Elementalist

Elementalist
Episode 140 - Ketahuan


__ADS_3

Mereka meninggalkan pemakaman untuk meneruskan pembuntutan terhadap ketiga orang sebelumya. Sampailah ke tengah – tengah Distrik Perunggu, disana terdapat pusat perbelanjaan sederhana dengan jejeran etalase – etalase toko.


Arya nampak memasuki salah satu tempat makan bersama pria dan putrinya yang ditemui di makam Amira. Para stalker mengamati agak jauh supaya tidak terdeteksi, mata keempat belasnya terkunci pada nama restoran tersebut.



“Hmm? Sepertinya aku pernah datang kemari....” celetuk Reika.


“Ah!? Aku tau tempat ini! Memang salah satu rumah makan terkenal di kawasan Timur Distrik Perak” Lexa menepuk tangannya sekali.


“Kawasan Timur Distrik Perak? Kalau tidak salah aku juga sempat mendengar berita mirip dari televisi” timpal Selena.


Asyik berpikir, remaja – remaja itu telat menyadari bertambahnya jumlah massa disekeliling mereka. Kurang dari sepuluh menit, sudah ada tiga barisan panjang mengantri di depan rumah makan yang diintai tadi.


“Apa – apaan?!” Timothy terkesiap.


“Dalam sekejap.....bisa sebanyak ini?” bisik Eridan tertawa lemah.


‘Sebaiknya kita ikut antri juga jika ingin tau kegiatan Kapten lebih jauh’ Ali menyarankan.


“Masalahnya adalah.....apa kalian bisa melihat ujung barisan?!” gumam Kizuna sembari menepuk jidat.


Setelah menyusuri cukup lama, akhirnya mereka semua dapat ikut mengantri. Penasaran, Elizabeth bertanya pada pasangan kekasih di depannya kenapa restoran itu memiliki peminat yang begitu banyak.


“Ohh....kalian pengunjung baru ya? Nasution Restaurant memiliki rasa makanan enak tiap harinya, namun pada tanggal ini di setiap tahun. Hidangan akan jauh lebih luar biasa lagi sebab—“


“Adanya seorang koki menawan nan tampan memenuhi pesanan kalian secara mendetail, walaupun terkadang menggunakan campuran bahan aneh sesuai keinginan pembeli. Kyaa!!! Aku tidak sabar melihatnya!!!” potong si cewek kegirangan.


“Eee.....sayang? Aku di sini ingat?” pacarnya berbisik kesal.


Kapasitas rumah makan tersebut tak mampu menampung seluruh pelanggan, oleh sebabnya beberapa harus menunggu giliran terlebih dahulu. Ketika papan tanda buka dibalik, barisanpun mulai bergerak.


Butuh sekitar lima jam bagi Asuna dan kawan – kawan tuk masuk ke dalam Nasution Restaurant, untungnya jumlah orang sudah banyak berkurang. Sehingga lebih leluasa bagi mereka bergerak, tepat sewaktu membuka pintu. Datang gadis pelayan menyambut.


“Selamat datang! Meja untuk be—eh?! Reika?”


“Hmm? Kamu....?”


“Beneran Reika?! Wah....senangnya! Apa kabar? Ini aku!”


Adik angkat Arya menatap perempuan itu dari atas sampai bawah sambil berpikir keras, berusaha megembalikan memori – memori miliknya sebelum berteriak. “Mala!?”


------><------


“Kok aku bisa lupa kalau ini rumahmu!?”


“Hahaha....kamukan sudah jarang main ke sini”


“Reika?” panggil yang lain penuh tanda tanya.


Reika dan Kemala sebenarnya adalah sahabat, tetapi karena sekarang memiliki minat masing – masing serta berbeda kelas. Keduanya jarang bertemu walau masih saling bertukar kabar satu sama lain.


“Pantas saja terasa familiar bagiku....”


“Bagaimana mungkin kau melupakan tempat tinggal sahabatmu sendiri?” Asuna menatap heran.


“Berisik! Kalian tidak tau saja betapa sibuknya anak kelas 9 SMP zaman sekarang!” seru Reika membela diri.

__ADS_1


Kemala mengantarkan mereka ke meja kosong, ternyata gadis itu cukup cepat mengakrabkan diri dengan orang lain, sehingga mudah mengikuti arah pembicaraan. Perbincangan hangat tersebut terpaksa berhenti ketika terdengar suara memanggil.


“Kemala Prasasti Utami Nasution!?”


“Iya Ayah? Maaf aku harus—“


“Hmm?”


KYAA!!!


“EKH!?”


Karena si pelayan tak kunjung kembali, Arya memutuskan keluar dapur demi melihat keadaanya. Dia berdiri di sana memegang sebuah buku kecil tuk mencatat pesanan, tatapan dingin mengintai mereka dari sorot mata Arya.


“H...ha...halo kak? Hehehe....” sapa Reika terbata – bata begitu mendapat sodokan sikut Asuna.


BRAK!


Arya meletakkan keras barang bawaanya diatas meja dan mengakibatkan semuanya terkejut bukan main. Bahkan Kemala ikut terlonjak kaget, ia mengeluarkan telepon seluler kemudian berkata.



“Paman? Boleh aku buka HP sebentar?”


“Hah? Ahh....tentu, santai saja”


“Terimakasih.....halo? Ayah?”


‘Arya? Tumben sekal, ada perlu ap—‘


‘Eh?’


“Mohon maaf, tiba – tiba ada urusan mendadak. Tolong lupakan janji saya sebelumnya, saya tidak akan pulang sampai akhir tahun. Sampai jumpa”


‘EH!? Arya tu—‘


PIPP....PIPP....PIPP!


Tidak ada satupun berani bernapas terlalu keras saat Arya menelpon Pak Hartoso, mereka semua berkeringat dingin, bahkan cuma menelah ludah terasa begitu berat. Reikapun demikian, ia baru pertama kali melihat kakaknya berbicara formal begitu sembari memasang senyuman palsu.


Kemala sendiri yang tidak tau tentang masalahnya hanya menatap bolak balik antara Arya juga rombongan. Takut berbuat kesalahan, gerakan perlahan pria itu menyebabkan empat belas orang yang duduk pada meja sangat gelisah.


“Aku tidak mau mendengar alasan, jadi percuma memikirkannya. Pesanan kalian? Tuan? Nona?” tanya Arya mengambil lagi bukunya.


“Kak biar aku saja—“


“Jam sibuk sudah lewat, Mala duduk saja temani mereka. Biar aku dan paman mengurus sisanya”


Protes Kemala harus gagal setelah Arya mengusap kepalanya, mau tak mau dia ikut serta duduk di meja tempat Reika bersama yang lain berada.


“Arya? Arya? Arya? Aku ingin pesan Omelette Madu” Lexa akhirnya mengambil alih kesempatan bicara karena sudah tak mampu berkompromi dengan perutnya, walaupun suasana masih terasa berat.


“Siap”


“Salad Buah dilumuri minyak zaitun satu” kata Rena tersenyum.


“Baik”

__ADS_1


“Ah! Ah! Ah! Sate Kambing Saus Paprika!” Timothy mengangkat tangan.


“Habis”


“Hah!? Sungguh?”


“Bercanda, terus.....”


Arya mencatat pesanan semua secepat kilat lalu langsung bekerja kembali di dapur, dalam waktu singkat. Hidangan mengiurkan memenuhi meja mereka satu per satu, uap makanan beraroma lezat membuat air liur menetes. Tak lupa, Arya menaruh segelas susu dan nasi goreng dihadapan Kemala.


“Eh? Kak aku tidak—“


“Makan siang, serta ucapan terima kasih sudah mau menemani mereka” jawab Arya cepat sebelum melenggang pergi.


Ayah Amira melihat kejadian tadi sehingga bertanya kepadanya kenapa tidak bergabung, Arya mencuci piring kotor sambil bersenandung pelan.


“Kupikir Kemala saja sudah cukup”


------><------


“Jadi begitu....kalian tau mengenai kakakku”


Begitu selesai makan, Reika menceritakan alasan kenapa Arya bersikap demikian diawal tadi. Kemala tidak terlihat terganggu, ia juga mengaku kalau dirinya pergi bersama Arya ke Distrik Perunggu untuk mencari persediaan bahan – bahan makanan restoran.


Disitulah semua jadi jelas, gadis perempuan yang waktu itu bersama Arya adalah Kemala. Perasaan lega memenuhi dada para perempuan. Merasa sedikit bersalah karena sempat berpikiran buruk tentang Kemala.


Dilain sisi, Reika masih tak percaya bagaimana mungkin sahabatnya tersebut bisa memiliki hubungan dekat dengan Arya tanpa dia sadari. Kemala menjelaskan kalau mereka berdua sejak kecil cukup dekat apalagi setelah sepeninggal Amira.


“Aku selalu berusaha menjadi pengganti kakak untuk kak Arya, tapi....mustahi. Buktinya ia tetap datang kemari tiap tahun, memasang senyuman terbaik. Lalu menatap kosong ke arah foto kakak”


“Kau masih mengingat kakakmu?” tanya Selena lembut.


“Samar – samar sih, namun kami sangat akrab. Dia adalah gadis periang nan pemberani, sementara aku merupakan adik pengecut yang selalu dilindungi. Salah satu alasan mengapa kak Amira selalu dimarahi oleh ayah dan ibu hehehe”


“Eeee....aku semakin penasaran.....tentangnya” Reika berkomentar santai.


“Oh iya Reika, ada suatu hal belum kuberitahukan padamu”


“Mmm? Mengenai apa?”


“Aku.....pernah menyatakan cinta pada kak Arya, maaf ya”


PFTT—UAH!!!


“Uhuk!....uhuk!” mereka tersedak minuman masing – masing mendengar pernyataan Kemala.


“APA!?”


 





__ADS_1


__ADS_2