Elementalist

Elementalist
Chapter 283 - Rencana Terakhir


__ADS_3

“Adududuh....apa rasanya memiliki fisik itu memang berat sekali? Atau semuanya karena tubuh bocah ini sedang babak belur?”


KRETEK! KRETAK!


Ten meregangkan badan diikuti bunyi gemertak tulang terutama sekitar leher dan punggungnya, Julius Varuq masih mengamati pria tadi dengan seksama tanpa berani mengambil langkah lebih jauh. Namun keputusan tersebut menyebabkan hawa keberadaanya mulai disadari oleh orang – orang yang tidak diinginkan.


“Hmm....sejak kapan ada Manusia mendekati lokasi?”


“Hayha? Bereskan si penyusup” perintah Louis cepat melalui alat komunikasi.


“Dimengerti....”


Hayha langsung mengambil posisi tengkurap siap menembak, ia bersama beberapa rekan Vanguard berada tepat di salah satu gedung yang letaknya sangat strategis. Usai membidik hanya sepersekian detik peluru akhirnya dilepaskan tepat menuju kepala Varuq.


Sang Pengawas Ujian sempat merasakan datangnya bahaya tapi terlambat bereaksi, saat menoleh biji peluru barusan tinggal terpisah lima sentimeter darinya. Varuq mengumpat dalam hati atas kecerobohannya terus siap menerima nasip sebelum suara keras terdengar.


CTAS! SSSSHHH....!


“Eh?”


“Mmm? Jadi begini senjata yang digunakan zaman sekarang? Bentuknya aneh sekali....”


Entah bagaimana caranya pria misterius pengganti Arya memangkas jarak antara dirinya dengan Varuq dalam waktu teramat singkat, dia telah berdiri di sampingnya sambil menangkap tembakan Hayha berbekal tangan kosong. Nampak sisa asap menyelinap keluar melalui celah genggamannya.


“Jangan coba – coba melakukan hal bodoh....”


DEG!


“Ugh...!?” jantung Varuq hampir berhenti begitu bisikan lirih mencapai telinganya, ia mengurungkan niat menyerang orang tersebut.


“Bagus....kau cepat mengerti, aku bukan musuhmu”


“Omong kosong! Apa maumu dasar monst—“


TUK!


Ten menyentuhkan ujung jari telunjuknya kepada dahi Varuq dan tak membiarkan si Pengawas Ujian menyelesaikan kalimatnya. Matanya seketika melebar akibat masuknya gabungan beragam ingatan Arya maupun rencana yang diinginkan Ten ke benaknya.


“Hah....hah...hah....”


“Sekarang paham? Menjelaskan menggunakan metode ini jauh lebih simpelkan?” Ten tersenyum tipis.


“Siapa....kau?”


“Apa kau sungguh merasa masih punya waktu menanyakan hal itu? Cepat pergi bersama teman – temanmu untuk menyukseskan skema barusan. Oh iya, bersyukurlah kau memiliki cincin di tanganmu atau kalau tidak mungkin aku tanpa sengaja menghabisimu”


Julis Varuq terdiam cukup lama sebelum menekan tombol pada alat komunikasi, rentetan pertanyaan dari rekan – rekan Pengawas Ujian lainnya segera terdengar. Namun ia meminta mereka diam sambil berjanji nanti menjelaskan lalu memanggil Kinichi serta Eridan.


“Iya Pengawas Varuq?”


“Ckk!? Mo..moh—mohon maaf agak lama. Saya sedang sedikit sibuk di sini....” jawab Eridan terdengar kepayahan.


“Kalian....telah diberitahu rencana rahasia Tuan Arya bukan?”


“Eh? Bagaimana—“

__ADS_1


“Saatnya sudah tiba”


“T..ta..tapi Pengawas? Tuan Arya belum mengabari soal—“


“Akan kukirimkan koordinat lokasinya, brengsek itu selalu bersikap seenaknya seperti ini....” tiba – tiba Ryan terdengar menyahut ketir, dia kesal sebab cuma bisa memberi bantuan kecil pada sahabatnya.


“Ryan? Sejak kapan dia meminta—“


“Cukup diskusinya, cepat bergerak!”


Perintah Varuq membuat dua pemuda tersebut terkejut dan akhirnya menyanggupi, selesai menerima sentuhan Ten barulah Pengawas Varuq tau kalau Arya menyiapkan rencangan cadangan untuk menyelamatkan semuanya ketika kondisi benar – benar parah.


Namun dia hanya memberitahukannya kepada Eridan serta Kinichi karena mereka adalah orang kepercayaannya dalam mengeksekusi sebuah rencana, satu sosok lagi pembantu yaitu Mr.Gerrow telah memindahkan tanggung jawabnya kepada Ryan. Setiap langkahnya direncanakan dengan sangat matang bahkan seolah Arya mengetahui hasil akhir perang bahkan sebelum dimulai.


“Telah saya sampaikan....”


“Bagus, sebaiknya kau ikut ke sana agar lebih cepat. Serahkan yang disini kepadaku.... kupikir bisa menyibukkan mereka beberapa waktu” Ten melirik ke arah para aliansi Fatum.


“Tuan....saya tidak tau anda siapa....atau apa....tapi saya mohon dengan sangat....lindungi murid – murid kami....”


“Ahh jangan khawatir....”


“Terima kasih....” Varuq baru mengangkat kepalanya kembali waktu Ten melambaikan tangan cuek lalu buru – buru undur diri.


SYUU....!!!


><


“Oke....karena jarum jam terus berputar....saatnya aku bersinar! Ahh...hahaha kemampuanku membuat pantun masih payah rupanya, mulai dari sana....”


PSYUUU....JDUAR!!!


Udara sekitarnya langsung terbelah diikuti hembusan angin kenccang, efek kehancuran akibat gerakan Ten agak telambat namun tanah pijakan serta apapun yang ada di belakang punggungnya mengalami rusak berat.


><


“Eh....dia menangkap tembakan jituku?” celetuk Hayha kebingungan.


“Hah? Kau bercanda ya? Sini aku lihat melalui tero—“


“HAYHA!? GEHRIG!? MENJAUH DARI SITU!” Shakespeare berteriak kencang.


“Eh!?”


ZING!!!


Sandayu sukses menyambar kerah baju kedua temannya tepat waktu sebelum peluru pengembalian Ten melintas, hantaman besar terjadi sampai membuat setengah bagian atas gedung berlantai lima puluh tersebut porak poranda dan berceceran.



“Uhuk! Uhuk! Apa – apaan—“


“Eeehhh....refleksmu boleh juga”


DEG!

__ADS_1


Wajah Sandayu memucat mendengar komentar tadi, ia menoleh lalu terperanjat menemukan Ten sudah menunggunya dengan kaki terangkat. Otak sang ninja masih berusaha mencerna juga mencari tau bagaimana cara orang yang berada puluhan meter bisa muncul di belakangnya cuma sekejap mata.


KRAK!!! PSYUU...!!!


Tendangan Ten mengenai telak Sandayu hingga dia terpental entah kemana walaupun bunyi patah tulang rusuknya masih memenuhi udara, Gehrig maupun Hayha buru – buru menjauh panik. Ketika Ten masih bersiul santai Shakespeare menyelesaikan tekniknya.


Puluhan pedang sepanjang satu meter menghiasai lokasi dan langsung menghujani Ten, gemuruh disertai debu tebal membumbung tinggi karena serangan barusan. Saat para Vanguard tersisa mengira habis sudah riwayat orang itu, mereka dikagetkan oleh sebuah penampakan di mana tiap senjata menegang seolah dihentikan secara paksa sebelum berhasil mencapai kulit si pria.


“Musta—“


SYUU! TEP!


“Wow kekuatan Agnetmu cukup menarik ya? Kau bisa merealisasikan sesuatu melalui gambar”


‘Kapan!?—‘ batin Shakespeare sembari melotot ngeri ke arah ruang kosong yang dikelilingi pedang buatanya, sekarang ia merasakan seseorang menepuk pelan pundaknya.


SRAT—JDUAK!


Dia mencoba menggerakan penanya sekali lagi secepat mungkin namun Ten mematahkan benda barusan sebelum Shakespeare menyelesaikan tindakannya. Hayha memanfaatkan kesempatan ini untuk meraih kembali senapannya kemudian menikam lawannya berbekal pisau di ujung senjata api tersebut.


WUSH!!! SLASH!


‘KENA...KA.—eh?’


Hayha keheranan menyadari kalau Ten sedang berdiri di sebelahnya padahal jelas sekali serangannya barusan berhasil memotong sehelai rambut putih si laki – laki, barulah Hayha tersadar jika dia bukannya bergerak sangat cepat melainkan berpindah tempat.


Pada kondisi kritis itu Gehrig berniat membantu sambil bersiap mengayunkan tongkat baseball miliknya tetapi Ten lebih cepat mendorong pundak kedua temannya sampai menyebabkan mereka melesak jatuh ke ruang bawah tanah gedung.


BRUAKH!!!


“ARGGH!?”


“Hmm? Kalian Manusiakan? Namun mengapa aromanya aneh sekali? Oek!? Bercampur – campur agak memuakan menurutku....” Ten berkomentar usai mencekik serta menghempaskan Gehrig menuju tembok.


Tiba – tiba Eric dan Joana muncul mengincar leher Ten melalui titik buta, Gehrig langsung mencengkram kuat lengan musuhnya bertekad apapun bayarannya kali ini orang itu harus terluka walaupun cuma sedikit. Bukannya panik Ten malah tersenyum lalu berbisik pelan.


JDUARRR....!!!


><


Para petinggi aliansi Fatum menoleh terkejut mendengar bunyi gaduh beruntun dari arah selatan, Mira segera menghubungi teman – temannya namun tak mendapat jawaban. Saat ia mencoba memberitahu Louis, masing – masing telinga mendengar suara kaki menginjak tanah tepat di antara mereka berdiri.


“Huft....”


Semua terperanjat atas kedatangan sosok misterius barusan, beberapa mengenalinya sebagai laki – laki yang berdiri dekat Varuq beberapa saat lalu. Sayangnya tak satupun mengetahui seluruh kejadian pada gedung tempat anggota Vanguard hanya berlangsung kurang dari sepuluh detik.


“BAHAYA!” teriak Xavier memperingatkan.


“Aku sempat mendengar ucapan – ucapan meremehkan kalian sebelumnya, akan kuperlihatkan kekuatan sesungguhnya para Elementalist. Orang – orang yang dianugerahi kemampuan memisahkan dimensi....”



BRRRR....!!!


^^^

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2