Elementalist

Elementalist
Chapter 259 - Invigilator


__ADS_3

Kedua pihak Pax maupun Fatum bergerak bersamaan dari masing – masing perbatasan Distrik Perak, mereka nampak layaknya gelombang pasang makhluk hidup yang bersiap menghantam satu sama lain. Dalam hitungan detik sudah dipastikan benturan tidak dapat terhindarkan lagi, atribut para Elementalist melepaskan diri sebelum melesat terlebih dahulu.


Sepuluh Elemental Dragon terbang ke udara dengan tangkas menemani Witch Pusat Penelitian menghadapi berbagai makhluk maupun musuh di angkasa. Sementara Elemental Beast berubah ke mode bertarung seukuran kuda dewasa untuk membantai monster – monster lawan.


“SERANGGGG.....!!!”


“HYAAA!!!”


TRANK!!! BRUAKH!!! SYUU!!! SYUUU!!!


Bunyi besi beradu menandakan mulainya pertempuran, tiba – tiba berbagai sinar warna – warni memenuhi pemandangan akibat mantra yang saling dilepaskan. Adu keahlian sihir pun pecah terus menyebabkan situasi kacau balau, kondisi diperparah kehancuran bangunan – bangunan oleh Titan.


Namun tak berselang lama sesosok raksasa batu tercipta kemudian memiting dua dari mereka hingga jatuh, nampak gerombolan tersebut menatap murka kepada gadis berambut kecokelatan di atas pundak sang golem.


“Lexa!!! Jangan sampai lengah!!!” peringat Timothy menyadari bahayanya posisi itu.


“Tenang—“


SYUU!!!


Benar saja belum sempat ia menjawab, lima orang Titan mengincar dirinya menggunakan kecepatan sulit dipahami padahal mempunyai ukuran tubuh yang jumbo. Lexa berusaha menghindar sayangnya terlambat selangkah, ketika bersiap menerima rasa sakit muncul sekelebatan jubah hitam menyambarnya.


“Nona anda terluka?”


“Pengawas Varuq?” Lexa mengerjapkan mata kebingungan karena telah berdiri dekat bekas kolam renang tanpa air.


“Serahkan mereka pada kami, lebih baik kau membantu teman – temanmu lainnya oke?”



ZING!


Si pria menghilang sama cepat dengan kedatangannya, para Titan terperangah sebab sadar Lexa berhasil lolos dari sergapan masing – masing tetapi jelas sekali tangan mereka mengenai sesuatu. Disaat salah satu hendak mengintip, pukulan keras mengenai matanya hingga terpental dan dalam waktu bersamaan berdiri tegap raksasa baru pembawa palu berwarna perak tak dikenal.


Dia menyeringai lebar sebelum mengayunkan senjata melibas anggota Fatum, kumpulan tentara berbadan kecil menyadari Titan ini bukan berada di pihaknya cepat – cepat berniat menyerang memanfaatkan berbagai cara. Namun detik berikutnya pengelihatan mereka semua terbalik karena leher patah.


“Kau....” suara serak terdengar.


“Hmm?”


“Memiliki darah kami....”


“Ahh....aku adalah keturunan campuran....”


“Ursa? Sekeliling telah kubereskan....” ujar Varuq mendarat sambil berpegangan pada telinganya.


“Terima kasih Julius....”

__ADS_1


“Ternyata Silent Killer dan Colossal Blacksmith rupanya”


Sekarang giliran laki – laki pengguna masker merah hadir mengisi pundak ketua suku Titan dihadapan kedua Pengawas Ujian, hawa pekat orang tersebut menyebabkan Berlin juga Varuq menyipitkan mata terus berkata, “Ahahaha....kau mengetahui julukan lama sekali, tapi boleh kami tau apakah kita saling mengenal?”.


“Leistear? Biarkan aku membantumu meladeni mereka....” ia bergumam tampak tak mengindahkan pertanyaan barusan.


“Tuan Sandayu? Sebuah kehormatan bagiku....”


“Ohh....sepertinya seru! Kalian tidak keberatan aku ikut serta bukan?” seorang Elf berpakaian mewah tiba – tiba menyeletuk.


“Kau? Ksatria Pentagram keluarga Rodria....”


“Ehh...kawan? Kupikir kita dalam masalah, mereka nampak kuat....”


“HAHAHA.....mengapa nyalimu ciut begitu? Ini akan menjadi pertarungan tag team pertama kita sejak perang terakhir....” Berlin tertawa lepas.


Sikap santai Pengawas Berlin membuat tatapan lawan – lawan mereka menajam sehingga Varuq menelan ludah sebelum memukul – mukul pelipis temannya itu karena tidak tau kapan harus diam. Sang Elf mengeluarkan pedangnya lalu menodongkannya ke depan.


“Kalian cukup menarik, aku Razel D’Rodria. Ksatria Pentagram Merah, salam kenal....”


“Iron Elementalist Apprentice.....Ursa Berlin”


“Hah.....Dark Elementalist Apprentice, Julius Varuq”


------><------


Intensitas pertempuran makin meningkat sampai terkadang sulit membedakan lawan atau kawan, hal itu benar – benar berdampak besar kepada pihak Fatum. Jadi walaupun sebenarnya Pax kalah dalam jumlah, mereka sedikit unggul berkat lebih memahami topografi medan perang serta bantuan informan melalaui pengamatan Drone.


“Bosaaannnnn.....”


“Hehehe.....bertahanlah, ini tugas sangat penting kau tau?”


“Ey....tentu aku sangat mengerti, tapi aku tidak sepertimu yang memiliki pendengaran baik terus mampu menyaksikan keadaan sekitar hanya dengan duduk manis di sini....”


“Frone....kau bisa mendengar kabar dari alat komunikasi sebagai gantinya bukan?”


“Mereka hanya berkata di sana musuh! Di situ musuh! Menghindar! Dan bla bla bla....aku ingin sebuah lonjakan seperti Julius dan Ursa!” Allucia memayunkan bibirnya.


“Kau ini dokter ingat?”


“Ahh....tenang saja, Konoha sudah mengurus bagian medis. Lagi pula Nona Selena juga Rena pasti—“


“Datang....” kata Romero pelan.


Allucia sadar betul tak perlu meragukan kemampuan rekannya terus langsung mengarahkan pandangan menuju arah yang ditunjuk, segerombolan manusia setengah ular ditambah Undead bergerak cepat menghampiri lokasi mereka.


Jari – jari Romero menegang usai mengumpulkan Agnet sekitar sana, saat akhirnya dia memetik kecapi dihadapannya angin berlapis cahaya kehijauan bertiup kencang mengoyak hampir semua pasukan tadi. Beberapa orang yang berhasil selamat segera menghindar kemudian mencari rute lain, tepat sewaktu berhasil melewati tubuh kedua pengawas badan masing – masing terhenti sesaat.

__ADS_1


Detik berikutnya semuanya menggeliat hebat sembari mengeluarkan suara tercekik, tidak lama berselang tubuh para korban menghilang seolah ditelan bumi. Allucia menguap jelas sekali kurang menikmati momentum serangan kejutan barusan.



“Sampai kapan Gorgon, Necromancer, dan babi hutan disitu mau menonton?”


Mendengar ucapan Allucia, ketiga sosok tersembunyi memutuskan untuk menunjukan diri. Walaupun matanya bermasalah aura para pendatang baru agak mengganggu Romero, ia mengernyitkan dahinya sebelum menarik tangan temannya.


“Frone?”


“Hoammm....mereka hanya seorang Demon berjenis Gorgon, wanita penyuka mayat, serta Werebeast mesum.....yuck!?”


Euryale, Vrivana, dan Piguel naik pitam mendengar komentar pedas Allucia. Ketiganya memang terlihat mempunyai tujuan tersendiri mencari warga Elemental City yang sudah diungsikan, Allucia mengamati calon lawan penuh seksama sebelum memberi anggukan kecil.


“Setidaknya bisa mengusir rasa bosan”


“Gadis tengik! Kubuat kau membalas perbuatanmu terhadap anak buahku!” Euryale memekik.


“Wah wah wah.....bagaimana ya? Aku memang seorang dokter tapi.....merangkap sebagai ahli kimia....jadi ular berbisa hanya mainan bagiku....”


“Ugh....”


Envy Sins, Madam of Corpses, serta Boar Shio mundur lima langkah saat Allucia berjalan maju sambil memperlihatkan lengannya, keduanya berwarna ungu terang juga mengeluarkan gas berbahaya ke segala penjuru.


“Ey? Gunakan maskermu....”


“Tak perlu kau suruh....aku siap mendukungmu dari belakang” sahut Romero sejak tadi sudah menutupi hidung maupun mulutnya.


“HUAHAHA....!!! KAU PIKIR AKU TAKUT!? SEBERAPA PUN SULITNYA AKU PASTI MENANGKAP GADIS – GADIS MANUSIA MILIK KALIAN!!! ROAARRR...!!! KING AURA!!!”


Piguel menghentakan kakinya ke tanah lalu mengeluarkan teriakan keras, Agnet kuat berkumpul mengelilingi tubuhnya membentuk lapisan kemerahan. Tanah tempatnya berpijak secara mengejutkan retak akibat bertambahnya bobot si Werebeast dalam waktu singkat.


“Bersyukurlah kau tak bertemu Bianchi atau dia akan langsung meremukan tulang rusukmu....”


“Hati – hati dia berbahaya....biarkan makhluk panggilanku mengetes kemampuan kalian dahulu....Toxic Adept dan Sightless Instrumentalist....” Vrivana bicara lirih.


“Ohhh....kau mengenali kami?”


“Hanya pernah mendengar sedikit....”


“Ah sayang sekali, sebaiknya kau tidak menyesal karena tak mencari informasi lebih jauh” racun pada tangan Allucia perlahan berubah bentuk menjadi kepala ular.


“Bisakah setidaknya kita berkenalan baru mulai?”


“Water Elementalist Apprentice....Zafrone Allucia”


“Earth Elementalist Apprentice.....Eyecracker Romero”

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2