Elementalist

Elementalist
Chapter 242 - Nasution Request


__ADS_3

“Menyingkir kalian!? Aku harus segera kembali kesana!”


“Pak!? Tenanglah, di luar berbahaya. Biarkan kami yang akan mengurus—“


“Tututp mulutmu! Memangnya kau tau apa hah!? Entah bagaimana nasip istri dan putriku—“


“Paman Adi?”


Aditya Nasution menoleh mendengar suara familiar menyebut namanya, seorang pemuda berambut putih berjalan mendekatinya melalui celah – celah para demonstran. Petugas – petugas Pusat Penelitian akhirnya mampu menghela napas sebentar akibat terus berusaha menenangkan seluruh desakan warga yang hendak kembali mencari anggota keluarga mereka.


“Arya?” panggilnya lemah.


Pria paruh paya tersebut kemudian mendekat sembari berlutut dihadapan Arya berlinang air mata, Arya buru – buru membantunya tuk bangkit. Dia mulai menceritakan tentang evakuasi wilayah sekitar tempat tinggalnya sehingga bisa sampai ke tempat ini, namun hatinya sangat gundah sebab belum mengetahui kabar kedua wanita paling berharga dalam hidupnya.



“Aditya kamu harus kuat....” Hartoso menepuk pundaknya lembut.


“Pak Presiden....saya tidak bisa....setelah insiden Amira....jika sampai harus kehilangan Bintang serta Kemala lebih baik aku mati saja.....”


Mendengar segala keluhan laki – laki itu tatapan Arya berubah, ia mendekati beberapa pertugas terus meminta penjelasan soal area tujuan Aditya. Ternyata di sana kabarnya merupakan salah satu titik paling berbahaya karena kemunculan banyak monster tingkat tinggi, apalagi kepadatan penduduk juga sejalan akan masalah barusan lalu memaksa pihak berwajib mengutamakan penyelamatan seadanya.


Arya mengangguk sebelum menghampiri Ayah Amira, dia berjongkok di sebelahnya pelan – pelan dan menarik napas dalam – dalam seraya bertanya. “Dimana terakhir kali paman mengetahui tempat Kemala berada?”.


“Sekolah....Mala berangkat pagi – pagi sekali karena ada ujian katanya semalam....”


“Paman? Apakah kau mempercayaiku sepenuhnya?”


“Tentu, aku sudah menganggap seperti putraku sendiri.....” balas Aditnya menatapnya balik penuh tanda tanya.


“Bagus, akan kujemput mereka untuk paman....”


“Apa!? Hey!? Arya sebentar!? Itu berbahay—“


Tanpa memperdulikan panggilan cemas Aditya, Arya berbalik bersiap berangkat karena telah mendapatkan misi baru. Sesaat pandanganya bertemu dengan Hartoso, beliau hanya tersenyum terus mengangguk mengerti maksud anak angkatnya.


“Ayah....aku gagal dalam misi egois menyela—“


“Aku mengerti, pergilah. Kamu tentu tidak ingin yang satu ini lepas juga bukan?”


“Maaf....”


“Untuk apa? Itu harusnya kata – kataku, aku mampu menjaga diri....lagi pula seseorang perlu menenangkan gerombolan massa di sini”

__ADS_1


“Tuan Muda, serahkan keamanan Presiden kepada kami....”


Pak Tora ditemani empat Laskar Cindaka lain memang bersiaga sekitar tempat mereka berada, Arya menatap satu per satu wajah pendekar tersebut lalu membungkuk hormat layaknya orang meminta tolong.


Kelimanya membalas sama santunya, Arya segera berjalan menuju barisan petugas Pusat Penelitian. Aditya melihat hal tadi dengan tatapan aneh, dia meminta Hartoso menghentikan Arya tapi tidak mendapat respon. Betapa terkejutnya ia ketika semua pasukan tadi menyingkir membiarkan Arya lewat dengan patuh seolah mengenalinya.


“Apa – apaa—“


WUSHH...!!!


Sebelum Aditya berucap keheranan, Arya langsung lenyap bak tertiup angin usai mengenakan topeng miliknya. Dia bertekad bagaimanapun kali harus berhasil, jika tersandung sekali lagi. Maka dipastikan bayangan kehilangan Amira juga Reika akan terus menghantui sepanjang sisa hidupnya.


------><------


“Ketemu....”


Arya yang tengah melompat – lompat diantara reruntuhan akhirnya menemukan tempat tujuannya, sebuah bangunan dengan halaman luas. Terlihat memang puluhan petugas sedang bersiaga sekitar lokasi, beberapa korban selamat juga nampak masih berada tak jauh dari sana.


Ia mendarat mulus kemudian menghampiri sosok paling tinggi jabatannya disitu, si Witch pria kaget bukan kepalang menyadari siapa pendatang dihadapannya. Arya memintanya untuk menjelaskan situasi terkini, singkatnya menurut para penanggung jawab diperkirakan muncul seorang Ghoul berkekuatan mendekati Noble-Tier terus menyandera siswa – siswi sekolah.


Tetapi untungnya ada sekitar sepuluh atau lebih guru merupakan Hidden Suzerainity sehingga dapat memberikan serangan kejutan dan berhasil membawa keluar mereka, sayang sepertinya belum seluruh murid berhasil terselamatkan.


“Kalau begitu apa kau melihat....” selesai mendengar tuturan barusan, Arya menoleh kesana kemari demi mencari sembari menjabarkan ciri – ciri Kemala.


“Maaf Tuan, anda yakin dia sekolah di sini? Soalnya saya belum pernah—“


Seruan kencang tersebut menarik perhatian keduanya lalu buru – buru menuju sumber suara, gadis berambut gelap serta berkacamata berjalan tertatih – tatih ke arah gerbang sebelum dijemput oleh petugas Pusat Penelitian.


“Kamu baik – baik saja?


“Iyaa....tapi temanku masih terjebak di dalam....tolong....saya mohon selamatkan Kemala....hiks” isaknya waktu ditanyai tim medis.


“Dimana kalian terpisah?” Arya sigap mendengar nama tadi disebut.


“Lantai dua, ia berusaha menjadi umpan bagi iblis itu agar aku bisa menuruni tangga. Kemala melakukannya karena mengetahui kakiku cedera.....Tuan Elementalist bantulah—“


Tidak perlu menunggu anak perempuan tersebut menyelesaikan kalimatnya Arya telah mengambil posisi di pintu masuk halaman sekolah. Pengelihatannya menerawang struktur bangunan untuk mencari titik yang dimaksud, saat fokus menganalisis tiba – tiba dua gelitikan kejutan menghujam sisi perutnya sampai jika terlambat sedikit mengendalikan diri maka kata – kata mutiara bakal terdengar dari mulutnya.


“BAAA...!!!”


“UGH....!? BANG—SAL....“


“Huahahaha.....kau ini bicara apa sih? Hihihi....”

__ADS_1


CTAK!!!


Arya menemukan sang pembuat onar tertawa terbahak – bahak tepat disampingnya terus tanpa basa – basi segera mendaratkan jitakan keras pada tengkoraknya. Lexa meringis kesakitan sambil memegangi ubun – ubunnya, matanya perlahan berair menahan nyeri.


“Kau bisa membaca situasi tidak sih....” geram Arya kesal.


“Sakit tau....akukan hanya mau menghapus ekspresi menyeramkanmu....”


“Mengapa kau datang kemari Lexa?”


“Tak ada alasan khusus, aku tadi lewat dan melihatmu jadi memutuskan tuk menghampiri....”


“Hah....”


Selesai menghela napas panjang Arya memijit – mijit keningnya, mencoba mengambil sisi positif kedatangan gadis itu. Bantuan siapapun pasti berguna pikirnya, walau kalau boleh berharap dia lebih memilih Zayn, Kevin, atau Elizabeth dalam situasi sekarang.


“Aku bisa melihat jelas isi pikiranmu dari wajah kau tau, jika memang dirimu enggan aku pergi nih....” Lexa menyeletuk sembari mengembungkan masing – masing pipinya.


“Tahan sebentar, maaf aku memukulmu sebelumnya tapi kau memang pantas mendapatkannya dasar usil! Begini....”


Arya secara singkat nan sederhana menjelaskan garis besar masalahnya supaya Lexa dapat mengerti, ditambah waktu mereka tak banyak untuk berdiskusi. Lexa nampak cukup terkejut menyadari lokasi mereka berada adalah sekolah Kemala.


“Baiklah, lalu? Bagaimana rencanamu menyelamatkannya?”


“Itulah yang sedang kulakukan sewaktu kau datang mengganggu....” balas Arya sebelum mengarahkan telapak tangannya.


Hembusan hawa dingin bertiup menuju gedung, mengakibatkan semua orang yang diterpa menggigil. Arya mempraktikkan hal sama ketika dulu pernah menjelajahi Dungeon Rei bersama Rena di Kutub Utara. Beberapa menit berselang wajah Arya berubah serius.


“Lexa aku menemukannya tetapi....”


“Bagus, kenapa?”


“Kita bisa terlambat, jaraknya terlalu jauh dan kecepatanku maupun dirimu belum tentu mampu menggapainya tepat waktu....”


“Terus kita harus bagaiamana?” Lexa memiringkan kepala bingung.


“Akan kutebas makhluk itu sekaligus bersama sekolah ini....”


“Woaaahhh....rencana ker—tunggu sebentar, maksudmu—“



Ketika otak Lexa masih berusaha mencerna ucapa barusan, Arya mengambil posisi dengan gesit kemudian melepaskan First Dance; Swinging a Single Sword. Gelombang energi berbentuk bulan sabit membelah bangunan tersebut menjadi dua layaknya tahu, sampai membuat mulut orang – orang yang menyaksikannya menganga lebar.

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2