
Arya dibangunkan oleh suara ketukan pada pintu kamar keesokan paginya, ketika ia membuka pintu dengan nyawa yang masih belum terkumpul. Ucapan selamat pagi dari Selena segera menyambutnya, setelah meminta waktu untuk bersiap. Keduanya pun berangkat.
"Apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan?" Arya berjalan oleng mengingat ini masih pukul lima pagi.
"Mmm....karena ini adalah hal penting, kupikir lebih baik kita berkumpul terlebih dahulu" sahutnya.
Mereka berjalan dalam diam, beberapa saat kemudian akhirnya Arya menyadari kemana tujuan mereka. Ruang Kelas Pengawas Astral, Selena membuka pintu dan mempersilahkannya untuk masuk terlebih dahulu.
Teman - teman Elementalist lain sudah berkumpul di tempat tersebut, dengan ekspresi yang rata – rata masih mengantuk. Delapan pasang mata itu menatap kedua pendatang baru.
"Apa yang kuharapkan?" batin Arya lemah tidak bisa menyangkal kalau dirinya sedikit kecewa, dia pikir Selena mau membicarakan suatu hal penting hanya berdua saja.
Selena langsung mengambil posisi di tengah ruangan lalu melemparakan pandangan ke yang lain. Gadis itu bertepuk tangan meminta perhatian semuanya.
"Baiklah, mari kita mulai"
Mendengar kata – kata tersebut, Lexa dan Elizabeth segera bangkit sembari menarik Ali juga untuk menyusul Selena. Kedua gadis kejam itu menyeret si pria malang yang menggeleng-gelengkan kepala seolah berkata kupikir ini bukan ide bagus.
"Ada apa sih?" Arya tidak habis pikir mengenai sikap keempat orang temannya.
"Aku juga ingin tau" tambah Kevin.
"Hoamm....aku ingin kembali tidur" gumam Timonty lelah.
Yang lain semakin mendekat ke tengah ruangan, Asuna dan Rena ikut serta disana. Sepertinya hanya mereka berdua Elementalist perempuan yang tidak tahu menahu mengenai kejadian ini.
"Eee....ini sedikit rumit, bagaimana aku harus memulainya ya?" Selena bingung sendiri.
"Aku pun sama" kata Lexa sambil memiringkan bibirnya.
"Agh....kalian berdua ini lelet sekali, Ali giliranmu!" Elizabeth menepuk punggung Ali dengan keras.
Ali menggaruk – garuk kepalanya sebentar sebelum mulai menggerakan tangan secara perlahan. Butiran – butiran pasir mulai berkumpul dihadapan mereka, melayang membentuk sebuah tulisan yang tertuju untuk semuanya.
"Halo semuanya, mungkin....ini pertama kalinya aku menyapa kalian"
"Eh?" setelah membaca tulisan pasir itu, keenam orang bingung disana langsung menatap wajah Ali.
Dia tersenyum hangat menanggapi respon mereka, tapi hal tersebut malah menambah tingkat kebingungan yang lain.
"Ali? Kenapa kau tidak berbicara langsung?" Timothy menyuarakan pertanyaan.
"Ckk! Dasar besi karatan bodoh! Bukankah sudah jelas? Karena dia tidak bisa berbicara" sambar Elizabeth.
"Hah?!"
Fakta itu seakan menghantam wajah mereka dengan keras, memang benar setelah dipikir – pikir lagi. Sejak hari pertama para Elementalist berkumpul, tidak ada yang pernah mendengar Ali berbicara sepatah katapun dari mulutnya.
Arya sebagai Ketua Elementalist generasi ini merasa tidak enak, seharusnya dia lebih memperhatikan rekan – rekannya.
"Ali....apa ini...."
"Bukan cacat dari lahir, awalnya dia juga bisa berbicara sama seperti kita" jawab Lexa sebelum Arya menyelesaikan kata-katanya.
"Lalu? Sejak kapan?" Zayn mengkerutkan dahi.
"Itulah yang ingin aku sampaikan kepada kalian, Ali kehilangan kemampuan berbicaranya karena....karena....dia....." Selena terlihat ragu.
"Apa?! Cepat katakan saja!" gigi Asuna menggemertak tidak sabaran.
"Karena aku adalah seorang Artificial Elementalist" tulisan pasir baru menjawab pertanyaan mereka.
------<<>>------
"Apa maksudnya itu...." mata Timothy melebar.
Selanjutnya Selena, Lexa, dan Elizabeth bergiliran menjelaskan kepada mereka semua tentang Artificial Elementalist. Semua informasi milik ketiganya berasal langsung dari Ali, mereka mengetahui hal ini sangat melakukan ujian bersama.
Dalam melakukan Ujian Elementalist, komunikasi sangatlah penting. Hal itu juga yang menyebabkan Ali harus memberitahukan semuanya pada mereka bertiga, Artificial Elementalist juga dikenal sebagai Elementalist Buatan adalah sebutan untuk orang – orang yang mendapat kekuatan elemen bukan melalui hubungan darah atau keturunan.
Kekuatan ini diperoleh melalui penilitian berat tidak manusiawi sejak dini, dengan tingkat keberhasilan dibawah satu persen. Hal tersebut disebabkan oleh sulitnya mencari tingkat kecocokan seseorang terhadap kekuatan diluar nalar ini.
Selain itu juga, jika penelitian ini berhasil. Maka akan ada efek samping, contohnya seperti Ali yang kehilangan kemampuan untuk berbicara, Selena sebagai orang yang mengetahui hal ini pertama kali sudah berniat memberitahukan semuanya dari Ujian Elementalist Pertama.
Namun Ali memintanya untuk tutup mulut, sama dengan Lexa maupun Elizabeth. Ia tidak ingin membuat yang lain khawatir, tapi akhirnya ketiga gadis ini memutuskan untuk berbicara terang – terangan. Karena jika tidak, masalah ini tidak akan pernah selesai.
"Apa....hal itu benar-benar bisa dilakukan? Membuat Elementalist" bisik Rena pada diri sendiri.
"Entahlah, aku berharap ini hanya mimpi" Selena menggulung rambut pada jari jemarinya.
"Bukan bermaksud kasar, tapi mungkin kalian menyadari kalau kami selalu berada diposisi terakhir saat sekelompok dengannya"
"Elizabeth itu agak—"
"Diam! Aku hanya ingin menyampaikan isi pikiranku, intinya adalah kekuatan dari Artificial Elementalist bisa dibilang masih berada dibawah True Elementalist" Elizabeth mendengus kesal ke arah Selena.
"Bagaimana dengan atribut milikmu?" tanya Kevin pelan.
"Sepertinya ketiga atribut milik Ali telah disiapkan sebelum ujian kita dimulai, karena dulu aku hanya mencari bahan Elemental Weapon milikku" jawab Lexa tenang.
"Umur berapa? Maksudku....kau tau, ketika itu dimulai" simpati terlihat jelas dari mata Zayn.
Ali berusaha mengingat sebentar sebelum menunjukan kelima jarinya, langsung saja suhu udara ruangan itu turun dengan drastis. Sekujur tubuh Arya sangat deras memancarkan Agnet bertekanan tinggi, membuat para Elementalist lain menelan ludah.
"Kalian semua ikut aku, kita akan menghadap Pengawas" kata Arya dingin sambil berbalik menuju pintu keluar.
Asuna bergerak cepat menangkap salah satu pergelangan tangannya "Tunggu Arya, apa yang ingin kau—"
__ADS_1
"Tergantung jawaban, jika tidak memuaskan. Akan kubuat perhitungan dengan mereka"
------<<>>------
Arya menerobos ruangan khusus Pengawas Ujian seorang diri, disusul oleh Elementalist yang lain dibelakangnya. Astral menyambut mereka sambil duduk santai pada salah satu meja.
"Pengawas, bisa anda jelaskan padaku tentang Penelitian Artificial Elementalist?"
Sembilan sosok lain muncul mengitari mereka, Sepuluh Pengawas Ujian telah berkumpul.
"Tuan Arya, ini....—" Varuq berusaha menenangkan.
"Tidak usah bertele-tele, kalian hanya perlu menjawab"
Mandalika muncul ditangan kanan Arya berbarengan dengan Efbi dalam wujud serigala dewasa. Ia menggeram ganas mengitari tubuh Arya seolah melindunginya. Sikap Pengawas Ujian langsung berubah siaga, namun Astral segera mengangkat tangan meneghentikan semuanya.
"Cukup, setelah dipikir-pikir sekarang memang sudah waktunya. Akan saya jelaskan segalanya kepada kalian"
Arya mengangguk sebelum meminta Mandalika dan Efbi kembali, Astral mulai menarik napas dalam – dalam.
"Beberapa dari kalian mungkin menyadari kalau pasir bukanlah termasuk unsur utama, dan itu benar. Elementalist ke sepuluh seharusnya bukan pasir, tapi angin"
"Angin?" ulang mereka.
"Yaa, tapi karena sesuatu yang tidak diinginkan. Elementalist Angin generasi sebelumnya meninggal sebelum memiliki keturunan, perempuan itu bernama Fengyi Vortex. Hal ini menyebabkan garis keturunan Elementalist Angin, terputus"
------<<>>------
Semuanya mendengar penjelasan Astral tanpa berkomentar sedikitpun, Artificial Elementalist ditunjukan untuk menjaga keseimbangan yang goyah akibat hilangnya satu pilar penopang. Yaitu Elementalist Angin.
"Apa ibuku menyetujui penilitian ini?" Arya menatap para Pengawas dengan dingin.
Mereka menggeleng tanpa berani memandang balik. Takut Arya bisa meledak kapan saja.
"Penelitian Artificial Elementalist tidak diizinkan untuk dilakukan pada masa Elementalits terdahulu" jawab Astral pelan.
"Kalau begitu, kenapa bisa sampai seperti ini?"
"Tuntutan peneltian marak sejak dua belas tahun lalu, namun semakin menjadi-jadi sekitar dua tahun kemudian"
"Berarti sepuluh tahun yang lalu ya...." ujar Timothy mengelus dagu.
"Tunggu sebentar, sepertinya ada suatu hal penting terjadi sepuluh tahun lalu. Tapi aku tidak bisa mengingatnya, Arya apa kau—"
Asuna tidak berhasil menyelesaikan pertanyaannya, mendengar perkataan Astral wajah Arya berubah gelap. Matanya melebar dan tubuhnya mulai bergetar hebat, ia kemudian mengepalkan tangan sangat kuat sampai mengeluarkan darah.
"Ini pasti ulah....Pemerintahan.....Pengawas, besok aku ingin bertemu dengan penanggung jawab penelitian ini dan juga Raja Arab Saudi. Ali, kau juga ikut" geram Arya sebelum berbalik pergi meninggalkan lokasi.
"Tunggu, bawa kami bersamamu" Zayn menahan Arya.
"Terserah kalian"
"Asuna? Apa kau pernah melihat Kapten seperti itu sebelumnya?" Kevin berbisik.
Asuna menggeleng kemudian menjawab pelan "Belum, ini juga pertama kalinya aku melihat dia tidak bisa mengontrol diri sendiri"
"Gio? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Bianchi lirih.
"Mau bagaimana lagi? Segera urus pertemuannya, besok aku dan Ben yang akan menemani mereka"
------<<>>------
"Yang Mulia? Kenapa?"
Arya meminta penjelasan pada pria sepuh dihadapanya, mengapa ia bisa memberikan anak pertama yang masih berumur lima tahun sebagai bahan penelitian. Darah dagingnya sendiri.
"Banyak orang menanyakan hal sama, aku tidak menyangka akan mendapat kesempatan untuk menjawab pertanyaan Ketua Elementalist saat ini" ujar sang Raja lembut.
"Saya ingin mendengar langsung jawaban anda"
Faisal bin Saud adalah orang yang sangat dihormati, selain menjadi raja. Kelembutan hati dan tutur bahasa sopan membuat orang segan padanya, bisa dibilang Arya juga termasuk pengagum beliau. Ali duduk disebelah Ayahnya sambil tersenyum tenang.
Raja Faisal memberitahu mereka kalau itu bukanlah keputusan yang mudah, ia bahkan sempat tidak saling menyapa dengan istri cukup lama akibat kejadian tersebut. Namun terkadang, pengorbanan perlu dilakukan.
"Aku pun tidak sembarangan menyerahkan Ali untuk penelitian, setelah melihat perkembangannya sampai umur lima tahun. Aku tau kalau dia memang pantas"
"Tapi apa anda pernah memikirkan perasaanya? Kehilangan kemampuan berbicara untul hal seperti—"
Ali menghentikan Arya, tulisan pasir melayang ditengah-tengah mereka.
"Kapten, aku tidak pernah menyesali hal itu. Karena jika aku tidak menjadi Artificial Elementalist, maka aku tidak akan bisa bertemu dengan kalian. Sahabat – sahabat terbaik yang pernah ada"
Suasana haru menyelimuti ruangan setelah membaca tulisan pasir tersebut, Timothy segera mendekat memeluk Ali. Disusul oleh yang lainnya, Aryapun jadi melunak. Mereka berpamitan beberapa menit kemudian. Sebelum pergi, Raja Faisal memanggil Arya sekali lagi.
"Kau tentu juga tau kalau Tuhan itu Maha Melihat dan Maha Mendengar, ini demi kebaikan banyak orang"
"Anda benar, tapi terkadang sebagai hamba. Kita tidak mengetahui mana pilihan terbaik, jadi bukankah sepantasnya memperjuangkan apa yang paling berharga bagi diri sendiri?"
Arya memberi hormat terakhir sebelum meninggalkan Raja Faisal, pria tua itu tersenyum sambil mengelus janggutnya. Merasa lucu sendiri karena anak muda tadi dapat mengembalikan apa yang berusaha dia sampaikan.
------<<>>------
Mereka memasuki Gedung Pusat Pemerintahan dengan langkah tangkas, sesampainya disana. Seorang laki – laki berambut putih panjang menyambut mereka. Arya sudah mulai kembali ke sifatnya semula setelah bertemu Raja Faisal. Jadi yang lain mulai merasa tenang dan berpikir tidak akan terjadi masalah apapun.
"Jadi...., kau penanggung jawab Penelitian ini?"
__ADS_1
"Benar, saya—"
Dia gagal menyelesaikan kalimatnya karena Arya bergerak cepat memanggil Mandalika dan langsung melakukan tikaman. Astral dan Liquite merespon untuk menahan tusukan itu menggunakan tangan mereka.
Tapi akibat dorongan yang kuat, mereka mundur sampai menabrak dinding. Mandalika menancap pada tempok hanya beberapa inci dari pria tersebut, jika kedua Pengawas Ujian tidak membelokan serangan tadi. Bisa dipastikan Arya sudah merobek tenggorokannya.
"Aku seharusnya sudah tau sejak pertama kali bertemu denganmu" desis Arya dingin.
"Tuan Arya ini—"
Keduanya memang pernah bertemu, Sioul van Laag. Arya tidak akan pernah lupa, orang yang membuat seluruh tubuhnya bergidik saat berjabat tangan sebelum Ujian Elementalist Ketiga.
Keributan yang terjadi membuat gempar Gedung Pusat Pemerintahan. Wali Kota Stickman tiba dengan wajah pucat pasi.
"Apa yang sedang ter—"
"Bagus kau datang Wali Kota, aku tidak perlu repot mencarimu, akan kuhancurkan laboratorium beserta semua data mengenai Artificial Elementalist milik kalian"
"Apa?! Kau tidak bisa seenak—"
"Lakukan, hal kotor apa lagi yang ingin kalian sembunyikan dari kami" Asuna menodongkan Amaterasu tepat ke arah wajah Stickman.
"Nona Asuna bisakah kita—Baiklah – baiklah! kalian dengar permintaan mereka! Cepat laksanakan" bentak Stickman cemas karena ujung rapier mulai menyentuh kulitnya.
"Tuan Arya, saya pikir semua ini sudah cukup" bujuk Astral.
"Bawa dia kemari"
Tanpa menunggu lama, Zayn dan Kevin membawa Wali Kota kehadapan Arya. Dia menempatkan pria menyebalkan itu disebelah Souil lalu menancapkan Mandalika tepat ditengah-tengah mereka.
"Kuingatkan sekali lagi, kami bukanlah kelinci percobaan. Berhentilah bermain – main dengan nyawa orang banyak hanya demi keserakahan kalian" nada ancaman Arya terdengar sangat mengerikan sampai membuat Wali Kota terkencing – kencing.
Souil segera meminta maaf dengan wajah tenang, sedangkan Stickman gemetar ketakutan disampingnya.
"Tuan kami ha—"
"Hanya berjuang demi kebaikan banyak orang? Omong kosong! Kalau begitu untuk apa kalian menyembunyikannya dari kami? Itu karena kalian tau perbuatan ini salah sejak awal" potong Arya.
Seorang petugas datang melapor bahwa semua data sudah dikumpulkan, Arya mengingatkan kalau masih ada data tersisa. Mereka akan tau akibatnya, petugas tersebut mengantar sampai depan sebuah bangunan khusus berukuran besar.
"Butuh bantuan?" tawar Lexa.
Arya menggeleng dan meminta untuk melakukannya sendiri, di dalam Arya membaca beberapa data percobaan. Emosinya semakin memuncak karena melihat jumlah korban yang telah mati sia – sia akibat penelitian tidak manusiawi ini.
Ternyata semua hal mengenai Elementalist Angin telah dihapuskan, inilah alasan dia tidak pernah mendapatkan sedikitpun informasi tentangnya. Mereka melakukan penelitian menggunakan DNA para Elementalist terdahulu.
Arya mulai memukul lantai dengan tangan, kekuatan ayunan lengan semakin bertambah setiap ia melayangkan pukulan demi pukulan. Air mata membasahi pipinya.
"SIAL! SIAL! SIAL! SIAL!!!...."
"Hei nak? Aku akan bantu menghapus rasa kecewa itu kalau kau meminjamkan tubuhmu padaku hihihi, bagaimana?" suara serak terngiang dikepalanya.
"BERISIK! KELUAR DARI KEPALAKU!"
"Heh....membosankan"
"Tuan, tolong tenang"
"Ayah, sadarlah"
"Mandalika? Efbi? Apa kita mengambil keputusan yang salah untuk melindungi ras Manusia?"
Satu pukulan terakhir membuat roboh seluruh bangunan, panggilan Efbi dan Mandalika membuatnya berhenti. Dia membekukan semua yang ada disekitar kemudian menghancurkannya.
Saat keluar, semua orang berlari ke arahnya sambil memasang raut wajah cemas.
"Arya! Tanganmu?!" mata Selena melebar.
Kedua tangannya telah remuk, kulitnya terkelupas dan mengeluarkan banyak darah. Mereka bahkan bisa melihat sekilas sesuatu berwarna putih yang bisa dipastikan adalah tulang.
"Ayo cepat! Kita harus segera membawanya menemui Allucia" Kevin sigap membantu.
Wajah Arya kosong tanpa ekspresi, ia tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Dikejauhan Astral dan Liquite memperhatikan dengan seksama.
"Gila, kau lihat itu Gio? Dia menghancurkan tempat itu hanya dengan tangan kosong, tanpa Agnet" Liquite bersiul kagum.
"Dia melukai dirinya sendiri"
"Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukanya jika sampai tau, masih ada seorang Artificial Elementalist lain diluar sana"
"Belum saatnya, Ben aku ingin kau mengubungi Dragon Island"
"Dragon Island?"
"Yaa, beritahukan kalau Ujian Elementalist Keempat segera dimulai. Giliran mereka telah tiba" Astral tidak melespaskan pandangan dari para Elementalist yang semakin menjauh.
------<<>>------
Di tempat lain, pada sebuah pusat perbelanjaan. Terlihat seorang gadis sedang memilih – milih pakaian, ia begitu menikmati kegiatannya. Saat melewati salah satu cermin, diapun berhenti.
Gadis itu menatap pantulan dirinya dengan serius, tanganya mengelus pelan cermin tersebut sambil tersenyum lebar. Kilatan cahaya muncul seklias menghiasi pupil matanya yang berwarna merah muda.
"Waktu kita untuk bertemu tinggal sebentar lagi, tunggu aku ya. Onii-chan hihihi"
__ADS_1
-Third Test Arc Elementalist Status : Finished-