
Nezumi tersentak kaget, tanpa memperdulikan lawan – lawan terkapar disekitarnya ia menatap ke satu arah di kejauhan. Nampak sebuah pilar cahaya putih kebiruan besar membelah langit, perasaan familiar mulai muncul.
“Aura ini....jangan – jangan bocah itu....dia...”
“HYA!!!”
SRAT!
Serangan milik Garyu dibelah menjadi dua bagian dengan santai oleh Nezumi, si pria tua menggelengkan kepala heran “Melihat kondisimu sekarang, kau tidak akan bisa melewatiku. Lebih baik menyerah saja”
“Tutup mulutmu!!!” balas Garyu mengaum kencang.
Sementara di tempat lain sedang terjadi perdebatan hebat antara para Elementalist. Ada dua opsi yang membuat mereka terbagi menjadi dua kelompok, pertama adalah segera kembali karena waktu kemunculan portal semakin menipis.
Dan satunya lagi pergi ke medan perang untuk menyelamatkan Arya, adu pendapat bertambah panas karena tidak ada pihak mau mengalah.
“Aku tau ini berat, tapi kita harus mengutamakan misi” tegas Zayn.
“Kau bermimpi kalau aku akan kembali tanpa membawa dia!” Asuna menanggapi murka.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Timothy panik.
Kesembilan anak muda tersebut saling memandangi satu sama lain, raut wajah bimbang menghiasi wajah mereka. Zayn kemudian menghela napas.
“Bukankah sejak awal Arya sudah memberitahu kita betapa berbahayanya tugas ini? Perintah kita sangat jelas begitu melihat sinyal merah, apa kalian lupa perjanjian itu?”
“Persetan dengan perintah! Aku akan kembali bersamanya atau tidak sama sekali!”
Asuna langsung lari mengabaikan panggilan teman – temannya, Zayn baru saja mau mengeluarkan senjata untuk menghentikan gadis itu ketika sebuah pukulan keras mendarat pada pipinya.
“Kevin!? Kau—“
“Aku tau kau tidak bisa berpikir jernih karena situasi, tapi....mengatakan hal sekejam tadi tak bisa dimaafkan. Pikirkan perasaan yang lain, kemarilah akan kudinginkan kepalamu”
“Tch!” Zayn cuma bisa menatap lantai gua, tak kuasa mengangkat pandangan.
“Sekarang kita semua tau, berperan sebagai Kapten bukanlah hal mudah. Sekarang begini saja.....
Kevin menjabarkan rencana membawa kembali Arya, anggukan setuju mengiringi begitu dirinya selesai bicara.
“Ingat! Pastikan portal baru terbuka lagi dalam sepuluh menit bagaimana pun caranya. Jika kami belum kembali, kalian boleh langsung menutupnya lagi. Komentarmu Timothy?”
“Kupikir....bisa berhasil” sahut si Elementalist Besi serius.
“Baiklah sudah diputuskan, ayo cebol”
“Huuh! Jangan seenaknya memerintahku petir lelet”
__ADS_1
Setelah bertegur sapa sebentar, Kevin dan Elizabeth menghilang dari pandangan. Menggunakan seluruh kecepatan yang dimiliki seakan hidup keduanya dipertaruhkan, karena semua tau....musuh utama mereka sekarang adalah waktu.
“Kembalilah dengan selamat....teman – teman” Selena melirik sendu ke arah langit sebelum masuk ke dalam portal.
------><------
Kurang dari lima detik, Kevin bersama Elizabeth berhasil menyusul Asuna yang tertegun di mulut gua. Baru saja hendak menyapa, mereka juga ternganga melihat pemandangan menakjubkan tersebut.
Nun jauh nampak monster setinggi dua puluh meter menjulang, seluruh tubuhnya terbuat dari es. Udara dingin menampar keras wajah ketiganya.
“Apa – apaan?!—“
“Bukan saatnya termenung! Kita harus cepat!”
Tanpa membuang waktu lagi. Asuna, Kevin, dan Elizabeth bergerak menuju tempat raksasa tersebut berada. Walaupun belum pasti, entah mengapa firasat mereka mengatakan kalau Arya pasti di sana.
Mayat – mayat beku berserakan sejauh mata memandang, ekspresi ngeri menunjukan kalau orang – orang itu mengalami kematian yang sangat menyakitkan. Salah satu sosok mencuri perhatian Kevin.
“Sepertinya singa tadi juga menjadi korban”
“Brr....dingin sekali....paru – paruku....terasa membeku” Elizabeth menggigil.
“Jangan terlalu jauh dariku” peringat Asuna sembari mengeluarkan aura panas untuk menetralisir udara di sana.
Mereka akhirnya tiba ditujuan, ketiganya langsung fokus ke bagian tengah dada sang monster. Arya dengan mata menyala sedang menggerak – gerakan tangan menuntun amukan makhluk besar tersebut memporak – porandakan sisa pasukan musuh.
“Bukankah itu artinya bagus?” seru Elizabeth mengutarakan pendapat.
“Kalau Kapten memegang kendali sepenuhnya iya, tapi cukup melihat saja kita bisa tau kalau ia tidak sadarkan diri. Jika dibiarkan, dia bisa mengamuk sampai mati. Kita harus menyadarkannya dan segera pergi dari sini”
Bicara memang mudah, tapi bagaimana cara membangunkan sesorang yang berada di dalam tubuh monster es berukuran dua puluh meter?. Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya ketiga Elementalist muda itu mempersiapkan sesuatu.
“Kau yakin ide gila ini bisa berhasil?” Kevin meneriakan pertanyaan.
“Kuharap” sahut Asuna lemah.
“Baiklah ayo!”
Sambil memegangi Asuna, Elizabeth bergerak menggunakan kecepatan cahaya. Kevin membuat pijakan menggunakan kedua tangan dan menarik napas dalam – dalam, ketika kaki Elizabeth bersentuhan dengan tangannya. Dengan segenap tenaga ia melemparkan kedua gadis tersebut ke udara.
“Kesempatan! Sadarkan kak Arya atau aku tidak akan pernah memaafkanmu! Hya!” gumam Elizabeth sebelum mendorong Asuna.
“Tanpa kau suruh sekalipun pasti kulakukan. Senbonzakura!”
Menyadari datangnya serangan tiba – tiba, monster es berusaha menepikkan Asuna bak seekor nyamuk. Namun gagal karena Kevin dan Elizabeth menghentikan pergerakan kedua tangannya.
“Thunder Rope!
__ADS_1
“Light Prison!
MAJU....!!! ASUNA!”
BRUAK!
Asuna berhasil menembus tubuh makhluk besar itu sesuai rencana, suhu di sana benar – benar rendah sampai ia sendiri merasa kaku bergerak. Mengerahkan seluruh tenaga Asuna menggapai tubuh Arya.
Berusaha menyadarkan pria tersebut dengan menampar, mencubit, dan sebagainya. Tetapi tidak membuahkan hasil. Karena tak tau harus melakukan apa lagi, dia menempelkan bibirnya seperti yang dilakukan Selena dulu.
‘Kumohon sadarlah, Arya’
------><------
“Dia tidak pernah bilang apa – apa tuh!” Jack berteriak mengacak – acak rambutnya sendiri.
“Mana aku tau, mungkin dia membencimu juga” timpal Arya cuek.
Ia masih duduk santai meminum teh, tidak terlalu memperdulikan kicauan kakeknya. Tapi tiba – tiba omelan panjang lebar Jack terhenti. Dia tersentak kaget sambil menatap ke arah atas.
“Kau bilang benci, nyatanya dirimu cukup populer juga. Ada seseorang datang menjemputmu”
“Eh? Maksudnya?”
Entah bagaimana, perlahan tubuh Arya terangkat dari lantai. Dia melayang – layang di udara layaknya astronot, tentu saja hal tersebut membuat Arya terkejut bukan main.
“Woa woa woa! Ada apa sebenar—“
“Waktunya kau kembali, terima kasih sudah menemaniku berbicara banyak hal. Ingat! Jangan pernah melewati batas lagi ya?! Karena selanjutnya aku tidak bisa membantumu untuk kedua kalinya”
“HAH!?—“
SYUU!
Dalam sekejap, Arya menghilang seakan tak pernah berada di sana. Jack menatap lokasi tempat Arya duduk beberapa saat lalu. Bersiul santai seperti orang yang tidak mempunyai beban hidup.
“Cucu ya? Kalau aku membuat segel ini sekitar umur dua puluh lima, kira – kira aku menikah saat usai berapa? Dan....kenapa aku bisa menikah dengan Unia....???”
“JACK?! DASAR KEPARAT LANCANG! BERANINYA KAU MENGGANGGUKU LAGI!” suara menggelegar memenuhi ruangan putih itu.
“Hmm? Yo, tadi nyaris saja ya? Hihihi....jika dia tidak dijemput, aku pesimis bisa menekanmu lebih jauh”
“PENGGANGGU KECIL INI....!!!”
“Hehehe....senang bisa mendengarmu lagi. Monster tua” Jack terkekeh geli.
Author Note :
Kalau susah bayangin kejadiannya, tinggal inget animasi Avatar The Legend of Aang / The Last Air Bender waktu si botak ngamuk di Kutup Utara terus bentuk monster raksasa pakai kekuatan elemen airnya. Ciao!
__ADS_1