
Pada salah satu titik pertarungan, Rena terlihat tengah berjuang menghadapi lusinan musuh ditemani oleh Deera si Elemental Beast miliknya. Mereka semakin kesulitan akibat jumlah lawan sehingga terpojok ke gang sempit, namun sebuah keajaiban terjadi beberapa detik kemudian.
Kumpulan serbuk sari berwarna keemasan jatuh dari langit menghujani semuanya, Rena dapat merasakan luka – lukanya perlahan sembuh dan staminanya kembali terisi begitu benda tadi menyentuh kulitnya. Namun disisi lain para anggota Fatum seolah terbius akan jurus itu terus hanya bisa terpaku diam layaknya terkena ilusi.
Rena memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengalahkan siapapun dihadapannya lalu buru – buru bergerak mendekati jalan utama. Sesampainya ia akhirnya menyadari bukan cuma orang – orang yang dihadapinya saja terkena dampak demikian, prajurit – prajurit Fatum sekitar sana bernasip serupa bahkan ada sebagian berteriak histeris sebab muncul bentol bernanah menghiasi sekujur badan mereka.
“Ini pasti guru....Deera? Ayo kita harus ikut memberi bantuan medis....” kata Rena cepat usai memperhatikan medan perang, tidak ingin menyianyiakan pertolongan berarti itu.
Sang rusa mengeluarkan suara memekik sebelum perlahan memecah tubuhnya menjadi sangat banyak, tiap tiruan dari kayunya bergegas menyebar demi memulihkan pihak Elemental City. Sementara Rena beraksi, pemandangan menakjubkan mulai menarik perhatian pada salah satu gedung bertingkat Distrik Perak yang masih berdiri.
Puncak bangunan setinggi dua puluh lima lantai ini ternyata sumber datangnya serbuk – serbuk sari tersebut. Seorang perempuan bertopi jerami duduk berjongkok di sana sambil mengawasi bunga besar yang terus menerus memuntahkan bubuk magisnya.
“Syukurlah bunga Oleander Opposite Effect ini bisa berguna....” gumamnya mengangguk puas.
SYUUU....!!!
Tiba – tiba puluhan Werebeast bersayap menikam ke arahnya, mereka nampaknya sukses melacak asal muasal sang pengacau pertempuran begitu melakukan patroli udara. Kekuatan masing – masing juga sepertinya setingkat Jenderal Petarung jadinya tidak terlalu terpengaruh serangan tanaman misterius tadi.
Rea melompat anggun kemudian mendarat tepat di atas kumpulan senjata mereka, dia merogoh kantongnya dengan gesit dan melemparkan biji – bijian merah yang sudah dialiri Agnet. Sewaktu benih barusan menempel ke kulit musuh semuanya langsung bereaksi.
Satu per satu terserap memasuki tubuh lalu tumbuh menjadi sulur berduri kemerahan, layaknya makhluk hidup tanaman itu menjerat setiap anggota – anggota tubuh orang tempatnya bersemayam hingga leher maupun sayap para korban patah.
“Bloodthirsty Vine....”
Melihat nasip kawan – kawannya gelombang dua pasukan Fatum sedikit ragu, kelompok Witch segera merapalkan mantra untuk melumpuhkan perempuan tadi. Tetapi tembakan sihir mereka tak membuahkan hasil karena sukses ternetralisir kumpulan tumbuhan baru.
Ada yang mengeluarkan hawa panas, dingin, hembusan angin, arus listrik, serta mulut besar bergigi tajam. Meskipun menang jumlah pasukan Fatum mustahil mampu menaklukan orang satu ini, diselah – sela bunyi kunyahan tanamanya terdengar suara tepuk tangan.
“Wah wah wah....kau mempunyai kemampuan menarik ya?”
“Mempercepat pertumbuhan menggunakan Agnet tipe Stimulation....kalian para Manusia sungguh penuh kejutan....”
“Dua Belas Shio?” Rea mengangkat sebelah alisnya.
Pada kedua sisi gedung berdiri Werebeast wanita beraura kuat mengelilingi Pengawas Rea, perubahan situasi dihadapannya membuat ia waspada. Tanpa terduga sihir biru berwujud anak panah mengincar titik buta miliknya, untung responnya cukup cepat sehingga para tanamannya sukses menghalau mantra tersebut.
Tapi menyaksikan kelengahan Rea masing – masing anggota Dua Belas Shio berusaha menyergapnya, saat tangan mereka hanya berjarak beberapa inchi dari tubuh target. Jilan juga Zarane terpental mundur akibat energi pukulan besar.
BUAKH....!!!
“Licik sekali....tadinya aku cuma berniat menonton saja padahal....”
Lengan Equine Shio dan Fowl Shio mengeluarkan asap usai benturan barusan, mata mereka terhenti ke satu titik dimana seorang gadis berpakaian serba hitam duduk sembari menjilat permen lolipop.
‘Kami benar – benar tidak merasakan hawa keberadaanya?!’
“Terima kasih....Bianchi”
__ADS_1
“Huum....kalian juga sebaiknya menunjukan diri pak tua....”
Pengawas Bianchi bangkit terus berjalan menuju hadapan Rea, dia perlahan mengikat perban menutupi tiap tangannya. Tak berselang lama ada sesosok pria ringkih melayang di udara dengan posisi duduk bersila disertai oleh seekor burung elang.
“Hohoho.....tidak kusangka Comet Fist serta Seed Administrator telah tumbuh anggun nan dewasa.... terutama untukmu yang pernah kehilangan—“
JDUAK!!!
Ia gagal menyelesaikan kalimatnya sebab Bianchi mengayunkan tangannya sangat cepat hingga seperti menghilang kemudian menghasilkan gelombang kejut luar biasa, beruntung datang pria lain berselimutkan aura hitam menangkis salam apa kabar tersebut.
“Kapan kau akan berhenti hidup di masa lampau? Mengucapkan julukan ketinggalan zaman seolah mengenal kami hanya karena pernah bertemu sesekali dalam medan perang? Dan jangan sekali – sekali berani membahas guruku dasar botak....”
“Hehehe galak sekali.....”
“Kepala Sekolah Udafarihm? Kau mengenal mereka?” celetuk Penyihir Agung Class Warlock.
“Seperti kata mereka Rhilore, cuma berbagi beberapa memori bersama....mari bantu anak ayam beserta kuda poni ini”
“Zarane? Bolehkah kita menghabisi dahulu setan tua itu?” Jilan mendelik dengan urat nadi menghiasi pelipisnya.
“Ahahaha kupikir Garyu tidak akan mengizinkan....”
“Dua anggota pasukan elite Werbeast juga dua Penyihir Agung....jangan sampai lengah Bianchi....” peringat Rea serius.
“Tenang saja, aku serahkan keselamatan punggungku padamu Konoha....”
“Kalian berdua Pengawas Ujian ya? Murid para Elementalist generasi terdahulu?” Rhilore menatap penasaran.
“Nature Elementalist Apprentice.....Konohakura Rea”
------><------
Kumpulan tumpukan mayat mengeluarkan bau amis kuat menggunung memenuhi lapangan atletik, dekat sana terdapat sekelompok orang berdiri santai yang bisa dipastikan sebagai pelaku semua ini. Salah satu pria memunggut pisau – pisau dari badan para korbannya, masing – masing menancap dalam pada titik vital.
“Ben? Bagaimana rasanya menggunakan mereka kembali? Apakah ada persendian kaku kau rasakan?”
“Aku selalu mengurusnya jadi mustahil begitu, kau lihat sendiri hasilnya tadi bukan? Kalau dirimu?”
“Iya sih, hmm....? Karena sekarang lebih sering memasak, aku menjadi sedikit tidak enak hati hahaha.....”
BUMM! BUMM!! BUMM!!!
Suara langkah berat mendekat memaksa diskusi keduanya berhenti, sesosok pria besar dengan jenggot panjang nan lebat mendekat. Tangannya memegang kuat halberd berhiaskan naga emas, tak sendiri dia ditemani tiga orang lain berpenampilan sama eksentriknya.
Elf bangsawan bermata putih misterius, Werebeast tampan dipenuhi rambut hitam juga tanduk melengkung menghiasi kepalanya, dan Demon lemas berkulit kebiruan. Masing – masing memperhatikan keadaan sekitar sebelum pandangan mereka berhenti kepada para terdakwa pembantaian.
“Mutant, Ksatria Pentagram Blandria, Ox Shio, serta Zombie? Kita benar – benar kedatangan tamu beragam ya?” Pengawas Gustav menggaruk – garuk kepalanya.
“Ray....jangan lengah....”
__ADS_1
“Setelah meihat semua ini....kalian berdua nampaknya layak dikalahkan....sebagai Vanguard aku Guan Yu, menantang untuk berduel....”
“Namanya terdengar familiar....ah itu Ben! Kisah roman Tiga Keraja—“
WUSH....!!!
Secara mengejutkan pria bongsor tersebut mengayunkan senjatanya dan menciptakan tebasan energi super besar disertai angin kencang. Beberapa orang langsung maju membentuk formasi demi menahan serangan tangkas barusan.
BANG! PROK! PROK! PROK!
“Wah....hebat sekali!”
“Ray!? Berhenti takjub akan kemampuan musuh!” tegur Liquite menepuk jidatnya.
Ushiro memperhatikan kejadian tadi penuh seksama sebelum tertegun, Alba ikut mengalisis menggunakan kekuatan sihirnya. Perhatian mereka tertuju kepada sepuluh sosok pelindung sigap sebelumnya, “Boneka?”.
Satu – satunya orang yang tidak perduli hanya Queri Braineater, Sloth Sins mengabaikan semuanya lalu mendekati tumpukan jasad anggota Fatum dari berbagai ras. Ia menguap sebentar sebelum menyentuh tangan seorang Demon.
“Bangkit....”
Cuma butuh bisikan pelan barusan, seluruh korban bertranformasi menjadi pasukan mayat hidup. Tiap bagian tubuh terpotong kembali menyatu, mereka mengeluarkan erangan mengerikan siap menyerbu. Perubahan ini bahkah mengagetkan Guan Yu, Alba, maupun Ushiro.
“Kita sungguh menghadapi situasi begini dua kali!?”
“Sepertinya....” sahut Gustav perlahan mengeluarkan puluhan pisau, ia melemparnya memutar di udara seperti seorang penampil akrobatik. Jumlah benda tajam itu terus kian bertambah hingga sulit dihitung.
“Pengendali boneka juga ahli pelempar senjata? Kalian Pengawas Ujian ya? Puppet Master dan Thousand Blade?”
“Ekh....aku benci julukan tersebut, selera tuan Timothy sama dengan ibunya ketika memberi nama panggilan....” Liquite meringis sebelum perlahan meluruskan jari – jarinya, sepuluh bonekanya segera mengambil tempat di setiap sisi Pengawas Gustav.
“Hahaha ayolah pemberianya selalu dikenang lho....”
“Menyingkir kalian para pengganggu! Biar aku sendiri yang maju” perintah Guan Yu.
“Bukan begitu perjanjian kita....”
“Apa!?”
“Hehehe ini pasti seru.....” Alba mengangkat tangan membentuk lingkaran sihir berwarna putih dihadapannya.
“Ox Shio Ushiro merasa tersanjung bisa melawan kalian berdua”
“Light Elementalist Apprentice....Raymon Gustav, salam kenal”
“Thunder Elementalist Apprentice....Benjamin Liquite”
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.