
“Wahahaha....lihatlah ekspresinya!? Kocak sekali! Hihihi....” suara tawa lepas terdengar dari sudut ruangan.
“Hah....hah....hah....!?”
“Kagutsuchi no Ya!”
BURNN....!!!
Selagi Arya masih terjatuh dan terkena serangan panik sehingga napasnya terputus – putus, Asuna tanpa banyak berpikir langsung menembakan panah api berukuran raksasa ke arah Mira. Namun gadis itu dengan cepat mengendalikan kekuatan cahaya aneh miliknya untuk menciptakan perisai mengelilingi sekitarnya.
“Oi bodoh!? Sadarlah! Dia bukan teman masa kecilmu!?” Asuna membentak kemudian menjambak Arya supaya pandangannya tetap tertuju ke depan.
“Ugh!?”
“Warna rambut serta matanya berbeda, jangan biarkan si Ilmuan brengsek disana mempengaruhimu!”
Perlahan udara yang memasuki paru – paru Arya kembali teratur, setelah mendengar penjelasan Asuna barusan ia baru paham jika ucapan sang Elementalist Api ada benarnya juga. Meskipun mirip, ciri – ciri fisik Mira sedikit berbeda dibanding Amira. Lagi pula Arya melihat sendiri tubuh lemas tak bernyawa anak perempuan tersebut beberapa tahun lalu.
“Kau benar....” bisik Arya sembari mencoba berdiri, Asuna buru – buru membantunya.
“Hehehe....kalian menyadarinya lebih cepat dari perkiraanku, tetapi ya sudahlah. Setidaknya aku yakin dia masih mampu menghambatmu, pandanglah seksama....bukankah dia sebuah mahakaryawa luar biasa?” Sioul berdiri disebelah Mira lalu menyentuh pipinya.
“Keparat....sebenarnya hal busuk macam apa dirimu perbuat dibalik layar....” geram Asuna mendelik marah.
“Hahaha....anda terlalu memujiku Nona, karena telah datang jauh – jauh kemari biar saya perkenalkan. Sembilan orang disekitar kalian merupakan hasil Kloning, kami bersepuluh adalah Vanguard dan tujuan kelompok ini adalah....menggantikan sekaligus menghapus sistem Elementalist....”
------><------
“Apa maskud pernyataan konyolmu itu?”
“Sederhananya....kalian tak diperlukan lagi, zaman telah berubah. Teknologi semakin berkembang, Manusia sanggup melindungi diri mereka sendiri bahkan mungkin memusnahkan ras lainnya”
“Kau terlalu congkak....”
“Huum....sayang sekali kita tidak sependapat, Sandayu tolong jangan biarkan ada pengganggu dalam pertemuan penting seperti sekarang.....” Sioul mengangkat bahu sebelum memberi perintah.
“Dimengerti....”
Pria berpakian serba merah membungkuk hormat kemudian meninggalkan sudut ruangan, dia menggunakan sejenis penutup wajah dengan hiasan besi runcing. Entah bagaimana cuma satu kedipan mata tiba – tiba orang tadi telah berdiiri dihadapan kedua Elementalist, Asuna terkesiap terus langsung menyerang namun tusukannya hanya mengenai udara kosong.
‘Cepat sekali!?’
“Menyedihkan....Kage Bunshin no Jutsu....” usai berbisik kecewa pada telinga Arya, Sandayu memecah diri menjadi empat dan menghilang.
“Lihat? Pencampuran sel Elf, Demon, Werebeast, serta Witch ke dalam tubuh mereka membuatku seolah memiliki pasukan Manusia Super bukan?”
“Soiul....aku tidak perduli....kembalikan Reika....” kata Arya sambil menjulurkan tangan.
Wajah Sioul berubah gelap, senyumnya benar – benar menghilang. Dia lalu mencengkram kuat dagu Mira kemudian mulai bicara. “Aku tak menyukai respon begitu, tatapan mata meremehkan yang sama seperti dulu....maaf Tuan tetapi saya harus menolak. Bagaimana kalau kita membahas hal lain saja?”.
__ADS_1
“Jangan bercanda!? Kau pikir punya hak untuk mengajukan pilihan!?” Asuna menodongkan senjatanya.
“Hmm? Bukankah kalimat tadi harusnya milikku? Berkacalah, tempat ini merupakan wilayahku jadi aku bebas berbuat sesuka hati. Hei Tuan Arya? Apakah anda tidak penasaran cara saya mendapatkan DNA gadis ini satu hari sebelum ia tewas?”
“Jangan – jangan kau....” ujar Arya dengan mata melebar.
“Bingo! Karena akulah pelaku penyelundupan Goblin sepuluh tahun lalu....semua itu kulakukan demi rencana menghancurkanmu....” Sioul tersenyum lebar.
“Tingkat Kekuatan Tahap Pertama....Master!”
BRRRRRR....!!!
------><------
Rentetan bongkahan es keluar deras melalui lantai tempat kaki Arya memijak dan mengincar lokasi para Vanguard berada terutama Sioul, penampilan Arya berubah sekali lagi. Seluruh rambutnya berdiri ditambah Agnet kuat menyelubungi tubuhnya, ungkapan Sioul tadi benar – benar memicu amarahnya.
“Hey!? Hentikan nanti kau bisa—“ seru Asuna kaget masih teringat kejadian di Zoonatia ketika dia bersama Kevin juga Elizabeth harus berjibaku menghadapi monster beku raksasa.
“Aku baik – baik saja....”
“Apa?”
“Sekarang aku sudah mampu mengendalikan Master sepenuhnya, jadi tenanglah....yang kuinginkan sekarang hanyalah menghabisi keparat tengik itu....” Arya menjelaskan dengan telapak tangan masih ke arah depan, penuh konsentrasi menyerang lawannya.
“AHAHAHA....KETUA KAU MEMBUATNYA MARAH” teriak Eric kegirangan.
Sejak serangan Arya terjadi, semua Vanguard segera menghindar akibat terjangan es mematikan siap menghantam mereka. Mira mencoba bertindak layaknya perisai makhluk hidup demi melindungi rekan – rekannya, namun kontrol kekuatan Arya sudah sangat baik sehingga rencanannya sia – sia.
Tetapi Asuna telah memperkirakan perbuatan konyol Arya melindungi musuh lalu menghadang jalan Mira, duel antara kedua gadis itu tidak bisa terhindarkan. Masing – masing bergerak gesit kesana kemari diantara kristal – kristal es.
“Kau pikir akan kubiarkan kau mendekat?!”
“Cih!?”
“Apa hanya segini Tingkat Pertama Kekuatanmu?” Sioul bertanya meremehkan sembari merunduk santai.
“Kau mengingingkan hidangan utama? Baiklah....Hailstorm....!”
BRRRR.....!?
“Ketua!?” panggil Mira khawatir menyaksikan pecahan berujung runcing seperti tombak mengincar Sioul.
Bukannya ketakutan, Sioul malah tertawa. Waktu jurus Arya hampir mengenainya, benda asing berwarna kehitaman berkumpul mendekati tangannya membentuk sebuah senjata berupa sabit besar. Mengingatkan Arya maupun Asuna terhadap Subyek 111, cukup satu ayunan saja dari Sioul seluruh bongkahan es di ruangan hancur berkeping – keping.
Untuk sesaat pertarungan berhenti tanpa kejelasan, Arya dan Sioul saling menatap satu sama lain sementara yang lain menyaksikan. Pemandangan ini layaknya ketenangan sebelum badai, mereka sama – sama menilai kemampuan musuh dihadapannya.
“Apa tujuanmu?” Arya bertanya dingin.
“Seperti ucapanku sebelumnya....menghancurkanmu.....”
“Alasannya?”
__ADS_1
“Karena aku membenci Elementalist....terutama yang es” ujar Sioul perlahan menggapai ikat rambutnya.
“Siapa kau sebenarnya?”
"Hehehe....nampaknya sudah datang masanya aku memberitahu identitas asliku padamu, namaku adalah Louis F. D'Azuldria. Putra pertama Jack Frost dan Unia D'Azuldria, sekaligus kakak laki – laki Lyan Frost. Salam kenal.....Nephew"
------><------
“Akh....menjijikan, cukup menyebutnya saja dapat menyebabkan badanku bergidik. Itulah mengapa aku menghapus marga itu dari namaku....” Louis menjulurkan lidahnya muak.
Arya terlihat tenang, bahkan bisa dibilang bersikap biasa. Sangat berbanding terbalik ketika melihat wajah dibalik masker Mira, ia memiringkan kepala penasaran. “Kenapa aku tak pernah mendengar tentangmu? Kau berusaha menipu?”.
“Sebab mereka mengira aku telah mati, terserah kau mau percaya atau tidak....lagi pula pria brengsek itu juga tak pernah mencariku, dipikirannya hanya ada Lyan, Lyan, dan Lyan.... adik kecilku yang manis”
“Aku dapat mengerti alasan kau membenci Ayahmu, aku setuju dia menyebalkan. Namun kenapa kau juga membenci adikmu?”
“Karena....jika dirinya tak pernah terlahir di dunia ini mungkin....Ibuku masih hidup....” jawab Louis usai tertawa cukup lama layaknya orang gila.
Arya paham sekarang mengapa saat pertama kali bertemu dengannya muncul sensasi aneh waktu kulit mereka bersentuhan, darah Elf keduanya bereaksi. Dan seharusnya milik Louis jauh lebih banyak dari pada miliknya.
NNGGGG...!!! NGGGG...!!!
Sebelum Arya membuka mulut sekali lagi, suara alarm kencang memaksanya diam. Lampu berwarna merah mulai menyala menyelimuti seluruh ruangan, tabung berisi air tempat Reika disimpan bergetar hebat.
“Hey!? Apa yang—“
PRANK....!!!
Pertanyaan Arya langsung menguap begitu saja, kapsul tersebut hancur dan memperlihatkan tubuh terkulai Reika. Arya tanpa berpikir panjang segera melesat menangkap gadis tersebut, para Vanguard ingin menghentikannya tapi terdiam saat Louis memberi tanda menggunakan tangan.
“Ngh.....”
“Reika!? Kamu baik – baik saja? Tenanglah kakak disini untuk menjemputmu...” Arya memeluknya erat seolah anak perempuan itu mampu lenyap kapan saja.
“Hihihi....kau mendekapku terlalu kuat....aku pun merindukanmu...Onii-chan....”
Wajah Arya seketika memucat mendengar bisikan barusan, dia segera melompat mundur sejauh mungkin. Arya menelan ludah berat serta ngeri menyaksikan Agnet luar biasa pekat memancar dari gadis dihadapannya.
“Siapa....kau?” desisnya waspada.
Author Note :
"Aku sudah tidak bisa lagi merasa kehilangan karena aku sudah tidak memiliki apa-apa. Tidak ada yang bisa melukai aku lagi" - Louis F. D'Azuldria -
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1