
Tekanan tinggi Agnet berkumpul disekitar tubuh Arya seolah-olah menunggu sesuatu, puncaknya terjadi ledakan besar yang membuat angin berhembus kencang ke sagala arah. Untuk kedua kalinya dia merasakan sebuah gembok lain terbuka didalam kepalanya.
KLIK!
Matanya berbinar-binar sambil tersenyum puas, tidak lama kemudian Lexa segera mendekat ketika Arya sedang bangkit dan membersihkan pakaian miliknya. Gadis itu terlihat sedikit kebingungan.
"Bagaimana? Apa yang terjadi? Kau gagal membuat kontrak?"
"Kenapa kau bisa berpikir begitu?" Arya balik bertanya tanpa memandang Lexa.
"Eee....maksudku....dimana Elemental Beast milikmu? Kau tidak terlihat menariknya keluar" jawab Lexa dengan pipi menggelembung.
"Menariknya? Untuk apa aku melakukan itu jika dia bisa keluar sendiri? Efbi!"
Tepat ketika nama tersebut diucapkan oleh Arya, sebuah portal berurukan kecil muncul diatas pundaknya. Dari dalam situ keluar wujud seirigala mungil berwarna putih dengan kombinasi biru, makhluk itu memiliki sepasang tanduk serta sesuatu yang terlihat seperti sisik disekujur tubuhnya.
Efbi melayang sebentar diudara lalu dengan lembut mendarat dipundak tuannya, melihat hal itu Lexa langsung terjatuh dan mundur beberapa langkah dari Arya.
"B....ba....bagaimana bisa?!"
"Apanya?" sahut Arya santai.
"D...di...dia bisa keluar sendiri dari Spirit Realm?!"
"Mmm" Arya mengiyakan dengan sebuah anggukan.
"HAH?! M...mak..maksudmu kau tidak perlu menggunakan rantai roh untuk menariknya kelu—"
Arya hanya menggeleng untuk menjawab sebelum Lexa sempat mengakhiri kalimatnya.
"Ini tidak adil! Kok bisa sih?!" teriak Lexa kencang.
"Mana aku tau"
Lexa kemudian terus protes mengenai bagaimana melelahkannya proses penarikan Elemental Beast dari Spirit Realm. Arya yang mendengar hal itu cuma bisa mengangguk-angguk karena ia sendiri tidak mengalaminya.
Amarah Lexa mulai mereda sekitar lima belas menit kemudian, dia mengambil Efbi dari pundak Arya lalu memainkan pipi makhluk mungil itu.
"Arya curang" gumamnya pelan dengan wajah merah.
"Kenapa jadi aku yang salah?"
"Aku tidak terima! Lagi pula kenapa Elemental Beast milikmu jauh lebih imut dari punyaku"
"Kau baru menyadarinya sekarang? Mau aku carikan yang baru?" goda Arya.
"TIDAK PERLU!"
Rake berjalan pelan mendekati mereka tanpa melepaskan pandangan dari Efbi, si serigala mungil kemudian meronta dan melepaskan diri dari pelukan Lexa. Dia lalu mendarat pelan disamping si tikus tanah.
"Ayah, apa dia roh juga?"
Arya tersentak kaget karena suara itu tiba-tiba muncul didalam benaknya, dia tidak menyangka kalau Efbi akan melakukan komunikasi langsung kesana.
"Kenapa anda kaget begitu Tuan?" Mandalika mengomentarinya dengan nada heran.
Benar juga, dia baru ingat kalau Elemental Weapon miliknya juga terkadang melakukan hal yang sama.
"Ayah?"
"Ahh iya, kalian berdua sama. Tapi karena sekarang sudah berada disini, kalian juga memiliki tubuh nyata" jawab Arya dalam hati.
"Oh....begitu"
"Ada apa ini? Ada apa? Apa kalian sedang saling menyapa satu sama lain?" Lexa bertanya sambil tersenyum kepada kedua Elemental Beast itu.
Keduanya menatap Lexa lalu menanggapi dengan anggukan penuh semangat, Lexa kemudian mengelus mereka sambil memasang wajah cengegesan.
"Mandalika? Bisakah kau membimbing Efbi mulai dari sekarang?"
"Tentu, akan kuusahakan yang terbaik"
"Terima kasih"
"Jadi....kenapa Efbi?"
"Mmm?"
Fokusnya langsung buyar karena pertanyaan yang diajukan Lexa, gadis itu menatap Arya penasaran.
"Kenapa kau memberinya nama Efbi?"
"Efbi(FB) itu singkatan dari Frostbite" jelas Arya.
"Eeehh....orang macam apa yang memberi nama hewan peliharaannya dengan nama penyakit seperti itu" sindir Lexa.
"Aku tidak ingin mendengar itu dari orang yang memberi nama hewan peliharaannya dengan nama alat pembersih pekarangan rumah" balas Arya pedas.
Setelah berkemas menyiapkan barang-barang bawaan mereka, keduanya pun bersiap untuk keluar dari Ice Temple. Lexa pamit terlebih dahulu dan mengatakan akan menunggu Arya diluar, ia menghilang hanya dalam hitungan detik.
Sebelum keluar dari ruangan tersebut, Arya menyempatkan diri untuk menoleh ke dalam sekali lagi. ditengah-tengah terlihat seekor serigala putih yang sangat dia kenal balik menatapnya dengan hangat.
"Jika kau bertemu dengan ibuku disana, bisakah kau menyampaikan padanya kalau aku baik-baik saja?"
__ADS_1
Satu anggukan kecil dari Mirianne cukup membuat Arya langsung berbalik dan meninggalkan tempat itu. Perlahan bangunan tersebut mulai bergetar hebat dan runtuh, si serigala berubah wujud menjadi sesosok wanita yang sedang tersenyum sambil menatap langit.
"Teruslah bangkit setiap kali engkau terjatuh Tuan, berjuang dan jangan pantang menyerah. Jalan terjal dihadapanmu tidak akan mudah untuk dilalui. Lyan pasti...bangga padamu"
Arya tiba disebelah Lexa tepat sebelum seluruh Ice Temple rata dengan tanah, Efbi mengekor dibelakangnya dengan langkah-langkah kecil.
"Fyuh, tadi itu hampir saja" Arya menyapu keringat dari keningnya.
"Kenapa lama sekali? Aku sudah hendak kembali untuk menjemput kalian karena kupikir kalian lupa jalan keluar" protes Lexa sambil berkacak pinggang.
"Jangan samakan aku denganmu, ayo. Waktunya kita pulang"
Arya menggapai tangan Lexa dan berlari secepat mungkin menuju portal yang baru saja ia buka menggunakan alat teleportasi miliknya.
------<<>>------
Gadis pelayan muda membawa nampan berisi satu gelas minuman ke salah satu meja yang ditempati oleh seorang pelanggan.
"Silahkan" katanya dengan lembut sambil meletakkan gelas pada meja.
Baru saja dia ingin kembali bekerja, pelanggan itu tiba-tiba menangkap pergelangan tangan kanannya.
"Eee....nona? Bisakah anda melepaskan saya? Saya sedang si—"
"Ketemu" senyum sekilas terlihat pada wajah si pelanggan yang tertutup payung berwarna jingga miliknya.
DUAAR!!!
Ledakan besar menghancurkan sebagian penginapan tersebut, pelayan itu terpental keluar sambil memegang pergelangan tangannya. Dengan waspada ia menatap ke puing-piuing bangunan yang baru saja hancur.
"Kyra!? Apa yang ter—"
"Eli?! Minta bantuan pada Dewan Keamanan kota sekarang!" perintah Kyra pada salah seorang gadis berambut pirang.
Eli yang baru saja tiba dilokasi kejadian hanya bisa mengiyakan permintaan itu karena melihat tatapan ketakutan Kyra. Dia langsung berbalik pergi untuk meminta bantuan.
"Kyraztacia Silvester, itu....namamu bukan? Adik dari Gerrald Silvester, serta putri satu-satunya Alan Silvester sang Silver Magician" penampilan si penyebab ledakan mulai terlihat diantara debu-debu yang bertebaran.
"Kau...."
"Maafkan aku terlambat memperkenalkan diri, Marylin Merlin. Penyihir Agung" Merlin membungkuk hormat untuk memberi salam.
"Orange Witch?! Apa yang kau inginkan dariku?" mata Kyra semakin melebar setelah menyadari siapa sosok yang ada dihadapannya.
"Jangan pura-pura bodoh, pasti kau sudah tau apa yang kuinginkan"
Merlin berjalan mendekat perlahan dengan ujung payung yang sudah terarah ke Kyra, gadis itu hanya bisa menggertakan gigi karena bantuan tak kunjung datang.
"Kau tidak akan tau betapa kehilangannya kami ketika dirimu dan kakakmu Gerrald kabur, sekarang aku akan membawamu pulang"
"Kau tidak berhak untuk memilih, Obrigue!"
"Tutelas!"
Sinar abu-abu dari ujung payung Merlin ditepis oleh Kyra, dia segera mundur untuk menjauhi sang penyihir jingga lalu mengangkat tangannya yang sudah bersinar terang.
"Spondiaz!"
Cahaya muncul seketika menyambar Kyra, sebuah jubah indah berwarna perak menyelimuti tubuhnya.
"Pada akhirnya kau memanggilnya juga, salah satu dari dua Irregularities. Silver Cloak" kata Merlin yang matanya semakin berkilat senang.
"Jika tidak begini, aku tidak akan mampu berhadapan denganmu"
"Begitukah? Mari kita lihat sehebat apa kemampuan yang kau miliki"
Keduanya dengan cepat bersiap merapalkan mantra untuk saling menyerang satu sama lain.
------<<>>------
"Apa sudah selesai?" Merlin menguap santai.
Tubuh memar Kyra melayang beberapa senti dari tanah, sekujur badannya kaku seolah-olah diikat oleh tali tak kasat mata. Berbanding terbalik, Merlin hanya pakaiannya saja yang terlihat sedikit kotor dan berdebu.
"Ugh....sial...." Kyra mengumpat pelan.
"Hmm? Kemampuanmu cukup baik lho, jika saja kau menyelesaikan pendidikanmu di Akademi mungkin akan lebih merepotkanku. Dan kau juga ada kesempatan menjadi Lulusan Kedua Terbaik Akademi Sepanjang Sejarah"
"Kedua?"
"Huum! Benar, karena posisi pertama ditempati olehku" jawab Merlin sambil tersenyum nakal.
Karena tenaganya sudah terkuras habis, kesadaran Kyra perlahan mulai menghilang. Merlin yang menggerakan tubuh tak berdaya Kyra dengan payungnya sudah hendak berbalik untuk pergi ketika sesuatu menghantam keras atap bangunan didekatnya.
Merlin menatap tajam ke arah sumber kegaduhan, ketika debu-debu diatas bangunan mulai menipis. Sesosok perempuan dengan gaya rambut bob balik menatapnya, pada bagian belakang tubuh si perempuan terdapat ekor belang berwarna hitam putih.
Diatas kepalanya mencuat dua telinga dengan warna yang sama, mata gadis itu menyala dan menatap Merlin seolah dirinya predator yang siap menerkam buruannya kapan saja.
"Merlin...." geram perempuan tersebut garang.
"Wah....wah....wah lihat siapa yang datang? Tiger Shio, Baekho" Merlin menyapa balik walau matanya semakin menyipit.
__ADS_1
"Sudah kuduga sihir yang membuat tubuhku gatal ini memang berasal darimu"
"Ahahaha sebenarnya hidungku juga sudah terasa gatal sedari tadi, tapi aku tidak menyangka ada dua belas binatang bau yang belum mandi di tempat ini"
"Jaga mulutmu!" bentak Baekho dengan tangan sudah terangkat.
Saat Baekho melepaskan pukulannya, kumpulan Agnet betekanan tinggi melesat ke arah Merlin. Dia merespon cepat dan langsung membuka payung miliknya untuk berlindung, serangan itu terbelah kemudian menghancurkan apapun yang ada dikedua sisi tempat Merlin berdiri.
"Baiklah-baiklah, aku akan menjaga lisanku mulai sekarang. Jadi....bisakah kau membiarkan aku pergi? Kita berdua tidak memiliki masalah pribadi satu sama lain bukan?" Merlin tertawa geli.
"Kau salah paham, aku kemari hanya karena Dewan Keamanan Underground Paradise berisik dan membuat si Raja Gemuk itu kewalahan" sahut Baekho yang sudah turun dari atap bangunan.
Sejak banyak ledakan sihir yang muncul beberapa saat lalu, tidak seorangpun yang berani mendekati lokasi sekitar mereka. Suasana disana sepi menyisakan perseteruan antara kedua orang berkekuatan mengerikan tersebut.
"Eh...., aku tidak menyangka kalian masih melakukan kegiatan tidak berguna itu sampai sekarang"
"Bukan urusanmu"
"Iyah....benar juga sih, maaf ya hehehe. Urusanku disini sudah selesai jadi waktunya aku untuk berpamitan" pamit Merlin segera memunggungi Baekho.
"Kau bisa saja pergi dari sini tanpa harus bertarung, jika....kau meninggalkan apa yang sedang berusaha kau bawa" desis Baekho sambil mengencangkan kedua sarung tangannya.
"Hah?" Merlin menoleh dengan mata berkilat setelah mendengar kata-kata Baekho.
"Kau pikir aku bodoh? Semua orang juga sudah tau betapa berharganya gadis itu untuk kalian, jangan pikir aku akan membiarkanmu membawanya dengan mudah"
"Mmm....maaf tapi dia harus ikut bersamaku. Anak ini adalah seorang Witch, jadi dia harus berada ditempat yang seharusnya"
"Grr....kalau begitu bersiaplah"
Agnet bertekanan tinggi memancar dari tubuh Baekho, dia lalu merendahkan tubuhnya untuk siap menyerang. Ekor serta rambut si perempuan harimau berdiri tegak karena itu. Ia melesat sangat cepat ke arah Merlin sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Artiglio di Tigre!"
Tiga sabetan Agnet berbentuk cakar menyerang sang penyihir jingga. Namun sayang, serangan tersebut lewat begitu saja seperti tidak mengenai apa-apa. Tidak jauh dari sana, tubuh Merlin muncul kembali dengan senyum mengejek.
"Mau lari kemana kau!" Baekho bergerak cepat untuk mengubah arah.
Ketika Baekho melayangkan pukulan demi serangan kedua, Merlin cukup sigap mengarahkan balik ujung payung miliknya. Saat kepalan tangan dan payung itu bertemu, Agnet disana bergetar hebat.
Tidak butuh waktu lama, suara ledakan besar memenuhi udara lalu tubuh Baekho terpental jauh dan menghantam salah satu bangunan hingga rubuh seketika.
"Cukup main-mainnya, waktunya kembali. Aku tidak ingin kena omel para Penyihir Agung yang lain, kuharap kita bisa bertemu dikesempatan berikutnya. Dah...., dengan begini hanya tinggal mencari keberadaan Black Mara hehehe"
Merlin menjulurkan lidahnya kemudian menghilang tanpa jejak dari sana, reruntuhan bangunan tadi terhempas ke udara. Sosok murka Baekho sudah dapat terlihat lagi.
"DASAR KEPARAT! MERLIN....!!!"
Teriakan itu bergema ke seluruh wilayah Underground Paradise, setelah sedikit mengurangi amarahnya dengan berteriak. Baekho memutar otak akibat kejadian barusan.
"Aku harus cepat melaporkan hal ini, jika sampai para Witch mendapatkan gadis itu maka....ugh....kita harus bersiap untuk mengawasi mereka lebih hati-hati lagi"
Saat dia sedang berpikir keras, suara yang sangat dia kenal memecahkan keheningan.
"Baekho....!? Kau ini, kebiasaan selalu meninggalkan ak—APUA-APAAN INI?!"
Baekho melirik pada seorang gadis pirang yang baru saja tiba, ia terlihat sangat terkejut dengan area sekitarnya. Si gadis pirang memiliki sepasang tanduk melengkung diatas kepala, dia juga mengenakan pakaian tebal penuh bulu.
Mengakibatkan orang yang melihatnya gerah karena suhu udara lumayan panas, terlebih lagi tunggangan miliknya adalah seekor domba jantan berukuran jumbo.
"Itu kau Sheepya?" sapa Baekho cuek.
"Eee...Baekho? Aku tidak tau bagaiamana mengatakannya tapi....bukankah kita diminta untuk membantu mengamankan tempat ini?"
"Huum, benar"
"LALU KENAPA MALAH BISA HANCUR BERANTAKAN SEPERTI INI?!!"
Baekho lalu menjelaskan secara perlahan kepada Sheepya tentang apa yang terjadi, agar si gadis domba merasa lebih baik. Tapi setelah mendengar semua penjelasan wajahnya malah makin murung.
"Ugh....walaupun begitu kejadiannya, aku pasti tetap kena marah Garyu dan Tetua Nezumi" isaknya pilu.
"Itu bukanlah sesuatu hal yang pen—"
"ITU PENTING BAGIKU!"
"Sekarang kita harus melaporkan ini kepada semuanya" sambung Baekho tanpa memperdulikan rengekan Sheepya.
"Tenang saja, aku sudah merekam semua dan mengirimkannya kepada yang lain" celetuk seseorang tiba-tiba.
Baekho dan Sheepya masuk ke mode siaga sambil langsung melihat ke arah sumber suara itu datang, disana berdiri laki-laki berpakaian serba hitam dengan rambut panjang yang berwarna sama balik menatap mereka.
Pria ini juga memiliki sepasang tanduk diatas kepalanya, dia tersenyum santai sambil mengibaskan tangan untuk menenangkan kedua gadis tersebut.
"Ushiro?! Sejak kapan kau—" ucap Baekho terbata-bata.
"Dari awal" sahutnya pelan.
"Hah?! Lalu kenapa kau tidak membantuku saat—"
"Paling kau akan menghentikanku sambil berkata ini bukan urusanmu" Ushiro tertawa geli.
__ADS_1
Baekho menggembungkan pipinya kesal namun tidak punya kemampuan untuk mengelak dari apa yang dikatakan oleh pria serba hitam ini barusan.