
BYUR!
Perahu para Elementalist menuruni air terjun kecil terakhir sebelum masuk ke dalam kawasan pantai, mengapung pelan menuju tanah berpasir. Selena mengendalikan semuanya hingga yang lain tidak perlu untuk mendayung.
Arya turun memeriksa sekitar sementara sisa anggota mengamankan sampan, dia menyentuh tempat mereka berdiri sebelum duduk dan menggunakan Maximum Sense. Elizabeth mendekat kemudian berdiri di sampingnya, menunggu selesai karena tak mau mengganggu konsentrasi.
“Bagaimana kak?”
“Aneh, tidak ada orang dalam radius lima kilometer dari sini” Arya membuka mata.
“Mungkin jemputannya belum datang” komentar Selena.
“Tetapi sudah waktunya kita bertemu”
“Kapten, biarkan aku pergi melihat sekeliling” Kevin mengajukan diri.
“Baiklah, hati – hati jangan terlalu jauh”
“Dimengerti”
SRRTTT! SYUU!!!
Setengah jam berlalu tanpa ada tanda – tanda kemunculan sosok yang harusnya kelimanya temui, tepat enam puluh menit berselang sejak tiba di sana. Sensasi aneh membuat Arya bangkit berdiri lalu memicingkan mata ke cakrawala.
“Kalian merasakannya?”
“Apa?” tanya Elizabeth, Rena, dan Selena bersamaan.
Belum sempat dia menjawab, teriakan Kevin memaksa mereka menoleh. Sang Elementalist Petir melesat sembari menunjuk laut, “Kapten!? Tengah terjadi pengejaran terhadap seekor kura – kura terluka oleh sekitar dua puluh Werebeast bersenjata!”.
“Kura – kura? Rena?”
“Baik”
Rena meraih Gaia kemudian memukulkannya sekali pada tanah, tumbuhlah pohon yang membawa masing – masing Elementalist menuju angkasa. Baru setelah itu Arya beserta kawan – kawan mampu melihat dengan seksama.
“Lebih nampak seperti naga dari pada kura – kura bagiku” celetuk Selena.
“Bukan masalah ia hewan apa, kita harus menolongnya. Dia adalah jemputan asal Atlantos”
“Hah? Kenapa kau bisa tau?”
“Lambang Kerajaan terpampang jelas di atas tempurungnya” Arya menunjuk pelana indah berhiaskan lonceng tersebut.
Kelimanya melompat turun, Arya memberikan arahan kepada anggota tim sambil menyiapkan senjata. Kevin, Elizabeth, Rena, dan Selena segera mengambil posisi.
“Elizabeth, tolong selamatkan dia kemudian bawa kemari—“
“Aye – aye!”
WUSH!!!
“Hadeh....aku bahkan belum selesai bicara....Rena siapkan perawatan untuk mengobatinya. Sementara kalian berdua ikut aku. Ada beberapa ekor ikan laut yang perlu kita jaring” kata Arya mengajak Kevin juga Selena.
__ADS_1
------><------
“Hah....hah....hah....”
“Wuahaha berhenti kabur wahai makan malamku!!!”
“Sial, aku kehilangan terlalu banyak darah”
“KENA KAU!!! HYAA!—“
SYUU!!!
“APA!? HILANG!” Werebeast berwujud hiu tersebut kaget bukan main.
Teman – temannya pun sama, tapi suara tawa puas menyadarkan mereka. Suatu cahaya keemasan baru saja mencuri perhatian pasukan, ia bergerak begitu cepat hingga sulit dilihat. Si kura – kura menatap bagian bawah tubuhnya keheranan.
“Tenanglah hewan besar, kau sudah aman” ujar Elizabeth santai yang mengangkatnya menggunakan kedua tangan sembari memanfaatkan lajunya tuk berpijak di permukaan air.
“Cahaya aneh apa—“
BUMM!!!
“WOAAA!?”
Kawanan Werebeast gagal menyelesaikan kalimatnya sebab terjadi sebuah ledakan, percikan setinggi lima meter muncul menutupi jarak pandang masing – masing.
“Kerja bagus Selena” Arya memuji.
Keduanya meluncur cepat diatas permukaan laut menyebabkan jalur es dan ombak dibelakang, sedangkan Kevin mengekor dengan cara seperti Elizabeth siap bersedia ikut andil menyerang musuh. Arya mengayunkan pedang ke arah air mancur barusan.
“Ice Cutter!”
SRAT!!!
Pisau es lebar berhasil merengut nyawa sebagian Werebeast, beberapa yang tersisa segera mundur dengan panik. Mereka berkerumun pada satu lokasi, melihat sekeliling penuh waspada.
“Siapa itu!? Berani sekali kalian menyerang pasukan—“
“Apa perduli kami? Electric Smite!!!” ternyata Kevin telah melayang di udara lalu melemparkan hantaman listrik bertekanan tinggi tepat sasaran.
ARGHHHH!!!
------><------
“Kau baik – baik saja?”
Arya, Kevin, dan Selena telah kembali ke pantai selesai menghabisi puluhan pengejar barusan. Perwakilan Atlantos tersebut menundukan kepalanya penuh hormat selagi Rena memasangkan perban pada luka di sekitar tubuhnya.
“Terima kasih atas bantuan Tuan dan Nona – nona sekalian”
HIYYY!!!
“K...KU...KURA – KURANYA BICARA!?” teriak Kevin, Selena, serta Elizabeth terkejut.
__ADS_1
Ketiganya terlonjak kaget, hanya Arya bersama Rena yang tetap tenang. Seolah kejadian tadi bukanlah apa – apa. Mengabaikan wajah pucat teman – temannya Arya duduk menolong si gadis berambut hijau membersihkan bercak darah.
“Kau terlihat cukup santai”
“Bukan suatu hal mengejutkan menurutku, kau tau....terkadang aku merasa alasan dirimu berbicara kepada mereka masuk akal juga” Rena mengenang kembali beberapa kejadian ketika Arya bicara sendiri dengan hewan.
“Stella, Pikku, maupun Bai tak bisa bicara. Terus mau sampai kapan kalian menyebutnya kura – kura hah? Dia ini Penyu Biru Leher Panjang, mana ada kaki kura – kura seperti ini? Makanya di saat pelajaran sekolah jangan tertidur”
“KAMI TIDAK INGIN MENDENGAR KATA – KATA ITU DARIMU!!!”
“Hah....dasar aneh, kalian sudah melihat naga bicara mengapa heboh sekali sih cuma karena seekor penyu?”
Selena mengakhiri rangkaian pemulihan menggunakan kemampuan penyembuh elemen air miliknya, barulah kedua pihak saling memperkenalkan diri satu sama lain. Dari sana mereka pun mendapat informasi – informasi baru.
“Jadi namamu Jagoon?”
“Benar, saya merupakan Ponoceros yang bertugas sebagai kurir Kerajaan Atlantos”
“Ponoceros? Bukankah itu adalah nama salah satu spesies Imaginary Animals?” ulang Elizabeth.
“Tepat sekali, anak pintar” Arya memuji sambil mengelus lembut kepalanya.
“Hee hee”
“Lalu? Mengapa kau menyebutnya Penyu Biru Leher Panjang?” celetuk Selena.
“Sebab mereka memang terlihat begitu”
Jagoon mengatakan kalau sekarang situasi dibawah Central Ocean sangat mencekam, ia sendiri berusaha mencapai lokasi pertemuan melalui jalan tikus. Tapi sayang ternyata terdapat beberapa penjaga asal Faksi Laut bangsa Werebeast berjaga dan kemudian memburunya.
“Kau pasti kesusahan” Rena terlihat iba.
“Tidak, ini karena kesalahan saya sendiri karena tak memperkirakan hal tersebut. Saya mohon maaf sekali atas keterlambatannya, padahal tuan dan nona berniat menolong kami”
“Berhenti menyesali kejadian yang sudah lewat, mendengar kabar tadi aku jadi penasaran. Seberapa luas kawasan medan perang ini?” tanya Arya sembari mengelus dagu.
“Seluruh Samudera Tengah, mulai dari kedalaman seratus meter....hingga dasar laut”
“Bohong” Selena menutup mulut sulit mempercayai besarnya skala pertempuran
“Kita harus segera bergerak, ayo!”
Kelima Elementalist mendorong kapal ke perairan, Arya meminta Rena membentuk lapisan baru pada bagian atas hingga terbentuk seperti kapal selam. Selanjutnya dia membuat tiga es cukup tebal untuk menutup lubang – lubang yang berfungsi sebagai kaca sekaligus supaya mereka dapat melihat keluar.
Terakhir, Selena menciptakan gelembung air menyelimuti keseluruhan perahu agar udara tetap ada walaupun terbatas. Jagoon menanyakan kesiapan dengan cara mengetukan kepalanya tiga kali, Arya memberikan sinyal kalau semua beres.
Tanpa menuggu lebih lama, sang Ponoceros menggigit sulur buatan Rena kemudian berenang cepat ke tengah laut. Sebelum gesit menyelam, perlahan tapi pasti perahu mereka mulai meninggalkan oksigen di permukaan.
“Aku sudah lama penasaran bagaimana wujud putri duyung yang sebenarnya, bagaimana denganmu Kevin?”
“Kau bilang apa?” sambar Rena, Selena, dan Elizabeth bersamaan.
“Ah....hahaha lupakan, aku cuma bicara sendiri. Ini akan menjadi petualangan baru nan menarik” Arya tersenyum penuh semangat.
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.