Elementalist

Elementalist
Chapter 246 - Doa


__ADS_3

“Ouchh....telingaku!? Bisakah kalian tidak berteriak bersamaan begitu?” ujar Zayn menjauhkan alat komunikasi sembari menggeleng – gelengkan kepala.


“Bagaimana kami dapat bersikap demikian!? Benda terkutuk ini baru saja akhirnya berfungsi kembali dan aku harus mendengar eksekusi mati!?” terdengar bantahan panik Timothy.


“Berisik! Celotehanmu tak membantu sama sekali, bergunalah sedikit dasar besi karatan!!!” umpat Elizabeth bukan main kesalnya.


“Oh iya!? Gadis ce—“


“CUKUPP....!!! Hentikan! Bukan waktunya mempersalahkan hal konyol....kumohon biarkan aku berpikir”


Arya menghela napas panjang sebelum mengambil posisi berjongkok, ia memijit – mijit kepalanya dengan mata tertutup berusaha mencari jalan keluar. Sel – sel otaknya dipaksa bekerja hingga nampak urat sarafnya berdenyut – denyut, Lexa hanya mampu menatapnya iba karena sadar diri tidak bisa membantunya mencari ide.


“Baiklah....siapapun diantara kalian yang berada dekat Eridan, Kinichi, Ryan, dan Pengawas Astral tolong sambungkan aku kepada mereka....”


“Iyaaa....” beberapa detik berselang empat suara lain menyahut.


“Kita tidak punya banyak kesempatan berdebat akibat situasi jadi kuharap kalian memenuhi permintaan ini tanpa banyak bertanya....”


Usai mendengar balasan mengerti tiap orang Arya mulai menjabarkan permintaanya, pertama dia menyuruh Ryan untuk mengaktifkan sihir layar proyeksi agar dapat memantau keseluruhan pulau melayang tersebut.


Awalnya Arya berencana meminta uluran tangan Mr.Gerrow atau Diondra namun setelah dia pikirkan matang – matang sepertinya kedua sosok ini dalang dibalik stabilnya gravitasi Elemental City. Alhasil, Ryan merupakan alternatif pilihan sebab Arya sangat mengetahui kualitas kemampuannya juga batasan miliknya.


Selanjutnya Arya mengarahkan Astral memimpin Pengawas Ujian lainnya untuk menilai melalui layar buatan Ryan. Berapa lama perkiraan daratan tempat mereka semua berpijak menghempas permukaan bumi sampai hancur berkeping – keping.


“Lima belas....” ungkap Astral pelan.


“Pengawas? Beri aku estimasi waktu lebih mendetail....”


“Normalnya seperempat jam, maksimal delapan belas menit dan kemungkinan terburuknya hanya tiga belas menit....”


“Ckkk!? Ssssshhh....Eridan? Kinichi?”


“Ya Tuan?!”


“Aku mempertaruhkan segalanya disini, kalian wajib berhasil seratus persen. Aku tidak menerima kegagalan, kalian berdua ukur luas pulau melayang ini cuma berbekal layar proyeksi batasnya sepuluh menit dari sekarang....” Arya berbisik serius.


GLEK!


Bahkan Arya serta sisa Elementalist yang masih terhubung menggunakan alat komunikasi bisa mendengar Elf muda juga si sulung Nyanko Kyōdai menelan ludah dengan berat. Terdapat jeda cukup lama sehingga Arya bersiap memberi hitungan mundur sebelum akhirnya mereka menyahut penuh kekuatan. “Laksanakan!”.

__ADS_1


“Bagus, nyawa semua ada di tangan kalian. Kupercayakan sisanya ya....”


“Sekarang....mari dengar perintahmu....Ketua” tagih Asuna lirih.


“Baiklah fokus....begini rencananya....”


------><------


Sekumpulan orang segera mendekat melihat sekelebatan makhluk berwarna biru yang melintas di langit, saat Safira mendarat Arya melompat turun kemudian berjalan ke arah mereka. Dia menggerakan kepala memberi tanda supaya empat orang lainnya bergegas.



Timothy, Ali, dan Selena tanpa membuang waktu buru – buru menyusul Lexa diatas punggung Safira sementara Arya menghadap sisa kelompok disana. Ia memandangi wajah semuanya satu per satu sebelum memberikan anggukan kecil, “Berlindunglah bersama penduduk Elemental City pada wilayah Distrik Emas”.


Gerombolan terdiri atas Hidden Suzerainity, Elf, Werebeast, maupun Witch itu saling bertukar pandang penuh rasa bersalah. Masing – masing tidak ingin hanya diam menonton tetapi walau bersikeras hendak membantu mereka tak tau harus berbuat apa, tepat dikala Arya berbalik siap naik kembali seseorang keluar barisan terus menggapai tangannya.


“Apa kami sungguh cuma dapat terpaku menyaksikan saja?”


“Hmm? Lalu memangnya jika aku bertanya kira – kira kontribusi macam apa yang dapat kau berikan? Tuan Putri?”


“Berapa persen kemungkinan keberhasilan rencanamu?” wajah Alalea memerah berusaha menyembunyikan rasa malunya mendengar ucapan barusan.


Arya tersenyum menenangkan dan menggapai bagian tubuh sang naga, dalam hitungan detik sosoknya menghilang terbang menjauh meninggalkan angin kencang hasil kepakan sayap Safira yang kuat. Alalea menyatukan kedua tangannya namun berhenti begitu mengingat sebuah perbincangannya bersama si Elementalist es.


‘Nee....Alalea? Apa kau tau bentuk penghormatan tertinggi itu seperti apa?’


‘Umm....bertekuk lutut?’


‘Bukan, melainkan ketika kau menempelkan dahimu ke tanah....’


Alalea perlahan menurunkan badanya kemudian bersujud teramat dalam, orang – orang terutama para kenalannya terkejut karena mengenal sikap tinggi hati sang putri tak menyangkan dia akan melakukan hal tersebut. Perlahan mereka ikut melakukan hal sama, Alalea memejamkan mata syahdu sembari berkata lirih.


“Tuhan....hamba mohon....lindungi semuanya....”


------><------


Laju Safira tak berkurang sedikitpun meski akhirnya telah melewati dinding terluar milik Distrik Perunggu. Ia langsung menukik tajam menuju daratan di bawah mengerahkan seluruh sisa tenaganya menyebabkan enam puluh persen penumpangnya berteriak histeris.


“Ugh....isi perutku sudah sampai tenggorok—oek....!?”

__ADS_1


“Waaaa!? Jangan mengarahkan wajahmu padaku dong!” protes Selena mendorong Timothy menggunakan tombaknya.


Arya memaksa Safira balik lagi ke wujud kalungnya sesampainya ke titik perkiraan, keempat rekan – rekannya bergerak cepat mengisi pos masing – masing sedangkan dirinya melompat kemudian hinggap tepat di puncak pohon tertinggi sekitar situ sebelum mendongak dan mengabarkan melalui alat komunikasi.


“Kami siap, kalian?”


“Kapanpun!”


“Baiklah....mulai operasinya!!!” perintahnya hingga semua anggota mendengarnya.


Penampakan Elemental City bagi Arya, Timothy, Ali, Lexa, serta Selena saat ini layaknya sebuah meteor raksasa yang hendak menghantam Bumi, inti rencana penyelamatan Arya adalah membagi tim mereka menjadi dua dengan tugas berbeda.


Lima Elementalist akan tetap berada di atas sana demi mengurangi kecepatan jatuh pulau melayang itu sementara sisanya harus menyiapkan lokasi pendaratan terbaik atau dapat dibilang menerima mereka dengan sempurna kalau diperumpamakan seperti permainan lempar tangkap.


Usai mendengar suara Arya, Lexa melakukan gerakan memukul pada tanah di bawahnya. Menyebabka terbentuknya lubang cukup besar, ia perlahan mulai mengendalikan sekitar seperti seorang penari untuk memperluasnya.


‘Lexa kau harus membuat sebuah kawah, ukurannya? Tidak ada, ciptakan sebesar mungkin yang kau mampu’


Dilain sisi Selena tengah menyerap seluruh air dalam radius puluhan meter jangkauannya sambil mengumpulkan dekat lokasinya berdiri. Timothy melakukan hal sama, dia mencari segala unsur besi demi membantunya beberapa menit lagi. Ali pun mirip, memanfaatkan sentuhan korosif ratusan kilogram pasir mulai menimbun pijakannya.


Zayn menyesuaikan aba – aba kapten mereka terus menempelkan kedua telapak tangannya ke tanah, energi kegelapan perlahan menyelimuti keseluruhan bagian bawah pulau. Asuna melayang tangkas dan memposisikan dirinya menopang Elemental City.



BURN.....!!!


Kobaran api hebat berhembus melalui telapak kaki gadis tersebut, dia mengerahkan seluruh kekuatan lengan maupun pundaknya mendorong ke atas. Di tempat lain, tepatnya luar dinding perunggu nampak Elizabeth ditemani Kevin merenggangkan tubuh mereka. Keduanya menghadap arah berbeda sembari menghela napas sebelum bersiap melakukan tos.


“Ayo....jangan lambat”


“Itu harusnya kata – kataku, sebaiknya kau mengerahkan seluruh kemampuanmu” Elizabeth mendengus kesal.


“Pasti....”


PLAK!!! HMMM....WUSSSHHH....!!!


Dua Elementalist dengan kecepatan tertinggi tadi melesat seoalah tidak ada hari esok, mereka melakukan maraton super bertolak belakang mengelilingi Elemental City supaya menciptakan daya gesek yang harapannya dapat memperlambat efek tarikan gravitasi planet terhadap pulau tersebut.


^^^

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2