
Tubuh Arya dan Edlyn tertarik keluar pembatas kota Atlantos dalam waktu sangat singkat akibat lajunya secepat rudal kendali, Arya mulai mengira – mengira sebenarnya seberapa panjang rantai pengekang Agnet hasil modifikasi tersebut.
Nyatanya para pelaku nampak batang hidungnya ketika mereka sudah berjarak sekitar lima kilometer dari Atlantos. Ada sekitar selusin Werebeast bersenjata lengkap mengepung keduanya, bukan takut atau apa, Edlyn menunjukan raut wajah muak dan geram.
“Dasar licik! Bagaimana mungkin seorang Mermaid bisa mengkhianati bangsanya sendiri!? Kalian tawarkan dia hal busuk apa hah!? Lepaskan kami....!”
“Berisik! Tidak kusangka malah mendapat tangkapan besar lainnya, target kami sebenarnya hanyalah bocah berambut putih disana. Namun bonus Tuan Putri boleh juga, kau cantik tapi bermulut kotor” salah seorang berenang mendekat.
“Apa kau bilang!? Kalian pikir bisa lolos setelah melakukan semua ini!?”
“Jangan banyak tingkah didepanku”
“Kyaa—“
BUAK!!!
Arya tepat waktu bergerak maju kehadapan Edlyn, pukulan mendarat telak pada perutnya. Air khusus perlahan merembes keluar melalui lubang mulut serta hidungnya setelah menerima tinjuan tadi, itu semakin menyebabkan dirinya kesulitan bernapas.
“Uhuk....! Uhuk....! Hoek...!?”
“Arya!?”
“Cih!? Ayo seret mereka menuju markas”
“BAIK!!!”
“Kau pikir—“
Edlyn yang hendak melakukan perlawanan segera terdiam begitu Arya menggenggam erat pergelangan tangannya sambil menggelengkan kepala. Sekan berkata ‘hentikan perbuatanmu, jangan menyiayiakan tenaga secara percuma’.
Akhirnya meski agak berat hati Edlyn mengangguk pertanda setuju, keduanya ditarik masih dengan pergelangan tangan berhiaskan borgol emas. Pengelihatan Arya sejak Agnet tubuhnya mengalami kekangan berkurang drastis, kegelapan dasar laut menambah buruk keadaan.
Satu – satunya harapan Arya adalah Sang Putri Bungsu Atlantos disampingnya, entah berapa lama serta sejauh apa dua tahanan tersebut digiring. Tetapi tiba – tiba Arya merasakan banyak hawa keberadaan lain disekitarnya, ia punya perasaan kalau rombongan sudah mencapai tujuan.
Arya berama Edlyn ditarik kasar menuju semacam sel tahanan terbuat dari terumbu karang raksasa, keduanya dilempar masuk tanpa belas kasihan hingga menabrak dinding. Edlyn langsung bangkit lalu bergegas menggenggam jeruji besi gusar.
“Keluarkan aku!”
“Teruslah bermimpi huahahaha, tunggu ajal kalian yang tinggal sebentar lagi”
BANG!!!
Pejuang Werebeast itu menghantam keras pembatas penjara menggunakan senjata ditangannya sebelum pergi. Edlyn cuma bisa berdecak kesal, sementara Arya masih tak bergerak sejak sampai. Perhatiannya mulai teralihkan saat secara mengejutkan gelembung – gelembung bermunculan melalui mulut si Elementalist Es.
__ADS_1
“Arya?! Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?!” ujar Edlyn panik.
Cadangan oksigen Arya diambang batas, bertahan selama perjalanan saja dapat dibilang sebagai prestasi tersendiri. Kalau dibiarkan terus bisa – bisa dia mati tenggelam akibat kehabisan udara, Edlyn sendiri kebingungan.
Ia ingin sekali membantu namun tak tau caranya, pengalamannya dengan manusia sangatlah minim. Tingkat stres Edlyn memuncak ketika gelembung berhenti keluar dari celah bibir Arya dan kelopak matanya perlahan menutup.
“Tidak! Tidak! Tidak!!! Tamatebako Kai!!!” Edlyn menyatukan kedua telapak tangan kemudian menyerukan kalimat barusan penuh tenaga.
Kotak hitam berukuran bekal makan siang nampak muncul diatas pundaknya tiba - tiba, benda itu membuka memperlihatkan sebuah mutiara indah. Dalam hitungan detik, seluruh air dalam penjara terserap masuk layaknya dihisap oleh lubang hitam.
“Oek....!!! Uhuk....!!! Uhuk....!!!”
Arya memuntahkan cairan pengisi paru – parunya kurang lebih satu menit baru dapat bernapas lega. Udara sangat menyegarkan keluar masuk melalui saluran hidung maupun mulutnya, hampir mati tercekik benar – benar pengalaman mengerikan.
“Owh....aku pikir sempat melihat Malaikat Maut menghampiriku barusan....”
“Hah....hah....hah....syukurlah....” bisik Edlyn terduduk lemas.
------><------
“Kalian punya harta kerajaan sehebat ini?” Arya berkomentar terkagum – kagum.
Edlyn tengah menjelaskan apa fungsi sebenarnya Tamatebako, ternyata kotak tersebut adalah Magical Tools berharga turun temurun Atlantos. Kemampuan utamanya terletak pada mutiara yang tersimpam didalamnya.
Dia mampu menciptakan semacam medan atau area tertentu lalu mengluarkan air maupun menyerapnya. Keluasan wilayah Tamatebako tergantung kemampuan penggunanya, Edlyn pernah mendengar jika ibunya Myra dapat mewujudkan teritori sebesar kota Atlantos saat masih menjadi pemilik pusaka itu dulu.
“Hmm....aku tau sebenarnya bukan urusanku tapi....Edlyn? Kenapa kau tertekan akan keberadaan kakakmu?’
“Eh? Apa maksud—“ kata Edlyn mengangkat kepala kaget.
“Hubungan kalian terlihat erat dan baik – baik saja, tapi entah karena alasan tertentu....aku melihat ada semacam tembok pembatas antara dirimu dan Diondra”
“Ah....hehehe.....memang tidak punya kesempatan menyembunyikan apapun darimu ya? Huum, dugaanmu benar.....”
Diondra merupakan sosok panutan bagi Edlyn sejak keduanya masih kecil, dia seorang kakak yang sempurna sampai – sampai membuat saudarinya seolah dicampakan oleh dunia. Edlyn agak kurang mendapat perhatian, terutama akibat peran masing – masing orang tuanya.
Cuma Diondralah satu – satunya tempat ia bisa bercerita dan berkeluh kesah, putri sulung Atlantos tersebut memiliki bakat serta keterampilan luar biasa hingga rakyat mulai percaya memberikan tahta padanya sudah menjadi takdir kerajaan.
Namun semua hancur waktu ibu mereka meninggal, penyakit aneh menggerogoti tubuh Diondra kemudian terus bertambah parah seiring bergantinya tahun. Melihat keadaan ini, tentu menjadikannya penerus bukanlah pilihan bijak.
Disanalah baru Edlyn mendapat sorotan, tetapi dia tidak senang sama sekali. Bagaimana mungkin seluruh orang sial itu tiba – tiba memperlakukannya dengan baik saat sang kakak dalam posisi terpuruk. Meskipun tentu masih ada yang membanding – bandingkan keduanya secara sembunyi – sembunyi.
“Seandainya kondisi khusus tubuh kakak tidak pernah ada....mungkin aku hiks.....”
“Edlyn kau terlalu memaksakan—!?“
Arya buru – buru menutup mulut Edlyn dan memberi isyarat agar dirinya mematikan Tamatebako, benar saja berapa detik setelahnya datang prajurit Werebeast membukan pintu sel.
__ADS_1
“Bukan saatnya bermesraan! Ayo keluar! Ketua ingin menemui kalian!” cibirnya.
“Arya? Nanti kau bagaimana?” tanya Edlyn cemas.
Pria tersebut mengencangkan syal sekitar lehernya sebelum memberi tanda baik – baik saja menggunakan tangan. Dengan satu anggukan, mereka meluncur keluar penjara bersiap untuk kemungkinan terburuk.
------><------
“Dimana mereka menahan.....Edlyn dan Arya?”
Diondra sedang mengawai markas para Werebeast Faksi Laut dari kejauhan, berusaha mengira – mengira letak posisi ruangan adiknya disekap. Tetapi karena terlalu jauh sulit sekali melakukannya, jika dia memaksa mendekat akan berbahaya. Penjagaan sekitar sana benar – benar ketat.
Ketika berusaha bergerak mencari tempat yang lebih nyaman tuk mengamati keadaan tiba – tiba kepalanya terasa sakit. Suasana berubah hening, waktu membuka mata Diondra hanya menemukan kegelapan.
“Apa – apaan—“
“Diodra?” suara lirih nan manis terdengar.
“Kau....!?”
“Aku punya sebuah permintaan, bagaimana kalau kita membuat perjanjian?”
“Mengapa aku harus percaya padamu? Apa jaminan kau tidak mengambil alih tubuhku?” Diondra berkata ketus.
“Jangan berlagak, kau mau adikmu selamat atau tidak?”
“Ugh....tentu saja!”
“Bagus, akan kupinjamkan kekuatanku tapi....sebagai gantinya....”
“Apa?”
“Kau tidak boleh membiarkan anak berambut putih itu mati” nada suaranya merendah.
“Alasannya?”
“Kau ingat gambaran tentang pangeran yang membawamu keluar ke daratan? Semuanya adalah mimpiku....”
“Hah?” celetuk Diondra sembari memiringkan kepala.
Detik berikutnya kesadaran Diondra telah kembali, dia mencoba memijit – mijit kepala karena pening. Namun suara gaduh segera menarik perhatiannya, entah berapa lama kejadian barusan. Tapi sekarang segerombolan Werebeast berkumpul di tengah – tengah markas.
Nampak ada dua orang dengan tangan terborgol rantai keemasan sedang dikelilingi masa, Diondra merapatkan gigi. Ia mengenal sekali siapa mereka, hati – hati sang Putri Sulung Kerajaan Atlantos mulai bergerak tuk menyelamatkan kedua tahanan.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1