Elementalist

Elementalist
Chapter 194 - Traitor


__ADS_3

“KURANG AJAR!”


BRUAK!


Shayu mematahkan tiang layar kapal raksasa hanya dengan sekali ayunan tangan, gemuruh terdengar ke segala penjuru. Balaeno yang berdiri di belakangnya menundukan kepala sembari mengepalkan tangan kuat – kuat.


Kedua Mythical Werebeast in sangat terkejut ketika melihat kondisi Wanio, lukanya teramat parah. Jika bukan karena serangan terakhir meleset akibat pelindung Agnet miliknya, bisa dipastikan akan menembus jantung si buaya.


Shayu memijit kening berusaha mencari jalan keluar, ia tidak pernah menyangka kalau Atlantos mendapat uluran tangan waktu perang juga. Apalagi dari laporan beberapa anak buah selamat, mereka tau persis siapa bala bantuan tersebut.


“Manusia....Elementalist....”


Akhirnya Faksi Laut memutuskan mengabarkan kejadian barusan kepada pihak Witch demi mendapatkan tambahan kekuatan, terlebih meriam sihir milik mereka berhasil dihancurkan Arya dan kawan – kawan.


Namun bukannya mendapat respon positif, pihak Magihavoc nampak menarik diri dengan alasan belum adanya perkembangan atas permintaan para penyihir menangkap putri sulung kerajaan Atlantos, yaitu Diondra.


Hal ini menyebabkan Shayu murka, masalah makin diperkeruh oleh gugurnya beberapa pasukan secara konyol akibat bersenggolan melawan Penghuni Laut Dalam. Monster – monster itu berusaha mengusir pengusik dari wilayah kekuasaanya.


“Balaeno tak ada pilihan lain.....sepertinya kita harus menggunakan rencana cadangan”


“Aku setuju Kakak Pertama....tapi sebaiknya menunggu kondisi Wanio membaik terlebih dahulu”


“Kau benar, lagi pula aku yakin pihak Atlantos mendapat syok berat jika berhasil”


“Targetnya?” Balaeno menyipitkan mata.


“Mari lihat....”


------><------


Arya tengah mengambang santai pada sudut kota Atlantos, sejak mendapat penolakan bertemu dari Diondra ia bingung harus melakukan apa. Terlebih dirinya sudah membagikan tugas secara merata kepada teman – temannya yang lain, jadi biasanya sehabis melakukan pemantauan sebentar Arya akan melakukan kegiatannya sekarang.



Kondisi air transparan sekitar sana membuat Arya terlihat seperti sedang melayang di udara dalam posisi berbaring. Dia memejamkan mati tetapi bukan tertidur, berusaha menenangkan hatinya agar selalu siap menghadapi apapun kedepannya.


Pembicaraan tentang Ratu sebelumnya, Myra dengan Neptune sedikit mengusik Arya. Ada semacam hal tidak asing mengenai ini namun entah mengapa dia selalu gagal mengingatnya, seolah muncul dinding tak terlihat menghalangi akal pikirannya.


“Kekuatan meledak – ledak....Tamatebako....sihir....keturunan....rahasia....menan—“


“Apa yang kau lakukan?”


“Ugh!? Waaa.....!!!”


Tiba – tiba Selena datang lalu menduduki perutnya sehingga tubuh Arya tenggelam layaknya kapal karam menuju dasar laut. Gadis tersebut terkekeh geli sementara Arya melayangkan protes atas perbuatanya barusan.

__ADS_1


“Responmu berlebihan! Memangnya aku seberat itu!?” Selena mendengus kesal.


“Hei!? Kenapa malah kau yang marah!”


“Huh!? Sudahlah....katakan saja mengapa kau melamun di sini?”


Arya kemudian menjelaskan beberapa kejadian terakhir sejak mereka berhasil memukul mundur pasukan Faksi Laut. Bagaimana perubahan sikap kedua putri terhadapnya, serta pembicaraan Arya bersama Neptune.


Selena mendengarkan baik – baik tanpa menyela sedikitpun, dia menatap Arya lekat – lekat hingga si Elementalist Es menyadari suatu hal aneh dari ekspresinya. Selena mengibaskan rambut birunya sambil menghela napas. “Aku heran kenapa kau selalu lambat dalam hal seperti ini....”.


“Heh? Maksudnya?”


“Kau sempat menghabiskan waktu bersama dengan penampilan sangat berbeda, tidakkah kau mengerti alasan Diondra dan Edlyn menjadi canggung?”


“Aku cuma mengenakan wig, apa masalahnya?” ujar Arya masih belum mengerti.


“Ish....kok aku malah jadi kesal ya meladenimu....pantas Asuna selalu tersulut api amarah.....”


“Itu karena dia memang Elementalist Api bukan?”


“Aku tau itu!!!”


Selena menegaskan jika Arya ingin hubungan antara ketiganya normal kembali ia harus bicara langsung ke mereka berdua. Walaupun sebenarnya sang Elementalist air mengetahui seluruh masalah secara detail berkat cerita Rena.


“Sekarang atau tidak sama sekali!” Selena menepuk punggungnya sebelum pergi.


Arya menarik napas dalam – dalam, lalu melesat berusaha mengejar putri bungsu kerajaan Atlantos. Dalam sepersekian detik Arya telah berdiri menghalangi jalan Edlyn. Gadis itu melebarkan mata seolah melihat hantu.


“Ed—“


WUSH!!!


Tanpa buang – buang waktu Edlyn berbalik dan meluncur seketika, meninggalkan Arya dibelakang bersama gelembung – gelembung air. Arya menggertakan gigi cepat – cepat bergerak tak mau kehilangan jejak.


Namun sial kecepatan Edlyn meningkat berkali – kali lipat setelah mengubah tubuh bagian bawahnya menjadi ekor ikan. Untunglah meski jarak antara keduanya tidak berkurang, Edlyn masih ada dalam jangkauan pengelihatannya.


Kejar – kejaran pun terjadi, mereka mengitari seluruh kastil bahkan kota. Sesekali Edlyn meminta penjaga menghalau Arya, tapi dirinya dengan mudah menghindar kemudian melanjutkan tujuannya bicara kepada Edlyn.


Pengejaran berakhir saat masing – masing berhenti tepat di depan kediaman Diondra sembari terengah – engah. Edlyn buru – buru mengetuk pintu agar kakaknya mengizinkannya masuk, sementara Arya melihat ini juga sebagai kesempatan meluruskan masalah dengan Diondra.


“Kakak! Kakak! Pintunya tolong!!!”


“Hmm? Edlyn? Ada apa berteriak – teriak? Tumben kamu—waaa!!!”


Baru sekilas Diondra mengintip keluar terus mendapati posisi Arya dibalik punggung adiknya segera membanting pintu sebelum menguncinya lagi. Edlyn tentu protes, perdebatan antara kedua saudara tersebut membuat bingung Arya maupun ikan – ikan sekitar situ.

__ADS_1


“Kenapa kau membawanya kemari!!!”


“Dia datang sendiri! Aku ingin masuk kak!!!”


“Bisakah kalian bersikap seolah aku berada di sini?” Arya berkacak pinggang.


Keduanya segera terdiam, Edlyn tidak kuasa menoleh sementara Diondra hanya membisu dengan punggung menempel pada pintu. Arya menggaruk – garuk kepala bingung harus memulai dari mana, ia membuang muka sebelum berkata pelan.


“Baiklah, aku cuma mau memastikan saja perilaku kalian beberapa waktu terakhir. Kalau semisal aku ada salah tolong dimaafkan, selesai semuanya jelas aku tak akan mengganggu kalian lagi jadi....”


“Bukan begitu Arya kami hanya—“


Kemunculan seorang duyung penjaga menghentikan kalimat Edlyn, dia berkata kalau Raja menitipkan sesuatu. Mata Arya menyipit ketika melihat sedikit kejanggalan pada pergelangan tangan orang itu, buru – buru ia menerjang namun terlambat.


“Edlyn awas!”


“Eh....”


Tindakan Arya membuat prajurit tadi menjauh, tetapi sebuah borgol keemasan dengan rantai teramat panjang telah mengehiasi pergelangan tangan Arya maupun Edlyn. Arya mengumpat dalam hati karena mengenali benda tersebut.


“Celaka ini!? Imperium Restrain!?—“


“WAAA!!!”


Keduanya kemudian ditarik keluar layaknya ikan yang terkait kail pancing, menyadari tidak akan mampu menggunakan Agnet lagi. Arya menghirup air Atlantos sebanyak mungkin supaya tetap bisa bernapas.


Suara tawa puas nan memuakan prajurit sebelumnya perlahan menghilag, Diondra bersama Sharky keluar. Nampak raut wajah cemas mereka, cepat – cepat Diondra memberi arahan kepada para anak buahnya.


“Sharky temui Ayah atau anggota Elementalist lain, kabarkan kalau ada pengkhianat dalam kubu Atlantos serta fakta Arya dan Edlyn telah ditangkap!”


“Baik Tuan Putri! Tapi....anda bagaimana?”


“Aku akan mencoba menyusul mereka”


“Ohh....oke, aku menge—eh!? Apa!—“


WUSH!!!


Dalam sekejap Diondra berubah ke wujud duyung kemudian berenang secepat kilat mencari keberadaan adiknya. Dia tidak perduli lagi tentang kondisi istimewa tubuhnya, jika sampai Faksi Laut melukai Edlyn. Akan Diondra pastikan pasukan Werebeast itu menyesal.



^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2