
BRUAKH! BRAK! BREK!
“Hah....hah....hah....!!!”
Bunyi keras barang – barang dihempaskan memenuhi sebuah ruangan lab sekolah, Kemala menutup mulut maupun hidungnya agar napas memburunya tidak terdengar jelas. Rasa sakit yang menyelimuti bagian lengan dekat bahunya akibat serangan pelaku kebisingan menjaganya supaya tetap terjaga.
Ia awalnya mengira pagi ini akan seperti hari – hari biasa namun malah berubah menjadi petaka sejak kemunculan makhluk buas berwujud seperti monster bertangan empat menginvasi tempatnya belajar, entah dari mana datangnya. Semua hanya mengingat timbulnya cahaya terang juga ledakan pada gedung olahraga.
‘Rosie.....aku harap kau keluar dengan selamat....Ayah....Ibu....’ batin Kemala cemas belum mengetahui kabar kedua orang tuanya.
JDUAKH...!!!
Kemala tersentak saat pintu ruangan lokasinya bersembunyi terhempas, langkah berat mulai terdengar memasuki bilik berukuran sedang tersebut. Insting bertahan hidup memaksa Kemala mendoronya dirinya semakin dalam ke kolong meja.
“Di mana kau.....? Gadis kecil....” suara desisan serak itu dapat menyebabkan bulu kuduk manusia paling berani sekalipun berdiri.
DEG! DEG! DEG!
Jantung Kemala berdetak teramat cepat, memompa darah menuju sekujur tubuhnya tanpa henti sampai dia takut bunyinya terdengar oleh si monster. Penampakan jari tangan berkuku panjang menggenggam sisi meja membuat anak perempuan ini merasa nyawanya benar – benar diujung tanduk.
“Kosong lagi? Pintar sekali....”
Usai mengucapkan kalimat tadi perlahan ia bergerak menjauh, Kemala akhirnya dapat bernapas lega. Kejadian beberapa menit lalu sungguh mengingatkannya terhadap film – film horror yang sering disaksikannya di televisi.
“Syukur—“
Belum sempat Kemala menyelesaikan kata – katanya, dia mematung kemudian wajahnya berubah pucat layaknya susu basi. Dihadapannya sosok makhluk mengerikan tersenyum menyeringai memamerkan gigi – gigi panjangnya penuh kemenangan.
“Tapi bohong....hehehe....bagaimana rasanya harapan sesudah lolos dari maut?”
“To....long....” mohon Kemala lemah.
“Tidak ada seorangpun mampu mendengarmu....hihihihi.....mati—“
Kejadian berikutnya terjadi begitu cepat, sewaktu cakar – cakar tajam sang monster hanya berjarak beberapa senti dari kulit Kemala. Sebuah energi kuat melintas dan menabrak tepat pundaknya ketika dirinya menoleh. Getaran hebat terjadi, dengan pikiran masih kebingungan Kemala entah mengapa merasa lantai tempatnya berdiri mulai miring.
“UAARRRGGGGH......!!!” jeritan keras monster sebelumnya memecahkan seluruh kaca sekitar situ.
------><------
“Cih!? Aku meleset....” Arya mengutuk pelan.
“Kau bilang apa!? Lihat akibat perbuatanmu sebelum bica—“
Tanpa memperdulikan protes Lexa, Arya buru – buru maju sembari menarik benang serat khusus miliknya menggunakan gigi. Dia mengikatkan masing – masing kepada sebuah pisau lempar sebelum menyebarkan ke sisi bangunan, setelah yakin keduanya menancap Arya kembali lalu menyerahkannya ujungnya untuk Lexa.
“Pegang ini kuat – kuat, pastikan jangan sampai lepas”
“Hah...?” Lexa dengan polosnya menurut karena belum menyadari situasinya.
__ADS_1
“Aku akan mengeluarkan Kemala dari sana, jaga agar bangunannya tak runtuh sebelum itu”
WUSH...!!!
“Eh? tungg—woaaa...!!? Ugh....!!! Be....rat.....!!!”
SRRRR......!!!!
Sedetik berselang Arya menghilang, badan Lexa segera tertarik ke depan hingga kakinya terseret di tanah meninggalkan jejak panjang. Menggunakan kemampuan elemennya Lexa menciptakan batu pijakan penahan menyelimuti pergelangan kakinya demi membantu, sembari menggertakan gigi ia menarik kuat benang – benang tersebut untuk mempertahankan bangunan sekolah dihadapannya tetap berdiri kokoh.
“ARYA.....?!!” teriaknya keras nan kesal hingga menyebabkan empat Elementalist wanita di berbagai tempat lain menoleh sebentar.
------><------
“Ugh....”
Erangan monster yang terpental di ujung ruangan masih menjadi fokus Kemala, sebuah bekas potongan rapi dihadapannya membuatnya terpukau. Memanfaatkan momen tersebut, makhluk mengerikan itu memanjangkan tangan untuk menggapai Kemala.
Meski tubuhnya hampir terbelah dua, dia masih mampu bergerak karena sukses bergeser sedikit berkat refleks tinggi. Menyadari datangnya bahaya Kemala melompat menghindar dan menyebabkan sergapan sebelumnya hanya menghancurkan meja tempatnya bersembunyi.
Ketika serangan susulan hendak dilepaskan, seseorang berpakaian serba putih dan memakai topeng tiba melindungi Kemala. Ia menancapkan sebuah pedang ke lantai pada jalur melesatnya anggota badan sang musuh lalu mengakibatkan luka fatal.
“Argggh...!!!” monster barusan menarik kembali tangannya yang hampir terpisah, dalam hitungan tarikan napas regenerasi cepat memulihkan kondisinya.
“Kamu baik – baik saja?”
“I...iy...iya....terima kasih....” jawab Kemala rada linglung.
“KEPARAT....MATI KAU ELEMENTA—“
“Third Dance; Dance of Five Waterfall Fairies”
SYUU...JLEB!!! SRAT SRET SROT!!!
Waktu lawannya masih menunjukkan kemurkaanya, Arya mengambil ancang – ancang terus menerjang. Lima sosok bayangan dirinya sekilas menampakan diri, empat berhasil memotong masing – masing tangan monster itu dan yang terakhir menusuk tepat jantungnya hingga tembus keluar.
Detik berikutnya Arya balik lagi menuju titik Kemala terduduk penuh takjub, menggendongnya kemudian meloncat setingggi mungkin. Nampak seklilas anggota – anggota badan Ghoul tadi mulai bergerak untuk beregenerasi, menyadari bahaya tersebut Arya langsung berteriak memberikan sinyal kepada Lexa, “Sekarang!”.
“Argghhh....!!!”
BRUAKHH....!!!
Lexa menarik benang pegangannya sekuat mungkin sambil menciptakan dua lengan batu raksasa pada sisi bangunan. Gedung sekolahpun saling bertubrukan terus dihimpit oleh kekuatan elemen Lexa sampai hancur berkeping – keping.
------><------
Arya berjalan santai menghampiri Lexa yang terduduk lesu selesai mengantarkan Kemala ke tim medis. Rosie, sahabatnya yaitu si gadis korban sebelumnya menangis haru bersyukur mampu bertemu kembali dengan anak perempuan tersebut.
Tidak ingin mengganggu suasana Arya memutuskan meninggalkan mereka dan memeriksa salah satu rekannya. Dia mengambil sikap berjongkok dihadapan sang pembuat onar kemudian mulai memperagakan gerakkan mengetuk, “Tok tok tok....! Arya kepada Lexa ganti? Kau mendengarku?”.
“Huh!? Pergi sana! Aku tak sudi bicara padamu! Dasar Aru menyebalkan!” Lexa membuang muka.
__ADS_1
“Aru? Apa begitu caramu menunjukkan kalau sedang merajuk? Memanggilku menggunakan sebutan konyol? Kau sungguh berpikir aku bakal terpengaruh tindakan kekanak – kanakan begini?”
“Bodo!” balasnya cuek, namun Arya bisa mendengar sedikit nada keraguan dalam suaranya.
“Hadeh....baiklah – baiklah kau menang, aku minta maaf. Tadi operasi spontan, jika aku yang menahan bangunannya semua bisa terlambat karena kecepatanmu kurang memadai untuk menyusul....kita baikan ya?”
“Ogah! Kecuali kau memenuhi satu permintaanku”
“Hah.....silahkan Nona Brown, telingaku terpasang dengan baik....”
“Arya harus membuatkanku seporsi bolognese”
“Bolognese?” ulang sang Elementalist Es kebingungan.
“Huum, yang terbaik dari yang terbaik....”
“Kenapa kau tidak memintanya kepada Timothy saja? Itukan makanan Italy?”
“Oty mana bisa memasak....”
“Lalu kau pikir aku mampu menciptakan hidangan acak begtu?”
“Tentu, jika kau mau belajar. Tehe!?” Lexa menjulurkan lidahnya sambil mengedipkan sebelah mata.
“Astaga....”
Saat Arya masih memijat – mijat keningnya akibat permintaan Lexa, Kemala mendekat terus menyapa keduanya. Ia berterima kasih sebab sudah diselamatkan, Arya maupun Lexa bertukar pandang sebentar sebelum mengangguk.
“Bagaimana kabarmu Mala?”
“Baik, walau nampaknya saya tidak bakal datang ke sekolah untuk beberapa waktu kedepan hahaha....”
“Tenang, Lexa akan mengganti semua kerugiannya....”
“APA!? Bukankah kau yang menyuruhku untuk melakukannya?!”
“Eh?! Tunggu sebentar....kok kalian bisa tau nama—“
Arya berjalan melewatinya, membuat perasaan familiar memenuhi benak Kemala sewaktu dirinya menoleh melihat punggung pemuda tersebut. Arya menoleh tuk terakhir kali sembari berpesan, “Lexa? Aku janji memenuhi permintaanmu jadi tolong bawa Kemala ke Distrik Emas, Paman sudah menunggu di sana. Selanjutnya aku akan menjemput Bibi”.
“Kak....Arya?”
“Aku berhutang permintaan maaf lagi untukmu Mala, setelah membuat dirimu kehilangan saudari berikutnya aku juga gagal menyelamatkan sahabatmu. Reika masih belum pulang, tetapi aku kelak pasti mempertemukan kalian berdua lagi. Kumohon tunggu hingga saat itu tiba, sampai jumpa....”
“Kakak—“ belum sempat Kemala berucap apapun, sosok berjubah barusan sirna bak tertelan bumi.
WUSH....!!!
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.