebut.
“Kau pikir permainan bumerang anak – anak dapat mengela—“
BRUAKH....!!!
Suara keras batu dipukul mencuri perhatian Blokhin, ternyata selesai menangkap Ladon Timothy segera menjaga jarak terus menghantam kuat – kuat tebing tempat keduanya berada dengan tangan besi miliknya.
“Sial!?—“
Perbuatan Timothy barusan sukses mengakibatkan pijakan Blokhin menghilang sebab muncul celah cukup besar dibawah kakinya, ia hampir jatuh dari ketinggian luar biasa kalau tidak sempat mengaitkan kapaknya diantara kedua sisi pecahan tebing.
“Hah....hah....hah.....”
“Bocah tak tau diuntung!? Tunggu saja kau!?”
Timothy berusaha mengatur napas, semua berjalan sesuai rencanya. Hanya tinggal memberikan sentuhan akhir dan berdoa semoga hasilnya maksimal, Blokhin tengah meronta – ronta tuk mencoba keluar dari posisi terdesaknya namun ukuran tubuh, senjata, serta lubangnya terlalu pas alias sempit sehingga sulit digerakkan.
“Jangan kira kau bisa mengalahkanku semudah ini....”
“Silver Virus....”
“Ap—“ Blokhin tersedak air liurnya sendiri ketika seluruh tebing di kiri maupun kananya berubah menjadi keras layaknya metal.
__ADS_1
“Arrivederci Signore.....HYYAAAA....!? Performance dei Piatti!!!”
BANGGGG...!!!
Timothy mencengkram kuat permukaan tebing, otot – ototnya mulai menegang menandakan betapa keras usahanya. Dan akhirnya dengan satu hentakan kuat dia menyatukan kembali celah tersebut, menghancurkan kapak tulang terkutuk bersama penggunanya menjadi bubur.
“Satu tumbang....” bisik Timothy tepat sebelum pingsan.
------><------
“Woaaa...!? Tujuh ratus dua puluh sembilan dikalikan empat ratus enam puluh satu sama dengan—adududuh......”
“Hei? Rileks, kau kehilangan banyak darah......” suara berat mengakibatkannya menoleh.
Pandangan Timothy awalnya masih agak kabur, setelah mencoba menfokuskan diri sekitar satu menit barulah penampakan Julius Caesar tengah duduk memperhatikan terlihat jelas. Pria tua itu berada diatas sebuah batu sembari bertopang dagu.
Timothy memeriksa luka sayatan pada bagian depan badannya yang ternayata sudah mengering akibat bantuan Caesar, kemudian ia memperhatikan sekitarnya secara baik – baik. Timothy berusaha mengingat – ingat kejadian beberapa saat lalu sewaktu melawan Blokhin.
Dia tidak sedang berada diatas tebing lagi sekarang melainkan dekat dengan benteng, lautan hitam sebelumnya juga nampaknya telah surut. Caesar mengamati tingkah laku si pemuda terus tertawa dan menggelengkan kepala heran.
“Kau santai sekali ya.....”
“Hmmm....? Ahhh....soalnya jika kau berniat menyerangku sejak awal seharusnya tak perlu mengobati lukaku, terima kasih. Lagi pula saat pingsan tadi kau dapat menghabisiku kapan saja tetapi kau malah menunggu sampai aku siuman.....” Timothy memaparkan analisisnya.
“Lalu? Apa tujuanmu?”
“Ludum Mortem....” kata Caesar sambil menjentikkan jari.
CTAK....!!!
Seketika pemandangan wilayah sekeliling mereka berubah total, dipenuhi kerlap – kerlip bintang angkasa. Keduanya seolah baru saja terlempar ke ujung galaksi, tapi ada suatu hal janggal mengganggu Timothy. Benda tersebut tersusun rapi dihadapannya siap dimainkan.
“Ini......papan catur raksasa.....”
“Tepat, kita akan memainkannya namun dengan peraturan khusus.....”
Caesar mulai mendeskripsikan semuanya, nyatanya permainan itu tidak lebih dari catur pada umumnya hanya saja usai para pemain menyerahkan darah mereka. Tiap kali bidak keduanya terbunuh maka dampak kerusakan bakal dialami oleh tubuh asli Timothy dan Caesar, makin tinggi pangkatnya bertambah pula rasa sakitnya. Puncak semuanya adalah ketika rajanya dibunuh maka jantung pemiliknya dipastikan hancur.
“Bagaimana? Sederhana sekali bukan?” Caesar menyeletuk.
GLEK....!?
Timothy menelan ludah berat, kalau peraturannya demikian maka masing – masing langkah harus dipikirkan secara matang. Tidak boleh asal bahkan ketika mengorbankan sesuatu, tetapi semisal beruntung dia bisa mengalahkan Caesar tanpa terluka kemudian menyusul Arya juga Kevin, lagi pula Timothy cukup percaya diri akan kemampuannya bermain catur.
__ADS_1
“Kau siap?”
“Iya....” sahut Timothy menyusul Caesar meneteskan darah kepada papan catur.
Timbul semacam koneksi antara Timothy dan para bidak berwarna hitam, seluruh gerakan diatur olehnya. Akhirnya permainan dimulai, kurang dari sepuluh langkah Timothy harus mengakui keunggulan Caesar serta menyesali keputusannya.
Ia terus terdesak, organ – organ dalam tubuhnya menjerit kesakitan. Entah sudah berapa kali Timothy memuntahkan darah segar melalui mulutnya sampai kepalanya terasa ringan, usai diberikan waktu memulihkan diri Timothy melihat hanya tersisa empat buah pion yang mengawal sang raja sedangkan milik Caesar masih lengkap.
“Cuma segini? Kau sebelumnya bilang kalau mengenalku bukan? Berarti kau mengetahui kalimat Veni, Vedi, Vici.....” Caesar menatap ke seberang santai.
“Ahhh....aku datang, aku lihat, dan aku menang.....”
Selesai membalas pertanyaan Julius Caesar lutut Timothy menghantam tanah, seluruh anggota badannya terasa berat sekali. Memaksanya untuk terlelap, saat dia memejamkan mata sosok Arya muncul entah dari mana.
‘Oi Timothy? Kau mau tau caranya agar tidak mudah terbaca?’
‘Bagaimana?’
‘Jadilah selembar kertas kosong.....’
‘Hah!? Maksudnya?’
‘Pikirkan sendiri, dunia ini kejam. Apa yang kau harapkan?’
BRUAKH!!!
Timothy berhasil menopang dirinya supaya tak jatuh, bayangan ingatan samar – samar punggung Arya pergi meninggalkan dirinya sembari bersungut – sungut menyadarkannya terhadap sesuatu. Dia bangkit lalu menarik napas dalam – dalam, mencoba mengosongkan pikiran.
Caesar menaikan sebelah alisnya, karena mengira Timothy telah mencapai batas kemampuannya. Namun prediksi Caesar meleset, ketika Timothy menatap kedepan pandangannya berubah kosong. Alur permainan berubah seratus delapan puluh derajat.
Dia berhasil mempromosikan salah satu pionnya menjadi ratu kemudian perlahan memberikan serangan balik, menghabis satu per satu bidak Caesar hingga skakmat. Perjuangan keras tersebut menyebabkan musuhnya tersenyum hangat mengakui kemampuan Timothy sebelum jantungnya pecah.
Begitu Caesar tewas sihir manipulasi ruangnya menguap, menegembalikan Timothy kepada benteng tempat mereka pertama kali bertemu. Pengelihatan Timothy terganggu akibat darah yang keluar melalui kedua bola matanya, dia berjalan lunglai sampai tiba – tiba kehilangan pijakan dan jatuh menuju jurang dekat sana. Bukannya berteriak ia malah menghela napas lega, karena akhirnya bisa beristirahat.
“Kapten? Aku berhasil menjadi selembar kertas kosong, kau cuma mau bilang jika aku ini terlalu banyak berpikir dalam melangkah bukan? Hihihi.....”
SYUUU....!!! WUSH....!!!
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1