Elementalist

Elementalist
Chapter 163 - Bakat Mengajar


__ADS_3

Demi menghadapi Five Heavenly Stars Tournament, tim buatan Arya yang telah disepakati bernama The Figment Squadron mulai mempersiapkan diri. Mereka akan menyempatkan waktu berlatih tiap hari sampai seleksi Divina Academy dilaksanakan.


Selama masa tersebut, berbekal izin dari Kepala Sekolah. Terdapat sebuah ruangan khusus tempat sepuluh murid penyihir muda ini menjalankan programnya, Arya sebagai ketua juga orang tak berotak yang menjadi pemeran utama dalam pertaruhan berharap mampu meningkatkan kemampuan kawan – kawannya.


Fibetha merupakan Necromancer selain dirinya, karena sudah kenal cukup dekat. Ia hampir tau dimana kekuarangan serta kelebihan gadis itu, untung saja hanya dengan arahan sedikit. Ilmu sihirnya kian tinggi dan mengerikan.


Arya akui kalau Fi punya bakat, namun gagal ditunjukan olehnya sebab para pengajar akademi tidak menyadari cara tersendiri untuk melatihnya. Dikarenakan sifatnya yang cepat gugup, Fibetha harus rileks terlebih dahulu jika mau memperoleh hasil maksimal.


Dan hal ini agak sulit sebab pembimbing Class Necromancer adalah Arietta Brevil, seorang perempuan cantik tetapi sangat mengintimidasi. Salah satu jurus andalan Fibetha Molder disebut Twin Devil Mask, dia mengeluarkan dua Undead berwujud topeng berukuran sedang yang bisa menyerang maupun melindungi secara bersamaan.



“HYAH!!!”


“Ups?! Kau melihat ke mana?”


“Kyaa!?


Serangan Fi meleset akibat gerakan cepat Arya kemudian dalam sekejap sepuluh makhluk hitam meringkusnya, ia menggaruk kepala sembari mengerang. Arya menjulurkan tangan tuk membantunya berdiri.


“Kerja bagus, kontrolmu semakin baik saja” puji Arya sungguh – sungguh.


“Huum, terima kasih”


Sementara perkembangan kedua Warlock tim Figment Squadron, yaitu Sierra Le Rogue dan Shaqihr Kholder cukup mengesankan. Sierra tak perlu dipertanyakan lagi, posisi sebagai Candidate of Destiny sudah menjadi bukti kapasitasnya.


Ketika berlatih tanding, Arya mengejutkan semua teman – temannya sewaktu mengimbangi kecepatan gerak Sierra yang menggunakan ZapShoe. Kalau boleh jujur, dia pasti kewalahan bukan main jika tidak pernah melawan Kevin dan Elizabeth dulu.


“Hah....bagaimana....hah....kau bisa....melakukannya?”


“Mmm....rajin berlatih kurasa, hahaha” Arya tertawa sambil mengangkat bahu.


“Ayahku bahkan minimal harus memakai peralatan sihir setingkat jika mau mengimbangiku” ujar Sierra menggeleng – gelengkan kepala.


Dilain pihak, Shaqihr memiliki suatu hal unik karena menjadi Witch dengan Class Warlock namun membawa sebuah kitab sihir spesial. Mantra – mantra yang terdapat didalamnya mampu melapisi lalu memperkuat fisik baik dari dalam maupun luar.



Yahh....meski tidak sebaik Sierra, bisa dibilang Shaqihr memiliki prospek cerah kedepannya. Selanjutnya bagian Shaman, Ikey selain mampu memberi dukungan melalui sihir juga punya kapabilitas membantu serangan ketika diperlukan atau situasi mendesak.


Sedangkan Laura Roseberg adalah Shaman tulen, seluruh mantra yang gadis tersebut keluarkan berkualitas sangat tinggi. Menurut Arya pribadi, ia lebih terlihat seperti bernyanyi daripada menuturkan kata – kata sihir. Terlebih teknik utama Laura bernama Boosters Hymp.


“Bagaimana menurutmu?”

__ADS_1


“Luar biasa”


“Hee.....aku bersedia melantunkannya tiap malam untukmu jika diminta kau tau?” bisik Laura tepat di telinga Arya.


“Eee....kupikir tidak perlu, terima kasih”


WUSH!


Kyra bersama Ryan bertanggung jawab menjadi kekuatan pusat atau inti masing – masing ketika tim nantinya dibagi dua. Sebab mereka merupakan Class Universal yang berarti bertugas layaknya orbit dalam tata surya.


Empat orang lain akan selalu mengitari keduanya, terlebih Shaman dan Necromancer di lini belakang. Banyak para pengamat setuju kalau Witch Universal adalah kunci kemenangan jika bergerak pada sebuah kelompok beranggotakan lima orang.


Larangan ikut sertanya Merlin cukup menjelaskan kebenaran hal ini, tak ada yang berkomentar tentang kemampuan Kyra dan Ryan. Sang gadis memang pantas menyandang gelar Silver Magician, Arya bahkan terperangah sendiri kenapa dia tidak menyadari kehebatan Kyra sewaktu bertemu di Underground Paradise.


Kelebihan milik Ryan dibanding Kyra hanya terletak pada keuletan, ia memang sejak dulu pantang menyerah. Arya pernah merasakan kuatnya tekad si Wibu memaksanya menonton salah satu anime sampah. Walau bukan termasuk monster seperti Arya, Kyra, Sierra, dan Friska, perlahan tapi pasti ia mulai melangkah.


Satu – satunya masalah mereka adalah, kedua Exorcist tim itu sama – sama keras kepala serta konyol. Kalau Hanna Vonsekal mempunyai pribadi kekanak – kanakan, Bella Creighton lebih suka bersikap sesuka hati. Perkelahian gadis – gadis Exorcist tersebut sudah bagai makanan sehari – hari.


Kabar baiknya, sikap tak mempengaruhi kemampuan terlalu jauh. Bella termasuk ahli dalam bidangnya sebab memiliki ketertarikan mempelajari seluk beluk Undead, sementara Hanna yang berasal dari keluarga bangsawan memang berbakat dan makin terdorong karena adanya Bella sebagai pesaing.


Meski sudah rahasia umum jika ia sebenarnya sangat ingin menjadi Class Universal namun harus mengalami penolakan. Kenyataan ini melemahkan posisinya dalam keluarga inti Vonsekal, Arya merasa puas dengan komposisi milik timnya.


“Hey Arya?”


“Dirimu punya bakat dalam mengajar kau tau?” celetuk Laura.


“Eh?”


“Aku setuju, dapat kurasakan jelas perubahan yang terjadi setelah mengikuti saranmu” Ikey mengangguk antusias diikuti oleh anggota Figment Squadron lainnya.


“Ahahaha....kalian terlalu berlebihan”


Arya merasa aneh sendiri karena mengingat tawaran Iruphior dulu, juga alasan bimbingannya berhasil dikarenakan berkat dari Essence of Memory milik sang Kepala Sekolah. Selesai makan siang, Arya memanggil Kyra.


“Ada apa?”


“Maukah kau berduel satu lawan satu denganku menggunakan Silver Cloak?”


“HAH?!”


Semua orang langsung memandanginya tak percaya, kekuatan Kyra selama ini sudah begitu hebat bahkan tanpa Silver Cloak. Tidak bisa dibayangkan jika gadis tersebut memanggil pusaka miliknya.


“Oi? Oi? Oi? Silver Cloak itu....salah satu Irregularities lho, kau yakin?” seru Ryan pusing.

__ADS_1


“Tentu, ada sesuatu yang ingin kucoba” Arya menyahut santai.


Berpikir sejenak, Kyra akhirnya setuju. Dia mengangkat tangan di atas kepala sembari memanggil keras. “Spondiaz!”.


------><------


Seleksi Divina Academy akan diadakan seminggu lagi, Arya sedang berjalan menuju ke ruangan tempat mendaftar sambil membawa perkamen berisikan daftar nama timnnya. Lokasinya ternyata cukup dalam, ia tidak habis pikir mengapa ada sekolah sebesar ini dibuat.


Obor – obor mulai menyala, menambah suasana mistis disekeliling tempat itu. Sewaktu hendak berbelok, jantung Arya hampir melompat keluar karena mendapati sesosok perempuan tengah tertidur dalam posisi bersandar pada dinding.


Bayangannya menari – menari megikuti irama kobaran api, awalnya Arya ingin langsung meninggalkannya saja. Tapi hati kecilnya memaksa dia kembali, hati – hati Arya berusaha membangunkan gadis tersebut.


“Hmm...hmm...hmm...manisan jeruk....” igaunya.


“Kau mana bisa menemukannya di tempat ini”


“Eh? Hoam....aku ketiduran lagi, hehehe maaf”


“Kau tida apa – apakan?” tanya Arya memastikan.


Dia tersenyum kemudian berdiri, pakaian wanita ini berupa setelan gaun indah berwarna kuning dan kombinasi merah dibagian lengan. Selesai mengucapkan terima kasih, si gadis mengambil sesuatu yang dijadikan sebagai sandaran sebelumnya.


Sebuah payung berwarna kuning cerah dengan gambar beberapa batang bambu, setelah mengenakan benda itu dia menjulurkan tangan.


“Namaku Olivia Nuwyn, senang berkenalan denganmu”


“Ahh....Arya White”


“Hmm....? White? Sepertinya aku pernah dengar, tapi dimana ya....? Eh? Ngomong – ngomong sekarang jam berapa?”


“Pukul tujuh tepat kurasa”


“WAA!!? CELAKA!? SENIOR AKAN MEMBUNUHKU KALAU SAMPAI TERLAMBAT!?” Olivia berteriak histeris sambil berputar di tempat.


“Eee....sepertinya kau sedang buru – buru, sampai jumpa”


“Benar, sekali lagi terima kasih ya! Ekh!? T..tu..tunggu sebentar Citrea!? Apa!?—”


“Eh? Ada perlu—“


CTISS!!!


Baru saja Arya mau menoleh kembali, ujung payung milik Olivia menyentuh dahinya. Sensasi aneh seperti beban kepalanya menghilang untuk ketiga kalinya menghampiri Arya.

__ADS_1


__ADS_2