Elementalist

Elementalist
Chapter 30 - Reward


__ADS_3

"Ada apa Asuna?" tanya Kevin sambil menoleh.


Asuna tersentak kaget lalu menjawab pelan "Tidak, hanya saja tadi sepertinya aku melihat butiran salju disekitar situ"


"Butiran salju? Mana mungkin turun salju di pulau tropis seperti ini" balas Kevin heran.


"Kau benar, mungkin aku hanya salah lihat" sahut Asuna sambil melanjutkan langkahnya.


Asuna memperhatikan pemandangan lautan didekatnya, sambil menatap cakrawala dengan mata merahnya ia berpikir "Ada sesuatu yang sedang terjadi"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Disebuah dataran tinggi yang diselimuti oleh es, seorang laki-laki sedang berbaring pada salah satu dahan pohon ek. Ia memejamkan matanya sambil bersenandung pelan seakan menikmati situasi itu, beberapa saat kemudian ia membuka sebelah matanya sambil berkata.


"Apa yang kau lakukan di tempat ini? Sena?"


Dari udara kosong tiba-tiba muncul api yang berkobar sangat besar, dari dalam api itu keluar sesosok wanita. Wanita itu mendarat pada dahan pohon ek tersebut dengan lembut, badannya menyala seperti terbakar. Tapi, dengan sekali hentakkan tangan, api itu menghilang.


"Apa begitu caramu menyapa seorang teman yang sudah lama tidak bertemu? Jack?"


"Tidak perlu berbasa-basi, katakan saja apa urusanmu datang ke wilayahku" jawab pria bernama Jack itu sambil merubah posisi berbaringnya menjadi duduk.


Wanita bernama Sena melihatnya dengan tatapan tidak senang, dia memiliki rambut panjang sepinggang berwarna merah dan mata yang juga berwarna sama. Ia mengenakan pakaian berwarna merah hitam yang serasi dengan penampilannya itu, ia mengibaskan rambutnya sambil mendesis pelan.



"Kau seharusnya sudah tau alasanku kemari bukan?"


"Tidak juga" jawab Jack santai.


"Jack!!!" geram Sena dengan rambut yang terangkat ke udara karena marah.


Kemudian muncul tiga sosok dari dalam tubuh Jack, senada dengan Jack. Dari dalam tubuh Sena juga muncul tiga sosok dalam waktu yang bersamaan, kedua kelompok itu saling menatap satu sama lain.


"Hei hei hei tenang dulu, kembalilah kalian bertiga" perintah Jack.


Tiga sosok itu kembali menjadi cahaya dan kembali ke tubuh Jack, Sena juga segera menarik kembali tiga sosok yang ada dihadapannya.


"Ketiga atribut milikmu sepertinya sangat cekatan" komentar Sena.


"Tentu saja, untuk itulah mereka dilatih. Kita berdua memang tidak terlalu akur bukan?" ujar Jack sambil masih tersenyum.


"Baiklah-baiklah, aku mengalah. Aku kemari karena para Dewan PBB selalu mencarimu dan bertanya-tanya apakah kau sudah mengurus Dimension Fragment di wilayah ini" ucap Sena ketus.


"Jadi begitu cara kalian menyebutnya? Aku memang menemukan beberapa, tapi aku belum mengurusnya sama sekali" balas Jack sambil mencoba mengingat-ingat.


"Kalau begitu segera tutup" perintah Sena.


"Aku lebih tertarik untuk memasukinya" sahut Jack dengan senyuman jahil diwajahnya


"Jangan berani-berani untuk....ugh....aku sudah cukup pusing dengan urusan para dewan dan sekarang kau ingin melakukan hal gila lainnya?" tanya Sena dengan kesal.


"Hahaha sudah kubilang sebaiknya kau menjauh dari para politikus korup itu, bagaimana kabar yang lainnya?" tanya Jack sambil terkekeh.


"Baik, mereka bertanya-tanya apakah kau tidak bisa---"


Jack segera memotong perkataan Sena dengan nada datar "Tidak, aku tidak mau muncul dan berurusan dengan Dewan PBB", dia lalu berdiri sambil membersihkan salju dari pakaiannya.


"Kau sudah mau pergi?" tanya Sena.


"Bukankah kau sendiri yang memerintahkanku? Nona Blaze?" goda Jack.


Sena segera cemberut sambil memalingkan wajahnya dan berkata "Kalau begitu berhati-hatilah , Tuan Frost". Jack membuka tudung jubahnya sambil tertawa, dia memiliki rambut putih dan pupil mata berwarna putih seperti salju disekitarnya. Ia mengayunkan jubahnya kemudian menghilang.



Arya terbangun dengan keringat dingin membasi tubuhnya, ia menyentuh kepalanya dengan tangan sambil berbisik "Apa itu tadi....mimpi?"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Seorang gadis kecil sedang bermain-main di sebuah kebun bunga, kebun itu dipenuhi bunga-bunga berwarna kebiruan persis seperti warna mata gadis tersebut. Gadis itu memetik beberapa dan membawanya kepada seorang perempuan muda yang duduk dibangku taman tersebut.


"Bibi....bibi....lihat, aku memetik ini untukmu" seru gadis itu sambil menyodorkan bunga ditangannya.


"Terimakasih, kau manis sekali" balas perempuan tersebut sambil tersenyum.


"Kenapa bibi terlihat senang sekali? Padahalkan bibi tidak ikut bermain denganku?" tanya gadis itu bingung.


"Bibi sudah senang hanya dengan melihatmu bermain, bibi hanya berpikir jika memiliki seorang anak. Apakah dia akan tumbuh cerdas, pintar, dan baik hati sepertimu" jawab perempuan itu sambil mengelus kepala gadis tersebut.


"Kalau itu anak bibi, aku yakin dia akan seperti itu" seru gadis itu polos.


"Hahaha, jika aku memiliki seorang anak nantinya. Apakah kau mau berteman dengannya?" tanya perempuan itu lembut.


"Tentu saja" jawab gadis tersebut tanpa ragu sedikitpun.


"Hehehe, kalau begitu mohon bantuannya ya....Alalea?"


Alalea bangun dengan napas terengah-engah, ia menyentuh pipinya yang ternyata sudah dibasahi air mata. Dia duduk sambil mendekap lututnya dan membenamkan wajahnya disana.


"Maafkan aku, Bibi Lyan" isaknya.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Arya merasakan beberapa bagian tubuhnya masih dibalut perban, ia melihat jendela dengan beberapa helai rambut menutup mata kirinya. Dia masih berusaha mengingat-ingat kejadian yang terjadi ketika tiba-tiba mendengar suara gelas pecah.



Saat ia menoleh, seseorang langsung mendekapnya dengan erat. Dari aroma orang tersebut Arya langsung mengenalinya, Arya lalu berbisik pelan "Rena?"


"Syukurlah....syukurlah....aku pikir....aku pikir aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi" isak Rena sambil masih memeluk Arya.


Arya menenangkan Rena dengan mengelus rambutnya, kemudian beberapa saat kemudian tubuh Arya kembali tersentak. Seseorang ikut dalam pelukan mereka, Eridan juga terlihat sangat bersyukur karena melihat Arya telah sadar.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Alalea berjalan mondar-mandir didepan sebuah rumah, dia berhenti lalu berjalan ke pintu seakan ingin mengetuk. Saat tangannya hampir menyentuh pintu, ia kembali menjauh sambil terus terlihat kebingungan "Apa yang harus aku lakukan?" batinnya.


Dia segera menuju kesini setelah mendengar kabar bahwa Arya telah siuman, tapi dia bingung bagaimana cara masuk dan menyapanya seperti biasa. Dia sudah lama tidak berkunjung ke rumah Eridan, orang-orang disekitar tempat itu terlihat heran melihat tingkahnya.

__ADS_1


Ia menarik napas panjang dan langsung berjalan ke pintu, tepat saat ia mengangkat tangan untuk mengetuk. Pintu itu terbuka.


"Eh? Putri Alalea?" celetuk Rena pelan.


"Ha....hai?" sapa Alalea sambil tersenyum.


"Apa anda ada perlu dengan Eridan?"


"Bukan aku kesini untuk---"


Belum sempat Alalea menyelesaikan kata-katanya Rena sudah memanggil Eridan, beberaba saat kemudian Eridan muncul dengan wajah sama terkejutnya dengan Rena.


"Ada perlu apa Tuan Putri? Sudah lama sekali sejak terakhir kali anda berkunjung, saat kita masih....anak-anak kurasa" kata Eridan sambil memiringkan kepala.


Alalea menghela nafas lalu berbisik "Aku kemari untuk bertemu dia", Eridan dan Rena saling menatap satu sama lain.


"Dia?" seru mereka bersamaan


"Ya" jawab Alalea tenang.


"Dia....siapa?" tanya Eridan dengan bingung.


Alalea terlihat sangat kesulitan untuk mengatakannya, Rena yang menyadari hal tersebut segera membantu dan berkata "Anda kemari untuk bertemu dengan Arya?"


"Tepat sekali" balas Alalea lega sambil berterimakasih dalam hati pada Rena.


"Ahh....anda mencari Tuan Arya, sayang sekali tapi dia baru saja pergi ke Kastil" ucap Eridan sambil memegang dagunya.


"APA?! Dia sedang berada di Kastil? Apa yang dilakukannya disana?" seru Alalea kesal.


Eridan dan Rena tentu terkejut melihat reaksi Alalea, lalu Eridan melanjutkan dengan hati-hati "Ratu memangillnya, Tuan Putri"


Alalea segera berterimakasih dan melesat untuk kembali ke Kastil, meninggalkan Eridan dan Rena yang masih terlihat kebingungan.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Arya memasuki ruang singgasana dengan santai, dia baru saja berbicara dengan dua Ksatria Pentagram yang berjaga diluar. Mereka adalah Razel dan Regulus, keduanya cukup ramah dan mereka meminta maaf atas perlakuan adik mereka, terutama Razel yang terlihat sangat bersalah dan berjanji akan mendidik Audax dengan lebih baik.


Sejak kejadian serangan yang dilakukan para Vampir, para Ksatria Pentagram memutuskan untuk membagi tugas mereka untuk mengawal Ratu dan melakukan tugas lainnya.


Diana melihat Arya yang sudah bisa berjalan dengan sehat sambil tersenyum tipis, di ruangan itu hanya ada mereka berdua.


"Ada perlu apa?" tanya Arya pelan.


"Bagaimana keadaanmu?" Diana balik bertanya.


"Untuk orang yang sudah dua hari tak sadarkan diri? Aku baik-baik saja seperti yang kau lihat, aku sudah bisa bergerak dengan cukup baik" jawab Arya sambil menggerakan badannya.


"Syukurlah kalau begitu" timpal Diana sambil mengangguk-angguk.


"Kau tidak memanggilku kesini hanya untuk menanyakan itu bukan?" balas Arya dengan nada suara tidak percaya.


"Tentu saja tidak, aku ingin memberikanmu ini" kata Diana sambil mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti kotak perhiasan dari udara kosong.


Kotak itu melayang ke arah Arya dan mendarat ditelapak tangannya, Arya mengamati kotak itu dengan tertarik.


"Benda apa ini? Apa ini Summoner Cube lainnya?"


"Bolehkah aku meminta sesuatu hal yang lain?" tanya Arya lagi.


"Apa ada hal lain yang kau inginkan?"


Arya lalu meminta Diana untuk memenuhi kerja sama dengan organisasi Pax, kalau dia keberatan akan hal itu, Arya memintanya untuk memperlakukan para Dwarf dengan lebih baik. Diana mengangkat sebelah alisnya mendengar hal tersebut, lalu dia berdeham pelan.


"Baiklah, akan aku lakukan apa yang kau minta"


"Sungguh? Yang mana?"


"Keduanya"


Arya melebarkan matanya sambil tersenyum dan berkata "Syukurlah kalau begitu, terimakasih", kemudian dia berusaha mengembalikan kotak yang ada ditangannya. Tapi, Diana menolak.


"Kau juga bisa menyimpan benda itu, sudah kubilang bukan? Itu hadiah dariku" tegas Diana.


Arya diam sejenak, dia lalu perlahan tersenyum. Senyum yang sangat tulus sambil berkata "Terimakasih, nenek"


"Mmm...? Kau sekarang sudah berani memanggilku nenek?" komentar Diana dengan alis terangkat.


"Bukankah kau memang nenekku?" balas Arya tenang.


"Kemarilah" perintah Diana.


Arya segera mendekat tanpa rasa curiga sedikitpun, saat tiba didepan singgasana. Diana meyentil dahinya cukup keras, Arya mendesis kesakitan sambil bertanya dengan kesal.


"Untuk apa itu tadi?"


"Karena telah mengecewakanku dan telah merebut kakak perempuan kesayanganku" sahut Diana riang.


"Hah?! Aku tidak---"


"Pergilah, Eudart mencarimu" potong Diana.


Arya segera meninggalkan tempat itu sambil masih menggosok keningnya yang perih.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Alalea memasuki ruangan singgasana dengan menghentak-hentakkan kaki dengan keras, semua orang disana melihatnya keheranan. Kebetulan saat itu ada beberapa bangsawan yang hadir disana, bahkan Azalea juga ada di ruangan itu.


Alalea melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan, dia menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal sambil menggeram "Kenapa aku tidak bisa bertemu dengan DIA?!"


"Apa yang sedang kau bicarakan Alalea? Dia siapa?" tanya Diana sedikit heran melihat sikap cucunya.


"DIA! Bukankah nenek yang memanggilnya kemari" seru Alalea tidak sabar.


"Maksudmu Arya?" celetuk Azalea yang sepertinya tau jalan berpikir putri semata wayangnya itu.


Alalea mengangguk cepat, sambil menuntut jawaban dari Diana. Diana mengela nafas panjang sambil menjelaskan bahwa Arya baru saja pergi dari tempat itu untuk bertemu dengan Eudart.


"HAH?! Kenapa bisa begini lagi sih! Dia menghindar dariku atau bagaimana?" teriak Alalea kesal sambil meninggalkan ruang singgasana.

__ADS_1


"Anak itu....entah kenapa dia sepertinya terlihat semakin mirip dengan seseorang yang aku kenal" komentar Diana pelan.


"Mungkin maksud bibi, semakin terlihat seperti bibi sendiri" celetuk Azalea sambil terkekeh.


"Apa?! Aku tidak pernah bersikap tidak sopan seperti itu" bantah Diana sambil cemberut.


"Iya-iya, aku tau" balas Azalea sambil memutar kedua bola matanya.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Arya tiba di lembah beberapa menit kemudian, dia senang bisa mencium aroma menyegarkan dari tempat ini lagi. Ia berjalan pelan menuju pohon raksasa sambil melemparkan pandangan ke sekelilingnya untuk mencari Eudart.


"Aku kagum dengan kemampuan pemulihan milikmu" tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya.


Arya tersentak kaget, sambil masih memegang dadanya karena terkejut ia melirik Eudart dengan kesal karena tiba-tiba muncul dibelakangnya tanpa peringatan.


"Bisakah kau setidaknya muncul dengan sewajarnya?" komentar Arya lirih.


Eudart mengabaikan komentar Arya, dia berjalan menuju bawah pohon raksasa. Kemudian Eudart menjulurkan tangannya, beberapa saat kemudian sebatang dahan kayu sepanjang 1,5 meter yang diselimuti cahaya kehijauan muncul entah dari mana.


Dahan itu mendarat di tangan Eudart dengan lembut, Eudart berbalik dan menyodorkan dahan itu pada Arya. Arya memandang dahan tersebut dan Eudart secara bergantian.


"Jangan-jangan ini---"


"Benar, ini adalah dahan Pohon Hellig" jawab Eudart sambil tersenyum.


Arya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dia melongo beberapa saat. Lalu berbicara dengan terbata-bata.


"T...t..ta..tapi bukannya kau bilang....tidak akan pernah mengizinkanku untuk mendapatkannya" seru Arya tidak percaya.


"Memang, aku tidak memiliki hak untuk memberikan benda ini padamu. Mereka berdualah yang ingin memberikannya" balas Eudart sambil tersenyum.


Tiba-tiba Arya merasakan energi yang sangat kuat diudara, dari dua sisi pohon raksasa itu muncullah dua sosok yang menyebabkan hal tersebut. Dari sisi kanan pohon muncul sesosok makhluk yang terlihat seperti orang tua berjenggot tapi dengan tubuh berwarna hijau.


Sosok itu membawa sebuah kapak perang dan menunggangi seekor binatang yang terlihat seperti kambing gunung dengan tiga buah tanduk dikepalanya. Binatang itu juga berwarna hijau seutuhnya.



Dari sisi lain muncul sesosok makhluk seukuran wanita dewasa, dia memiliki wajah yang sangat cantik dengan rambut ikal berwarna kecokelatan.


Ia melayang diudara dengan sayap kupu-kupu berwarna biru yang sangat indah, wanita itu juga mengenakan sebuah gaun berwarna hijau serta membawa sebuah seruling yang terlihat terbuat dari kayu.



Arya hanya bisa melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Eudart yang menyadari hal itu hanya tertawa pelan, kedua sosok luar biasa itu berjalan mendekat dan berhenti disebelah Eudart.


"Sampai kapan kau akan bersikap tidak sopan seperti itu didepan Raja Druid dan Ratu Pixie?"


Arya segera menekuk lutut untuk memberi hormat kepada dua makhluk tersebut, ia tidak bisa menyembunyikan betapa senang perasaannya kala itu.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Alalea membuka pintu dengan cepat lalu berjalan mondar-mandir di ruangan itu sambil menggigit kuku jarinya.


"Bisakah kau setidaknya mengetuk pintu? Ibu tidak ingat pernah mengajarimu untuk bersikap seperti itu" komentar Azalea yang duduk ditempat tidurnya sambil membaca buku.


"Maafkan aku bu, aku hanya---"


"Kau belum berhasil bertemu dengan Arya?" tebak ibunya dengan santai.


Alalea dengan berat hati mengangguk, sambil terus berjalan mondar-mandri tanpa henti. Azalea yang mendengar hal itu hanya mengangguk-angguk pelan.


"Bukankah ini sudah dua hari sejak dia sadar? Dan kau masih belum berhasil bertemu dengannya?" celetuk Azalea.


"Itulah masalahnya bu, aku takut dia menghindar dariku" balas Alalea pelan.


"Mungkin dia hanya sedang sibuk"


Benar seperti yang dikatakan Azalea, Arya memang tidak sedang menghindari Alalea. Hanya saja dia memang sibuk karena harus bertemu dengan banyak orang, terutama sejak identitasnya diketahui.


"Semoga saja benar" kata Alalea sambil menghela napas.


"Memangnya ada alasan apa kau ingin bertemu dengan Arya?" tanya Azalea santai.


"Aku....aku hanya ingin mengatakan bahwa aku----"


"Bibi Azalea, aku sudah memeriksanya. Sepertinya walaupun hujan aku yakin tidak akan ada air yang merembes masuk, oh....halo Tuan putri" sapa Arya yang tiba-tiba muncul dari lantai dua.


"Terimakasih telah memeriksanya untukku Arya" sahut Azalea sambil tersenyum.


Wajah Alalea memerah, dia membuka mulutnya dengan ekspresi sangat terkejut. Dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Dia berbicara pelan dengan suara terbata-bata.


"K..k..k..kau----"


"Mmm....aku?" tanya Arya bingung.


"Kau mendengar semuanya ya?!" bentak Alalea sambil membuat formasi sihir dengan tangannya.


"EH?! Aku tidak---" ucap Arya cepat sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


"Berisik! Aku tau kau pasti mendengar semuanya! Pergi sana dasar bodoh!!!" teriak Alalea sambil mengaktifkan sihirnya.


"Baik! Aku pergi!" seru Arya cepat sambil segera menyelamatkan diri dengan cara keluar dari jendela.


Tepat setelah Arya keluar dari jendela, terdengar suara ledakan dari tempat itu. Ruangan itu segera berantakan dengan debu yang bertebaran dimana-mana.


"Hah....aku baru saja memintanya untuk memperbaiki lantai dua, dan sekarang kau sudah menghancurkan lantai pertama?" komentar Azalea dengan tidak percaya sambil menepikan debu dari wajahnya.


Alalea segera menoleh kepada ibunya, wajah dan telinganya memerah. Ekspresinya tercampur antara marah, kesal, dan malu.


"Ibu sengaja mempermainkan aku ya!?" serunya kesal.


"Mempermainkanmu bagaimana?" tanya Azalea dengan tenang.


"Kenapa ibu tidak memberitahuku kalau dia sedang ada di lantai dua?!" tanya Alalea ketus.


"Kau tidak pernah bertanya, ingat? Tidak baik menuduh ibumu sendiri melakukan hal seperti itu, kau mau dikutuk jadi batu ya?" jawab Azalea dengan tanpa rasa bersalah diwajahnya.


Author Note :

__ADS_1


Saya ucapkan selamat datang kepada para pembaca baru cerita ini, terima kasih telah mengizinkan Elementalist untuk menghibur serta mengisi waktu senggang kalian. Jangan lupa berikan dukungan meninggalkan like, terimakasih. Bye


__ADS_2