
WUSH!!! BRUAK!
Serangan Ten menyebabkan hembusan angin teramat kencang menembus badan Garyu, seluruh area bergetar hebat dibuatnya. Bahkan Mythical Werebeast Armor milik sang Dragon Shio pecah berkeping – keping, para anggota Dua Belas Shio lain menelan ludah berat menyaksikan momen tersebut.
“Mustahil....”
“Bunny?! Kau kenapa?!” tanya Jilan panik.
Bukannya menjawab gadis itu malah menunjuk ke belakang punggung mereka dengan tangan gemetar, saat semua menoleh untuk melihat yang dimaksud oleh Bunny. Wajah masing – masing berubah kaku, beberapa bangunan kokoh di sana telah terbelah tanpa seorangpun sadari.
“Bagaimana....”
“Masa sih ini....efek samping ketika ia memotong pedang Garyu” Ushiro bergumam pelan.
“Persetan! Jangan bengong saja! Kita harus menolong kakakku!”
Jeritan Hebihime kembali menyadarkan teman – temannya akan situasi genting sekarang, dia mengeluarkan selendangnya dan melemparkannya secepat kilat menuju lokasi Ten bersama kakaknya berada. Kain hitam tersebut membelah udara seolah terbuat dari besi, namun sebelum berhasil mengenai target sekali lagi penghalang tak kasat mata Ten menghalau upaya barusan.
Tetapi Hebihime pantang menyerah, dengan lihai ia memainkan selendangnya hingga tidak kehilangan tenaga kemudian kembali menerjang Ten sampai berhasil menjeratnya. Inuki bergegas menjemput Garyu terus membawanya menjauh, Ten menghela napas sebelum memancarkan aura melalui sekujur tubuhnya.
“Tidak akan kubiarkan!!!” teriak Hebihime murka.
Sewaktu ikatannya melonggar akibat hentakkan energi Ten, rangkaian selendang lain bermunculan dari bawah tanah seperti ular hendak menggagalkan upayanya tuk kabur. Dalam sepersekian detik wujudnya sudah nampak layaknya mumi berwarna hitam, melihat kesempatan itu anggota Dua Belas Shio lain bergerak serempak.
Hebihime menarik kuat ujung kain tersebut sampai musuh mereka terangkat tinggi ke udara, Piguel memotongnya pada momen tepat lalu menyebabkan Ten terlempar. Langsung saja dari atas tiga tendangan kejutan kiriman Baekho, Zarane, serta Bunny menghantam kuat si mumi hingga melesak ke dalam tanah.
“Giant Buffalo Temple Finishing Move; Matador Red Horn!”
“Dawn Bird Temple Special Technique; Morning Glory!”
“Wild Ewes Temple Final Art; Iron Wool Dreamer!”
JDUAARRR!!!
Ushiro, Jilan, dan Sheepya melepaskan serangan pamungkas masing – masing penuh niat membunuh. Apapun yang terkena gabungan jurus tadi berubah menjadi lautan api, hawa panas bahkan mampu memanggang beberapa ekor burung kurang beruntung di sana tanpa sengaja.
Para Shio kembali berkumpul dengan napas terengah – engah usai mengeluarkan seluruh kemampuan mereka demi menaklukan lawan kuat barusan, Hebihime buru – buru memeriksa Garyu agar bisa memastikan seberapa parah cedera sang kakak.
“Hahaha mampus kau laki – laki brengsek!”
“Memangnya kau berkontribusi?” sindir Inuki pedas.
“Diam anjing kampung! Sepertinya kau membutuhkan kaca”
“Apa!?”
__ADS_1
“Bisakah kalian berhenti mengoceh sebentar Piguel! Inuki!”
Gokong berdecak kesal sembari tetap memasang sikap waspada, dia memicingkan mata untuk melihat setidaknya kondisi jasad Ten. Itupun kalau ada yang masih tersisa, akhirnya Gokong menemukan objek terbungkus kain hitam terbakar tersebut jauh di sana.
Monkey Shio sedikit kesulitan akibat tebalnya kepulan asap, Gokong merasa aneh karena melihat kejanggalan pada siluet yang sedari tadi dirinya perhatikan. Mustahil orang itu masih bisa berdiri pikirnya, ketika akhirnya semua pemandangan mulai terpampang jelas wajahnya memucat.
“Teman – te—“ Gokong berbalik hendak berteriak namun bisikan lirih sudah terdengar ke seluruh anggota Dua Belas Shio.
“Aku sebenarnya bingung mengapa kalian menghajar secara berlebihan tongkat besi milik monyet itu, ada dendam apa sebenarnya?”
“Cela—“
“Minggir! Puma Angel Slash!!!”
SRAT! PRANG!
“Cih!?” geram Yami saat tebasan kejutannya bukannya berhasil memotong tapi malah menyebabkan pedangnya patah terkena tangan Ten.
“Hadeh....aku sangat ingin menyapa lebih cepat tadi namun karena menyaksikan keseriusan kalian menyerang sebuah senjata tak bersalah aku jadi tidak tega merusak harapan kalian.....”
ZINGGG....!
“Sun And Moon Rotation....100X” Ten memasang kuda – kuda sambil merendahkan badannya.
BUK! BAK! BUK! BAK! BUK! BAK! BRUAAKH!!!
><
“Kalian mengecewakan....”
Ten menguap kemudian bersiul dengan menenteng kembali tongkat besi milik Gokong yang dia gunakan sebagai penggantinya saat gempuran Dua Belas Shio sebelumnya. Para anggota pasukan elit ras Werebeast tersebut terkapar tidak berdaya dalam kondisi babak belur.
Seluruh objek dalam radius dua belas meter dari posisi Ten berdiri lenyap tanpa bekas, Sun And Moon Rotation merupakan jurus bela diri yang terdiri atas tiga ratus enam puluh lima rangkaian pukulan maupun tendangan beruntun berdaya hancur tinggi dan menggunakan kecepatan tidak masuk akal sehingga membuat semuanya seakan hanya terlihat menjadi satu gerakan.
“Ugh....”
“Ahh...aku padahal sudah berusaha menghindari memukul perempuan lho. Ayolah masa begitu saja K.O? Bukankah kalian selalu membanggakan kemampuan fisik? Namun jujur saja leluhur kalian yang cuma mengandalkan tenanga supernya jauh lebih kuat ketimbang kalian yang memanfaatkan alat bantu dan hasil eksperimen”
PSYU!!! JDUAS!
“Hmm....? Oh....” Ten menaikan sebelah alisnya usai menepis tembakan sihir entah dari mana menggunakan tongkat besi pinjamannya.
Matanya segera menemukan pelaku penyerangan, tak jauh ia mendapati terdapat kelompok yang terdiri dari lima orang berpakaian layaknya bangsawan. Mereka memiliki kesamaan yaitu telinga yang panjang tetapi mempunyai warna pupil masing – masing berbeda.
__ADS_1
“Sekarang kesempatan kita, waktunya bertarung. Razel, Orion, Alba, Falxus....”
“Dimengerti!”
WUSH....!!!
“Eh....lihat siapa ini? Pasukan elit ras terkuat, Ksatria Penta—tunggu sebentar. Ahaha pengelihatanku sedikit kabur ternyata, Yang Mulia Paduka Raja juga. Siapa sangka kita bisa bertemu di sini....” ujar Ten melirik mahkota pada kepala Regulus.
“Tutup mulutmu dan tunggu saja ajalmu datang dasar sampah!”
“Oya? Lisanmu cukup tajam untuk sekumpulan pengecut yang sengaja menunggu lawannya lelah baru menampakkan diri. Hihihi....licik sekali”
“Apa katamu!?”
“Razel? Tenanglah dia berusaha memancingmu, ingat lakukan sesuai renca—”
SYUU!!! KRAK! BUMM....!
Regulus gagal menyelesaikan kalimatnya saat hembusan angin mengagetkan mereka berlima, luka tipis nampak menghiasi pipi Regulus. Urat sarafnya menegang pertanda murka, sementara itu Ten hanya tersenyum setelah baru saja menendang tongkat besi Gokong seperti rudal jet tempur.
“Ah maaf – maaf, kakiku terpeleset kau tau. Sedikit tegang karena akan disambut oleh seorang Raja....”
“Yang Mulia?” Orion memperingatkan.
“Aku paham, tidak perlu memberitahuku. Kau pikir aku siapa?”
Senyum Ten kian melebar menyadari tindakan provokasinya kurang efektif, kelihatannya lawan selanjutnya akan lumayan merepotkan pikirnya. Ketika dirinya masih mengukur kemampuan para Elf laki – laki tersebut tiba – tiba Orion mulai merapalkan mantra.
“Mens Nexum....”
Lingkaran sihir kecil muncul dekat tangannya dan mengeluarkan empat buah benang cahaya biru tipis, masing – masing mengikat pergelangan keempat Ksatria Pentagram lain kemudian berubah menjadi tato berbentuk hati dengan empat buah sayap.
“Persiapan selesai....”
“Waktunya beraksi!” seru Razel penuh semangat maju diikuti oleh Falxus dan Regulus.
“Jangan sampai lengah....”
‘Formasi ini....? Santo Espada....duh....aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mereka’ Ten menggaruk – garuk kepalanya lelah.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1