
Ujian kenaikan peringkat makin dekat, hal ini biasa dilakukan sekitar satu atau dua bulan sekali. Semua bertambah semangat berlatih demi berusaha mencapai syarat minimum mengikuti Five Heavenly Stars Tournament, yaitu Witch bintang lima.
Tak ada satupun siswa – siswi Divina Academy bersantai akhir – akhir itu, tanpa terkecuali Arya dan Ryan. Mereka berencana mencapai target sebelum enam bulan lagi acara tersebut dimulai, Turin serta Qibo juga lebih sering keluar belajar.
Sebab keduanya hanya tinggal naik satu tingkat agar dapat berpartisipasi, ujian dari bintang empat ke lima memiliki kesulitan diatas rata – rata. Memaksa dua penyihir muda ini tidak punya banyak waktu membantu Arya maupun Ryan.
“Hehh....ternyata mereka juga ingin mengikuti turnamen?” Ryan berbalik badan setelah melambaikan tangan pada Turin dan Qibo.
“Kupikir tak masalah jika hadiah pusaka sihir itu jatuh ke tangan para Witch yang pro kepada Manusia” komentar Arya sembari mengayunkan tongkat sihirnya.
“Eee....benar juga, lagi pula kita tidak berencana untuk kalah bukan?”
“Tentu saja”
Arya sendiri bertekad keras secepat mungkin mencapai bintang lima, karena kalau gagal. Pertaruhannya dengan Merlin akan sia – sia. Tak lebih dari sekedar omong kosong belaka, namun jauh di dalam hati. Dirinya yakin pasti mampu mengikuti turnamen kemudian melawan Merlin kembali.
“Ayo tembus semua batasan yang ada” gumam Arya pelan tersenyum memandangi aura hitam pembungkus telapak tangannya.
------><------
Terdapat sepuluh tingkatan supaya seorang penyihir dapat dinyatakan lulus dari akademi, biasanya disimbolkan menggunakan bintang yang tersemat pada sekitaran pin masing – masing. Semakin tinggi peringkat siswa, maka sihir ataupun kemampuan dasar miliknya akan bertambah banyak juga hebat.
Setelah mencapai bintang sepuluh, para murid mendapat tes khusus pemberian Kepala Sekolah. Kalau berhasil barulah ia resmi dikatakan sebagai Witch keluaran sekolah, contohnya Merlin. Gadis itu sudah mencapai peringkat teratas sejak lama, tetapi masih belum lulus sebab Iruphior tak kunjung menyerahkan tugas terakhir kepadanya.
“Arya White?” panggil salah satu petugas.
“Iya”
Arya bangkit dari posisi duduk lalu mengikuti instruksi orang sebelumnya, ketika hampir tiba. Pintu ruang ujian terbuka, muncul gadis berambut hitam menundukan kepala penuh hormat dan berterima kasih ke arah dalam sebelum berbalik cepat.
Hampir saja mereka bertabrakan, cepat – cepat dia meminta maaf terus menerus karena tidak fokus melihat sekeliling.
“Aku sungguh menyesal! Eh? Arya?”
“Hehehe....halo Fi? Jangan dipikirkan, bagaimana ujiannya?”
Perempuan ini bernama Fibetha Molder, salah satu murid Necromancer teman Arya. Walau nampak ceroboh, kemampuan pengendalian makhluk panggilanya cukup hebat. Dulu dia pernah tanpa sengaja menghilangkan perkamen sihir milik Profesor Brevil, karena kasihan. Aryapun membantunya mencari benda tersebut, sejak dari sana keduanya sering berbicara.
“Aku berhasil” serunya senang menunjukan bintang kecil keperakan.
“Bagus sekali, selamat ya”
“Kau sendiri?”
“Mmm aku baru saja ingin masuk mengikuti tes” Arya tertawa mendengar pertanyaan konyol Fibetha.
__ADS_1
“Ahh!? Benar! Silahkan, semoga beruntung”
“Terima kasih, dah....”
Ketika baru menginjakkan kaki di ruangan, dia langsung menerima omelan Arietta Brevil sebab menghabiskan waktu lama berbincang – bincang depan pintu. Sang pembimbing Necromancer mengingatkan sebagai penguji, waktu sangat berharga.
“Maaf Profesor, apa aku tak boleh saling menyapa dengan temanku?”
“Kau mulai berani ya? Tentu aku juga ikut senang kalau murid – muridku akur, namun tidak harus saat ujian kenaikan peringkat bukan?” Brevil mempelototinya kesal.
“Baiklah, saya mengerti. Jadi....apa yang harus kuperbuat sekarang Profesor?”
Tesnya cukup sederhana, karena Brevil mengetahui kemampuan pemanggilan Arya. Ia meminta bocah laki – laki tersebut mengeluarkan lima Undead sebagai syarat tuk lolos, Arya tanpa kesulitan memenuhi keinginannya dalam waktu singkat.
“Hah....selesai dalam lima detik? Sungguh?” bisiknya lemah mengingat betapa kerepotan dirinya dulu menghadapi ujian yang sama.
“Sudah Profesor?”
“Iya, ini bintangmu. Cepat pergi sana”
Arya maju mengambil hadiahnya, berhenti sebentar seakan memikirkan sesuatu. Akhirnya karena penasaran dia pun bertanya lagi. “Profesor Brevil? Apa ada cara lain aku bisa naik tingkat lebih cepat? Anda tentu taukan pertaruhan saya dan Marylin Merlin?”.
“Jangan terlalu buru – buru, bersabarlah kemudian ikuti prosedur akademi. Walau sebenarnya bisa saja sih”
“Tunjukkan padaku batas kemampuan pemanggilanmu saat ini, biar aku lihat dan nilai sudah sampai mana sesungguhnya kemampuanmu”
WUSH....!!! SYURR!!!
‘Sial! Dasar mosnter! Bakatmu terlalu gila untuk seorang pemula’ Brevil membuka mata lebar – lebar, senyuman nampak menghiasi wajahnya melihat dua puluh sosok hitam mengelilingi tubuh Arya.
------><------
‘Hari ini pasti aku akan mengajakmu bicara!’
Hanna Vonsekal bangun penuh semangat pagi itu, hari ini adalah pengumuman hasil ujian. Dia percaya menjadi salah satu siswa baru dengan nilai terbaik, setidaknya masuk dalam jajaran sepuluh besar. Ketika orang – orang bertepuk tangan kagum akan kehebatannya, ia berencana menyapa si bocah White.
“Hehehe sekarang kau tidak mungkin mengabaikanku lagi hahaha—eh?”
Langkahnya terhenti sewaktu menyadari kepadatan tak masuk akal sekitar papan pengumuman, penasaran. Hanna pun bertanya ke beberapa siswi di sana, tetapi kebanyakan hanya datang tuk melihat hasil sendiri sehingga mereka juga tidak tau menahu tentang keramaian tersebut.
Setelah memutuskan berdesak – desakan, mulai terdengar bisikan kagum memasuki telinga Hanna. Semua pasang mata terarah ke sepuluh peringkat top ujian bintang murid baru.
“Tak kusangka ternyata ada siswa baru bisa mendapat lebih dari satu kenaikan”
__ADS_1
“Benar, apa lagi kedua orang posisi teratas”
Berbekal informasi tadi, Hanna menajamkan pengelihatannya. Ingin tau seberapa hebat memangnya mereka.
UGH!?
Dia hampir saja tersedak ludahnya sendiri saat membaca urutan pertama, Witch Class Universal atas nama Friska Lullaby naik dari bintang satu ke lima hanya dalam sekali ujian. Semangat Hannah makin merosot ketika menemukan Arya White berada di peringkat kedua.
‘Bintang satu menuju bintang empat?! Anak itu....naik tiga tingkat sekaligus!!!???’
------><------
“Hei hei hei Friska? Kenapa kau berlama – lama sih? Langsung saja naik bintang sepuluhkan bisa” Merlin menggerutu.
“Malas”
“Heh....?!”
“Pertama, aku tidak ingin cepat – cepat direcoki olehmu. Kedua, sangat aneh jika seorang murid baru tiba – tiba melesat menjadi bintang sepuluh. Ketiga, banyak hal menarik yang masih ingin kulihat” ujar Friska membalik lembar per lembar buku dihadapannya.
“Tidak apa – apa bukan? Lagi pula semua Profesor disini tau kalau kau sebenarnya Black Mara, memangnya apa enaknya berurusan dengan individu – individu lemah begitu?”
Merlin memainkan berbagai barang menggunakan tangannya, benda – benda tadi melayang cepat berkeliling kamar tidur Friska. Sejak belajar sihir pertama kali dan bertemu Aura, dirinya memang bisa dibilang sangat hebat.
Hal ini menyebabkan Marylin Merlin menjadi apatis terhadap sosok disekitarnya, cuma orang – orang berbakat serta berkemampuan tinggi yang mampu menarik perhatian wanita itu seperti Iruphior, Friska, dan para Profesor Divina Academy.
“Apa kau melihat seluruh hasil ujian murid baru?”
“Buat apa? Seteah menemukan namamu di peringkat satu, aku langsung membakarnya”
“Hahaha.....ambil! Lihatlah baik – baik” Friska melemparkan selembar kertas.
“Kenapa si—!?”
“Bocah yang kau tantang, naik tiga tingkat”
Merlin terdiam, ia membaca kesepuluh nama murid – murid baru tersebut. Sebuah perasaan mendesir aneh muncul menggelitik tubuhnya setiap melewati angka nomer dua.
“Anak ini....menarik sekali....hehehe.....”
Author Note :
Ada yg baca Solo Leveling? Kalau iya kalian pasti tau seberapa kuatnya Necromancer itu wkwkwk
__ADS_1