Elementalist

Elementalist
Chapter 208 - Uluran Tangan


__ADS_3

Usai memindahkan data titik teleportasi dari alat sebelumnya, Arya segera mengenakan perlengkapan yang sudah dengan sengaja dibawanya waktu hendak berangkat mencari Reika. Dia memang tidak punya niatan kembali menuju Pusat Penelitian.


Ketika akhirnya siap, Arya bergerak menuju perbatasan dimana tembok terluar Distrik Perunggu telah menanti. Biasanya para Elementalist akan mudah keluar masuk sebab mendapatkan izin khusus pemberian Pemerintahan.


Namun sekrang Arya dapat dibilang sebagai seorang pemberontak karena ingin menerobos tanpa ada surat keterangan sehingga ia memasuki kantor penjaga gerbang terus menempelkan bilah Mandalika dileher sesosok pria paruh baya, si petugas kaget bukan main menyadari besi dingin nan tajam menyentuh kulitnya.


“Bukakan Door Mouse selama lima detik atau bersiap menerima akibatnya....”


Bisikan penuh ancaman Arya membuatnya tak punya pilihan selain menurut, Door Mouse merupakan pintu – pintu kecil yang menghiasi setiap tembok pembatas Distrik di Elemental City. Biasanya hanya digunakan untuk melakukan patroli keamanan serta pemeriksaan kondisi secara rutin.


Begitu celah sempit tersebut terlihat Arya melesat kemudian sukses melewatinya, meninggalkan laki – laki barusan terikat pada kursi miliknya. Arya berdiri dekat tepian pulau melayang letak ras Manusia bertahan hidup, matanya menatap kegelapan malam yang menghiasi permukaan daratan dibawah.


“Hahhh.....”


WUSH!!!


Selesai menarik napas panjang, Arya melangkahkan kakinya ke udara kosong. Dalam hitungan detik badanya terjatuh sangat cepat efek tarikan gravitasi, perlahan posisi jatuhnya berubah menjadikan kepalanya melaju lebih dahulu.


Sembari terpejam Arya menikmati hembusan angin malam yang menyapu wajahnya, sensasi dingin ini terasa nyaman. Kalau bisa dia tidak mau perasaan itu berakhir, saat jaraknya tinggal sepuluh meter dari tanah kelopak matanya terbuka sekali lagi.


“Safira?”


Seekor naga biru berukuran sedang muncul begitu saja menyambar sang pemuda, Arya mendarat mulus menggunakan kakinya pada punggung bersisik kadal penyembur api tadi. Safira segera bertranformasi sesudah mendengar panggilan Arya, mereka perlahan terbang menjauhi pulau melayang tempat Elemental City berdiri kokoh.


Sebuah lokasi yang dapat dikategorikan sebagai kota teraman di dunia, garis pertahanan terakhir umat Manusia. Hebatnya lagi faktanya EC belum pernah sekalipun disentuh oleh musuh sejak didirikan, Safira menurunkan Arya waktu Elemental City tidak nampak lagi lalu kembali menjadi kalung melingkari leher tuannya.


“Aku tau kau pasti muncul....”


SRAK!


Langkah Arya terhenti, ia perlahan mengadahkan kepala menuju sumber suara tadi berasal. Ada orang lain disana, berdiri diantara rindangnya pepohonan. Sosok misterius tersebut turun dari atas dahan kemudian mendekat, penampilannya makin jelas disebabkan penerangan cahaya bulan.


“Zayn?”


------><------


“Kenapa kau bisa berada disini? Ingin menghentikanku?”


SRANG!


Tanpa basa basi Arya langsung menodongkan Mandalika tepat ke arah leher si Elementalist Kegelapan, dia tak perduli harus bertarung melawannya. Satu – satunya isi kepalanya sekarang adalan mengambil kembali Reika.

__ADS_1


Wajah Zayn berubah serius, ia kemudian menggeleng sebelum mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Arya menaikan sebelah alis penasaran, bimbang harus berbuat apa. Namun saat Zayn mencoba melangkah, ujung pedang Arya tiba – tiba cuma berjarak lima senti dari lehernya.


“Kapten ayolah....” pinta Zayn bingung.


“Kau belum menjawab pertanyaanku....” Arya bersikeras.


“Hahhh....baiklah – baiklah, aku kemari bukan untuk menghalangimu Kapten. Melainkan membantumu mencari Reika....”


“Apa alasanmu melakukannya?”


“Aku dimintai tolong”


“Oleh?”


“Asuna....”


Zayn menghela napas panjang sembari menggaruk – garuk kepalanya terus menjelaskan bagaimana kejadian Asuna bertemu dengannya tepat setelah momen bersitegang Arya bersama para Pengawas Ujian, usai Arya meninggalkan lokasi. Keduanya bertemu lalu Asuna menceritakan semuanya dan memohon agar Zayn ikut memberikan uluran tangan kepadanya.


“Ckk...!? Gadis itu selalu keras kepala....” gumam Arya berdecak meskipun tidak terdengar kesal.


“Jadi?”


“Bagaimana caramu tau aku disini?”


CTAK!


Jentikan jari Zayn disusul gerakan gesit sesuatu kehitaman dari bawah kaki Arya, makhluk tersebut seperti keluar begitu saja melalui bayangan Arya kemudian hinggap pada pundak Zayn. Seekor gagak betina bercorak biru terang balik menatap Arya.


“Ahhh pintar sekali....”


“Aku telah menunggu di luar Elemental City berjam – jam sebab menduga Kapten pasti mengejar penculik adikmu entah kemana....soalnya aku juga tak memiliki petunjuk apapun” Zayn bercerita.


“Kau yakin mau ikut?”


“Tentu....”


“Ini bisa berbahaya, aku punya firasat akan membuka kedok Pemerintahan ras Manusia. Mengapa mereka menciptakan Artificial Elementalist dan masih banyak lagi rahasia lainnya” tanya Arya memastikan.


“Kapten? Aku berhutang banyak padamu, izinkan aku membalasnya sedikit....” Zayn membantah mengingat Aryalah yang memberitahu soal wujud benda pencarian Veena, gurunya. Terus beberapa kali membantu saat dirinya benar – benar terpuruk.


“Pokoknya sudah aku peringatkan lho, jangan sampai menyesal.....”

__ADS_1


“Iya!”


Mereka berjabat tangan dan mulai bergerak, malam itu kelompok duet Elementalist terkuat tercipta demi menjalankan salah satu misi paling penting dalam sejarah dunia di masa mendatang.


------><------


SYUUIITTT.....


Arya bersiul sebagai cara bertukar informasi dengan kawannya, Zayn memberikan anggukan tanda mengerti dari atas dahan pohon disisi lain posisi Arya berada. Keduanya berhasil menemukan bangunan cukup besar tempat koordinat titik teleportasi yang ditemukan Arya sebelumnya.


Zayn cukup terkejut mendengar cerita Arya, nyatanya ada lokasi demikian tersembunyi pada hutan – hutan Distrik Perunggu. Arya menggerakan jarinya untuk memberikan aba – aba maju, keduanya menerobos masuk dengan punggung saling menempel satu sama lain. Tapi sayang cuma aula kosong menyambut mereka.


“Menurutmu ini....?”


“Entahlah, mari cari tau. Sebaiknya kita berpencar agar lebih efektif....”


Zayn setuju dan bergegas bergerak menuju lorong bagian kanan, dia mendapat gambaran sedikit tentang tempat tersebut begitu memperhatikan sekeliling. Namun langkahnya terhenti sewaktu menemukan ruangan bersel layaknya penjara.


Perasaan Zayn campur aduk melihat ada sesosok orang berpakaian hitam nampak terduduk tanpa nyawa dibalik jeruji besi. Zayn berbalik hendak pergi, anehnya bunyi misterius memaksanya menoleh sekali lagi. Betapa kagetnya Zayn melihat kalau mayat tadi telah berada di tepi pembatas kemudian meraih lehernya.


Aura hitam menakutkan perlahan melahap wajahnya sehingga penampilannya berubah seperti monster hitam pemilik banyak mata berwarna merah darah, Zayn yang napasnya kian menipis segera mencabut senjata lalu memotong lengan makhluk barusan.


“ARRGHHH....!!!”


Suara gemuruh pertanda buruk memenuhi udara, Zayn mengumpat sadar kalau ini adalah jebakan. Sang sosok mengerikan masih menjerit kesakitan tetapi detik berikutnya benda mirip bayangan tadi juga melapisi bagian tangan hilang miliknya.



PRANG!


Satu terjangan kuat sukses merobohkan jeruji besi pengurungnya, Zayn tidak berdiam diri saja. Saat hampir digapai oleh musuh, badan Zayn menguap seperti asap. Ia muncul melalui langit – langit kemudian memenggal kepala monster itu hingga tidak berkutik kembali.



Zayn bergegas meninggalkan ruangan demi mencari Arya, tapi diluar ternyata Zayn disambut oleh kerumunan makhluk berjenis sama. Selesai berjuang keras, akhirnya dia berhasil menemukan keberadaan si Kapten.


Mulut Zayn menganga lebar menyaksikan puluhan sosok hitam tengah membantai makhluk – makhluk yang jadi lawannya barusan, Arya terlihat berdiri tanpa gangguan mengotak – otik semacam komputer di tengah ruangan.


“Kapten?” panggil Zayn menelan ludah berat, ia telah mendengar kisah kemampuan Necromancer Arya dari Ryan namun tidak menyangka sekuat itu.


“Aaa? Nampaknya ini merupakan salah satu laboratorium rahasia, seluruh arsipnya sudah dihapus....” Arya menyahut pelan terus menoleh.

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2