Elementalist

Elementalist
Chapter 134 - Amira II


__ADS_3

Betapa terkejutnya Ayah beserta Ibu Amira ketika Arya datang mengantar putri mereka, keduanya cepat – cepat mengobati cedera milik dua anak tersebut. Saat ditanya kenapa bisa sampai seperti itu, Amira cuma tertawa sambil mengatakan kalau dirinya terperosok pada saat bermain di bukit.


Arya hanya mendengarkan, Amira bebas mau menyembunyikan masalah sebenarnya dari mereka. Orang tuanya sangat berterimakasih atas pertolongan Arya. Lalu menawarkan untuk menjamunya makan malam di sana.


“Maaf paman, bibi. Sebaiknya aku pulang, aku tidak ingin mere—“


“Jangan begitu! Lihat betapa kurus dirimu! Kau harus makan yang banyak malam ini”


“Tapi—“


“Berhenti keras kepala dan ikuti saja saran mereka” Amira terkikik geli sembari menahan tangannya.


Terdengar suara berisik dari lantai dua juga tangga selama dirinya menyantap hidangan pemberian orang tua Amira.


“Ahaha ia sedikit canggung jika ada orang asing mampir ke kediaman kami”


“Adikmu?”


“Huum”


Selesai menyantap hidangan Ibu Amira, serta bercengkrama sekitar setengah jam. Arya undur diri, berusaha sesopan mungkin menolak tawaran diantar pulang oleh Ayah Amira. Keluarga bahagia itu mengantarnya sampai depan pintu.


“Arya?”


“Hmm?” bocah laki – laki tersebut menoleh penasaran.


“Dah...., sampai jumpa di sekolah. Hehehe”


Tanpa disadari sebuah senyuman merekah sebelum akhirnya Arya mengangguk kemudian menghilang ke dalam kegelapan malam.


“Dia anak yang baik, Amira pintar mencari teman ya” puji Ayahnya.


“Hihihi ya dong”


------><------


Terjadi sebuah kericuhan di sekolah akibat insiden pemukulan anak kelas enam yang berlokasi pada gang kecil tengah kota. Semua orang tua para korban datang lalu meminta pertanggung jawaban Kepala Sekolah.


Jadi Aryapun dipanggil ke sana, waktu dia masuk. Tubuh seluruh bocah Sekolah Dasar tersebut menggigil hebat mengingat ancamannya waktu itu, Arya duduk tenang bersebelahan dengan pria paruh baya yang merupakan Kepala Sekolahnya.


“Pak! Kami menuntut keadilan untuk buah hati kami!”


“Benar, anak ini harus diberi pelajaran! Benamkan dia di penjara anak! Oh putraku yang malang lihat apa perbuatan bocah iblis itu pada wajah tampanmu! Asal bapak tau, lima gigi anakku harus rontok karena dia!”


Sepertinya para pelaku menyembunyikan fakta kalau mereka telah menculik dan menganiaya Amira agar tidak terlihat bersalah, karena tak ingin melibatkan gadis tersebut. Arya diam saja sehingga semakin senang pula mereka karena merasa pasti keluar sebagai pihak pemenang dalam masalah ini.


“Tenang dulu bapak ibu sekalian, seperti yang tertulis dipesan saya. Putra – putra kalianlah yang melakukan tindakan bullying terlebih dahulu. Arya hanya membela diri saja”


“Persetan! Harus ada ganti rugi untuk semua kerugian kami atau kalau tidak....aku akan membawa seluruh masalah ke ranah hukum!”



“Saya akan mengganti semua kerugian kalian”


“Dan siapa juga diri—T...Tu...Tuan Presiden?!”

__ADS_1


Wali murid penuh emosi tadi terdiam dengan napas tercekat sewaktu melihat Hartoso memasuki ruangan sambil tersenyum hangat.


“Tora? Tolong pastikan beri kompensasi layak pada mereka, jika kurang. Kalian bisa mengubungi saya, Kepala Sekolah? Silahkan jatuhi hukuman skors kepada Arya selama satu minggu seperti pesan bapak kemarin. Arya? Ayo kita pulang”


Arya mengangguk lalu berjalan patuh keluar mengikuti Hartoso, Tora. Pria tua pelayan sang presiden memberikan masing – masing satu koper berisi uang kepada para orang tua anak di ruangan itu sebelum menyusul meninggalkan lokasi.


“Pak Kepala? Sebenarnya siapa gerangan bocah itu sampai Presiden Hartoso mengeluarkan uang untuknya?”


“Hah? Bukankah sudah jelas? Arya adalah anak angkat Presiden Hartoso”


“APA!? KENAPA ANDA TIDAK BILANG DARI TADI?!”


“Saya berusaha, namun anda sekalian terlalu menggebu – gebu” Kepala Sekolah menghela napas kemudian menggeleng – geleng lelah.


Sementara pada lorong sekolahan, Arya menunduk dalam diam. Hatinya penuh rasa bersalah karena telah menyebabkan Ayah angkatnya dipanggil ke Sekolah. Dan itu akibat masalah yang dia perbuat.


“Maaf Pak Presiden, membuat anda repot – repot datang kemari”


Hartoso tertawa keras sehinngga membuat beberapa murid mengintip ke luar jendela kelas masing –masing. "Kenapa sungkan begitu, memang tugas seorang Ayah datang ketika anaknya dalam kesusahan bukan?”.


“Tapi saya—“


“Begini saja, jika kamu benar – benar merasa bersalah. Mulai sekarang berhenti memanggilku Pak Presiden dan mulailah sebut aku Ayah seperti Reika”


“Saya ti—“


“Arya?”


“Baiklah, Ayah”


------><------


Putus asa Amirapun pergi ke tempat dia bertemu Arya pertama kali, puncak bukit kecil. Ternyata di sana Arya duduk manis membaca buku dinaungi bayangan dedaunan, anak laki – laki itu menatapnya yang sudah kehabisan napas dengan heran.


“Kenapa kau berlari?”


“Aku ingin berbicara dan memin—“


“Tidak perlu, aku sudah tau akan seperti ini kejadiannya waktu memutuskan tuk menolongmu”


“Tetap saja walau begitu—“


“Masakan ibumu enak sekali, bawakan aku beberapa pada kesempatan berikutnya sebagai permintaan maaf. Oke?” ujar Arya santai.


“Ahh....dasar menyebalkan, aku cemas sekali kau tau” Amira akhirnya duduk di sebelahnya.


“Salahmu sendiri, aku tidak pernah memintamu tuk cemas”


“Apa?!”


“Aw aw aw jangan main cubit begitu dong!”


“Hei Arya?”


“Hmm....”

__ADS_1


“Mulai sekarang ayo berteman”


Arya diam sejenak, menutup buku perlahan kemudian menatap dalam – dalam mata Amira. Bisa ia rasakan keseriusan gadis itu hanya dengan melihatnya saja.


“Kau yakin tak masalah?”


“Huum tentu!”


“Walau aku dibenci dan disebut iblis putih?”


“Menurutku panggilan itu keren kok”


Tak kuasa lagi menahan diri, akhirnya Arya tertawa terbahak – bahak cukup lama. Sampai – sampai Amira kesal sendiri karenanya, mulai sejak saat itu keduanya berteman dekat. Ketika masuk sekolah kembali tidak ada yang berani mengganggu Arya lagi.


Rumor anak tersebut merupakan seorang iblis sungguhan telah menyebar, namun hanya satu murid saja yang masih berusaha mendekatinya. Tak perduli teman – temanya memperingatkan sekeras apapun.


Amira selalu mengekor Arya kemana saja dia pergi, hubungan mereka semakin dekat seiring berjalannya waktu. Suatu ketika Amira ingin melihat bunga teratai liar indah yang tumbuh di tepian sungai.


Arya dipaksa ikut jadi tidak punya pilihan lain, sesampainya ternyata mereka tidak menemukan satupun bunga dan melainkan hanya arus deras sungai.



“Kenapa....”


“Kan sudah kubilang, hujah semalam pasti membuat air sungai naik. Dasar keras kepala” omel Arya.


“MEONG! MEONG!”


BYUR!


Perhatian keduanya teralihkan waktu mendengar suara seseorang terjun ke dalam sungai, terlihat anak gadis berambut biru berusaha menggapai kucing mungil yang terseret arus air. Tapi sialnya begitu berhasil, dia kehilangan tenaga dan tenggelam.


“Gawat kita harus mencari—“


BYUR!


“KAU PASTI BERCANDA!?”


Teriakan Arya diabaikan saja oleh Amira, sekuat tenaga dirinya menangkap gadis malang tersebut. Baru saja sukses melakukannya, Amira teringat akan suatu hal penting.


“Kau tidak ap—eh? Aku tidak bisa berenang!? Waa....tolong!!!”


Akhirnya ketiganya selamat ketika Arya turung tangan, setelah mengikat sulur panjang pada pinggangnya. Arya melompat dan meyelamatkan mereka semua, sambil bernapas putus – putus dirinya menunjuk Amira kesal.


“Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Lain kali berpikir dulu baru bertindak!”


“Ahahaha....ma....maaf” Amira tertawa canggung.


“T...te...terima kasih sudah menolongku, kalian berdua”


“Hah....sama – sama, kucingnya tidak apa - apakan? Lain kali kau juga sebaiknya hati – hati. Eh!? Gawat!? Hampir waktunya berkumpul, ayo kita harus bergegas!” seru Arya mengajak Amira.


“Hiyy!? Kau benar, baiklah sampai jumpa! Senang bertemu denganmu! Dah....!”


“Tunggu!? Aku belum tau nama ka—yah....mereka pergi, syukurlah kita selamat ya? Hihihi” gumam gadis itu sambil mengusap lembut kepala kucingnya.

__ADS_1


Tidak berselang lama ada seorang pelayan perempuan datang menjemput lalu berteriak histeris melihat kondisinya yang sudah berantakan dan kedinginan.


“Nona Selena?! Apa yang—kenapa anda bisa basah kuyup begini?!”


__ADS_2