Elementalist

Elementalist
Chapter 105 - Asal Bicara


__ADS_3

Hari keberangkatan untuk menjalankan misipun tiba, semuanya sedang melakukan pengecekan ulang terhadap barang bawaan masing – masing. Persiapan yang dilakukan harus matang karena para Elementalist akan pergi ke Zoonatia melalui jalur darat atau manual.


Hal ini disebabkan tidak adanya akses Elemental City sehingga membuka portal pada Wilayah Werebeast mustahil dilakukan. Oleh sebab itu Arya dan kawan – kawanlah yang mempunyai tugas memberikan koordinat sesudah sampai agar mereka semua bisa pulang.


Beserta Werebeast anggota Pax lainnya. Demi meminimalisir keributan saat berada disana, semuanya meminta alat penyamaran dari Divisi Sihir. Arya sudah memiliki perlengkapan tersebut ketika pergi ke Dark Side jadi tidak meminta yang baru.


Penampilan antara Werewolf dan Werebeast tak terlalu berbeda jauh pikirnya, selama seminggu terakhir mereka melakukan latihan juga pengarahan taktik – taktik agar bisa mengatasi hal – hal yang tidak diinginkan.


Arya meminta semuanya dapat berkomunikasi tanpa perlu bersusah payah, salah satunya dengan menggunakan sinyal asap. Wicth di Pusat Penelitian berkerja cepat begitu permintaan diajukan oleh dirinya.


Penembak sinyal ini dapat mengeluarkan tiga warna berbeda, hijau berarti semuanya aman. Kuning ada sesuatu, kemudian merah yang artinya lari atau jauhi tempat itu sekarang juga bagaimanapun caranya.


Saat Arya menjelaskan, tidak ada satupun diantara para Elementalist berharap akan pernah menembakan serta melihat asap merah. Karena sama saja dengan mengisyaratkan untuk pergi dan jangan pernah menoleh ataupun berpikir menyelamatkan sang pengirim pesan.


Alalea juga Callista masih terus berusaha merecoki Arya selama seminggu terakhir, namun tetap tidak membuahkan hasil. Hal tersebut membuat keduanya frustrasi, Arya mengencangkan seluruh perlengkapan bawaanya kemudian meminta yang lain berkumpul.


“Baiklah, apa semuanya sudah siap?”


“Ya!”


“Tuan Arya....” panggil Astral pelan, terlihat sedikit keraguan diwajahnya.


“Hmm? Tenang saja Pengawas, akan kubawa semuanya kembali dengan selamat” Arya memukul dadanya sendiri sambil tersenyum menenangkan.


Setelah melihat itu, Astral menarik napas dalam – dalam lalu menegaskan sekali lagi kemana mereka harus pergi begitu keluar dari Elemental City. Zoonatia berada di arah Timur dari lokasi kota saat ini, wilayahnya dikelilingi oleh hutan kuno.


Berbeda dengan Fairy Forest yang dihuni oleh berbagai macam makhluk berwujud peri seperti namanya. Hieratic Ring Forest, begitulah dunia mengenal tempat tersebut. Diisi banyak makhluk – makhluk buas berbagai ukuran juga puluhan ribu Imaginary Animals.



Hutan ini berbentuk cincin mengitari wilayah tempat tinggal para Werebeast, selain dimanfaatkan sebagai pelindung alami. Hieratic Ring Forest juga menjadi lokasi latihan serta berburu Werebeast dari generasi ke generasi.


Saat yang lain mendengarkan penjelasan Astral, Alalea memanggil Asuna untuk berbicara empat mata. Raut wajah serius sang Putri Elf membuat si Elementalist Api bertanya – tanya ada apa gerangan?.


“Ada perlu apa tiba – tiba?”


“Asuna....tolong jaga Arya untukku pada perjalanan kali ini” kata Alalea segera.


“Hah? Apa aku tidak salah dengar? Dia pasti bisa menjaga dirinya, kau tentu tau itu bukan?” Asuna mengangkat sebelah alis tidak mengerti.


“Huumm....tentu....tapi entah kenapa firasatku buruk, aku tak tau harus bagaimana lagi. Kumohon, berjanjilah padaku kau akan memastikannya kembali bagaimanapun caranya”


Asuna memandang mata biru Alalea dalam – dalam, setelah diam untuk sesaat ia akhirnya berkata “Kenapa kau cuma meminta padaku saja? Apa yang lain juga tau?”


“Tidak, jika aku memberitahukan kepada kalian semua. Arya pasti menyadari ada sesuatu yang aneh, oleh sebab itu....” gumam Alalea pelan sambil menggelengkan kepala.


“Baiklah cukup sudah, akan kuusahakan. Tapi ingat, ini bukan demi dirimu. Aku melakukannya untuk diriku sendiri” tegas Asuna sebelum melenggak pergi.


“Terima kasih”

__ADS_1


------><------


“Berangkat!”


“Wohoo...!!!”


Langsung saja mereka bersepuluh melompat meninggalkan Elemental City satu per satu, Arya merupakan orang yang terakhir menyusul. Dia menoleh untuk terakhir kali dan bersiap melambai sebelum tiba – tiba dua gadis disana bergerak cepat menangkap tangannya.


“Hati – hati”


“Pulanglah dengan selamat”


Much....


“Eh?....Woaa...!??”


Tepat setelah ciuman selamat tinggal Alalea dan Callista mendarat dikedua pipinya, Arya terpeleset kemudian menghilang dari pandangan. Masing – masing pelaku menatap satu sama lain dengan sinis.


“Putri Alalea? Apa – apaan itu tadi? Tidak bisakkah kau membiarkan aku mengucapkan selamat jalan pada Servant ku?”


“Hah? Akulah yang harusnya bertanya, kau ingin menantangku berkelahi ya? Berani sekali kau menyentuh tunanganku”


“Ugh.....!!!”


“K..ka..kalian berdua....mohon tenanglah” Eridan berusaha menengahi namun semakin terlihat mengkerut ditengah aura meluap – luap kedua gadis tersebut.


“Gio? Kau mungkin orang yang paling tau sehebat apa kemampuan Tuan Arya. Mari tenangkan pikiranmu dan menunggu, mereka pasti kembali” bisik Bianchi lembut.


“Huum, kau benar. Guruku juga orang yang hebat, tetapi....beliau tidak pernah kembali”


------><------


“WOAAA....!!!???”


SREK SREK GEDEBUK!.


“Sa....kit!” erang Arya menggosok – gosok bagian belakang kepalanya.


Untung saja terdapat beberapa ranting pohon rimbun yang menghambat lajunya, sehingga walaupun terjatuh dari lokasi cukup tinggi. K


Kondisi Dia tidak mendapat luka parah ataupun serius, ketika rasa nyeri masih menyelimutinya. Para Elementalist lain mulai berkumpul disekitar.


“Apa yang sedang kau lakukan?” Selena menatapnya heran.


“Kapten....aku tau kau ingin mencuri perhatian tapi....bukan begitu caranya” kata Timothy tersenyum penuh makna.


“Perhatian dengkulmu! Aku terpeleset ketika masih di atas” Arya membalas kesal.


“Hah? Kok bisa?” tanya Elizabeth memiringkan kepala.

__ADS_1


“Itu karena....e....t...ti...tikus?”


“Hm? Kenapa wajahmu tiba – tiba memerah?” Asuna mendelik curiga.


“Ahahaha tidak ada, mari kita lupakan saja. Waktunya berangkat....!!!”


“Pengalih perhatian yang sangat jelas” komentar Rena.


“Hehehe Arya, kalau kau ingin melakukan Bungee Jumping, harusnya kau mengajakku juga dasar pelit” Lexa mendekat sambil mencolek – colek tubuh Arya dengan jahil.


“Bungee Jumping!? Gunakan sedikit kepalamu dasar berisik!” geram Arya sebelum mensentil kepala gadis tersebut cukup keras.


CTAK!


“Aw!??”


Mereka bersepuluh mulai bergerak cepat dalam kelompok, orang – orang biasa mungkin hanya bisa melihat sekelebatan beberapa bayangan hitam yang bergerak dari pohon ke pohon. Terdapat sekian halangan maupun rintangan ketika itu.


Seperti berpapasan dengan kelompok ras lain maupun bertemu makhluk – makhluk mengerikan nan berbahaya. Namun semuanya berhasil dihadapi tanpa masalah berarti, lalu akhirnya kurang dari tiga hari. Para Elementalist tiba di perbatasan Hieratic Ring Forest.


“Akhirnya sampai juga! Inikah HRF itu? Tinggi sekali....” Lexa mendongak dengan mulut melongo.



“Jangan asal menyingkat nama tempat” tegur Arya menarik rambut cokelatnya.


“Aw aw aw maaf....ha....jangan rambutku....” dia mulai merengek.


Arya benar – benar dibuat kewalahan oleh Lexa beberapa hari terakhir, tidak seperti yang lain. Dia sangat susah diatur, cuma ketika Arya sendiri turun tangan barulah ia mau menurut. Kebanyakan masalah muncul akibat dari si Elementalist Tanah pembuat onar satu ini.


‘Tapi sebutan itu sepertinya cocok, tidakkah Hieratic Ring Forest terlalu panjang menurut kalian?’ Ali berpendapat.


“Benarkan? Benar?!”


“Ali tolong jangan buat dia semakin menggila” Arya menghela napas.


“Tapi pohon – pohon disini benar - benar tinggi, mengingatkanku dengan yang ada di Dragon Island? Makhluk – makhluk seperti apakah penghuni tempat ini?” celetuk Kevin mengeryitkan dahi.


“Kita akan segera tau, bagaiamana Kapten?” Zayn menoleh.


“Sebaiknya kita lanjutkan besok, manfaatkan waktu saat ini untuk beristirahat semaksimal mungkin. Nanti malam akan kujelaskan tentang—“


ROARR....!!!


Suara tersebut membuat daratan ikut bergetar olehnya, mereka semua mematung sebelum saling memandang satu sama lain.


“Eee....Kapten? Suara tadi....” bisik Timothy ngeri.


“K..ko..kodok....mungkin”

__ADS_1


__ADS_2