
Setelah apa yang terjadi di pertandingan Duo Battle Festival pertama, nama Axel dan Ayra melejit di seluruh Underground Paradise. Mereka disebut-sebut sebagai jenius yang hanya muncul 100 tahun sekali.
Banyak bermunculan fans dadakan yang memberikan dukungan besar pada mereka, kebanyakan fans ini terdiri dari para gadis-gadis yang mendengar rumor kalau dibalik topeng Axel. Terdapat wajah tampan yang tidak pernah terbayangkan.
Orang-orang mulai mencari tau bagaimana sebenarnya wajah dari dua bintang baru ini. Kemenangan mereka atas duo Elf Rodria juga menjadi inspirasi bagi banyak pemula untuk ikut serta dalam Duo Battle Festival, sehingga ajang kali ini menjelma sebagai Duo Battle Festival dengan peserta terbanyak sepanjang sejarah.
Arya dan Lexa terus memenangkan pertandingan mereka dengan spektakuler, tidak ada lawan yang bisa bertahan lebih dari 1 menit ketika berhadapan dengan keduanya di Arena. Hal ini memang sengaja Arya lakukan agar kekuatan keduanya tidak terlalu terekspos oleh orang-orang.
Tapi yang Arya cukup sesalkan adalah, ternyata hal itu juga yang membuat perhatian orang-orang semakin tertuju pada mereka. Setelah mengetahui keikutsertaan Arya dan Lexa dalam Duo Battle Festival, semakin banyak orang yang memadati penginapan mereka.
"Mohon maaf Tuan Axel, Nyonya Ayra. Tapi....lain kali bisakah kalian masuk kamar dengan menyelinap saja?" pinta Kyra yang kewalahan menghadapi pengunjung.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Akhirnya Duo Battle Festival sampai ke babak Semi-Final, tersisa empat tim paling dominan yang akan saling memperebutkan dua tiket menuju babak final. Pertandingan perebutan tempat final pertama akan mempertemukan Tim Arya dan Lexa melawan runner up Duo Battle Festival sebelumnya.
Duo kakak beradik Dwarf, Lam dan Lim. Kedua Dwarf ini dikenal sebagai Dwarf berketerampilan tinggi. Perusahaan mereka, L&L. Menjadi salah satu perusahaan yang menjadi penyedia serta penghasil alat sihir terbesar di Underground Paradise.
Dukungan kepada mereka bisa terbilang banyak. Karena hampir semua Dwarf di Underground Paradise mengharapkan keduanya menjadi juara, Arya dan Lexa memasuki Arena dengan santai.
Sambutan yang diberikan pada mereka sudah lebih baik dari yang sebelumnya, terutama karena fans dari Gill dan Rose sekarang beralih menjadi pendukung mereka. Arya sekilas melihat Kyra beserta beberapa orang dari penginapan juga memberikan dukungan dari salah satu podium.
Disisi lain Arena, Lam dan Lim sudah menunggu dengan perlengkapan yang tidak pernah Arya lihat sebelumnya. Sepertinya mereka membuat sebuah alat baru khusus untuk pertandingan kali ini, keduanya terlihat cukup percaya diri.
Tapi sayang, harapan penonton untuk melihat pertandingan Semi-Final yang seru harus sirna begitu saja. Baru saja pertandingan dimulai, Arya dengan sangat cepat sudah berdiri diantara kakak beradik Dwarf itu.
Dia melakukan satu gerakan tangan yang membuat kedua makhluk kerdil itu terjerat benang tak kasat mata, hal yang selalu menjadi momok bagi setiap lawan yang menghadapi Arya dan Lexa di Arena.
Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Lexa segera menghantam kedua Dwarf itu sampai terpental keluar Arena pertandingan. Dengan hasil tersebut, Arya dan Lexa berhasil mempertahankan rekor kemenangan fantastis mereka. Yaitu berhasil mengalahkan musuh mereka kurang dari satu menit.
Melihat hasil itu para penonton segera menggila, nama Axel dan Ayra bergaung memenuhi Arena. Karena memiliki masih banyak waktu, akhirnya Arya dan Lexa memutuskan untuk melihat pertandingan kedua.
Pertandingan yang akan menjadi penentu lawan mereka di final, keduanya berhasil menerobos kerumunan dan tiba di podium penonton tempat Kyra dan yang lainnya berada.
Perebutan satu tempat Final berikutnya tidak kalah mencuri perhatian, hal ini dikarenakan pertandingan kedua juga menjadi pertemuan antara tim pendatang baru dengan sang juara bertahan.
Arya sebenarnya tidak memiliki cukup informasi mengenai kedua tim ini, karena dia juga tidak berusaha untuk mencari tau. Yang dia tau adalah tim juara bertahan Duo Battle Festival sebelumnya terkenal beringas dan tidak mengenal ampun bagi lawannya.
Sedangkan tim pendatang baru lebih misterius lagi, mereka menyebut diri mereka dengan nama Pierrot. Tim ini digadang-gadang menjadi saingan terkuat untuk Axel dan Ayra pada Duo Battle Festival kali ini, yang lebih menarik lagi adalah mereka juga menggunakan topeng.
Dua topeng badut yang terlihat mengerikan, sepak terjang keduanya sebenarnya cukup mengagumkan. Tapi semua itu tertutupi oleh penampilan luar biasa Axel dan Ayra.
Saat Arya sedang asyik berpikir, tiba-tiba seluruh tempat itu bergetar. Betapa terkejutnya Arya saat melihat dua makhluk setinggi 5 meter muncul dari salah satu sudut Arena.
"A..ap..apa itu?!" seru Lexa tidak percaya.
"Titan...?" bisik Arya keheranan.
"Hah?! Ada raksasa di tempat ini?!" Lexa menatap Kyra menuntut jawaban.
"Tentu, apa itu aneh?" balas Kyra dengan wajah bingung.
"Aneh bukan kata yang tepat sih, tapi kenapa kami tidak pernah melihat mereka berkeliaran ya?" tambah Arya.
"Ahh....itu karena para Titan memiliki kemampuan untuk memperbesar dan memperkecil tubuh mereka, apa kalian tidak tau?"
Benar juga pikir Arya, jika mereka bergerak dengan ukuran tubuh seperti itu. Underground Paradise bisa porak-poranda dalam satu malam. Kedua raksasa itu tersenyum bengis pada semua penonton.
Jujur saja dengan melihat wujud kedua raksasa itu Arya sendiri merasa pesimis bisa mengalahkan mereka. Dari sisi lain Arena berjalan dengan langkah ringan dua sosok kecil berjubah hitam, Pierrot terlihat tidak terganggu sedikitpun dengan ukuran lawan mereka.
Setelah Arya perhatikan, dia bisa tau kalau salah satu dari Pierrot adalah seorang perempuan. Hal itu dikarenakan bentuk tubuhnya yang lebih ramping dan caranya berjalan. Kehebohan mulai terjadi diantara penonton, hal itu segera diantisipasi oleh si pembawa acara.
"Baiklah pertandingan berikutnya untuk menentukan lawan dari Axel dan Ayra di babak final akan segera dimulai.
Disudut Timur, Duo Titan Brutal. Karam dan Zakam....!!!"
Kedua raksasa itu mengeluarkan teriakan yang memekakan telinga sambil menghentak-hentakan kaki mereka. Seluruh Arena bergetar dibuatnya.
"Sementara itu disudut Barat, Duo tim Penghibur. Pierrot....!!!"
Dua orang berjubah itu hanya menundukan badan mereka sebentar, pertarunganpun dimulai. Hanya dengan melihat penampilan mereka saja, semua orang sudah menebak siapa yang akan menang.
Tapi semua dugaan itu terpatahkan beberapa saat kemudian, Karam. Si Titan berkepala botak melayangkan pukulan keras ke arah tim Pierrot, suara hantaman keras memenuhi udara. Debu bertebaran menutupi Arena.
__ADS_1
Saat kondisi Arena mulai terlihat lagi, betapa terkejutnya semua orang saat laki-laki dari tim Pierrot menahan pukulan Karam hanya dengan sebelah tangan. Secara perlahan pria itu mulai memutar tangannya sampai Karam bertekuk lutut.
Dilain sisi, sosok wanita dari Pierrot tiba-tiba menghilang. Karena gerakannya yang sangat cepat, hampir tidak ada yang bisa melihat pergerakan wanita itu. Tapi Arya berhasil melihatnya sekilas.
Perempuan itu berpijak pada udara kosong seperti melompat-lompat di permukaan tanah, ia terus melesat semakin tinggi dan akhirnya berhenti dibelakang leher Zakam. Dengan satu ayunan kaki kanan, ia melepaskan tendangan keras yang tepat mengenai leher si raksasa.
Tubuh Zakam menghantam lantai Arena dengan keras, seluruh tempat itu berguncang dengan hebat. Retakan-retakan mulai muncul pada Arena akibat tumbangnya raksasa itu, sementara Karam yang semakin bertekuk lutut akibat genggaman dari pria Pierrot tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia hanya menggeram kesal sambil berusaha menarik tangannya, saat kepala Karam cukup dekat. Pria Pierrot itu melompat dan meraih salah satu telinga si raksasa botak, dan dengan tanpa ampun membanting kepala raksasa itu ke lantai Arena.
Arena Duo Battle Festival hancur seketika, semua penonton tidak bisa berkata apa-apa melihat hasil tersebut. Bahkan Arya dan Lexa hanya diam menonton dengan mata yang semakin melebar, wanita dari Pierrot itu dengan santai meregangkan otot-ototnya diatas badan Zakam.
Dia melempar pandangan sekilas ke podium Arena, beberapa saat kemudian ia akhirnya menemukan apa yang dia cari. Dengan cuek wanita itu mengarahkan tangannya yang sudah membentuk sebuah pistol ke arah Arya dan Lexa.
Dia melakukan gerakan seperti menembakan peluru ke arah mereka, seolah-olah berkata "Kalianlah yang berikutnya"
-----------------------------<<>>-----------------------------
Final Duo Battle Festival kali ini disaksikan oleh hampir seluruh penghuni Underground Paradise, Arena dan Podium penonton segera ditingkatkan kapasitasnya berhubungan dengan insiden yang terjadi di Semi-Final.
"Lexa sebaiknya kau lebih berhati-hati, mereka jauh berbeda dengan lawan-lawan kita sebelumnya" peringat Arya saat keduanya sedang berjalan menuju Arena.
"Huum, aku tau. Kau juga jangan sampai lengah, Aru"
Suara bergemuruh langsung memenuhi udara ketika dua tim finalis memasuki Arena, dengan begitu Arya dan Lexa bisa merasakan tekanan tinggi yang diberikan oleh babak Final. Terutama karena Raja Vermaand beserta kesembilan istrinya juga menonton langsung di podium khusus.
Seorang pria berpakaian rapi dengan wajah asing segera melayang ke tengah-tengah Arena, dia memiliki tanduk kecil hitam di dahinya.
"BAIKLAH SEMUANYA...., SELAMAT DATANG DI BABAK FINAL DUO BATTLE FESTIVAL....!!!"
Penonton semakin riuh mendengar pembukaan dari si pembawa acara baru.
"PERTANDINGAN KALI INI AKAN DIBAWAKAN OLEHKU, TONGGO OZ. AKU DISINI UNTUK MENGGANTIKAN KAKAKU. TANPA BERBASA-BASI LAGI MARI KITA SAKSIKAN PERTARUNGAN ANTARA AXEL & AYRA VS PIERROT!!!"
Belum sempat Arya dan Lexa memasang kuda-kuda, tiba-tiba wanita dari Pierrot itu sudah berdiri tepat diantara mereka dan melayangkan tendangan keras ke arah Arya. Dia terpental sampai ujung Arena.
Lexa juga mengalami hal yang sama setelah menerima pukulan dari si Pierrot pria, seluruh penonton terkesiap. Itu pertama kalinya Axel dan Ayra menerima serangan dan berada di ujung Arena pertandingan.
"Kau tidak apa-apa Le—"
"Seharusnya kau lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri" bisik Wanita itu ditelinga Arya.
Sementara itu Lexa semakin tertekan oleh si Pria. Dia hanya bisa terus bertahan dan menerima semua serangan tanpa henti yang diarahkan padanya.
"Gadis kecil, apa hanya segini kemampuanmu?"
"Ugh....!?"
Melihat hal itu, Arya ingin segera membantu. Tapi kondisinya sendiri juga tidak baik, si Pierrot wanita dan Arya saling bertukar tendangan terus menerus. Dan yang posisinya jauh lebih diuntungkan disini adalah si Pierrot wanita.
"Orang ini....?! Aku baru pertama kalinya merasakan tendangan sekuat itu. Bahkan tidak jauh berbeda dari tendangan Master Lee" batin Arya.
Keduanya lalu melakukan tendangan memutar berbarengan, kedua kaki kanan milik mereka saling mengait di udara. Arya dan Wanita itu saling mengunci satu sama lain.
"Sudah kuduga, dibalik semua trik bertarungmu. Ternyata kemampuanmu tidak terlalu buruk" kata Wanita itu lembut.
"Ugh....terimakasih, tapi aku tidak butuh pujian darimu" balas Arya dengan gigi menggertak.
"Eh....lisanmu cukup tajam juga, padahal kau adalah salah satu orang yang aku anggap bisa menggunakan kakimu"
"Kalian berdua....Demi-Human?"
"Pfft?! Phuahahaha....Demi-Human? Aku tidak tau kalian berasal dari mana, tapi ras kami sudah tidak menyandang nama itu sejak lama" gelak si wanita terbahak-bahak.
"Maksudnya?" tanya Arya heran.
"Itu karena kami tidak sudi menyandang nama Human pada ras kami, makhluk lemah pengecut seperti mereka itu hanya pantas sebagai budak. Saat ini ras kami lebih dikenal dengan nama Werebeast"
Kemudian dengan cepat ia melayangkan tendangan keras kearah perut Arya, tubuh Arya terbang melayang dibuatnya. Ia menyusul Arya dengan meloncat pada udara kosong kemudian mengarahkan tendangan yang berikutnya.
Arya menahan serangan itu dengan kedua tangannya, tapi tetap terpental dan menghantam lantai Arena dengan keras. Tanpa diberi kesempatan untuk bernapas, wanita itu segera melesat dari atas ke arah Arya. Kakinya menginjak tepat tempat kepala Arya berada beberapa saat yang lalu.
"Hey cepatlah tumbang, aku juga ingin bersenang-senang dengan bocah yang ada disana" celetuk pria Pierrot pada Lexa setelah melihat serangan yang dilakukan rekannya pada Arya.
"Berisik!" balas Lexa lemah.
__ADS_1
"Hah....kau harus tau kapan berhenti" ujar pria itu sambil menghela napas.
Baru saja selesai berkata seperti itu, sebuah pukulan telak mendarat di wajahnya. Lexa melanjutkan apa yang dia lakukan, pria itu seperti tau arah serangan Lexa. Namun terus menerus terkena tanpa bisa menghindar.
"Apa-apaa—"
"Kau pikir aku hanya diam menerima seranganmu saja dari tadi? Gadis kecil ini sudah mengetahui tempo gerakanmu, bersiaplah untuk serangan balik" ucap Lexa berapi-api.
"Gadis kecil kau—"
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Kau bilang....manusia itu adalah makhluk lemah dan pengecut bukan?" tanya Arya pelan.
"Begitulah, apa aku salah?" sahut wanita itu santai.
"Tidak, kau sama sekali tidak salah" timpal Arya dengan senyum merekah dibibirnya.
"Benarkan? Mereka itu memang sam—"
Belum selesai dia berbicara, lutut kaki kanan Arya menghantam topengnya. Wanita itu sedikit terkesiap melihat gerakan Arya yang tiba-tiba berubah, dia berusaha membalas. Tapi sia-sia.
Semua serangannya berhasil dihindari dan malah dibalas Arya, puncaknya adalah saat dia melakukan tendangan tajam ke arah perut. Arya merunduk kemudian menjerat kaki kanan wanita itu dengan benang-benang miliknya.
"Perkataanya telah membuatku sadar, yang harus aku lakukan adalah. Bertarung sebagai Manusia" batin Arya lalu melayangkan tendangan atas yang tepat mengenai wajah wanita itu.
Wanita itu terhuyung-huyung menjauh sambil menutupi wajahnya, topengnya pecah dan memperlihatkan mata berwarna ungu yang balik menatap Arya dengan tertarik.
Disaat itulah Arya mendapat sebuah ide, ia menyadari mereka berempat berada diposisi satu garis lurus. Arya dan Lexa berada di ujung sementara dua anggota Pierrot saling memunggungi satu sama lain di tengah Arena.
"Ayra!!!" teriak Arya sambil menerjang ke arah depan.
Lexa melihat Arya lalu melakukan hal yang sama, mereka berdua menerjang ke arah musuh mereka masing-masing. Saat kedua anggota Pierrot berusaha menyerang, Arya dan Lexa menghindar dan melanjutkan laju mereka ke tengah Arena.
"Kalian pikir bisa lari?!"
Dengan refleks yang luar biasa, kedua anggota Pierrot langsung mengejar mereka. Tepat saat tiba di tengah Arena, Arya segera merangkul pinggang Lexa kemudian meraih gagang Mandalika.
"Menarilah, Mandalika!!!"
Aura hitam biru menyelubungi bilah pedang Mandalika, dengan satu kali ayunan. Aura itu menyapu seluruh Arena pertandingan. Semua orang terpana melihat serangan itu, saat seluruh penonton mengira ini semua sudah berakhir.
Dengan sangat mengejutkan diujung Arena, kedua anggota Pierrot masih bisa bertahan. Mereka berpegangan pada sebuah toya berwarna keemasan yang ditancapkan oleh si pria pada lantai Arena.
Tapi pertandingan akhirnya tetap berakhir, karena kedua kaki dari anggota Pierrot sudah berada diluar batas Arena. Arya dan Lexa berhasil memenangkan pertandingan itu dengan sangat dramatis, ketika orang-orang mulai merayakannya tiba-tiba tekanan udara terasa berat.
Gravitasi ditempat itu terasa meningkat beberapa kali lipat, membuat para penonton ketakutan. Agnet diseluruh tempat itu bergetar hebat, wanita Pierrot dengan mata ungu itu menatap Arya dalam-dalam.
"Kau benar-benar harus—"
"Hey sudahlah" ujar si pria sambil menepuk pundaknya.
Seperti kemunculannya, tekanan itu juga menghilang secara tiba-tiba. Wanita itu kemudian menggaruk-garuk kepalanya malu, kedua tim segera mendekat dan berjabat tangan ditengah Arena.
Betapa terkejutnya Arya dan semua orang yang ada disana saat si wanita dari Pierrot itu dengan santai mengecup topeng Arya sebelum meninggalkan tempat itu.
Tidak lupa ia melayangkan sebuah ciuman jarak jauh sebelum menghilang dari pandangan, para penonton wanita menggila dibuatnya. Hampir terjadi kerusuhan besar akibat kejadian itu.
"Sepertinya....tanpa sengaja aku baru saja berurusan dengan wanita yang merepotkan" celetuk Arya lelah.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Disalah satu gang kecil Underground Paradise, muncul dua sosok yang mengenakan jubah hitam serta topeng badut. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah runner up Duo Battle Festival kali ini, Pierrot.
"Hah....aku benar-benar ingin merekrut anak itu" ujar si wanita sambil melepas topeng serta jubahnya.
Dia adalah seorang wanita berambut merah muda dengan sebuah telinga panjang berbulu menghiasi kepalanya.
"Tapi kau seharusnya tidak menunjukan tekanan seperti tadi" timpal si pria.
Pria itu juga membuka topengnya, wajahnya hampir dipenuhi rambut berwarna cokelat. Dibagian belakang tubuhnya terlihat ekor panjang dengan warna yang sama.
__ADS_1
"Berisik Gokong! Mau bagaimana lagi? Aku sedikit terbawa suasana, kau lihat senjata yang dia gunakan tadi? Bukankah itu sangat luar biasa?"
"Aku sih tidak terlalu perduli dengan selera anehmu Bunny, yang terpenting adalah tidak ada yang mengenali kita. Karena jika sampai tersebar berita dua orang Pasukan Elit Werebeast yang tergabung dalam Dua Belas Shio dikalahkan oleh dua bocah tidak kenal meluas, bukankah itu sedikit menggelikan?"