
Author Note : (PENTING!)
(Wajib mendengarkan reff/chorus lagu Shinzou Wo Sasageyou dibagian akhir cerita biar dapet feelnya). Chapter ini dibuat untuk menghormati karya luar biasa Hajime Isayama yaitu Attack on Titan/Shingeki no Kyojin yg tamat sebenenya beberapa bulan yang lalu. Walaupun terlepas dari pro dan kontra endingnya (termasuk saya pribadi gk suka sama endingnya sebenarnya tapi ya sudahlah). Kenapa patut dihormati? Karena pada dasarnya banyak hal dari cerita ini terinspirasi dari karya beliau. Jadi begitulah....enjoy!
Hanya dalam beberapa langkah lusinan Titan memperpendek jarak mereka dengan pintu tembok perunggu usai sang ketua melemparkan bongkahan tanah berukuran jumbo sebelumnya, para anggota Fatum yang masih tersisa dekat lokasi buru – buru menjaga jarak agar tidak gepeng terinjak.
Pemandangan menakjubkan terjadi saat barisan raksasa tersebut membentuk formasi berbentuk kepala anak panah sembari berlari menuju target yaitu gerbang masuk, suara gemuruh hentakan kaki menyebabkan tanah di sana bergetar hebat seakan tengah dilanda gempa bumi.
Layaknya pemain american football masing – masing menerjang siap mendobrak dan menciptakan celah untuk pasukan yang sudah mengikuti mereka, anggota – anggota berkemampuan terbang perlahan menyusul hendak melintasi bagian atas dinding itu.
BANG! BANG! BANG!
Suara keras benturan terhadap besi memenuhi udara ketika satu per satu Titan melesakan tubuhnya ke sana, tepat sewaktu sosok ketiga puluh tiba. Pintu tembok terluar Elemental City tak kuasa lagi menahannya lalu terhempas jauh menyisakan lubang cukup besar pada lokasinya semula.
Teriakan perang penuh semangat kembali bergema atas keberhasilan tersebut, gerombolan udara juga mulai berhasil menyelinap berkat efek Grierugon dan Amgog yang memakan hampir semua serangan awal pihak Pax demi menahan serangan para Fatum dari puncak tembok.
Meskipun tak sedikit nyawa melayang akibat usaha tadi, mereka pikir hasilnya cukup setimpal. Setiap petinggi kali ini ikut serta sehingga membuat antusiasme pasukan tinggi, apalagi ditambah prajurit – prajurit Elf baru pimpinan Regulus seolah meningkatkan jauh daya gedor mereka.
“Berhenti....” perintah Orion tepat sebelum individu – individu berposisi tinggi memasuki kota.
SRAAT...!!!
Dia menancapkan pedang ke tanah kemudian mengayunkanya sekali terus menciptakan garis panjang yang memaksa semuanya menahan langkah masing – masing, Orion mengabaikan pandangan sinis kepada dirinya dengan tanpa rasa bersalah kemudian berjongkok sembari meraba – raba.
“Hey brengsek!? Apa masalahmu!?” Moona menghardik penuh amarah.
“Orion....jika sekali lagi kau—“
“Tidak Yang Mulia....ada suatu hal janggal di sini.....”
“Maksudmu?” tanya Merlin mengangkat sebelah alisnya.
“Ckk!? Hubungi pasukan kalian!? Ini—“
BRUAKH!? SRRRTT!? ARRGHHH....!!!
Namun belum sempat Orion menyelesaikan kalimatnya, bunyi keras sampai ke telinga mereka diikuti oleh erangan kesakitan, pijakan berdiri tiap orang juga tiba – tiba menjadi tidak stabil dan membuat semuanya mengambil sikap waspada. Louis menggemertakan giginya sebelum menatap menuju sumber kegaduhan dengan mata berkilat sambil mendesis pelan, “Jebakan....”.
------><------
Hampir lima puluh persen daratan Distrik Perunggu ambruk ke dalam lubang rakasa sedalam seratus meter hingga sukses mengagetkan pasukan Fatum, gerombolan Titan sebagai lini depan bersama banyak pasukan gagal menghindar lalu terperosok jatuh.
Beruntung berkat ukuran tubuh luar biasa kebanyakan raksasa berhasil selamat, tetapi sayang anggota lain yang kurang beruntung harus rela jatuh kemudian badan mereka tertusuk beragam benda tajam di dasar.
__ADS_1
Ada korban langsung tewas seketika juga mendapat luka serius, kebanyakan diantara mereka adalah Demon serta Werebeast. Sementara segelintir Witch kurang berpengalaman mengalami hal serupa, sedangkan tidak seorangpun dari ras Elf gagal menyelamatkan diri.
Pasukan udara Fatum menoleh penasaran akibat kejadian barusan, namun saat otak masing – masing masih berusaha mencerna situasi. Tubuh orang – orang terdepan terdiam kemudian bergetar hebat dan menghitam.
Ternyata jaring listrik lebar bertegangan tinggi telah dibentangkan hingga tepi paling ujung parit buatan sebelumnya, sisa – sisa anggota yang cepat sadar segera mengehtinkan lajunya lalu mencoba untuk mundur.
“SEKARANG!”
Mendengar aba – aba Kinichi tanpa menunggu lama ratusan sihir, anak panah, peluru, juga serangan Agnet dilepaskan serempak. Mengincar para musuh terluka nan panik, beberapa sukses lolos mengenai target tapi tak berselang lama semuanya lenyap dilahap pelindung sihir luar biasa luas.
Raut wajah dingin nampak dibalik payung jingga milik Merlin saat dia perlahan melayang menuju barisan terdepan bersedia menangkis apapun jika kejadian seperti tadi terjadi lagi, dalam sekejap mata Kris bersama Louis muncul terus mengayunkan senjata keduanya hingga merobek seluruh jaring listrik sampai tidak berbekas.
Terakhir Garyu ditemani Regulus tiba dihadapan pintu masuk ke Distrik Perak dengan mulus, mereka menempelkan tangan pada benda tersebut sebelum mengalirkan Agnet kuat. Bunyi sesuatu terlepas dari engselnya terdengar, perlahan kelima pemimpin ras barusan melewati lubang terbaru sambil memasang ekspresi serius.
------><------
“Kenapa kalian berhenti menembak?!” seru Kinichi tak percaya.
“K...ka...kami tidak tau! Kekuatan sihir kami menghilang!”
“Mereka punya alat aneh untuk menetralkan sihir, kupikir ada beberapa terpasang di penjuru kota saat kericuhan sebelumnya terjadi....” Arya menjelaskan.
“Kerja bagus, maaf pernah menghinamu dulu....”
Rake mendengkur saat Arya mengelusnya dipelukan Lexa, Elemental Beast tersebut mempunyai peran penting sebagai pembuat parit dari rencana Kinichi. Dia sukses memanfaatkan waktu singkat tuk menyelesaikan semuanya tanpa bekas.
“Ugh....harusnya kita bisa mengurangi lebih banyak lagi....” ujar Kinichi penuh sesal.
“Tenanglah, usahamu sudah cukup baik....”
“Tapi setelah semua yang Tuan lakukan untuk mengulur waktu....dan sekarang pasti para Shaman sedang mengobati pasukan – pasukan terluka....”
“Ya....setidaknya mereka butuh menarik napas sebentar demi memulihkan diri sebelum menyerang, jangan terlalu keras pada dirimu....mari manfaatkan kesempatan ini agar rekan – rekan kita mampu memakai sihir kembali. Lagi pula dari awal sepertinya Distrik Perak memang sudah ditakdirkan menjadi medan perang” Arya menghela napas lalu menatap kosong hamparan kota dihadapannya.
------><------
Entah bagaimana dalam satu jam berkat kecekatan juga kerja keras tim Namme seluruh Antimage Seal berhasil dihancurkan, semua berkumpul di atas dinding Emas menunggu perintah untuk maju. Arya merapikan pakaiannya sewaktu Nashumi datang memberikan sesuatu.
“Apa ini?”
“Alat komunikasi....cepat kenakan”
__ADS_1
Arya terlihat ragu sesaat tetapi pada akhirnya memasangnya, nampak tiap orang disitu juga kebagian. Beberapa detik kemudian suara familiar terdengar melalui benda barusan, ternyata Kinichi, Shirone, Midori, dan Pinka menyapa mereka.
“Halo! Tim operator dan koordinator siap melayani....!”
“Kalian bersemangat sekali, kalau Midori sih aku paham sebab kemampuan pendengarannya bagus. Sedangkan kalian bertiga mau memonitor lewat apa?”
“Ehh....lihatlah sekelilingmu Tuan....”
Arya baru saja hendak menanyakan maksudnya saat ratusan Drone bersenjata terbang di atas kepalanya, semuanya telah disertai kamera sehingga dapat mengawasi segala sesuatu ketika pertempuran nanti pecah juga membantu walaupun sepertinya tidak terlalu signifikan untuk bertempur.
“Kau membuat semua ini?”
“Bagaimana? Hehehe aku hebat bukan?” balas Nashumi menggosok – gosok hidungnya bangga.
“Iya, kau luar biasa. Masalah penyebaran informasi sepertinya terselesaikan.....”
Dia berjalan menuju pinggir dinding Emas, menatap pasukan lawan diujung lainnya dalam diam. Arya menarik keluar tongkat sihirnya dan memegang Mandalika di tangan yang satu lagi, tubuhnya bergidik pelan namun langsung berhenti begitu sentuhan lembut menepuk pundaknya.
“Tenanglah Tuan, sekarang kami akan menemani kalian....” Astral muncul disebelahnya ditemani para Pengawas Ujian tersisa.
Mereka telah berganti mengenakan perlengkapan perang, setiap pengawas merangkul anak didiknya masing – masing demi menurunkan rasa tegang. Arya sebenarnya cukup penasaran melihat cara kesepuluh orang itu bertarung secara langsung.
“Ada yang ingin kami sampaikan ketika semua ini berakhir, jadi pastikan kalian menyempatkan diri ya....”
“Tentu Pengawas....”
“Ayo....”
“SEMUANYAAAA....!!!” teriakan tiba – tiba Arya mengagetkan beberapa orang.
“Kapten?” keempat Elementalist laki – laiki menatapnya bingung.
“PERSEMBAHKAN JIWA DAN RAGA KALIAAANNN....!!!”
“SASAGEYO....!!! SASAGEYO....!!! SHINZOU WO SASAGEYOU....!!!” Ryan langsung bernyanyi keras sambil menempelkan tangan ke dada.
Awalnya hanya Asuna, Pengwas Rea, anggota Yakuza Tenka Goken, dan orang – orang yang mengerti saja mengikuti tindakan bocah itu. Tetapi lama kelamaan akibat semangat menggebu – gebu Ryan semuapun melakukan hal sama sebelum meluncur turun melalui seluncuran es raksasa buatan Arya.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1