Elementalist

Elementalist
Chapter 144 - Tanpa Tipe


__ADS_3

Waktu pemeriksaan jenis Agnetpun tiba, setelah masing – masing menyentuh bola pendeteksi. Asuna, Kevin, dan Selena masuk ke tipe Manipulation. Lalu Timothy, Lexa, bersama Ali adalah Strenghthening.


Sementara Zayn juga Elizabeth ternyata memiliki Agnet Creation, terakhir Rena menjadi satu – satunnta Elementalist yang mempunyai Agnet Stimulation. Di sini tidak berarti mereka tak mampu memanfaatkan kemampuan Agnet tipe lain.


Hanya saja jenis Agnet pribadi jauh lebih mudah dan efektif digunakan, misalkan Kevin menggunakan Agnet Strengthening ketika bertarung. Kekuatan tersebut tak sebanding dengan milik Lexa, Timothy, maupun Ali yang memang Agnetnya berdasar pada tipe itu.


Hal ini berlaku kepada semua orang, kecuali untuk jenis Specialist. Anehnya ketika Arya mencoba mendeteksi tipe Agnet. Tidak terjadi apapun pada bola bening tadi, si alat berbentuk bulat cuma diam tanpa bergeming walau Arya sudah mengalirkan Agnet ke dalamnya.


“Aneh....rusak ya?” komentar Timothy dari dekat, ia penasaran tentang tipe milik Arya. Bukan hanya dia sebenarnya, yang lain juga telah mengelilingi sang Elementalist Es.


“Biar saya lihat” Pengawas Bianchi menjulurkan tangan.


Bola pendeteksi seketika berubah keras bak besi, membuat ekspresi para penonton semakin kebingungan. Astral mendekat lalu megambil benda tersebut.


“Benda ini baik – baik saja”


“Lalu? Apa caraku salah melakukannya Pengawas?” tanya Arya memiringkan kepala.


“Bukan begitu, tapi....mungkin Agnet Tuan Arya memang tidak memiliki keunikan khusus”


“Eh?”


Kasus seperti Arya baru pertama kali terjadi, setau para Pengawas. Semua pengguna Agnet pasti punya tipe atau keunggulan dalam bidang tertentu, namun menemukan orang yang tidak mendapat respon dari bola pendeteksi merupakan suatu hal janggal.


“Saya sempat mengira kalau anda akan bertipe Specialist, sama dengan Nyonya Lyan. Tapi ternyata tidak”


“YES!”


Teriakan senang itu membuat semua menoleh, Timothy sedang meloncat girang sambil mengacungkan tangan ke langit – langit. Mereka memang tau kalau bocah ini agak miring, tetapi ia sekarang nampak jauh lebih tidak terkontrol lagi.


“Kau kenapa? Kesurupan?” Elizabeth mendengus kesal.


“Akhirnya aku bisa mengalahkan Kapten walau hanya satu bidang! Woohoo!!!”


“Ahh....selamat ya” ujar Arya terkikik geli.


Dia tidak terlalu memperdulikan masalah tersebut, karena menurutnya tanpa mengetahui tipe Agnet sekalipun ia masih dapat bertarung. Dan hal ini juga menyebabkan dirinya bebas ketika pelajaran pengendalian Agnet tahap lanjutan dilaksanakan.


Sementara bersebrangan dengan sikap acuh tak acuh Arya, para Pengawas Ujian berdiskusi hangat mengenai kejadian tadi. Penjelasan Astral memang masuk akal, tetapi sangat mustahil orang seberbakat Arya tak memiliki tipe Agnet.


“Hei Gio? Kau sungguh yakin?” Allucia melirik ragu.


“Hah....akupun tidak tau, yang jelas ada dua kemungkinan. Pertama, Agnet miliknya sangat murni hingga seimbang. Atau, teknologi kita memang belum mampu mendeteksi tipe Agnet Tuan Arya”


Pernah ada informasi muncul mengenai jenis Agnet diluar keenam tipe biasa, namun hal ini masih memicu perdebatan banyak pihak akibat tak adanya bukti nyata dan konkrit terhadap kabar burung tersebut.


------><------


TRIRIRIRINGG!!! TRIRIRINGG!!!! TRIRIRIRINGG! BUAKH!


Asuna bangun terburu – buru, mematikan alarm jam miliknya dan langsung melesat memebersihkan diri. Kurang dari sepuluh menit, dia sudah mengenakan pakaian rapi kemudian bersiap keluar kamar. Ketika membuka pintu, terdengar empat suara derit lain bersamaan.

__ADS_1


Kelima gadis Elementalist itu saling pandang curiga, sepertinya mereka punya rencana sama pada benak masing – masing. Sembari tersenyum canggung, Selena berusaha memulai tegur sapa diantara wanita - wanita ini.


“E..eh...? Kebetulan sekali ya? Ahahaha, kenapa kalian keluar sepagi ini?”


“Kau sendiri?” Elizabeth balik bertanya.


“Aku? T..ti..tidak ada! C...cu...cuma mau melihat suasana sekitar saja”


Keheningan menyelimuti mereka, semua saling memperhatikan gerak – gerik anak perempuan lainnya. Tak ingin lengah sedikitpun, tepat lima menit setelah bertemu. Lexa menghentakkan kaki kemudian berlari kencang.


“Siapa cepat dia dapat!”


“Tak akan kubiarkan!”


GEDEBUK! GEDEBAK! GUBRAK!


Suara bising dari Asrama Putri memecahkan kesunyian pag hari itu, begitu saling menjegal juga menghalangi satu sama lain. Elizabeth menjadi orang pertama yang keluar lalu berangkat ke Asrama disebelahnya.


Jika masalah kecepatan, ia percaya diri tidak mungkin kalah oleh siapapun diantara mereka. Baru saja mencapai tangga, Elizabeth menabrak seseorang. Sehingga memunculkan suara seperti anak kucing yang ekornya terinjak.


“Nashumi? Apa – apaan?”


“Elizabeth? A..ak..aku ingin mengantar sesuatu!” si gadis bertelinga kucing membela diri.


“Kau juga di sini Nashumi?” Kizuna tiba – tiba datang entah dari mana.


“Permisi!” seru Callista melompati kerumunan tersebut.


Pergolakan kembali sengit sesampainya di Asrama Putra. Semua ingin menjadi yang pertama masuk ke dalam salah satu pintu, akibat saling dorong serta berdesak – desakan. Mau tak mau pintu kamar itu harus rubuh karena tidak kuat menahan jumlah beban.


“WAA!!! Ohh ternyata kalian, mengejutkanku saja”


“Eh? KENAPA MALAH KAU DASAR BESI KARATAN!!!”


“HIYY!?”


Timothy sedang mengangkat beberapa barang, ketika pintu terbuka. Dia hampir menjatuhkan semuanya dan dipastikan dibunuh oleh Arya kalau sampai terjadi. Para gadis kompetitif itu langsung gencar melayangkan pertanyaan.


“Di mana Arya!? Ini bukan kamarmu kan?” Alalea menunjuk wajahnya gusar.


“B..be..benar, aku hanya ingin meminta parfum Kapten untuk Valentine! Dia menyuruhku mencarinya sendiri jadi—“


“CEPAT KATAKAN!”


“B...ba...baik! Dia bilang mau pergi ke permukaan melakukan lari pagi!”


WUSH! SYUNG! SYUNG!


“Hei!? Kalian membuat berantakan kamar ini! Setidaknya bantu aku merapikannya sebelum—ahh sudahlah! Aku harus cepat agar tak terkena amukan Kapten!”


Alalea keluar sebagai juara setelah berhasil menjadi gadis pertama yang tiba di ECP, dia berkeliling mencari keberadaaan si pria berambut putih. Frustrasi sebab tidak mendapat progres, ia memutuskan bertanya pada dua pasangan lansia.

__ADS_1


“Ahh....nona manis, apa yang bisa kami bantu?” sapa nenek itu lembut.


“Permisi maaf mengganggu, apa kalian melihat....”


Begitu selesai menjelaskan ciri – ciri Arya, keduanya ternyata mengenalinya. Mereka bilang kalau Arya pernah membantu pasangan itu menyebrang jalan kemari, kemudian berlari sekitar sepuluh putaran di taman. Dan terakhir berpamitan untuk pulang.


“Ah! Terima kasih!”


WUSH!


“A....Ar...Arya?...hah....hah....” Asuna kali ini menggapai kediaman Pak Hartoso lebih cepat dari yang lain.


“Hmm? Kenapa kalian pagi – pagi kemari mencari kakakku?” gumam Reika tak mengerti masih dengan sikat gigi menghiasi mulutnya.


“Ke mana perginya dia?”


“Kok bertanya padaku? Bukannya kalian rekan kerja Kak Arya? Ia baru saja kembali ke Pusat Penelitian setelah sarapan di sini”


WUSH!


Sepanjang hari terus berlalu begitu, mereka semua mengikuti jejak Arya ke sana kemari namun mengalami kegagalan beruntun. Lalu akhirnya baru berhasil bertemu ketika pria tersebut duduk di kantin saat jam makan malam.



“Pertama!”


BRUAK! BRUAK! BRUAK!


“Mmm? Apa ini?” tanya Arya kebingungan melihat tumpukan bungkusan dihadapannya.


Kejadian itu mencuri perhatian semua orang di kantin, para gadis masih dengan napas terengah – engah menunggu respon dari Arya setelah menerima hadiah mereka.


“Cokelat?”


“Hei hei hei? Berani sekali kalian membuang sampah di meja makan” Kevin bersama Elementalist laki – laki ikut berkumpul.


“JAGA MULUTMU! ENAK SAJA BILANG SAMPAH!” bentak mereka berbarengan.


“HIYY!?”


“Kenapa kalian memberiku cokelat?” Arya masih belum mengerti.



“S..se...selamat hari Val—“


“Ahh....aku paham sekarang, Kapten....” Timothy mendekat lalu membisikan sesuatu pada Arya.


“Ohh....begitu rupanya, teman – teman terima kasih. Tapi....sepertinya kalian terlalu cepat”


“Eh?”

__ADS_1


“Ini tanggal 7 Februari, Valentine masih satu minggu lagi. Ahahaha....harusnya kalian LEBIH memperhatikan kalender” gumam Arya tertawa canggung sambil memperlihatkan telepon selulernya.


GUBRAK!


__ADS_2