Elementalist

Elementalist
Chapter 209 - False Vanguard


__ADS_3

“Argg.....”


KRAK!!!


Suara napas tersekat dan tulang patah seolah tidak mengganggu Arya sama sekali sewaktu makhluk – makhluk panggilannya menghabisi seluruh musuh yang memasuki ruangan. Zayn berjalan hati – hati diantara mereka, penampakan tersebut sedikit membuatnya kurang nyaman apalagi menyaksikan tubuh – tubuh tak bernyawa bergelimpangan.


Dalam satu tarikan napas, setiap sosok hitam disekitar keduanya terhisap kembali menuju bayangan Arya. Sang Elementalist es masih fokus menggerakan jemarinya agar mampu meretas data laboratorium, Zayn membiarkannya sejenak supaya bisa konsentrasi.


“Kapten? Menurutmu mereka ini apa?”


Gerakan Arya berhenti sebentar, ia terdiam seperti mencari kata – kata yang tepat untuk menjelaskan kepada temannya itu. Zayn menunggu penasaran, pada akhirnya Arya memunculkan sesuatu di layar.


“Mutant....” bisik Arya enggan.


“Apa? Maksudnya?”


Mata Zayn mulai membaca beberapa berkas digital dihadapannya, raut wajahnya menjadi buruk. Disana tertulis jumlah penelitian terhadap subjek – subjek Manusia hingga menyentuh angka ribuan, Arya menambahkan dirinya menemukan bukti kuat kalau terdapat orang – orang tertentu melakukan sebuah hal paling tabu atas suruhan Pemerintahan.


“Cloning katamu?”


“Iya, nampaknya mereka berencana menciptakan semacam prajurit super dengan memanfaatkan manipulasi DNA. Contohnya lawan kita ini yang termasuk pencampuran ras Manusia dan Demon....”


“Bukankah itu sama saja kau mengatakan jumlahnya bukan hanya segini?” Zayn bertanya serius.


“Benar, sialnya lagi mungkin jauh lebih sempurna. Dapat dibilang isi laboratorium tempat kita berada sekarang adalah para produk gagal”


“Tapi apa tujuannya?”


“Entahlah....” sahut Arya mengangkat bahu.


Ia menarik napas dalam – dalam lalu mengaktifkan Maximum Sense, udara dingin perlahan menjalar ke penjuru bangunan. Arya terpejam mencari petunjuk apapun tentang orang yang sempat singgah kemari, semenit berselang kelopak matanya membuka lagi.


“Zayn? Ada semacam pintu rahasia pada lantai dua belas langkah kearah kanan dari posisimu berdiri.....”


“Eh?”


Zayn tersentak sebelum mengikuti arahan tadi, benar saja dia menemukan sebuah lorong menuju ruang bawah tanah. Keduanya berjalan berdampingan masuk, Arya mengeluarkan cahaya menggunakan kemampuan sihirnya agar sekelilingnya terlihat.


Masing – masing cukup waspada karena bisa saja masih banyak Mutant lain siap menyergap, sesuai dugaan Zayn sepertinya para pengunjung terakhir sengaja menyiapkan mereka sebagai jebakan. Untungnya ternyata disana tidak dapat diakses oleh Mutant sehingga aman.


“Gudang?” celetuk Zayn.


“Aaa....penculik – penculik itu memakai kendaraan baru tuk pergi. Ayo!”


Arya bergegas melesat mencari ujung jalan keluar ruangan tersebut, ketika sukses melihat cahaya matahari lagi. Keduanya sampai di lokasi antah berantah, bahkan bangunan sebelumnya juga tak nampak. Zayn memprediksi jaraknya sudah terpisah sekitar dua puluh lima meter.


Sementara itu Arya berjongkok dan menemukan banyak jejak roda bergerak tidak beraturan ke berbagai arah. Efbi muncul hinggap dipundaknya terus mengendus – endus, mencari aroma Reika sekitar sana.


“Musuh sepertinya berusaha mengecoh kita....”


“Apa yang harus kita lakukan?”


“Ketemu! Ayah mereka belum terlalu jauh!” Efbi berbicara antusias.


“Bagus! Mari kejar!”

__ADS_1


WUSHH...!!! AUUUU....!!!


Agnet padat membungkus sekujur tubuh Efbi, perlahan siluetnya berubah menjadi seukuran kuda siap ditunggangi. Suara lolongan Efbi mengakibatkan burung – burung yang bertengger dekat pohon sekitar lokasi terbang panik.


“Naiklah Zayn” perintah Arya.


“Kapten? Bukankah lebih cepat jika kita terbang?” Zayn mengusulkan


“Mungkin benar, namun kita akan sulit menyusuri jejaknya. Lagi pula pasti banyak jebakan, semakin benar jalan kita tempuh maka dapat dipastikan ranjau berbagai rupa bisa terpasang dimana – mana”


“Aku mengerti....”


“Aku membutuhkan bantuanmu Zayn, habisi para Mutant kalau kau melihatnya. Tunjukkan kemampuan berlari Efbi....” bisik Arya sebelum menepuk punggung serigala putih itu.


AUUUUU!!! WOSHH...!!!


------><------


BRMM....!!!



Sebuah kendaraan berlapis besi layaknya tank lengkap dengan semacam senjata api menghiasinya melaju kencang diatas jalan tanah berbatu, menyisakan debu di bekas jalur yang dilewatinya. Cahaya matahari pagi merayap melalui kaca – kaca pelindung, empat orang terlihat duduk santai sibuk melakukan urusan masing – masing.


“Hei? Ada kadal – kadal jelek menghalangi jalan, tembak....”


“Baik Nona Supir hihihi....” sahut suara laki – laki kemudian memencet salah satu tombol dekat dirinya.


DORRR! DORRR! DOORRR!!!


Bunyi rentetan peluru khusus terdengar, mereka melindas tubuh tidak bernyawa kawanan Imaginary Animals tersebut. Orang pada kursi pengemudi menoleh, tatapanya dingin menusuk. Sembari menggerakan setir ia memperingatkan .


“Maaf – maaf, cuma bercanda Ketua....”


“Oi oi? Ada masalah....”


CTAK! CTIK! CTOK!


Perhatian semuanya teralihkan kepada individu berjubah yang lagi memainkan laptop kecil, matanya bergerak kesana kemari menelan seluruh informasi tersedia disana. Kumpulan tulisan cepat dengan bahasa sulit dimengerti rekan – rekannya bermunculan.


“Ada apa? Kau kalah bermain game lagi?”


“Tidak bodoh, satelit mendeteksi kita tengah diikuti oleh seseorang.....”


SYUU!!!


Monitor terus memperlihatkan gambaran peta, terdapat beberapa tanda unik mulai dari cabang – cabang laboratorium rahasia, tempat tujuan, serta lokasi keempatnya sekarang. Namun sebuah titik merah mungil sedang mengekor meskipun jaraknya tergolong jauh.


“Itu pasti dia, cepat juga. Perkiraan kita sampai meleset....”


“Sial! Taruhanya sia – sia dong!?”


PLAK!


“Awww!?”

__ADS_1


Si pemimpin menjitak kepala Gehrig karena kesal sebelum meminta penjelasan lebih mendetail tentang para pengejar, temannya memperbaiki kacamata kemudian mengatakan seluruh subjek penelitian di titik persinggahan mereka sebelumnya sudah dihabisi.


“Bagaimana dengan yang kita siapkan untuk menghambat sepanjang jalan?”


“Eeee....nampaknya kurang efektif, satu per satu mulai tewas. Kecepatan mereka ini bukan main – main, ngomong – ngomong ada dua Elementalist ya....”


“Siapa?”


“Arya Frost tentu saja, dan Zayn Black....”


“Jackpot!? Ikan besar! Keduanya merupakan rangking S, hei Mira? Bukankah sebaiknya kita memutar arah demi menya—“


Gehrig langsung mengunci mulutnya rapat – rapat melihat tatapan tajam sang gadis pengemudi, walau terkenal jahil nan tengil. Gehrig tau batasanya, jika sampai Mira mengamuk dia bisa berakhir hari ini.


“Fokus....misi utama kita dalah membawa Nona Reiko....”


“Lalu? Apa yang harus kita lakukan?”


“James? Minta False Vanguard bergerak”


“Okey dokey....” pemuda berkacamata menyahut dan terlihat berusaha menghubungi orang lain.


“Kau yakin mereka mampu menangani dua Elementalist terkuat?” celetuk Gehrig sedikit kecewa.


“Setidaknya dapat memberikan kita waktu, kesepuluhnya akan dibagi kelima pos berbeda tuk berjaga....”


“Mira?”


“Hmm?”


“Izinkan aku pergi menyaksikan pertarungan....”


“HAH...?! Kau gil—“


“Ahh....pergilah....”


“EHHH...!?”


Gehrig hampir mati tersedak napasnya sendiri mendengar persetujuan Mira, perempuan berjubah tadi mengangguk dan bergegas menuju lubang keluar. Ia mengangkat tangan diatas demi menggapai salah dahan satu pohon, dalam hitungan detik tubuhnya meninggalkan kendaraan terus tak terlihat lagi.


“Kenapa kalau Hayha boleh sedangkan aku tidak!? Kirim aku sekalian!!!”


“Hayha dapat berpikir jernih serta mampu menilai situasi jauh lebih baik darimu, lagi pula memanfaatkan pengamatanya kita dipastikan memperoleh informasi tentang kekuatan keduanya. Jangan banyak protes Gehrig.....”


“Ya....kau ini berisik sekali, aku sedang mencoba menghubungi tempat lain....” gerutu James.


“Ugh....”


Gehrig hanya bisa menelan bulat – bulat rasa kurang puasnya, dia mengepalkan tangan kuat – kuat sebelum bersandar pada punggung kursinya. Bagaimanapun keputusan tetap ditangan Mira sebagai ketua, sementara itu kuping James akhirnya menangkap jawaban melalui alat komunikasi.



“Ada perlu apa?”


“Waktunya kalian begerak....hehehe....”

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2