
Beberapa saat sebelumnya ketika Arya dan Selena belum mencapai garis finis, terjadi sebuah perseteruan kecil antar Tetua Klan Naga yang menyebabkan seluruh podium penonton bergetar hebat. Spina mengeluarkan Agnet dasyat dari tubuhnya sambil menunjuk Astrid.
“Sebaiknya kau punya penjelasan bagus untuk semua ini Astrid!!!”
“Apa masalahmu cebol?” Astrid melirik malas.
“C...c...cebol?! Tinggi kita berdua tidak jauh berbeda! Beraninya kau—“
Tetua Klan lain bergerak cepat menahan Spina agar keributan tidak semakin menjadi – jadi, Cornus yang juga masih bingung dengan kejadian tadi segera menengahi serta menggantikan posisi Spina untuk bertanya pada Astrid.
Semuanya berawal waktu tembakan meriam air Scogliera mengenai tubuh Arya, jika dalam kondisi normal. Tembakan tersebut dapat menyebabkan seluruh daging Arya terlepas dari tulangnya, itupun jika Scogliera tidak menahan diri.
Namun hal yang membuat semua orang terkejut adalah ketika dirinya terkena Gunna Uisce, Arya memang terdorong jauh kemudian menabrak salah satu batu karang. Scogliera langsung masuk ke dalam air sehingga tidak menyadari hal ini.
Semua volume air tembakan Scogliera menguap menjadi asap, dan tidak menyebabkan cedera sedikitpun pada tubuh Arya. Lalu mulai terlihatlah kobaran api keemasan muncul mengelilingi Arya seakan pelindung yang memiliki nyawa sendiri.
Penonton tentu terkejut sekaligus bertanya – tanya akan apa yang terjadi, tapi itu tidak berlaku untuk para Tetua Klan Naga. Mereka semua langsung bisa mengenali api tersebut walau hanya dengan sekali lihat.
Teknik penggunaan api tingkat tinggi milik Klan Ignisar, satu – satunya pesaing api Phoenix. Memiliki kemampuan pelindung, regenerasi, serta penyembuhan yang sangat hebat. Dan hanya mampu dikeluarkan oleh naga Ignisar setingkat Tetua.
“Jawab pertanyaanku Astrid, kenapa kau melindunginya dan mengganggu jalannya ujian ini?” Cornus memulai.
“Hah? Melindunginya? Untuk apa aku melakukan hal merepotkan seperti itu?”
“Kau masih berani menge—“
“Spina tenanglah! Aku sedang mencoba bicara disini! Haduh....terus? Mengapa Insanus Fire milikmu ada disana?”
“Tentu saja karena aku memberikannya pada bocah itu” jawab Astrid enteng.
“HAH?!”
“Dia mendapat hadiah Insanus Fire dariku jauh – jauh hari sebelum ujian, sebagai tanda terima kasih menemaniku berbicara di Fire Baths. Apanya yang melanggar peraturan coba?”
“Memberikan Insanus Fire padanya? K..k..kau sudah gila ya wanita tua!? Otakmu itu cuma pajangan atau apa hah?! Kalau terjadi sesuatu pada Elementalist Klanku memangnya kau mau tanggung jawab?!”
“Itulah alasan kenapa aku mencobanya”
“APA KATAMU?!” kali ini Cornuslah yang harus ditahan oleh para Tetua lain karena dia berusaha menyerang Astrid.
Sikap Cornus bisa dimaklumi, karena pada dasarnya Insanus Fire Klan Ignisar memiliki sifat destruktif untuk naga – naga Glacirus dan Aquasix. Ada kemungkinan api itu malah membakar dan menelan tubuh Arya yang merupakan seorang Elementalist Es.
Cornus maupun Spina terus mengomel sepanjang pertandingan, membuat Astrid menutup telinga sambil menggeleng – gelengkan kepala heran.
“Kalian ini terlalu sensitif, sejak awal aku sudah tau kalau dia mampu menyerap semuanya. Seorang Elementalist Es berendam di Fire Baths? Heh....lelucon macam apalagi itu” desisnya pelan.
__ADS_1
Sementara dikejauhan Arya sedang memperhatikan api keemasan disekujur tubuhnya, ia bisa merasakan kalau api ini baru saja menyelamatkan dirinya. Ia mengernyitkan dahi sebelum menoleh ke arah podium penonton.
“Mereka sedang meributkan apa sih? Berisik sekali”
------><------
“Aku bersyukur mereka tidak bekerja sama sejak awal” Selena menelan ludah dengan berat.
Gelombang es raksasa buatan Scogliera dan Vilhelm mulai mencair, Scogliera menggerakan tangannya begitu santai untuk mengembalikan entah berapa liter air tersebut ke tempatnya yang semula. Perempuan itu menghampiri keduanya sambil tersenyum kemudian memberi salam.
“Tuan Arya, Nona Selena. Selamat, kalian sudah lulus ujian dariku. Aku memang salah karena terlalu meremehkan kalian”
“Tidak, dengan kemampuan seperti tadi sudah sewajarnya kau bersikap seperti itu” Arya membalas salamnya diikuti oleh Selena.
“Ahahaha beberapa tahun lagi kalian juga pasti bisa melakukannya. Aku dan Vilhelm sudah berteman lama sih”
Dia berjalan ke arah Selena sebelum mengelus kepala si gadis dengan lembut, tatapan Scogliera terlihat seperti seorang ibu yang sudah lama tidak bertemu anaknya.
“Anda benar – benar hebat, jadi membuatku teringat semua kenangan bersama Tuanku. Pertahankan kegigihan dan sikap baik hati anda Nona Selena,
Air yang tenang, bukan berarti tidak berbahaya. Mulai sekarang dan seterusnya, kalian akan selalu bersama sampai ajal memisahkan. Kuharap kalian mampu untuk menjaga satu sama lain dengan baik” tak lupa ia mengelus telur biru dipegangan Selena.
“Terima kasih, Liera”
Keduanya lalu berpelukan, pemandangan tersebut cukup emosional menurut Arya. Karena dia yakin untuk beberapa saat tadi, Scogliera bisa melihat sosok Tuannya dulu dalam diri Selena walau hanya sekilas.
“Apa aku bisa menyimpulkan itu sebagai sebuah pujian?”
“Benar, karena telah mengelabuiku dengan baik. Akan aku beri sedikit saran, Vilhelm lebih kuat sepuluh kali lipat dariku. Semua yang aku sebutkan tadi tidak akan berguna melawannya, sekarang hanya tersisa ujian anda. Nona Selena sudah bisa dipastikan lulus, berjuanglah”
Scogliera menepuk pundak Arya sebelum menghilang ke arah podium penonton, dia akhirnya menoleh ke arah bongkahan es ditengah danau. Vilhelm masih duduk disana dengan mata tertutup.
“Baiklah selanjutnya ayo kita—“
“Jangan pura – pura bodoh, kau tentu sudah menyadarinya bukan? Tenaga kita berdua sudah hampir habis” potong Arya cepat.
”Tapi setidaknya kita harus mencoba!” Selena bersikeras.
“Caranya?”
“Eh....itu...., berapa kapsul lagi yang kau punya?”
“Sudah habis”
“HABIS?!”
“Wajar saja, sudah dua setengah jam sejak ujian dimulai. Lagi pula bukannya kau memakan satu kapsul milikku”
__ADS_1
“Ugh....lalu bagaimana ini....”
“Tenang saja, aku ada rencana” Arya berusaha menenangkan.
Ekspresi Selena semakin buruk setiap mendengar tahap demi tahap rencana Arya, pada akhirnya ia hanya menggeleng – gelengkan kepala untuk menolak ide tersebut.
“Tidak tidak tidak! Terlalu beresiko!”
“Apa kau punya rencana yang lebih baik?”
“I...i...it...itu....”
“Kau hanya perlu menggunakan segenap kekuatanmu untuk mendorongku, sisanya biar aku yang selesaikan”
“Tapi ini....”
“Tidak apa – apa, karena....aku percaya padamu. Selena” Arya mengusap kepala Selena sambil tersenyum.
DEG DEG
“Kau sakit?”
“Tidak, aku tidak sakit”
“Tapi wajahmu merah se—“
“Kubilang tidak ya tidak!”
Mereka berdiri dipinggir danau dengan senjata ditangan masing – masing, bersiap untuk maju. Tanpa diduga Vilhem membuka matanya lalu berdiri, ia bernapas secara teratur sebelum berbisik.
“Athrú”
Agnet berfrekuensi tinggi membuat udara bergetar hebat, hawa dingin mulai menyelimuti seluruh bongkahan es di tengah danau. Seekor naga berdiri gagah disana menatap langsung menuju tempat Arya dan Selena berada.
Tubuh naga tersebut diselimuti oleh es beserta batu mulia berwarna kemerahan, hanya dengan melihatnya saja bisa membuat semua orang bergidik pelan.
“Menunjukan wujud nagamu sejak awal eh? Vilhelm?” Scogliera menghela napas.
“Kapan ya terakhir kali aku melihat wujud naga Vilhelm?” celetuk Tetua Klan Terrayua.
“Cornus?”
“Entahlah, aku juga tidak ingat” jawab Cornus lirih.
Air danau membeku dengan cepat, tidak butuh lama. Seluruh permukan air sudah berubah menjadi es. Arya menguatkan genggaman pada pedangnya, pandangan matanya mulai menajam.
__ADS_1
'Mari maju dengan segala yang kita punya! Mandlika!'