
“Bagaimana kau bisa tau namaku?” gadis itu balik menatapnya aneh.
“Ahh....kita pernah bertemu sebelumnya. Sudah lama sih, wajar saja kau lupa”
“Hmm....?”
Kyra memiringkan kepala, berusaha menggali ingatannya. Ia memperhatikan Arya dari atas sampai bawah, penampilan bocah tersebut harusnya sulit tuk dilupakan. Perlahan dia mendekat lalu mengacak – acak rambut Arya.
“Hei?! Apa yang—“
“Sebentar, sepertinya aku mulai—WAA...!!!”
JDUAK! BRUAK!
Sang gadis berambut perak mundur secepat kilat akibat menyadari dan juga terkejut akan identitas pria dihadapannya, saking terburu – burunya. Kyra menabrak lemari buku dekat tempat tidur cukup keras, seakan belum puas. Kesialanya bertambah sewaktu beberapa kumpulan lembar kertas tebal itu mejatuhi kepalanya.
“Aw! Aw! Aw! Hee....kepalaku....hiks” rengeknya.
“Kau baik – baik saja?” Arya cepat – cepat membantunya.
“Tuan Axel?”
------><------
“Kenapa anda bisa berada di sini?” tanyanya masih mengelus bagian atas kepala dengan mata berair.
Keduanya sekarang duduk berhadapan pada meja makan, Arya berusaha tersenyum ramah. Ia sedikit merasa bersalah karena mengakibatkan kecelakaan kecil barusan. Tetapi Arya sendiri tak percaya akan bertemu Kyra di Magihavoc.
Terakhir kali mereka bertatap muka adalah hari di mana Arya dan Lexa pergi menemui raja Vermaand, sebab kejaran pengawal kastil. Dua Elementalist ini tidak sempat kembali ke penginapan untuk berpamitan kepada yang lain.
Walau sebentar, pengalaman menjelajahi Underground Paradise cukup berkesan bagi Arya. Yah....meski bisa jadi alasan utamanya karena capai mengurus Lexa, Kyra pasti juga penasaran mengapa keduanya menghilang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mengingat gadis itu merupakan pelayan penginapan mereka.
“Tolong berhentilah bicara formal, kau bukan pelayan lagi bukan?”
“Mmm....akan kuusahakan....” ujar Kyra patuh.
“Eee....dan sebenarnya namaku bukan Axel, kau bisa memanggilku Arya. Ngomong – ngomong, apa kau lapar?” Arya sigap menggulung lengah jubah.
“Hah?”
“Lebih enak bicara sambil makan hidangan hangat” kata Arya bergerak menuju dapur melihat – lihat bahan masakan.
Untungnya persediaan kamar tersebut masih sangat banyak, memang hampir semua penghuni jarang membuat hidangan sendiri. Karena sekolah menyediakan hal itu, tiga kali sehari para pengurus menyajikan berbagai menu luar biasa kepada Candidate of Destiny.
Dan mereka bebas memilih mau menyantap makanan di aula asrama ataupun kamar masing – masing. Sembari bekerja menyiapkan santapan tuk mereka, Arya bicara dengan Kyra. Nyatanya perbincangan itu mengalir seakan keduanya adalah teman yang sudah lama tidak bertemu.
Awalnya Kyra sedikit ragu, sehingga Arya memutuskan menceritakan terlebih dahulu kisahnya. Sejak dirinya dan Lexa meninggalkan Underground Paradise, ekspresi remaja perempuan itu kian berubah sewaktu Arya mengaku berasal dari Elemental City.
__ADS_1
Memanfaatkan kemampuan menilai orang, Arya juga tak ragu memberitahu identitasnya sebagai Elementalist. Namun menyembunyikan fakta kalau sekarang dia dalam sebuah misi penting, yaitu menggagalkan pembagian pusaka Five Heavenly Stars Tournament.
“Maksudmu....kau dan Ayra....”
“Namanya Lexa, silahkan”
Aroma sedap memenuhi ruangan sejak Arya mulai memasak, hal ini membuat Kyra menelan ludah. Sebenarnya perut wanita muda tersebut sudah berbunyi karena kecerobohan dirinya tak ikut sarapan tadi pagi.
Dia menatap Arya yang tersenyum ramah padanya, perlahan Kyra mengambil sendok kemudian mengarahkan ke hidangan di permukaan meja makan. Begitu suapan pertama masuk, ekspresi wajahnya langsung sumeringah.
“E....NAK....!?”
“Hehehe syukurlah, selamat menikmati. Tenang saja masih banyak kok”
Kurang lebih sekitar dua puluh menit, baru akhirnya Kyra menaruh alat makannya sebelum membersihkan mulut dengan anggun, tapi semua itu rusak ketika suara sendawa keras keluar begitu saja. Sambil berteriak malu dia berusaha menutupi wajah merahnnya menggunakan jubah.
Arya berusaha lembut menenangkan teman sekamarnya, walaupun cukup terkejut sebab tak menyangka Kyra memiliki sisi begitu. Selesai meminta maaf terus menerus, kali ini giliran ia yang menceritakan mengapa bisa berada di sini.
Arya mengernyitkan dahi mendapati kabar kalau Kyra diseret secara paksa ke Magihavoc oleh Marylin Merlin, tetapi ada beberapa kesempatan Arya mendapati kalau Kyra berusaha menyembunyikan fakta – fakta tertentu.
Meski dirinya telah mengetahui hal – hal tersebut cukup lama, bahkan tanpa sepengetahuan Kyra sendiri.
“Terima kasih atas makanannya” Kyra menundukan kepala tulus.
“Ahh sama – sama, anggap saja kita impas. Aku juga minta maaf soal yang sebelumnya”
“Huum, kupikir jika itu Tuan Arya tidak ada masalah—m...ma..maksudku bukannya aku tak keberatan sekamar dengan laki – laki. Hanya saja dirimu terlihat dapat dipercaya dan—“
“I..iya?”
“Maafkan....kakak bodohmu ini...m” gumam Arya pelan.
“Eh?”
“Itulah pesan Gerrald Silvester sewaktu aku berkunjung ke Winter Hollow”
Air mata perlahan merembes menghiasi pipi Kyra, dia menangis sambil memanggil – manggil nama sang kakak. Arya merangkulnya tuk menenangkan gadis tersebut, ketika isak sendu Kyra berhenti dan dirinya tertidur akibat kelelahan. Arya menggendong tubuh ringan si anak perempuan lalu membaringkannya di atas kasur.
------><------
Terdapat sebuah pertemuan khusus setiap satu minggu sekali, acara ini dihadiri oleh hampir semua Candidate of Destiny. Biasanya para anak berbakat senang bergaul dengan sesamanya, bisa dibilang kalau kegiatan tersebut benar – benar menggambarkan hal itu.
Mereka saling bertukar ilmu pengetahuan mengenai sihir juga memberi saran untuk masing – masing, tentu saja orang paling dihormati diantara semuanya sekarang adalah Marylin Merlin. Sebagai Witch bintang sepuluh yang tinggal menunggu kelulusan.
Namun ada sebuah kejadian unik kali ini, karena kemunculan beberapa wajah baru dalam pertemuan tersebut.
__ADS_1
“Nona Lullaby? Maukah engkau pergi keluar bersamaku akhir pekan?” salah seorang murid laki – laki tampan mengajukan diri.
“Hmm? Tentu, jika kau ingin sebuah lubang besar menganga menghiasi tubuhmu” jawab Friska sinis.
“Ahahaha....usaha yang bagus Dhigorim, tetapi kupikir tak cukup hanya berbekal mental saja untuk mengajak kencan sang Black Mara” Merlin tertawa geli.
“Berisik!—“
KRIET!
Sebelum Friska sempat menggertak, pintu ruangan terbuka. Anak laki – laki berambut putih yang sangat mereka kenal masuk menggunakan jubah hitam bersih, ekspresinya seolah – olah mengatakan apa aku benar – benar harus datang kemari?.
“Ah?! Hey Arya?! Duduklah—“
“Jangan bercanda, aku tidak sudi berdekatan dengan dia”
Lambaian tangan Sierra langsung dihentikan oleh saudara kembar laki – lakinya, memang benar belum lama ini gadis itu juga naik ke peringkat bintang delapan. Sehingga masuk ke dalam jajaran Candidate of Destiny.
Walaupun terlihat keberatan, Sierra dipaksa keras. Arya cuma tersenyum sembari membalas lambaiannya, lalu duduk pada salah satu kursi kosong.
“Ohohoho.....” Friska memperbaiki posisi duduknya.
“Sejak kapan kita mengundang gembel kemari?!” tanya penyihir pria yang berusaha mengajak Friska kencan sebelumnya gusar karena sepertinya gadis itu lebih tertarik kepada si bocah pendatang baru.
“Gembel? He....kau tidak malu kalah cepat naik peringkat dari seorang gembel?” sindir Merlin dingin.
Kata – kata teresebut langsung membuat gelak tawa beberapa Candidate of Destiny menghilang seketika, suasana meja berubah sunyi dan mencekam. Hanya Arya, Merlin, Friska, dan Morgiana yang masih nampak bersikap biasa saja.
“Selamat datang....mungkin harus kubilang....” Merlin meliriknya santai.
“Terima kasih, walau sebenarnya aku tak tau akan diterima atau tidak di tempat ini” balas Arya tenang.
“Mmm....? Kalau begitu? Mengapa kau datang?”
“Aku dimintai tolong untuk menemani seseorang”
KRIET....
Pintu terbuka tuk kedua kalinya, gadis cantik bergaun perak masuk. Mata semua orang kecuali Arya melebar karena jarang sekali dapat melihat dirinya menghadiri pertemuan.
“Silver Magician....?” bisik saudara kembar Sierra.
“Hehehe....” Friska tertawa senang.
“Lama tidak berjumpa Kyra, kemarilah—“
__ADS_1
Kyra melenggang mengabaikan kata – kata Merlin, lalu tanpa pikir panjang langsung duduk manis tepat di sebelah Arya. Mengakibatkan yang lain tentu bertanya – tanya memiliki hubungan apa bocah itu dengannya.
“Terima kasih, tapi aku lebih suka bersama teman sekamarku”