
Arya dan Callista tiba di Elemental City dengan kondisi mental terpukul berat akibat tindakan terakhir Kruel, begitu keluar dari portal Arya langsung memaksa petugas untuk membuka jalan kembali. Namun Astral serta Alalea yang sudah menunggu kedatangan mereka segera menghentikannya.
Keduanya berusaha menenangkan agar Arya tidak melakukan tindakan ceroboh, tanpa bisa berbuat apapun dia akhirnya dipaksa untuk menyerah. Orang – orang sebenarnya ingin segera mengorek informasi mengenai misi solo Arya di tanah para iblis.
Namun melihat kondisi ia sekarang membuat mereka semua harus bersabar dan menunggu, tepat seminggu setelah Arya dan Callista kembali ke Elemental City. Sebuah surat tiba di depan pintu kamar Arya. Berupa perkamen kekuningan berhias tinta merah.
'Tidak semudah itu untuk membunuhku, jangan seenaknya saja mengambil kesimpulan. Dasar anak – anak kurang ajar'
Isi surat yang terkesan aneh dan ketus tersebut menghangatkan seluruh tubuh Arya, kakinya melemas begitu saja. Perlahan dia mengadahkan kepala ke langit sambil terus mengucapkan syukur berkali – kali.
Arya yakin hanya orang itulah yang membuat surat ini, dengan terburu – buru iapun segera mencari Callista untuk mengabarkan berita baik tersebut. Walau sampai sekarang, tidak ada satupun orang yang tau bagaimana cara si perkamen bisa sampai di depan pintu kamar Arya.
Kondisi Arya dan Callista membaik secara bertahap namun pasti, akhirnya tibalah saat dimana Arya harus melaporkan misinya. Dia menjelaskan banyak hal, mulai dari perjalanan diatas Flying Dutchman sampai perang Tepes.
Para Pengawas Ujian, Elementalist, dan Alalea yang mendengarkan semuanya memasang ekspresi buruk setiap kali Arya tiba dibagian cerita krusial. Tidak salah lagi misi itu benar – benar gila, apalagi sampai harus bertemu dengan Demon – Demon tingkat tinggi tersebut.
Begitu selesai, Arya langsung dikerubungi oleh teman – temannya. Mereka memarahi dan menceramahi Ketua Elementalist sampai membuat kepalanya terasa ingin pecah. Astral juga Alalea tidak luput terkena dampaknya karena telah memberikan misi tidak masuk akal bersamaan dengan menyembunyikan fakta mengenai hal tersebut dari mereka.
“Bagaimana kalau dia sampai mati?!”
“Apa yang akan dipikirkan keluarganya?”
“Membayangkan tubuhnya tidak bisa kembali kesini membuatku—“
“Kenapa kakak setuju mengambil misi ini!?”
“Seharusnya kau meminta pendapat kami terlebih dahulu!”
“Teman – teman kalian terlalu berlebih—“
“DIAM!” bentak Lexa, Asuna, Rena, Elizabeth, dan Selena bersamaan. Sehingga Arya gagal menyelesaikan kalimatnya.
‘Ugh....inilah alasan aku tidak memberitahu kalian’ Arya menghela napas lelah.
------><------
Ditengah huru – hara akibat misi gila Arya, ada satu hal yang ternyata diluar perkiraan. Para gadis terlihat menerima Callista, tak nampak sedikitpun kibaran bendera pernyataan perang seperti saat kedatangan Alalea dulu.
__ADS_1
Hal ini berhubungan dengan kisah masa lalu Callista, Arya menyampaikan secara terperinci keadaan gadis tersebut dari latar belakang sampai masalah yang dihadapinya. Sepertinya rasa empati langsung menyelimuti hati mereka.
Berhubung para Elementalist juga tidak mengenal orang tua masing – masing, tentu nasip Callista membuat semuanya terenyuh kemudian berpikir bagaimana rasanya memiliki ibu dan harus kehilangan dirinya begitu saja.
Mungkin hal ini juga yang menjadi alasan kenapa Callista tidak terkena sedikitpun amarah dari para gadis padahal ialah alasan utama Arya berangkat seorang diri ke Dark Side. Sebagai pengirim S.O.S sudah jelas kalau Callista merupakan tersangka utama.
Cuma terdapat satu orang yang terlihat tidak senang dengan keberadaan Callista, yaitu Alalea. Sejak melihat Arya pertama kali tiba bersama gadis tersebut di mulut portal, darah di dalam tubuhnya berdesir penuh rasa benci. Terutama karena fakta Callista merupakan putri dari seorang Demon yang hampir merengut nyawanya.
Masih teringat jelas pada benak Alalea tentang penyerangan Fairy Forest waktu itu, hari dimana dia mendapat pengkhianatan dari orang yang paling dicintainya. Sejak dari sana dia berjanji tak akan pernah mengampuni para Vampir.
Bahkan ketika Arya memberitahukan kalau dirinya sudah menjadi Blood Servant Callista. Alalea hampir lepas kendali, terlihat jelas kalau dia ingin mencekik dan mencabik si gadis Vampir sampai menjadi serpihan – serpihan kecil. Untung saja Eridan beserta pengawal – pengawal Azuldria sigap menahan sang putri.
‘Gadis brengsek....!!! beraninnya kau menancapkan taring kotormu pada tunanganku....’ batin Alalea sambil mendelik tajam ke arah Callista.
Suatu hari Arya memanggil Alalea, dia datang sambil menunjukan ekspresi penasaran. Karena Arya sangat jarang meminta berbicara empat mata seperti ini.
“Ada perlu apa?”
“Alalea? Bisakah kau tidak membawa perasaan bencimu pada Kris kepada Callista?”
“Oh....jadi sekarang kau membelanya?” Alalea membuang muka sambil cemberut.
Setelah meminta Alalea untuk merenungkan hal itu, Arya undur diri. Kata – kata tersebut memenuhi pikiran sang putri Elf, intinya Arya berusaha mengatakan padanya walaupun mereka memiliki darah yang sama. Callista tidak pantas menanggung dosa Kris.
Karena asyik berpikir Alalea tanpa sadar berjalan asal kemudian menabrak seseorang sehingga keduanya terhuyung hampir jatuh.
“Maaf aku tidak seng—“
“Tak apa, aku juga salah karena melam—ah?”
Bola mata merah dan biru bertemu, Alalea membersihkan pakaiannya sebelum berjalan cuek melewati Callista. Namun belum saja lima langkah dia terpaksa berhenti.
“T..T...Tuan Putri!? Soal kejadian di Fairy Forest....aku minta maaf sebesar – besarnya. Aku tau kata – kata maaf tidak mungkin dapat mengembalikan nyawa para korban tapi—“
“Cukup, semua itu tidak ada urusannya denganmu”
__ADS_1
“Tuan Putri....”
“Alalea”
“Eh?”
Alalea berbalik dan menjulurkan tangan pada Callista, membuat gadis itu terlihat begitu terkejut.
“Tolong berhenti memanggilku begitu, cukup Alalea saja”
“B...b..baiklah A..A..Alalea, aku harap kita bisa akrab. Mohon bantuannya” Callista menyambut tangan Alalea dengan senyum hangat.
“Eh....kau tau? Kita berdua bisa cepat akrab lho? Dengan beberapa ketentuan”
“Hmm....apa itu?”
Tanpa aba – aba Alalea menarik Callista cepat kemudian berbisik pelan di telingannya “Jauhkan tanganmu dari tunanganku. Dah....”
Alalea meninggalkan Callista yang masih terlihat kebingungan, namun akhirnya memutuskan untuk membungkuk memberi hormat pada Alalea. Terlepas dari penampilannya, Callista tetaplah merupakan seorang remaja berumur lima belas tahun.
Ia adalah yang paling muda diantara semuanya, bahkan Elizabeth yang selama ini menempati posisi itu akhirnya tergeser juga. Dia tak memahami peringatan tersirat sang putri Elf. Mulai hari itu sikap Alalea sedikit melunak kepada Callista, namun keduanya tidak pernah memikirkan kemungkinan kalau jumlah saingan mereka masih akan bertambah.
------><------
“Kita sampai” Arya mengumumkan ketika dirinya dan Callista tiba di depan sebuah bangunan besar berwarna putih.
“Kenapa kau membawaku kesi—Agh...!? Tempat apa ini sebenarnya?! Baunya membuatku bergidik” protes Callista sambil menutup hidungnya menggunakan kedua tangan.
“Kami menyebutnya Rumah Sakit”
“Hah?”
“Intinya di sini adalah tempat Manusia mendapatkan pengobatan ketika sedang dalam kondisi buruk”
“Lalu? Tujuan kita kemari apa? Kau atapun aku kan tidak sedang sakit”
__ADS_1
“Tentu saja untuk mencari darah lain yang bisa kau konsumsi selain milikku, apa lagi?” jawab Arya santai.