Elementalist

Elementalist
Chapter 146 - Berangkat ke Magihavoc


__ADS_3

Seorang gadis terlihat mengaduk kuali besar di ruangan dengan penerangan remang – remang, ia bersenandung pelan sambil sesekali memeriksa apakah apinya sudah pas atau belum. Banyak berserakan buku serta catatan mengelilinginya.


CTAK! CTOK! CTAK!


“Jangan bergerak....”


Perempuan tadi telah menggapai sebuah tongkat kehitaman, aura kuat nan menyeramkan mengaliri benda tersebut. Suara langkah kakipun berhenti tepat dibelakangnya, ketika dia menoleh sinis. Si pendatang balas menatapnya santai.


“Kenapa kau kemari, Orange Witch?”


“Hehehe....apa aku tidak boleh berkunjung? Black Mara?”



BRRR.....!!!


Getaran kuat secara mendadak terjadi, langit – langit gua tempat mereka berada mulai berjatuhan. Energi sihir keduanya beradu sengit bahkan sebelum diantara keduanya mengucapkan mantra sekalipun, akhirnya gadis berjuluk Black Mara menarik kembali kekuatannya. Sebab jika dilanjutkan, bisa – bisa lokasi favoritnya hancur.


“Enyahlah Merlin, aku sedang malas meladenimu”


“Hihihi ayolah Friska, kita sudah lama tidak bertemu”


Sang perempuan berpakaian serba jingga melagkah ringan ke sebelah teman lamanya itu, melihat kegiatan apa yang dilakukannya sebelum berkomentar remeh.


“Hah....kau sama saja dengan Kenya. Belum menyerah soal Alchemist eh?”


“Tujuanmu?” Friska langsung ke intinya.


Merlin tertawa geli, menggoda orang adalah satu hobinya. Ia kemudian menjabarkan alasan dirinya datang kemari. Mulai dari perlombaan sihir besar, pusaka, generasi muda, dan juga keinginan egoisnya.


“Sekarang, ikutlah bersamaku kembali ke Magihavoc” ajak Merlin cuek.


“Kenapa?”


“Kita berteman sejak kecil, kau merupakan penyihir berbakat yang bahkan tak perlu masuk Akademi tuk bersinar. Ayolah!”


“Aku memang tertarik dengan tiga hal lainnya, terkecuali ambisi gilamu” Friska berhenti mengaduk.


“Eh??? Bahkan jika aku bilang Yellow Witch dan Silver Magician ada dipihakku?”


Tubuh Friska tersentak, Merlin tersenyum senang melihat reaksi tersebut. Sang Black Mara tau sejak dulu kalau teman masa kecilnya ini punya ambisi besar, yaitu menyatukan ketujuh Miracle Iris Catra atau paling tidak mengumpulkan Seven Arcenciel Witch dibawah panji ras penyihir sendiri.


“Mereka pasti sudah gila mau mengikutimu”


“Memang begitu, siapa bilang aku menggunakan cara halus?”


“Jadi dirmu berencana merekrut dua Irregularities terlebih dahulu?”

__ADS_1


“Huum, jika Silver Cloak juga Black Wand telah kembali. Sisanya pasti lebih mudah” Merlin mengambil beberapa cemilan lalu bersandar pada kedua tangannya.


“Keberadaan Arcenciel Witch lainnya?”


“Entahlah, tetapi aku punya firasat. Sebentar lagi akan ada alasan tuk kita semua berkumpul”


Setelah menghela napas, Friska mengayunkan tongkat miliknya. Barang – barang mulai berterbangan mengemasi diri sendiri, begitu siap. Kedua gadis itu berjalan beriringan meninggalkan lokasi tersebut.


“Aku tau membujukmu jauh lebih mudah, walau tentu aku juga sudah bersiap bertarung. Iyakan Aura?” ujar Merlin membuka sebuah payung jingga.


“Huh dasar sombong, mau coba melawanku?”


“Hoamm malas, orang – orang tua itu pasti senang melihatmu kembali ke Magihavoc. Mereka sebenarnya rindu kau tau?”


“Aku tidak perduli, ngomong – ngomong kau sungguh sudah lulus dari Akademi?” Friska balik bertanya.


“Ekh!? T..te..tentu saja!”


“Jangan bohong”


“Ugh....baiklah aku mengaku! Tapi walau begitu posisiku sudah setara Professor, jadi tidak perlu khawatir” kata Merlin penuh percaya diri.


“Hah....omong kosong, apa aku juga coba mendaftarkan diri saja ya?” Friska mengelus dagu sambil berpikir


------><------


“Tenanglah, kau bisa memperdalamnya di Akademi. Aku juga penasaran seperti apa sih Sekolah Sihir itu sebenarnya?” Ryan mengeluarkan barang – barang dari dalam kotak bawaanya.


Awalnya ia sempat heran dan berpikir, apa anak seumur mereka masih bisa masuk mendaftar di Akademi. Kalau si Wibu Sialan mungkin saja, tapi Arya yang memiliki pengetahuan mantra nol persen jelas tidak mungkin.


Namun Ryan sendiri bercerita kalau malah umur – umur beranjak dewasa merupakan waktu penyihir menentukan ingin masuk Akademi atau tidak. Karena kebanyakan Witch mendapat didikan sihir dari keluarga sejak kecil.


Memang ada juga yang dimasukan ke Akademi, namun persentasinya sangat rendah. Orang – orang lebih memilih mengajari putra putri mereka secara otodidak dan lalu, bila bibit – bibit tersebut menjanjikan, barulah para wali memutuskan mengirim mereka ke Akademi.


“Jadi? Apa yang harus kulakukan dengan tusuk gigi hitam jumbo ini?”


“Hei?! Hargailah! Tongkat sihir itu sudah menemaniku sejak berumur lima tahun” gerutu Ryan.


Ryan meminjamkannya sebuah tongkat sihir tua bekas untuk berlatih, dia berencana memberitahu Arya beberapa mantra agar tidak terlihat terlalu bodoh ketika tiba di Magihavoc. Arya mengendus pelan kayu tersebut.


“Uhh....bisakah kau setidaknya memberinya pewangi atau semacamnya” ia menjulurkan lidah mual.


“Bahan dasarnya memang begitu, baiklah. Bisa kita mulai? Apa kau punya pengalam menggunakan sihir Witch sebelumnya?”


“Jelas tidak, tetapi aku tau satu mantra. Ir’amec bola kasti”


WUSH! CTAK!!!

__ADS_1


“AW!”


Arya mengumpat keras saat bola hijau disebelah kaki Ryan melesat bak peluru ke arah tangannya, sampai – sampai ketika ditangkap mengeluarkan asap.


“Wuhh! Wuhh! Wuhh! Apa – apaan itu tadi?!” tanya Arya sambil meniup telapak tangan dengan mata berair.


“Bocah ini....kau meniru gerakanku dulu ya? Bahkan kekuatanya jauh lebih kuat, Ir’amec!” Ryan menangkap bola kasti tersebut mudah, karena memang lajunya tak segila waktu Arya memanggilnya.


Ryan disitu menyadari, kalau sahabatnya memiliki bakat luar biasa dalam sihir. Terlebih lagi padahal itupun Arya baru pertama kali menggunakan Sihir Pemanggilan. Dia sempat ingin menanyakan masalah ini pada ayahnya, karena setau Ryan.


Ketika bertemu Arya di SMP, anak tersebut tak memiliki pancaran energi sihir sedikitpun dari tubuhnya. Walau ada kemungkinan kalau kekuatannya bangkit sewaktu berkunjung ke Fairy Forest, jika misalkan Mr. Gerrow juga tidak memiliki jawaban. Mungkin Divina Academy punya.


‘Bagaimanapun caranya....kami harus berhasil lolos menjadi murid di sana’


“Eee....Ryan?” panggil Arya ragu.


“Hmm? Apa?”


“S..s..sepertinya....umur tongkatmu....telah habis....hahaha” sang Elementalist Es menunjukkan serpihan kayu pada genggaman tangannya.


“HAH?!”


------><------


Witch – witch yang masuk dan berhasil lulus dari Akademi memiliki kesempatan besar menjadi orang penting dalam Dunia Sihir, banyak diantara mereka adalah pemimpin pasukan, pejabat tinggi, juga penguasa daerah.


Sedangkan para penyihir didikan orang tua paling hanya pekerja biasa saja. Berbekal informasi tersebut Ryan berencana memperoleh nilai luar biasa saat menimba ilmu di Divina Academy, dengan hal itu dapat memungkinkan dirinya memiliki relasi yang kelak mampu membantunya ketika kesusahan.


“Kau yakin mereka mau menolong jika kau bilang pro pada Manusia?”


“Berisik! Aku tidak ingin mendengar kata – kata darimu dasar perusak tongkat sihir!”


“Salah siapa? Benda usang begitu kau pinjamkan”


Arya bersama Ryan hendak berangkat, Astral dan Mr. Gerrow mengantar kepergian kedua anak muda tersebut. Setelah berpamitan, Ryan melompat keluar Elemental City. Sementara Arya merapikan pakaiannya.



“Ck!? Mengenakan jubah penyihir begini benar – benar membatasi ruang gerak” protesnya.


“Tuan Arya, saya titip Ryan ya?”


“Oh? Tentu”


“Hati – hati, Magihavoc bukanlah tempat ramah untuk Manusia. Jaga diri anda baik – baik Tuan, jangan gegabah seperti ketika misi Zoonatia. Tunggulah dengan sabar jemputan di danau Dozmary” Astral mengingatkan.


“Huum, baik aku pergi dulu. Ahh dan tolong rahasiakan ini dari Alalea, Callista, dan Kizuna Pengawas. Karena sepertinya akan lama, katakan saja kalau aku pergi mengerjakan tugas berantai. Dah...” kata Arya girang sembari melambai.

__ADS_1


“Hehh....beban berat apa yang anda letakan pada pundak saya Tuan?”


__ADS_2