
Arya akhirnya kembali ke Pusat Penelitian, ia menjalankan hari – harinya seperti biasa. Seluruh teman dekatnya hampir tau tentang Amira namun tak pernah mengungkit tentang gadis tersebut dihadapan Arya.
Untuk sementara waktu, para Elementalist masih diliburkan dalam menjalankan misi karena dampak dari tugas sebelumnya begitu besar. Sehingga mereka kebanyakan menghabiskan waktu bermain bersama juga latihan.
Pagi hari itu, Arya duduk seorang diri di Ruang Latihan. Belum ada orang lain datang, ketenangan yang jarang terjadi dimanfaatkan olehnya tuk mencoba sesuatu. Sambil mengatur napas, dia mulai mengalirkan seluruh Agnet miliknya secara menyeluruh.
Muncul tiga warna berbeda mengelilinginya, berkumpul kemudian menjadi satu dan terkonsentarsi pada bagian mata. Perubahan fisik perlahan semakin nampak, telinga dan gigi taring Arya memanjang. Ada juga sembilan benda panjang berbulu menghiasi bagian belakang tubuhnya.
“Elf Descendant, Blood Servant, Orb Guardian. Activated!”
Kekuatan hebat merembes keluar, Arya berusaha sekuat tenaga menahan tekanannya supaya tidak meledak. Pergolakan luar biasa saling beradu dalam tubuhnya, ketiga sosok berbeda menatap satu sama lain penuh rasa benci.
‘Kelelawar kotor bersama rubah kampung, pergilah!. Kalian mengganggu pemandangan’ ledek Arya bermata biru.
‘Peri angkuh sepertimu terlalu baik untuk tubuh ini, hihihi mengapa bukan kau saja yang enyah?’ Arya dengan mata merah membalas.
‘Dua makhluk berisik tak tau diri’ komentar satu lagi yang merupakan pemilik mata kuning.
‘Dari pada bertengkar, bagaimana kalau kalian membantuku? Sebagai pemilik tubuh ini’
‘Hmm?’
“Bergabunglah jadi satu, Three-Colour Emperor Eye!”
GURRR!!!
Gempa kecil mengguncang Elemental City sewaktu Arya membuka mata, terdapat tiga warna melekat dipupilnya. Biru, merah, dan kuning. Laki – laki itu langsung membaringkan tubuh lelah, teknik penggabungan kekuatan ras benar – benar menguras energi.
TSS!!!
“DASAR BOCAH TIDAK TAU DIUNTUNG!!!” entah dari mana, seorang gadis mungil berpakian serba biru telah menduduki badannya sembari memasang raut wajah kesal.
“Yo Safira? Akhirnya kalian bangun juga, semua baik – baik sajakan? Hahaha”
Sebenarnya ketiga atribut Elementalist Arya mengalami hibernasi setelah melakukan tindakan darurat demi melindungi tuan mereka, terutama menjaga tubuhnya agar tidak hancur sesudah memaksa masuk ke tahap Master.
Sejak siuman, Arya memang tak mampu berkomunikasi dengan Mandalika, Efbi, maupun Safira. Tetapi sepertinya ketika barusan ia berhasil membuat teknik penggabungan kekuatan ras, Agnet berkualitas juga banyak mampu membangkitkan ketiga atribut miliknya.
‘Ayah? Tolong jangan lakukan hal itu lagi’ rengek Efbi.
‘Tuan? Anda sungguh – sungguh—‘ Mandalika menggeleng – geleng pusing.
Saking kecapaiannya, cuma Safira yang mampu keluar lalu mewujudkan bentuk Manusia. Sementara Mandalika bersama Efbi hanya berkomentar dalam benak Arya saja. Si naga es mengomel tanpa jeda akibat masih gerah atas keputusan Arya di Zoonatia.
“Apa susahnya sih meminta tolong!? Bertindak sendirian belum tentu dapat menyelesaikan apapun! Mengorbankan diri juga bukanlah pilihan! Kau pikir setelah mendekam di telur lama sekali, aku akan membiarkanmu mati semudah itu hah?!”
Arya tetap tertawa walaupun diguncang keras oleh Safira, dia merasa kembali ke rumah begitu bisa mendengar celotehan – celotehan atributnya lagi. Karena gempa dan suara berisik, orang – orang mulai berdatangan.
Mereka mendapati Arya sedang memangku anak kecil berambut putih yang tengah cemberut, gadis manis itu menatap sinis kerumunan pendatang. Arya meminta maaf terus menerus sambil mengelus kepalanya.
__ADS_1
“Kapten?” panggil Kevin bingung.
“Kau melakukan apa sepagi ini?” Callista mengangkat sebelah alis heran.
“Wahhh lucu sekali! Adik kecil siapa namamu?” seru Selena mendekat.
“Arya? Dia.....?” yang lain menatap penuh tanda tanya.
“Hmm? Kenapa? Bukankah kalian semua mengenal Safira?”
Teman – temannya berpikir sejenak, berusaha mengingat – ingat nama yang diucapkan Arya barusan. Lalu tersadar sambil tersentak kaget.
“EH?!”
“Berhenti memandangiku! Manusia – manusia aneh!” gerutu Safira ketus.
------><------
Kemampuan Three-Colour Emperor Eye sangat luar biasa, Arya seperti melihat pergerakan orang lebih lambat dari seharusnya. Hal tersebut membuat ia seakan mampu membaca serangan lawan juga mengambil langkah antisipasi dalam tempo cepat.
Protes Mandalika, Efbi, dan Safira akhirnya berhenti ketika dirinya berjanji akan membelikan mereka barang keinginan masing – masing nantinya. Malam hari itu, ada pesan masuk ke telepon seluler Arya, yang ternyata ajakan dari Reika untuk melihat Festival Lampion besok.
Adik angkatnya tersebut memintanya mengundang beserta Asuna dan yang lain juga supaya ikut. Arya tersenyum sendiri menyadari kalau hubungan mereka nampak membaik. Reika bilang dirinya akan datang bersama Kemala.
‘Jadi pastikan Kakak datang ke sana (kalau sampai tidak, Reika tak mau bertemu kakak lagi!)’
“Iya – iya, lama kelamaan anak ini makin memaksa saja” Arya menggaruk – garuk kepala lelah.
Cahaya indah menghiasi langit juga air ketika ribuan lampion dilepaskan dari pinggir danau ECP. Selesai acara utama, keenambelas orang tersebut pergi melihat stan – stan penjual makanan. Banyak sekali benda yang dipamerkan di tempat tersebut.
Selain itu ada juga acara musik, beberapa grub menyanyikan lagu silih berganti. Terkadang muncul pengunjung yang ingin ikut menyumbang tampil. Ketika tanpa sengaja lewat, si pengisi acara menunjuk Arya untuk naik ke atas panggung.
Warna rambut putih membuatnya terlihat mencolok diantara kerumunan, mau tak mau dia harus bernyanyi dihapan para pengunjung. Terlihat bingung, Arya bertanya harus menyanyikan lagu apa.
“Terserah anda tuan, siapa tau lagu kenangan masa kecil anda” jawab si MC santai.
Ragu sesaat, Arya menaruh tangan diatas piano. Jari lentiknya mulai bergerak memunculkan irama indah nan menyejukan. Diapun membuka mulut.
Hei....di dunia berwarna warni ini.....
Kebahagiaan itu...ma...sihlah ada....
Sambil....jika bersama......
Ketika ada seseorang yang memanggilmu pembohong.....
Kata – kata itu mungkin saja menyakiti hatimu.....
Dan seluruh dunia percaya itulah kenyataannya....
__ADS_1
Memaksamu....akuinya....dengan memakai mahkota duri....
Tetapi aku akan se....lalu berpihak kepadamu.....
Karena aku mengerti s’mua rasa sepi dan deritamu.....
So everything that makes me whole.....
Kini....kan kuberikan pada....mu....haa....i’m yours....
Suatu hari nanti akukan mengerti semuanya....
Mesti aku akan berada di tempat itu untukmu....
Disana harapankan nyata setelah lewati semua rintangan....
Tak ada yang....perlu kuucap....ketika kita bertemu.....
Tak akan kulupakan semua hal yang dulu pernah kau katakan....
Karena kulebih mengerti.....dari yang lain tentang itu....
Sehingga kini kubisa memberikan semua hal itu.....
Untukmu.....
TES!
“Eh?”
Perlahan gerimis hujan jatuh ke tanah, orang – orang baru tersadar kalau wajah mereka sudah dibasahi air mata. Lalu cepat – cepat mengusapnya walau tidak paham kenapa bisa menangis, semua saling menatap keheranan.
Sementara Kemala yang menonton dikejauhan juga seakan tak mampu menahan diri, dia mengenali lagu itu. Lagu ciptaan kakaknya Amira untuk Arya, sebuah hadiah terakhir paling berkesan yang mungkin tidak akan hilang dimakan oleh waktu.
“Lagunya bagus sekalikan? Eh? Reika?”
Ketika Mala menengok ke kiri dan kanan demi mencari keberadaan sahabatnya. Seorang gadis beridiri dipinggir puncak salah satu bangunan tinggi sambil memandangi Arya memainkan piano menggunakan mata berwarna merah muda, dia tersenyum lebar.
“Wajah sedihmu itu....sungguh menawan....Onii-chan....hehehe.....”
-Ten Years Ago Arc Status : Finished -
Author Note :
Original Song : My Dearest - Supercell
Alasan mengapa menggunakan lagu ini karena saya adalah salah satu penggemar berat Guilty Crown (walaupun endingnya kayak T41). Juga sebab arti lagunya sangat mengena dan pas untuk cerita ini, gtu aja. Oh iya kalau yang pensaran sama versi bhs Indonesianya ( lirik yang muncul pada chapter ini). Silahkan tonton di Youtube channel Lovangel Studio. Jangan lupa disubsribe yo. Ciao!
__ADS_1