
"Werewolf ada di Kutub Selatan?! Apa yang sedang mereka lakukan di tempat ini?" seru Arya tidak percaya.
"Entahlah, untuk apa kau menanyakan hal itu pada orang yang sudah terjebak selama hampir 2000 tahun lebih?" sahut Rei.
"Tapi....kegelapan disini sangat....berbeda, apa kalian merasakannya?" celetuk Rena pelan.
"Aku juga merasakannya, dan anehnya....kekuatanku serasa tertahan. Aku tidak bisa merasakan kekuatan seperti yang ada di Kutub Utara" ujar Arya sambil membuka tutup kepalan tangannya.
"Hmm ini buruk, adikku memiliki kepribadian yang sulit dijelaskan. Sepertinya dia memasang sesuatu di tempat ini, dan bisa jadi itu adalah alasan mengapa para Werewolf berkeliaran disini" jelas Rei lirih.
Arya berjalan berkeliling dengan hati-hati, berusaha untuk mengamati sekitar dan membiasakan matanya dengan pencahayaan yang minim di tempat itu. "Kenapa tempat ini sangat gelap! Bahkan aurora borealis tidak ada di tempat ini?!" desisnya sambil mengadah ke langit.
"Mmm....ngomong-ngomong ini bulan keberapa?" tanya Rei tiba-tiba.
"Bulan keberapa?" ulang Rena bingung.
"Ini tanggal 21 Juni, berarti bulan ke 6. Eh?! Tunggu sebentar....jangan-jangan—" jawab Arya yang terlihat menyadari sesuatu.
"Hmm....sepertinya kau sudah menyadarinya juga, jika ini pertengahan bulan ke 6 maka wajar saja kegelapan disini tidak wajar"
"Maksudnya?" tanya Rena yang terlihat masih tidak mengerti.
"Dalam kurun waktu pertengahan bulan Juni sampai pertengahan bulan September, posisi Matahari akan berada di belahan Bumi bagian Utara" jawab Arya sambil menoleh ke arah Rena, "Dan dengan kata lain...."
"Kutub Selatan akan selalu mengalami malam selama tiga bulan kedepan" lanjut Rei.
"Apa?!"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
"Argh.....kenapa aku tidak pernah memperkirakan hal ini sebelumnya ya?" keluh Arya sambil terduduk disalju.
"Berurusan dengan Werewolf di malam hari itu agak sedikit....riskan" komentar Rei.
"Jadi....apa rencana kita selanjutnya?" tanya Rena sambil mendekat ke arah Arya.
Arya diam beberapa saat sambil terlihat bepikir dengan keras, akhirnya dia menghela napas panjang lalu segera berdiri sambil berkata.
"Kita akan tetap pada rencana awal, yaitu mencari South Black Winter Diamond tapi dengan catatan untuk berusaha sebaik mungkin tidak berurusan dengan para Werewolf. Apa kalian mengerti?"
Rena segera tersenyum sambil mengangguk dengan sungguh-sungguh, sementara Rei segera muncul dengan wujud putihnya dan dengan wajah angkuh mengelus-elus jenggot miliknya.
"Heh....seperti yang aku harapkan dari keturunan Shion, jika kau lebih memilih untuk mundur tadi. Aku akan segera menagih janjimu sebelumnya"
"Rena, maafkan aku. Mungkin ini akan sedikit berbahaya, jadi tolong berhat-hatilah" ucap Arya serius.
"Hei! Kau sengaja mengabaikanku ya?!"
"Untuk itu, kita harus mencari lokasi para Werewolf itu terlebih dahulu. Rei keluarkan sedikit cahaya untuk menyinari jalan kami, dan segera matikan jika kau menyadari kehadiran makhluk lain" perintah Arya.
"Hei tunggu du—"
Sebelum Rei menyelesaikan kalimatnya, Arya dan Rena sudah melesat untuk mencari dimana tempat para Werewolf berada.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Setelah menyelinap dengan hati-hati selama satu jam, akhirnya mereka menemukan sebuah tempat yang terlihat seperti benteng. Tempat itu memiliki pagar-pagar pembatas yang terbuat dari kayu mengelilinginya serta kumpulan pondok-pondok kecil yang berdiri disekitarnya.
Arya dan Rena secara perlahan mendaki ke salah satu bukit disekitar tempat itu untuk mengamati benteng tersebut dengan lebih baik. Keduanya segera tengkurap dan melemparkan pandangan ke arah benteng, Arya bisa melihat beberapa sosok yang terlihat seperti manusia serta serigala disekitar sana.
"Sepertinya ada beberapa Werewolf yang bertugas untuk berpatroli, kita harus lebih hati-hati" bisik Arya pelan sehingga hanya Rena yang bisa mendengarnya.
"Aku tidak habis pikir kenapa kalian datang ke tempat ini?!" ujar Rei kesal.
"Kenapa kau terdengar sangat kesal?" balas Arya cuek.
"Jangan menjawab pertanyaan orang dengan pertanyaan lainnya Tuan muda, disini sangat berbahaya. Untuk apa kita datang ke markas Demon seperti ini?"
"Karena bisa saja mereka menyimpan benda yang kita cari, berhentilah mengeluh pak tua"
"Apa?! Owh....benda yang kita cari tidak ada di tempat ini" seru Rei tidak percaya.
"Mmm....dan bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Arya dengan nada suara sedikit merendahkan.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa yakin?! Apa kau lupa kalau mahakarya milikku dan milik adikku saling berlawanan? Aku hanya perlu mencari sumber energi itu berasal, dan kenyataannya energi tersebut muncul dari tempat itu" protes Rei sambil menunjuk ke arah berlawanan.
Arya dan Rena melihat ke arah yang ditunjuk Rei, disana menjulang tinggi sebuah gunung yang terlihat semakin mengerikan dari kejauhan. Puncak dari gunung itu tidak terlihat karena tertutup oleh awan.
"Baiklah, setidaknya kita tau posisi musuh dan benda yang kita cari berlawanan. Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?" sindir Arya.
"Aku sudah berusaha! Kalian saja yang tidak mau mendengar, ayolah kita pergi dari sini. Aura negatif di tempat ini membuatku mual" rengek Rei.
"Kau benar-benar berharap kami mendengarmu? Apa kau tidak ingat terakhir kali kami mendengarmu berakhir seperti apa?" desis Arya dengan suara meninggi.
"Oh....ayolah! Kau masih membahas hal itu? Dengar Arya kita harus menjauhi tempat ini segera, aku bisa merasakan salah satu dari mereka adalah Werewolf Noble-Tier. Dan aku yakin dengan kemampuanmu yang sekarang, kau tidak ingin berurusan dengannya"
"Apa itu Noble-Tier?" celetuk Rena.
Rei menjelaskan kepada mereka berdua bahwa Demon memiliki beberapa tingkatan yaitu, Common-Tier, Rare-Tier, dan Noble-Tier. Semakin tinggi tingkatanya, semakin kuat Demon tersebut. Dan untuk para Werewolf tingkatan itu bisa dilihat dari transformasi mereka.
Werewolf dengan tingkat Common-Tier hanya dapat bertransformasi menjadi serigala seutuhnya yang berjalan dengan empat kaki, Rare-Tier dapat berubah menjadi serigala tapi masih memiliki ciri khas tubuh manusia yaitu berjalan dengan dua kaki belakang mereka.
Sedangkan Noble-Tier dapat bertransformasi menjadi seperti Common-Tier maupun Rare-Tier, tapi transformasi asli mereka hanya sedikit menunjukan gen serigala yang mereka miliki. Tubuh mereka hanya akan ditumbuhi rambut serigala dalam jumlah yang tidak terlalu banyak dan wujud manusia mereka masih terlihat jelas.
Semakin terlihat manusiawi transformasi seorang Werewolf, maka semakin tinggi tingkat dan kekuatannya. Sebenarnya ada satu tingkatan lagi diatas Noble-Tier, mereka menyebutnya Demon-Lord. Para Demon-Lord ini hanya ada tujuh orang, mereka lebih dikenal dengan nama Tujuh Dosa Besar.
Mendengar hal itu Arya menelan ludah, dia dan Rena pernah bertemu dengan salah satu Demon-Lord yang baru saja diceritakan Rei. Pride Sins; Kris Tepes, jika salah satu Werewolf di tempat ini memiliki kekuatan satu tingkat dibawah Kris. Itu akan menjadi akhir bagi mereka, Arya juga bisa melihat ketakutan di mata Rena.
Dikejauhan Arya bisa melihat seorang Werewolf dengan wujud manusianya berjalan mendekati sebuah kurungan yang mengeluarkan suara berisik. Kurungan kayu itu bergetar hebat karena para tawanan di dalamnya terus berontak.
Pria itu tiba-tiba berubah menjadi monster serigala setinggi dua meter berbulu hitam. Dia menunjukan gigi-gigi tajam miliknya sambil menggeram galak ke kurungan kayu tersebut, dia mengakhiri gertakan itu dengan menghantamkan cakarnya ke kurungan itu dengan keras dan dengan seketika kurungan berhenti bergetar.
"Makhluk apa yang mereka kurung disana?" tanya Rena khawatir.
"Entahlah, aku juga tidak tau. Eee....Rena? Bisakah kau melepaskan cengkeraman tanganmu dari pundakku?" balas Arya.
"Aku tidak pernah mencengkeram pundakmu" bisik Rena kebingungan.
"Eh....kalau begitu...." secara perlahan Arya menyentuh tangan yang mencengkeram pundaknya. Dia sangat yakin tangan Rena tidak sebesar dan seberbulu itu, ia menoleh dengan hati-hat untuk melihat siapa pelakunya.
"Oh oh....kita dalam masalah—"
"AUU....!!!"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
"Arya kita harus segera pergi dari sini! Makhluk itu memanggil kawanannya" teriak Rei.
"Sedang kuusahakan" geram Arya lalu dengan gerakan halus melayangkan sebuah tendangan keras ke arah kepala Werewolf tersebut sampai dia terpental jauh.
"Lari!"
Mereka berdua lari dalam suasana yang mencekam, keduanya bisa mendengar dan merasakan gemuruh dibelakang mereka yang menandakan kawanan Werewolf sedang memburu mereka berdua. Arya yang menyadari tarikan napas Rena semakin tidak teratur segera menggandeng tangannya.
Arya membawa Rena besembunyi dibalik sebuah batu raksasa, dengan napas terengah-engah Arya segera menoleh pada Rena sambil menyerahkan sebuah kantung kulit kecil.
"Rena dengarkan aku, kalau begini terus kita akan tertangkap. Jadi pergilah bersama Rei untuk mencari lokasi South Black Winter Diamond, aku akan segera menyusulmu" perintah Arya.
"A..ap...apa yang akan kau lakukan?!" tanya Rena dengan napas tidak beraturan.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Larilah menuju arah sebaliknya"
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak ingin meninggalkan—"
"Ssstt....Rena kumohon! Kalau begini terus kita berdua bisa—"
Kata-kata Arya terhenti saat menyadari lolongan serigala berada tepat di atas batu tempat mereka bersembunyi. Seekor serigala besar berwarna kelabu terlihat mengendus-endus di atas batu tersebut tapi belum menyadari kehadiran mereka.
"Rei, lindungi Rena" bisik Arya pelan.
Dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi langsung melesat dengan kecepatan tinggi menuju arah yang berlawan dengan lokasi Rena. Segera saja suara lolongan yang membuat bulu kuduk merinding memenuhi udara, Rena hanya bisa pasrah melihat lautan makhluk berwarna kelabu mengejar Arya sambil melolong ke arah bulan purnama.
"Rena kita harus pergi dari sini" ajak Rei dengan suara sendu.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya mempercepat lajunya menuruni bukit dengan menggunakan es dan salju ditempat itu, tidak lupa ia menebas beberapa pohon cemara dan membuat dinding penghalang dari es untuk memperlambat laju para pengejarnya.
Suara tabrakan-tabrakan yang terdengar menandakan bahwa apa yang dia lakukan berhasil, tapi hal itu tidak berlangsung lama. Kawanan Werewolf itu segera memecah kelompok mereka sehingga saat ini Arya sudah dikepung disisi kiri maupun disisi kanannya.
__ADS_1
Kawanan itu sangat terorganisir sampai-sampai membuat Arya bertanya-tanya dalam hati apakah begini rasanya menjadi sebuah target buruan kawanan serigala, Arya mengarahkan lajunya ke sebuah batu loncatan.
Namun sayang, tepat saat dia melayang diudara sebuah sosok berwarna putih menyambar lehernya dan menghantamkan tubuhnya ke tanah. Arya bisa merasakan kuku-kuku tajam milik si penangkap menggores lehernya.
"Kena kau!"
Suara itu tendengar parau, dan lebih mirip geraman menurut Arya. Seorang pria berambut putih dengan telinga serigala diatas kepalanya mencekik Arya semakin keras. Kawanan serigala lainnya yang berjumlah ratusan ekor segera mengelilingi mereka.
"Kekeke lihat yang kita dapat disini, seorang manusia. Hmm ternyata bukan manusia biasa rupanya, sang Elementalist Es" desis pria itu.
"Apa dengan menangkap Elementalist yang belum sempurna sepertiku ini dapat membuat seorang Noble-Tier sepertimu bangga?" ucap Arya dengan susah payah.
"Wah wah wah kau tidak punya hak berbicara di tempat ini Tuan" ancamnya.
"Sungguh? Mengapa kau berpikir demikian?"
Pria itu berubah menjadi monster serigala putih raksasa sambil meraung keras ke arah Arya, dia kembali ke wujud manusianya dengan wajah heran. Karena senyum Arya semakin melebar setelah dia melakukan hal itu.
"Terimakasih atas raungan hebatnya, dengan begitu aku hanya butuh sedikit getaran kecil lagi" gelak Arya sambil menjentikkan tanganya sekali.
Suara gemuruh segera terdengar dari atas bukit tersebut, dikejauhan mereka semua bisa melihat gelombang salju setinggi 5 meter mengarah tepat ke arah mereka. Sebelum mereka semua tertimbun, Arya sempat mengacungkan jari tengah miliknya kepada si penangkap. Werewolf itu hanya bisa berteriak kesal sebelum digulung oleh longsoran salju.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Rena yang melihat semua kejadian itu hendak menyusul Arya, tapi segera dihalangi oleh Rei dengan wujud putihnya. Rena sudah hampir menangis saat Rei menghalangi jalannya.
"Rena, percayalah pada Arya. Jika sekarang kau pergi kesana, semua pengorbanannya akan sia-sia. Jujur saja walaupun aku baru saja bertemu dengan kalian, aku mulai paham Arya itu orang yang seperti apa. Dia pasti memiliki sebuah rencana"
Rena melawan, namun pada akhirnya ia luluh setelah dibujuk berkali-kali oleh Rei. Akhirnya mereka segera pergi dari tempat itu.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
"Fwah!"
Arya berjuang keras keluar dari tumpukan salju sambil memuntahkan salju yang masuk ke mulutnya. Dia bisa merasakan kaki kirinya patah akibat longsoran salju itu, ia segera bergegas berguling-guling menjauh dari tempat itu sebab dia bisa mendengar suara lolongan serigala di kejauhan.
Sepertinya kawanan serigala itu belum menyerah untuk menangkapnya, dia terus berguling sampai akhirnya menabrak sebuah batang pohon tumbang.
"Aww!" desisnya.
"Pikku?!"
"Eh?"
Dari dalam batang pohon tumbang itu muncul sebuah makhluk kecil berbulu hijau, makhluk itu memiliki paruh seperti bebek namun tangan dan kakinya telihat seperti bayi manusia. Makhluk itu menatap Arya dengan tatapan bertanya.
"Ah....halo sobat kecil, maafkan aku telah mengganggumu" kata Arya sambil tertuduk, ia memeriksa kaki kirinya yang patah sekali lagi. Kelihatanya tidak baik.
"Pikku pikku"
Makhluk hijau itu tiba-tiba menarik-narik pakaian Arya, Arya mengelus bulunya dengan lembut. Tapi makhluk itu segera berjalan menjauh, saat sudah cukup jauh ia menoleh lagi ke arah Arya.
"Apa kau ingin aku mengikutimu?" tanya Arya.
"Pikku!"
Arya kemudian berusaha berdiri dengan sebelah kakinya untuk mengikuti makhluk kecil itu. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya dia melihat sebuah pemandangan yang cukup mengejutkan. Dia melihat pepohonan rindang berwarna hijau di kejauhan.
Makhluk itu segera masuk ke dalam kumpulan pepohonan rindang itu. Arya menyusulnya dengan sedikit ragu, betapa terkejutnya dia saat menyadari tempat ia berdiri tidak dilapisi salju. Tidak ada es sedikitpun di tempat itu, bahkan cuaca disana terasa lebih hangat setelah dia memasukinya.
"Pikku!"
Lamunan Arya langsung buyar, makhluk kecil itu berdiri didekat sesuatu yang terlihat seperti sarang burung raksasa di tanah. Dia menunjuk sarang itu dengan antusias.
"Kau....ingin aku beristirahat ditempat ini?" tanya Arya sambil tersenyum.
"Pikku pikku"
"Terimakasih" seru Arya lalu mengelus makhluk itu sekali lagi sebelum masuk ke dalam sarang.
Dia segera merogoh tas miliknya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna hijau, ia segera meminum isinya dan berharap khasiat dari ramuan Vitality itu bisa bekerja dengan semestinya. Dia sedikit menyesal tidak meminta Alalea untuk mengajarinya sihir penyembuhan.
__ADS_1
Tapi sihir penyembuhan memang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, karena memikirkan Alalea ia tiba-tiba teringat kembali kejadian terakhir yang terjadi sebelum mereka meninggalkan Fairy Forest, kejadian yang sangat tidak terduga. Sambil memikirkan kemungkinan apa yang sedang Alalea lakukan saat itu tanpa Arya sadari diapun terlelap.