
“Aku tidak percaya padamu”
“Oh ayolah, kita masih sepupu ingat? Lagi pula buat apa aku sampai buang – buang tenaga menemuimu hanya untuk menipu? Aku juga orang sibuk tau....” Eleanor menatap heran sembari berkacak pinggang.
Meskipun demikian Diana tetap tak bergeming maupun mengubah pendiriannya, kejadian cukup menghebohkan pecah di persembunyian ras Elf pimpinan Diana setelah pertempuran besar menghadapi para pemberontak yang melakukan kudeta.
Tiba – tiba ada seorang perempuan menyusup ke dalam wilayah Pohon Hellig kemudian meminta bertemu dengannya. Tentu banyak prajurit menentang ide tersebut namun tidak satupun mampu menangkap sang pembuat onar hingga akhirnya Eudart turun tangan langsung.
Tanpa memerlukan waktu lama sang Penjaga Pohon Suci membawa wanita itu menghadap tiga pimpinan tertinggi di sana yaitu Diana beserta Raja Druid dan Ratu Pixie yang tetap memegang sumpah mereka untuk mengabdi pada pemimpin sah pilihan Pohon Hellig.
Green Witch berjalan santai karena memang ia ikut dengan sukarela usai bertemu Eudart, kemudian barulah Eleanor memberitahu kabar besar sampai menyebabkan seisi ruang pertemuan membatu. Serta menjelaskan alasan pemilihan waktu kudeta dipilih adalah untuk mengalihkan perhatian Diana bersama kolega dari penyerangan Elemental City.
“Aku sudah mengirim pesan kepada cucuku, balasannya pasti datang sebentar lagi”
“Bibi....ini terlalu lama, aku takut balasan Alalea tidak akan pernah—“
“Diam! Memangnya kau tau apa? Ibu macam apa kau meragukan putrimu?! Apa aku harus mengirim pasukan pengintai agar kau percaya? Eudart?” panggil Diana masih bersikeras.
Eudart hanya menghadap ke arahnya sebelum menggeleng pelan, semua kejanggalan yang dirasakannya selama beberapa waktu lalu akhirnya jelas setelah mendapat penjelasan Eleanor. Diana menggebrak meja di hadapannya hingga retak kesal kenapa semua orang malah mendukung teori konyol barusan.
“Yaa....terserah sih, aku kemari juga karena tau mereka penting bagimu” Eleanor mengangkat bahu malas.
“Eleanor tutup....mulutmu....”
“Awww....seram, hehehe....pada dasarnya aku memang kurang suka tempat ini. Senang bisa bertemu denganmu sepupu, kau juga kakek. Aku heran mengapa kau belum pensiun atau mati sampai sekarang?”
“Masih kurang aja seperti dulu rupanya” komentar Raja Druid lelah menatap payung hijau itu menjauh.
“Jelas....lagi pula pengawalmu akan segera tiba, setidaknya informasi dariku tidak bakal membuat kalian terlalu terkejut. Bwee....”
Selesai menjulurkan lidah Eleanor pun menghilang, benar saja Reiss buru – buru masuk cuma selang beberapa detik dengan wajah pucat pasi. Di belakangnya nampak dua Elf membopong seorang pemuda yang dikenal Diana, dia lalu bersujud memohon ampun sambil berurai air mata.
“Sudahlah Eridan, ini semua bukan salahmu....” Azalea dibantu kursi ajaibnya mendekat berusaha menenangkan anak laki – laki tersebut.
“T...ta...tapi....hiks....Tuan Putri....hiks....Tuan Arya....hiks....semuanya....maafkan hamba....hiks....yang tidak mampu menjalankan tugas.....”
Azalea hanya bisa memeluknya sembari ikut menahan tangis, sementara Eudart segera bergerak ketika Eridan baru setengah jalan menyampaikan ceritanya. Diana terduduk lemas cukup lama sebelum mengigit bibirnya sendiri hingga berdarah.
“Raja? Ratu? Maaf atas ketidaksopanan ini, aku tau pernah menjanjikan keamanan bagi bangsa kalian tapi perang ini sepertinya mustahil untuk dihindari....” bisiknya ketir.
“Kami mengerti, tanpa anda minta pasti kami akan bantu. Karena pertempuran ke depannya akan mengubah jalannya dunia”
__ADS_1
“Meski tidak seberapa, izinkan orang – orangku juga ikut Yang Mulia....”
“Terima kasih Chief, itu bakal sangat menolong” Diana menatap serius kelompok Dwarf, amarahnya terlalu meluap – luap yang jika dibiarkan dan tidak dilampiaskan ke medan perang maka ia bakal merasa sangat tersiksa.
><
Diondra memasuki tenda miliknya terus menarik sebuah berjana berisi air agar mendekat, ia mengetuk benda itu kemudian mengucapkan mantra. Secara tiba – tiba cairan pada wadah tersebut perlahan terangkat tinggi membentuk semacam cermin melayang.
“Kakak? Tumben menghubungi bagaimana pemandangan di Elemental—tunggu dulu. Kakak terlihat kurang sehat....kok bisa babak belur begitu!?”
Wajah cemas Edlyn balik menatapnya dari balik sihir komunikasi miliknya, Diondra hanya bisa tersenyum tipis untuk menenangkan si adik dan memintanya memanggil Neptune. Edlyn mengangguk tergesa – gesa melesat lalu kembali dengan ditemani Ayah mereka.
“Mustahil....bahkan Arya dan kawan – kawan....”
“Jadi begitu, aku memang mendengar desas – desusnya. Sekarang kau ada di mana?” tanya Neptune tenang.
“Entahlah Ayahanda, aku pun tidak tau. Satu hal yang pasti tempat ini merupakan wilayah kekuasaan Elf, karena salah satu temanku dibawa sebagai mediator bagi kami”
“Baguslah, setidaknya kau aman di sana. Jangan khawatir, keadaan Atlantos sudah jauh lebih baik dari saat invasi Faksi Laut dahulu. Tidak akan semudah itu bagi mereka menyerang apa lagi ditambah banyaknya Penghuni Laut Dalam yang menjaga wilayah kita”
“Aku mengerti, jaga dirimu baik – baik. Mungkin akan sulit bagi kita untuk bertemu jadi jangan lupa memberi kabar”
“Baiklah....sampai jumpa, fyuh....”
“Sudah selesai mengabari keluarganya?”
DEG!
Diondra tersedak napasnya sendiri saat mendapati orang lain telah duduk di hadapannya tepat pada belakang sihir cermin barusan, dia sama sekali tidak merasakan hawa keberadaan pendatang baru tersebut. Karena merasa terancam Diondra menggapai senjatanya namun segera ditahan menggunakan payung lain oleh sang penyusup.
BANGGG!!!
Sebuah gelombang kejut menggetarkan udara dalam tenda ketika terjadi pertemuan antara warna biru dan hijau. Masih terheran – heran Diondra mengamati sosok itu, ia merupakan seorang wanita berambut panjang berwarna layaknya pepohonan disertai mata merah mencolok. Kedua telinganya panjang seperti peri dalam dongeng.
“Kau putri Myra ya?
“Bagaimana anda mengetahui nama ibuku?”
“Hehehe....tentu karena kalian sangat mirip, terus kau pasti telah menyadarinya bukan? Aku adalah Green Witch, bisa dibilang aku ini seniormu lho atau kenalan ibumu mungkin” jawab Eleanor santai.
__ADS_1
“Ayahku berkata kalau pemegang Miracle Iris Catra tidak pernah akur....”
“Memang benar, kebanyakan. Tetapi aku adalah orang yang tak cukup bodoh untuk membuat musuh di mana – mana”
Diondra masih agak terlihat ragu, pertemuan pertamanya dengan Seven Arcenciel Witch lainnya yaitu Olivia membuatnya sedikit trauma. Pada akhirnya mereka bertarung sengit, sangat konyol baginya jika semudah itu mempercayai ucapan Eleanor tadi.
“Katakan apa tujuan anda kemari?”
“Aku tipe orang yang selalu bersikap netral”
“Hah?”
“Tidak berpihak kemana pun bahkan jika dibayar....tunggu dulu, aku ralat mungkin dengan harga sesuai” Eleanor terlihat berpikir sambil mengelus dagunya.
“Aku....masih belum mengerti”
“Kudengar Fatum memiliki si bocah jingga rakus serta laba – laba kuning itu, sementara menurut pengamatanku yang paling berpotensi menolong kalian hanya nenek tua bangka merah penghisap darah di Dark Side. Bukankah pertarungan dua lawan satu kurang adil dan merusak kesenangan?”
“Anu...maaf....anda bicara apa sebenarnya?” gumam Diondra memiringkan kepalanya.
“Akhirnya aku berpikir, jika aku melatihmu mungkin akan menarik”
“Eh? Kenapa anda bersedia melakukannya?”
Elenaor memintal rambutnya menggunakan jari seraya berpikir mencari kalimat tepat untuk menjelaskan. “Karena aku mempunyai sebuah hutang, lagi pula aku memang tertarik kepada anak laki – laki itu terus mustahil bagiku ikut – ikutan dalam perang tanpa sebab. Bagaimana menurutmu?”.
“Mohon bimbingannya!”
“Ohh!? Cepat juga, aku pikir bakal kesulitan merayumu. Apa ada alasan khusus?”
“Aku....ingin mampu melindungi teman – temanku....” Diondra menundukan kepala sungguh – sungguh.
“Hehehehehe....kalau begitu kita deal?”
“Deal!?”
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1