
Serigala putih itu dengan sangat mengejutkan tiba-tiba menerjang ke arah Hollow ganas tersebut, kedua makhluk tanpa tubuh fisik itu saling begumul satu sama lain. Entah disengaja atau tidak, sang serigala putih menyeret si Hollow menjauh dari Arya.
Lexa dan M segera kembali ke samping Arya sambil menatap pemandangan yang ada didepan mereka dengan takjub.
"Apa itu?" M memiringkan kepalanya bingung.
"Hei? Apa Guide Vision seharusnya bisa melakukan hal seperti itu?" Lexa menarik-narik lengan baju Arya.
Arya hanya diam membisu sambil memasang telinganya baik-baik, dia seperti mendengar ada suara teriakan pilu disekitar situ tapi tidak tau dari mana arah suara tersebut berasal.
"HEI! JANGAN ABAIKAN AKU!"
"Aww....apa yang—" desis Arya ketika merasakan cubitan keras Lexa pada pinggangnya.
"Moo....huh! Dasar Arya tuli!" balasnya kesal sambil memalingkan wajah.
"Aku tidak tau Lexa, ini juga pertama kalinya aku berurusan dengan Guide Vision. Bukankah seharusnya kau yang lebih berpengalaman soal ini?"
Arya tidak habis pikir tentang apa yang dipikirkan gadis itu, geraman mengerikan terdengar dan membuat mereka semua menoleh ke arah pertarungan tersebut. Ternyata posisi si Hollow sudah semakin terdesak.
Dengan tubuh yang sudah penuh koyak, ia bersandar pada salah satu pohon sambil menggeram ke arah serigala putih. Arya memperhatikan kejadian itu dengan seksama sampai tiba-tiba ada suara misterius yang memasuki kepalanya.
Saat si serigala putih siap menghakhiri semuanya, kurang dari satu detik. Arya sudah menengahi kedua makhluk tersebut. Ia berdiri disana seolah-olah menghentikan apa yang ingin dilakukan oleh Guide Vision miliknya.
Serigala itu berhenti lalu menatap Arya dalam-dalam, seperti bertanya "Kenapa?". Lexa dan M juga sama terkejutnya, dalam sekejap Arya sudah muncul ditengah pertarungan yang sudah hampir selesai.
Terlebih lagi posisi dia terlihat seperti melindungi makhluk yang beberapa saat lalu ingin membunuh mereka. Arya berbalik mendekati Hollow tidak berdaya itu.
"Apa....yang ingin kau sampaikan....?" Arya menjulurkan tangannya dengan ragu.
Waktu kulitnya hampir bersentuhan dengan kepala hitam si Hollow, Arya mengira tidak akan bisa menyentuh makhluk itu. Tapi nyatanya ketika tubuh mereka bertemu, dia merasa seperti menyentuh makhluk hidup yang memiliki suhu tubuh yang sangat rendah.
Langsung saja ledakan Agnet tidak terduga muncul dan membuat Lexa, M, dan serigala putih terpental. Saking besarnya kekuatan ledakan, pohon-pohon disana bergetar sambil menghujani mereka dengan tumpukan salju.
"ARYA!" teriak Lexa panik.
Tapi semua sudah terlambat, Arya tidak bergerak dari posisinya yang menyentuh kepala Hollow tersebut dengan mata yang menyala terang.
------<<>>------
Asuna terlihat duduk dalam diam ditengah-tengah aula yang dikelilingi oleh kolam lava, beberapa detik kemudian ia membuka mata sambil berdiri dengan siaga. Sebuah rantai yang entah muncul dari mana membelit pergelangan tangan kananya.
Dia menarik rantai tersebut sekuat tenaga, aksi tarik menarik itu berlangsung cukup lama. Semua itu akhirnya selesai ditandai dengan suara ledakan keras yang memenuhi udara, Asuna menangkap makhluk yang baru saja keluar dari portal berwarna merah dengan lembut.
Dia duduk kembali dengan makhluk kecil itu dipangkuannya, Asuna mengelus-elus kepala makhluk berambut halus tersebut dengan sayang. Timothy tiba disana beberapa saat kemudian dengan terburu-buru.
"Bagaimana hasilnya....?"
"Menurutmu?" Asuna balik bertanya tanpa menoleh sedikitpun.
Timothy akhirnya mengerti setelah melihat apa yang sedang ada dipangkuan Asuna, matanya berbinar lalu dengan riang iapun mendekat.
"Imut sekali! Asuna bolehkah aku memegangnya? Boleh ya? Boleh ya? Boleh ya?!"
"Ada apa denganmu?" Asuna menatapnya sinis.
"Oh ayolah....!!! Sebentar saja....kumohon....!" pinta Timothy dengan wajah memelas.
Karena Timothy terus memohon dan membuatnya kesal, Asuna membiarkannya mengangkat makhluk yang ada dipangkuannya. Dia berteriak kegirangan seperti anak kecil yang diberikan mainan baru.
Timothy mengangkat makhluk itu tinggi-tinggi sambil berputar-putar, tepat ketika dia berusaha menciumnya. Makhluk itu mencakar kedua pipi Timothy, saat itu Timothy masih bisa memakluminya dan tertawa.
Tapi tawa itu segera menghilang ketika makhluk tersebut mulai menyala, tubuhnya mengeluarkan api yang sangat panas sampai-sampai Timothy langsung melepaskan genggamanya.
"WOA...! D..d..dia menyala!" Timothy meniup-niup telapak tanganya dengan mata berair.
"Tentu saja, apa yang kau harapkan? Dia ini Elemental Beast Api" sahut Asuna lalu mengangkat makhluk itu lagi kepelukannya.
Makhluk itu langsung tenang kembali saat berada dipelukan Asuna, Timothy menatap Asuna dengan raut wajah buruk.
"Kau sengaja membiarkanku mengangkatnya ya?" tanya Timothy yang urat pelipisnya sudah berkedut kesal.
"Bukannya kau sendiri yang memintannya?" jawab Asuna tidak peduli sambil melangkah menjauh.
"Hey tunggu du—"
"Dia bilang dia benci laki-laki bau"
"Aku!? Laki-laki ba—"
"Sudah jelas bukan? Siapa lagi yang dimaksud selain dirimu, oh iya. Jangan lupa bawakan barang-barangku" Asuna menoleh tanpa rasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
"HAH?! Kenapa aku harus mem—"
"Kalau kau tidak mau ya tidak apa-apa, aku bisa membawa barang-barangku sendiri dan membiarkannya berjalan. Tapi kau harus ingat dia baru saja keluar, mungkin saja dia lapar"
"Apa yang sedang berusaha kau katakan padaku?" Timothy menyipitkan mata curiga.
"Mmm? Kau tidak mengerti? Menurutmu kenapa makhluk kecil yang ada disakumu itu menggigil ketakutan dari tadi?"
Timothy lalu melihat ke saku bajunya, benar saja didalam saku itu Spike menggigil hebat sedari tadi. Timothy kemudian kembali menatap Asuna, dan dia berani bersumpah melihat makhluk yang ada dipelukan Asuna itu menjilat-jilat bibirnya sendiri dengan raut wajah lapar.
"Baiklah, kalau begitu—" seru Asuna yang sudah siap melepas makhluk yang ada dipelukannya.
"Tunggu sebentar!!! Setelah kupikir-pikir lagi tidak baik membiarkan seorang gadis membawa barang-barang berat. Biar aku saja yang membawanya Nona" sambar Timothy cepat dan dengan kekuatan yang datang entah dari mana mengangkut semua barang-barang bawaan mereka.
"Bagus, akhirnya kau mengerti. Sekarang ayo kembali ke Elemental City" Asuna tersenyum senang sambil berjalan dengan langkah ringan.
"Eghh....ba...ik....Nona, a....ku....akan...sege....ra....menyu....sul. Hah....hah....Nona duluan saja, jangan pikirkan....aku!!!" kata Timothy dengan suara yang semakin menghilang akibat berusaha membawa beban barang-barang yang ada.
------<<>>------
Arya melihat sekitarnya dengan perasaan aneh, dia sedang berada disebuah ruangan yang terlihat seperti gudang. Banyak tumpukan barang-barang berdebu disekelilingnya, sebuah suara dentangan keras membuat dirinya menoleh.
Seorang laki-laki yang kira-kira seumuran dengannya sedang mengangkat beberapa kardus barang, ia sedikit terlihat kerepotan akibat banyaknya benda yang dia bawa.
"Kakak...! Kakak harus lihat ini! Aku berhasil kak! Aku berhasil!"
Terdengar teriakan antusias dari luar, laki-laki itu meletakan bawaanya lalu segera melangkah ke pintu masuk. Tanpa pikir panjang, Arya juga ikut menyusulnya. Disana seorang gadis kecil berumur sekitar 9 sampai 12 tahun sedang menerbangkan barang-barang disekitarnya.
Ia menoleh ke arah kakaknya dengan wajah sumeringah "Lihat! Aku bisa!"
"Syukurlah, tapi jangan sampai menerbangkan benda-benda tajam ya?" peringat sang kakak sambil mengelus kepala adik perempuannya.
Pemandangan itupun kembali buyar, kejadian tersebut terus berulang. Sebuah pengelihatan tentang kegiatan kedua saudara yang saling menyanyangi satu sama lain. Mulai dari pesta ulang tahun si gadis kecil.
Kelulusan sang kakak, makan malam bersama mereka, bermain di pantai, dan masih banyak lagi. Arya menyerap semua pengelihatan itu dengan seksama, sampai akhirnya dia tiba disebuah pengelihatan yang sedikit berbeda dari yang sebelumnya.
Dengan napas terengah-engah kedua kakak beradik itu berlari di tengah hutan yang dipenuhi salju, keduanya terus berlari hingga akhirnya gadis kecil itu terjatuh.
"Hah....kakak....aku....hik, sudah tidak kuat lagi" isaknya pelan.
"Bertahanlah, jalan keluarnya ada didep—"
"Dengarkan kakak, teruslah berlari ke arah Timur sampai keluar dari Winter Hollow. Dan jangan pernah menoleh ke belakang"
"Tapi....tapi....tapi hiks, bagaimana dengan kakak?" tanya gadis itu sambil mengusap matanya.
"Jangan khawatir aku akan segera menyusulmu, kau pikir aku ini siapa hah? Aku adalah lulusan terbaik dari Akademi Sihir Divina. Aku pasti bisa mengatasi ini, pergilah!"
Dia mengakhiri kalimat itu sambil menepuk punggung sang adik, walaupun diawal terlihat ragu. akhirnya gadis kecil tersebut berlari sekuat tenaga dengan wajah penuh keteguhan hati.
"Jangan melihat kebelakang! Jangan lihat kebelakang!" ulangnya terus menerus sambil terisak walaupun mendengar kegaduhan dari arah belakangnya.
------<<>>------
"Begitulah kisahku, aku ini....kakak yang gagal bukan?"
Laki-laki itu ternyata sudah berdiri disebelah Arya, mereka sekarang berada ditempat yang sangat gelap. Arya hanya bisa melihatnya saja dikelilingi oleh ruang hampa berwarna hitam.
"Kita tidak seharusnya menghakimi sesuatu secepat itu, apa kau tidak tau kondisi adikmu setelahnya?" tanya Arya penasaran.
Laki-laki itu hanya menghela napas sambil mengangkat kedua bahunya "Aku juga ingin tau, tapi sayangnya aku mati ditempat ini tanpa berhasil tau apa yang terjadi padanya"
Mereka berdua diam untuk beberapa saat, akhirnya Arya berkata dengan nada suara tegas "Aku yakin dia berhasil selamat, dan masih hidup sampai sekarang"
"Heh...., terimakasih telah berusaha menghiburku. Aku hargai itu"
"Aku tidak sedang berusaha menghiburmu, aku bersungguh-sungguh" jelas Arya.
"Akupun berharap apa yang kau katakan menjadi kenyataan, tapi melihat kondisi Winter Hollow seekstrim ini. Harapan itu bagaikan sebuah lilin di padang pasir saat malam hari, itu juga alasan aku mengejar kalian berdua. Entah bagaimana aku bisa merasakan energi sihirnya darimu"
"Itu karena aku pernah bertemu dengannya" celetuk Arya santai.
Raut wajah laki-laki itu sangat terkejut, dengan terbata-bata ia berkata "Eh? Kumohon berhentilah bercanda"
"Siapa yang sedang bercanda? Kan dari awal sudahku bilang kalau aku ini bersungguh-sungguh" seru Arya jengkel.
Laki-laki itu masih terlihat ragu akan apa yang dia dengar, akhirnya Arya berbicara dengan suara pelan.
"Nama adik perempuanmu, Kyra bukan?"
DEG!
__ADS_1
Wajah laki-laki itu seketika menegang, dia segera mendekati Arya dengan mendesak "Bagaimana....bagaimana mungkin kau....diingatan tadi tidak ada—"
"Apa kau sekarang percaya apa yang aku katakan?"
Dari awal melihat gadis kecil itu Arya memang merasa familiar, dia seperti pernah melihatnya entah dimana. Nyatanya mereka bertemu beberapa waktu yang lalu, si Gadis Penjaga Penginapan. Arya tidak pernah menyadari kalau Kyra adalah seorang penyihir.
Arya lalu menceritakan semua yang dia ketahui pada laki-laki itu, dia mendengarkan dengan seksama dan saat tiba diakhir cerita sebuah senyuman tulus merekah diwajahnya.
"Jadi....begitu, dia berhasil. Bahkan sampai tiba di Underground Paradise, syukurlah"
Beberapa gelembung cahaya muncul disekitar tubuhnya, Arya yang melihat hal itu tentu saja terkejut. Tapi dengan cepat laki-laki itu menenangkan.
"Tidak apa, setelah mendengar semua itu sepertinya aku bisa pergi dengan tenang. Terimakasih Arya"
Arya melihat proses bagaimana pemurnian jiwa terjadi, dengan perlahan laki-laki itu kembali ke bentuk aslinya sebagai roh. Sebelum menghilang dia menoleh ke arah Arya sekali lagi.
"Arya? Bolehkah aku meminta satu hal lagi padamu?"
"Tentu" angguk Arya mengiyakan.
"Kalau kau bertemu lagi dengannya, kumohon....sampaikan maafku. Minta dia untuk memaafkan.... kakak bodohnya ini"
SYUUT!
------<<>>------
Tekanan dari ledakan Agnet sebelumnya mulai menghilang, Lexa dan M sekarang sudah bisa mendekati Arya.
Disaat itulah mereka melihat Hollow yang ada dihadapan Arya mengeluarkan cahaya terang, cahaya muncul mulai dari bagian bawah tubuh Hollow tersebut terus ke atas, tepat ketika seluruh tubuhnya ikut menyala. Cahaya itu menghilang.
Mata Arya juga sudah kembali normal, tapi dia terlihat sedikit pucat saat Lexa dan M mendekatinya. Arya sendiri hampir terjatuh saat berjalan sempoyongan.
"Ap...apa...yang terjadi?! Kau tidak apa-apa? Kenapa Hollow itu menghilang?" Lexa membredel Arya dengan pertanyaan sampai membuat kepalanya semakin pusing.
"Kakak....bisa melakukan Pemurnian Jiwa? Tapi bagaimana bisa?" M memiringkan kepala tidak percaya.
"Ehh....entahlah kepalaku pusing sekali. Aku seperti baru saja dilempar ke ingatan orang lain" sahut Arya lemah.
"Ingatan orang lain? Maksud kakak ingatan Hollow tadi?" tanya M dengan wajah terkesiap.
"Eee....kurang lebih seperti itu"
"APA!!!"
JTAK!
Lexa menjitak kepala M cukup keras agar dia terdiam.
"Apa yang kau pikirkan?! Bagaimana kalau lebih banyak Hollow lagi yang datang kemari?!"
"Ahaha ma...maaf. Aku hanya tidak menduganya, aku pikir kemampuan itu sudah lama punah" celetuk M malu.
"Kemampuan apa?" pada akhirnya Arya balik bertanya.
"Soul Reader" jawab M serius.
"Apa itu? Aku bahkan pertama kali menddengar hal itu" Arya semakin bingung.
"Apa?! Ada sesuatu hal menakjubkan yang tidak pernah kau dengar?" Lexa terlihat terkejut.
"Kau pikir aku ini mesin serba tau atau apa?" balas Arya sambil menghela napas.
"Soul Reader adalah kemampuan untuk membaca perjalanan hidup sebuah roh. Atau mungkin lebih tepat disebut jiwa orang yang sudah mati, kemampuan ini biasa digunakan oleh para Necromancer zaman dahulu untuk membuat pasukan kuat dengan memanfaatkan pengetahuan mengenai masa lalu mereka.
Tapi semua informasi tentang kemampuan itu sudah hilang dimakan waktu, dan kebanyakan orang sudah menganggapnya punah. Ini....menarik sekali" M segera bangkit setelah selesai menjelaskan.
"Hei tunggu dulu! Mau kemana kau?" Lexa mencoba menghentikannya tapi sayang jarak mereka berdua sudah terpisah jauh.
"Aku akan menunggu kalian di tempat yang sedang kalian tuju" balasnya sambil tersenyum ke arah Arya dan Lexa.
"Maksudnya?" Arya bertanya dengan kepala yang masih berdengung hebat.
"Bukankah kalian berdua sedang mencari sesuatu? Aku akan menunggu kalian disana, sejujurnya aku juga sedang mencari sesuatu di tempat ini. Lokasi tujuan kita bisa dibilang sama"
"Kenapa kita tidak pergi bersama saja ke tempat itu?" celetuk Lexa polos.
"Kalau aku melakukan hal itu, apa yang kalian lakukan selama ini bisa jadi sia-sia" jelas M tenang.
Dia benar pikir Arya, jika M sampai memberitahu mereka lokasi Ice Temple. Maka ujian ini sama saja tidak berguna. M menundukan kepalanya untuk pamitan, Arya sekali lagi menghentikannya dengan bertanya sebelum dia menghilang dari pandangan.
"M? Sebenarnya siapa dirimu?"
__ADS_1
"Aku? Mmm....saat waktunya tiba kakak akan mengetahuinya. Sedikit saran dariku, jika kalian ingin sampai ke tempat tujuan. Tidak usah percaya pada Si Penipu, dan jangan pernah melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh Si Kerudung Merah" dan dalam sekejap, diapun menghilang bak ditelan dibumi.