
Sedang terjadi kehebohan di Dragon Sanctuary, para naga keluar dari pemukiman mereka sambil menatap ke angkasa. Bahkan Tetua – Tetua Klan ikut melakukannya, meski kala itu seharusnya masih siang hari. Suasana pulau gelap seolah dinaungi awan mendung, nyatanya fenomena ini terjadi akibat ratusan ekor reptil bersayap terbang secara rapi layaknya kawanan lebah yang marah.
Cornus bersama delapan Tetua lain menyuruh bawahan – bawahannya menahan diri, ia berjalan paling depan diikuti oleh sisa anggotanya. Sayapnya perlahan membentang kemudian mengepak, melayang perlahan menuju sosok pemimpin pasukan siap tempur tersebut.
“Lama tidak berjumpa....Piezog....”
“Yo....bagaimana kabar kalian semua?” tanya seorang bocah laki – laki dengan dua sayap bersisik kehijauan menghiasi punggungnya.
Terdengar tarikan napas kencang, kebanyakan masih belum percaya melihat Tetua Klan Ventumorp yang telah lama menghilang ditemani seluruh naga angin ketika meninggalnya Elementalist terakhir mereka muncul kembali dihadapan masing – masing.
“Kau sungguhan? Kemana saja kau!? Mengapa menghilang tanpa mengucapkan apa – apa?!” Spina membentaknya dengan perasaan campur aduk.
“Kami pergi tuk mencari jati diri...”
“Hah!? Kau bicara—“
“Ventumorph Piezog Linux....”
Suara panggilan halus mencuri perhatian semua orang, siluet laki – laki duduk santai menumpang diatas salah satu punggung barisan naga di belakang Piezog adalah pelakunya. Mata para Tetua melebar sulit menerima hasil pengelihatan mereka sendiri.
“Iya Tuan?” sahut Piezog segera menoleh.
“Masih lamakah? Aku tau ini momen reuni yang mengharukan tapi....jadwal kita sedikit padat, mengerti?”
“Xavier Vortex? Bagaimana mung—“
“Wuuu....hentikan sikap sok kerenmu itu dasar! Tidak cocok tau....hihihi....”
“Tutup mulutmu gadis menyebalkan....”
Belum selesai dikejutkan akan kehadiran Elementalist Angin dua generasi sebelumnya, anak perempuan berambut merah muda menampakkan diri sambil menunggangi seekor naga berukuran tidak normal dengan sekujur kulit dipenuhi kristal.
‘Cornus?! Anak itu! Auranya mirip—‘
‘Tuan – tuan kita, siapa dia sebenarnya? Aku juga kurang paham....’ Cornus membalas telepati rekan – rekannya.
Xavier dan Reiko mendekati para Tetua Klan tanpa merasa terintimidasi sedikitpun. Kunzite, Elemental Dragon milik Reiko memamerkan gigi – gigi tajamnya penuh rasa haus darah. Meski sadar serta mengetahui alasan kedatangan mereka Cornus tetap bertanya demi memastikan.
“Apa tujuan kalian kemari?”
“Bukankah sangat jelas? Tentu meratakan Dragon Island....” jawab Reiko tersenyum lebar.
“PFFT!? HUAHAHAHA....”
Tawa menggelegar memaksa pandangan setiap orang tertuju ke satu arah, dimana Tetua Klan naga terakhir terbang sembari memegangi perutnya geli. Entah mengapa kulitnya nampak sedikit basah, beberapa sosok beraura pekat tiba terus ikut menemaninya.
“Aku cepat – cepat kemari mengira ketiduran hingga malam saat mandi air panas namun malah menemukan sekumpulan pecundang! Huahahaha....!”
“Astrid....!” Piezog mendesis, terdengar sedikit kebencian dari nada bicaranya.
__ADS_1
“Tunjukkan wajahmu, jangan bersikap seolah – seolah tidak berdosa begitu dong....”
“Tuan Xavier?”
“Hmm?”
“Izinkan aku berubah wujud....”
“Oke...”
“Hey!? Siapa yang memperbolehkan—”
Xavier berpindah ke Kuznite lalu menyebabkan Reiko menggeram kesal, sementara Elemental Dragon kepunyaan Xavier perlahan bertransformasi menjadi seorang pria. Ia menatap sendu kepada sahabat – sahabatnya terutama si laki – laki penunjuk tadi.
“Senang melihatmu baik – baik saja, Vilhelm. Teman – teman....” sapanya pelan.
“Orvinth? Jangan bertindak bodoh, kembalilah bersama kami....” Scogliera berkata lembut.
“Maaf, tetapi mustahil....”
“Kau benar – benar kehilangan arah karena kehilangan Tuan ya? Tidak kusangka hari pertarungan antar Elemental Dragon akhirnya tiba....” ujar Vilhelm dingin.
“Huh! Huh! Kau....ada aroma Onii-chan melekat pada tubuhmu....berikan....” Reiko mengunci target.
“Cukup! Meratakan Dragon Island kau bilang? Jangan bercanda! Setelah menghilang puluhan tahun sekarang kalian datang bersama orang yang mengakui dirinya sebagai Elementalist Angin ditambah gadis palsu penipu ingin berperang?! Kau meremehkan kami atau apa?! Biar kutunjukkan seberapa konyolnya itu! Bruciatura Delle Ossa....!!!” seru Astrid kemudian melepaskan tembakan api super panas melalui kepalan tangannya.
BURRRN....!!!
------><------
Dua orang paling berjasa atas peningkatan ini adalah Pengawas Varuq dan Pengawas Gustav, mereka membimbing Callista untuk menambah daya tahan serta tekniknya. Varuq mengajarkan cara bergerak senyap namun mematikan sedangkan Gustav memberitahunya dasar – dasar bertarung menggunakan senjata jenis pisau.
Pada dasarnya dia memang paling sering menciptakan sepasang bilah tajam berbekal kekuatan manipulasi darahnya. Tetapi walaupun merasa demikian, Callista masih terpukau saat seorang perempuan pegawai salon juga bapak polisi menghabisi lusinan musuh yang menyergapnya sewaktu berusaha menyelamatkan kumpulan murid taman kanak – kanak.
Hanya berbekal gunting dan pentungan masing – masing membunuh Ghoul dalam hitungan detik, sebelum menghilang keduanya melambaikan tangan ke arah Callista. Dia membalasnya meski masih tidak memahami kejadian barusan.
Usai menyerahkan tanggung jawab mengantar anak – anak menuju tempat para anggota Pusat Penelitian, Callista melanjutkan pekerjaanya. Telinganya menangkap panggilan minta tolong lemah, Callista mengikutinya kemudian menemukan bangunan panti jompo hampir rata dengan tanah akibat terkena reruntuhan gedung bertingkat.
Di dalam ada satu wanita lansia terperangkap karena semua jalan keluarnya tertutup entah itu pintu maupun jendela. Callista memintanya bersabar lalu mencoba memindahkan beberapa bongkahan besar, baru saja kulitnya menyentuh benda di hadapannya. Hawa dingin familiar membuat hatinya berdetak kencang.
“KE-TE-MU...!!!”
BUAKH!!!! SRRR...!!!
Hantaman keras menyebabkan Callista terpental puluhan meter, dia kesulitan bernapas saking telaknya serangan barusan. Belum sempat pulih Callista segera berlari akibat hujan anak panah kemerahan, saat menoleh mencari lokasi penembak tiba – tiba muncul sepasang muda – mudi menghadangnya.
SLASH! JLEB!!!
“ARGH..!!? OEK...!?”
Sang pria melepaskan lima cakaran merah yang merobek kulit tangan Callista sewaktu berusaha melindungi diri terus perempuan satunya menusukkan pedang tepat mengincar bagian vital miliknya. Untung Callista sempat menggunakan kemampuan berlindung darahnya sehingga hanya terdorong mundur.
__ADS_1
“Usai mempermalukanku kau tak berpikir akan lepas mudah bukan? Wahai adikku sayang?” seorang gadis pembawa palu besar merah mendatanginya.
“Uhuk! Uhuk! Kak Aris, Kak Dexi, Kak Galahad, Kak Ethel?” Callista bergumam pelan penuh keterkejutan.
“Ohh...? Setidaknya kau masih menyebut kami sebagai kakak....” balas Ethel membersihkan senjatanya.
“Aduh....anak – anak ini....kasar sekali. Bagaimana kalau adik bungsu kalian tewas?”
“Hihihihi kebiasaaan buruk, nampaknya harus diberi hukuman....”
“Ukh....Madison....dan Fae....Tepes....” Callista bicara dengan suara tercekat menyaksikan kemunculan dua sosok wanita paling dibencinya.
“Eh? Callista? Kau tidak mau memanggil Mama?”
“Jangan bercanda! Kalian bukan I—“
BUAKHH!!!
“Berani juga kau membentak Ibu....” bisik Galahad sehabis melepaskan tendangan mematikan.
Tapi pada kesempatan barusan Callista sudah siap, dia menahannya tanpa cedera sedikitpun. Sayang luka serangan bertubi – tubi sebelumnya memaksa Callista bertekuk lutut lagi, matanya berpindah dari satu wajah ke yang lainnya. Benar – benar tidak percaya seluruh anggota keluarga utamaTepes menunjukkan batang hidungnya di Elemental City.
“Red Line....”
SYUU...!!! JDUAR!
Callista sukses menghindari tebasan energi pedang Ethel, jurus itu melintas tepat dimana wajahnya berada sekian detik yang lalu. Dia menoleh dengan muka pucat pasi ketika menyadari sesuatu, Callista melesat secepat mungkin menuju bangunan di belakangnya. Awalnya semua mengira ia kabur lalu berniat mengejar tapi ternyata gadis tersebut dengan bodohnya menghilang ke arah bawah gedung runtuh.
“Ugh....Nenek tidak apa – apa?”
“Nak? Punggungmu....”
“Tenanglah, saya baik – baik saja.....” Callista sekuat tenaga menahan beban pada pundaknya.
“Kamu yakin?”
“Iya, silahkan keluar. Di sini berbahaya, datangi taman. Pasti banyak petugas keamanan bersiaga”
“Terus kamu bagaimana?” tanya wanita tua itu khawatir.
“Ahahaha....saya punya masalah keluarga untuk diurus sebentar....”
Begitu korban meninggalkan lokasi, Callista langsung menghempaskan reruntuhan di atas badannya. Debu memenuhi udara sekitar, tetapi sewaktu menipis siluet enam orang sebelumnya masih sabar menunggu kemunculannya.
“Hmm? Kau minum apa?”
SLURPP...!!!
“Ini cadangan terakhir darah Servant milikku sialan....bersiaplah” Callista membalas sambil masih menggigit kantung pemberian rumah sakit.
__ADS_1
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.