
“Keluar mulut harimau, masuk ke mulut buaya”
Arietta Brevil memandangi muridnya dengan wajah masam begitu mendengar Arya memperbaharui perjanjian bersama Merlin, karena hal itu menurutnya adalah tindakan bodoh yang tak mendasar. Jika bisa menang tanpa bertarung, kenapa harus memaksakan diri untuk bersaing pada pertandingan belum pasti.
Anak berambut putih tersebut cuma tertawa canggung sambil menggaruk – garuk kepalanya, keduanya saat ini berada di salah satu ruangan kelas Divina Academy. Baru saja selesai mengadakan ujian kenaikan peringkat tuk ketiga kalinya.
Tidak disangka waktu berlalu sangat cepat, sudah lebih tiga bulan Arya dan Ryan datang ke Magihavoc. Banyak kejadian telah dilewati, ketika ujian bulan lalu. Arya membuat kejutan lagi sebab berhasil mencapai Witch bintang tujuh.
Yang dengan kata lain melompati tiga tingkatan untuk kedua kalinya, walau prestasi itu masih kalah pamor oleh rekor Friska Lullaby naik menuju bintang sepuluh hanya dalam jangka dua bulan. Namun ini tak terlalu mengejutkan banyak pihak sebab capaian energi sihir sepuluh ribunya juga fakta kalau dirinya merupakan salah satu Irregularities.
Kemudian sekarang, Arya nyatanya mendapat satu peningkatan lagi sehingga resmi menjadi Witch bintang delapan. Berita tersebut cukup menghebohkan mengingat namanya mulai santar digaungkan karena bentrok melawan Merlin dan Holy Fist beberapa waktu lalu.
“Apa serunya menang jika tidak ada perlawanan? Bukan begitu Profesor?”
“Aku sih setuju saja, jika tak menyangkut nyawamu dalam pertaruhanya dasar bodoh” Brevil menyentil kepala si murid bandel menggunakan kekuatan sihir.
“Ouch!? Sss....sa....kit....” seru Arya dengan mata berair.
“Kau pantas mendapatkannya”
Hubungan antara mereka berdua cukup dekat, lama kelamaan Arietta Brevil mulai menyadari perasaan kasih sayang seorang ibu. Dia ingin melindungi Arya bagai anak sendiri, inilah mengapa ia marah sekali ketika bocah tersebut memilih tindakan - tindakan ataupun perbuatan berbahaya.
“Ohh iya, bagaimana persiapan pindahmu?”
“Mmm? Aku masih mengemas barang – barang”
“Bagus, kalau sudah selesai. Usahakan sesegera mungkin, kalau bisa hari ini” ujar Brevil melemparkan sebuah kunci kepada Arya.
Murid – murid Divina Academy mendapat perlakukan khusus jika telah mencapai bintang delapan keatas, karena tingkat kesulitan untuk naik begitu tinggi. Para Witch muda berbakat itu diberi tempat tinggal dan biaya hidup secara cuma – cuma oleh sekolah.
Ini bukanlah omong kosong belaka, Arya sendiri merasakan betapa sukarnya tes yang dia lakukan barusan. Bila konsentrasinya buyar sebentar saja, maka bisa dipastikan kalau dirinya akan gagal naik peringkat. Mungkin hal tersebut juga penyebab ujian ketigannya hanya naik satu bintang dari tujuh ke delapan.
Kabarnya sekarang terdapat kurang lebih cuma dua puluh siswa – siswi termasuk Arya dan Friska yang diberikan hak meninggali asrama serta pelayanan istimewa bak hotel mewah. Akademi bahkan menyediakan satu bangunan khusus sebagai lokasi bakat – bakat terbaik miliknya menjalani keseharian.
Tentu saja dilengkapi berbagai fasilitas hebat demi menunjang perkembangan murid – murid itu, orang – orang Magihavoc menyebut mereka sebagai Candidate of Destiny. Penyebabnya antara lain individu – individu bagian dari gabungan para elit ini pada generasi sebelumnya memiliki nama besar ketika lulus.
Arya akhirnya berpamitan kepada Profesor Brevil, sebab dia harus mengambil barang – barangnya yang masih tertinggal di kediaman Turin dan Qibo. Ryan sendiri sudah mencapai Class Universal bintang enam, hanya terpaut satu tingkat dengan dua pemuda Witch Pax penjemput wakil Elemental City tersebut.
__ADS_1
Turin bersama Qibo tidak bisa menyangkal bagaimana perasaan depresi keduanya sewaktu Arya menyalip peringkat mereka cukup mudah. Cuma tiga bulan langsung masuk ke dalam Candidate of Destiny mensejajarkan Arya dengan monster - monster seperti Merlin, Morgiana, dan Friska.
“Mmm.....astaga!? Aku lupa memberitahunya mengenai teman sekamar, hadeh....nanti juga dia akan tau sendiri” Arietta Brevil menghentikan kegiatan menulisnya sembari menepuk jidat.
------><------
Arya berjalan menyeret dua buah koper menuju wilayah selatan Divina Academy tempat dibangunnya kawasan tinggal Candidate of Destiny. Pintu besi berlapis emas murni terbuka sendiri ketika ia sampai.
Naik ke lantai berikutnya, dia menyusuri nomer kamar – kamar asrama untuk mencari keberadaan ruangan yang seharusnya menjadi miliknya. Dia sedikit heran mengapa bangunan sebesar itu memiliki jumlah kamar terbatas.
“Delapan belas.....sembilan belas.....dua puluh.....dua puluh satu! Ketemu!”
Arya memasukan kunci tuk membuka pintu, tetapi tanpa alasan jelas kayu berat tersebut terdorong begitu saja. Yang mengindikasikan kalau memang tidak terkunci, ragu ia perlahan masuk. Terdengar suara air mengguyur deras.
“Orang lain? Hmm....apa aku memiliki teman sekamar? Kenapa Brevil tak mengatakan apa – apa dasar...., permisi”
Hati – hati Arya masuk dan menutup pintu kembali, dia bertanya – tanya mungkin alasan ruangan tidak dikunci oleh si orang misterius karena tau kalau dirinya datang hari ini. Malas membuang waktu, Arya mulai merapikan barang – barang.
Ruangan tempat tinggal barunya cukup luas, layaknya sebuah apartemen. Berbentuk oval berlangit – langit tinggi, sudah terdapat dapur, dua buah kasur, meja makan dan juga belajar. Bergabung menjadi satu ruangan luas. Walau hanya terdapat sebuah kamar mandi saja di sana, Arya bersyukur karena tidak perlu keluar kamar demi membersihkan badan.
“Hmm...? Ahh....sudah datang rupanya, maaf tidak menyambutmu” dia bergumam masih berusaha mengeringkan rambut.
Arya menutup mulutnya sendiri cepat – cepat sambil membuang muka ke arah dinding. Mengumpat kesal dalam hati, bingung apa patokan sekolah mendasari pemilihan teman sekamar begini.
‘CELAKA!? AKU HARUS KELUAR! Tapi aneh, suaranya seperti pernah dengar....’
Berbekal langkah kecil, Arya makin dekat berusaha mencapai pintu keluar. Orang sebelumnya duduk di atas tempat tidur masih bicara sendiri. Helaian rambut keperakan menjuntai depan wajahnya.
KRIET....
“Kenapa diam sa—“
Suara pintu terbuka mengakibatkan dirinya membuka mata, dia gagal menyelesaikan ucapanya saat menyadari yang berdiri menutupi jalan masuk kamar tidak seperti dugaannya selama ini. Mulutnya membuka tapi tak ada suara keluar saking herannya.
“Ahahaha....ha...lo?” sapa Arya pelan.
__ADS_1
“KYAA!!! ENYAH DASAR MESUM!!!”
JDAR!
Arya duduk menatap lantai menunggu penghakiman, wajahnya dipenuhi coreng hitam layaknya pantat wajan gosong. Langkah kaki gadis tadi terdengar jelas, selesai berpakaian ia langsung cepat – cepat ingin meminta kejelasan tindakan pria hidung belang yang tertangkap basah itu.
“Beri aku penjelasan tepat atau kubuat kau membayar perbuatanmu!”
“Untuk apa baru mengatakan sekarang? Kau sudah melakukannya”
“Apa kau bilang!?”
HIYY!!!
Pelan – pelan Arya menjelaskan kalau dia mendapat izin tinggal di asrama tersebut sebab baru naik tingkat, tidak tau menahu sama sekali akan ditaruh pada kamar ini. Bahkan mengaku jujur informasi mengenai teman satu ruangan saja tak ada.
“Aku memang diberitahu mengenai kedatangan anak baru tapi....kenapa harus laki – laki!?”
“Maaf, aku juga bertanya – tanya”
“Ughm....moo....kau melihatnyakan?”
“Hah? Maksudmu—“
“Kau pasti melihatnyakan!?” tuntut perempuan itu geram.
“Tidak kok! Kau menggunakan handuk ingat?!” Arya berusaha membela diri.
“Hiks....sekarang aku tidak bisa menikah....hua....menyebalkan!”
“Peraturan aneh macam apa itu? Tunggu sebentar, sekarang boelehkan aku mengangkat kepala?”
“Terserah! Huh!” jawabnya ketus.
“Kau...beneran Kyra?” Arya melongo tak percaya.
__ADS_1
“Eh?”