Elementalist

Elementalist
Chapter 216 - Metal Elementalist Goal


__ADS_3

“Datang....”


Terlihat dua sosok pria perkasa sedang berdiri memantau dari atas bangunan tinggi, salah satunya merupakan seorang sepuh berjanggut putih panjang dengan zirah perang lengkap sementara temannya adalah laki – laki kekar besar yang membawa kapak bergagang panjang.


Mata masing – masing terpaku kepada pintu masuk pos penjagaan milik mereka dimana baru saja muncul sepasang bocah berlari kencang. Seakan mencoba meninggalkan lokasi secepat mungkin, hanya dalam kurun waktu sedetik jalan keduanya dihadang oleh para False Vanguard.


“Elementalist Es dan Elementalist Petir.....False Vanguard Number Six....Blokhin akan menghabisi kalian....”


“Anak muda memang penuh semangat ya....False Vanguard Number Five....Caesar.....”


“Third Dance; Dance of Five Waterfall Fairies!”


“Flash Move!”


Arya maupun Kevin bertindak seolah tidak memperdulikan lawanya dan langsung menerjang bahkan sebelum mereka usai bicara, tubuh Arya tepecah menjadi lima bagian kemudian menerobos sedangkan Kevin bergerak bagai kilat dengan kulit berlapis petir kuning melewati juga mengabaikan dua False Vanguard barusan.


Akibat perlakuan itu tentu Blokhin dan Caesar sedikit terkejut sehingga telat merespon, keduanya gagal menggapai sehelai pakianpun milik kedua Elementalist. Namun semua belum berakhir, Caesar melepaskan siulan menggema ke seluruh benteng.


Detik berikutnya ratusan anak panah dari berbagai arah menerjang, Arya menyarungkan Mandalika lalu menutup mata penuh konsentrasi. Mengingat – ingat sensasi di Fairy Forest saat latihan bersama Eudart, ia mengarahkan telapak tangannya kedepan sembari berkata lantang.


“Aspída....!”


Seluruh laju tiap kayu tipis berujung besi tajam kiriman Caesar terhenti diudara, seolah ada penghalang tak kasat mata menahan mereka. Arya dan Kevin memanfaatkan kesempatan sesaat ini untuk memanggil Elemental Beast, bersiap melanjutkan perjalanan tanpa menoleh ke belakang.


“Sihir Elf?” gumam Caesar bersiul kagum.


“Jangan pikir semudah itu buat kabur....” Blokhin memposisikan kapak besar dipundak, cahaya kemerahan perlahan menyinari benda tersebut.


“Stella Geminae....”


CTAK!


“Elimination Blade!!!”


Caesar menjentikan jarinya disusul suara tembakan keras, dua bola meriam berlapis api keluar entah dari mana melalui belakang punggungnya tuk mengejar kedua Elementalist. Sementara Blokhin melepaskan energi mengerikan yang disebabkan oleh ayunan kapak raksasanya.


“Kapten!?”


“Tetap maju....” bisik Arya santai.


“Tapi—“


“Ingat janjimu....”


“Ugh....” Kevin menggigit bibirnya sendiri tidak mampu berkata apa – apa.


JDUARRR....!!!


“Hmm....?”


Ekspresi terkejut menghiasi wajah kedua False Vanguard karena tepat sebelum serangan mereka mengenai target, sesosok pemuda lain datang berdiri kokoh menutup jalan jurus milik keduanya. Asap tebal mengepul tinggi, ketika akhirnya mulai menipis nampaklah seorang anak laki – laki berambut perak tengah memegang sebuah perisai dengan satu lengan.


__ADS_1


“Mohon maaf mengganggu....tapi Kapten kami sedang terburu – buru. Jadi izinkan aku menemani kalian bermain oke? Hihihi....” katanya sambil tersenyum, tangan kananya yang mengepal perlahan berubah warna seperti metal.


------><------


Beberapa saat sebelumnya, ketika Arya, Kevin, dan Timothy masih menunggangi Elemental Dragon masing – masing. Pandangan ketiganya tertuju kepada tebing – tebing batu curam yang menjulang tinggi, terdapat semacam bangunan bagai benteng atau kastil menyatu diantaranya.



“Kapten? Kau merasakan hawa kehadiran mereka bukan?” celetuk Timothy mengarahkan naganya mendekati Arya.


“Bagaimana tindakan kita selanjutnya?” Kevin ikut menimpali.


Arya tidak menjawab melainkan menyuruh kedua temannya untuk melanjutkan perjalanan melalui jalur darat sebab semakin sulit mencari jejak kendaraan penculik Reika, keheningan terus berlanjut hingga jarak antara para Elementalist dengan pos musuh cuma dua puluh meter.


“Kapten!?”


“Ckk!? Diam!? Aku tengah berpi—“


“Biarkan aku melawan mereka....”


DEG!


“Hah!? Kau gila!? Jumlahnya ada dua dan kau pasti sadar kemampuan masing – masing berada diatasmu....” desis Kevin menoleh gusar.


“Ohh ayolah Kevin, aku kuat lho....”


“Timo—“


Arya mengerem mendadak sembari mengangkat sebelah tangannya, memaksa keduanya berhenti jua. Arya menghela napas panjang sebelum akhirnya menoleh, tatapanya benar – benar serius menusuk ke Timothy.


“Kapten tolong sadarkan bocah ceroboh ini!? Bukankah lebih baik jika menghadapi mereka tiga lawan dua terus bergegas mengejar Reika?”


“Tak bakal sempat, kita tidak tau sejauh mana tujuan musuh. Satu – satunya kesempatan menyusul adalah sekarang, kalian harus berlari sekencang mungkin tanpa menoleh dan terhambat sedikitpun” Timothy memberikan pendapat masuk akal yang jarang sekali diutarakannya.


“Itu benar, namun lawanmu—“


“Oi?” potong Arya setelah diam cukup lama.


“Mmm?”


“Aku akan mengizinkannya dengan satu syarat....”


“Yess!?”


“Kapt—“


“Sssstt.....aku tidak main – main, entah hanya perasaan atau bukan. Aura Zayn serta Ali semakin samar – samar....”


Ekspresi Kevin dan Timothy memucat, sebenarnya mereka pun merasakan hal sama tetapi enggan mengatakannya. Kesepuluh Elementalist mempunyai semacam koneksi batin aneh, seakan terhubung satu sama lain oleh sesuatu yang sulit dimengerti. Kemampuan tersebut sangat terasa terutama bagi Arya sebagai Ketua generasi ini.


“Percayalah, aku yakin keduanya segera datang. Aku akan menunggu mereka sungguh! Jadi katakan syaratmu....”


“Apa kau memiliki rencana?” Arya bertanya penuh selidik.

__ADS_1


Mata Timothy melebar seolah kaget, namun kejadian itu cuma berlangsung beberapa detik kemudian berganti senyuman yakin. Dia menepuk dadanya penuh percaya diri dan berseru, “Iya! Serahkan saja padaku!!!”.


------><------


“Kapten—“


“Jangan menoleh, kau sudah berjanji....” peringat Arya pelan.


Kevin menghela napas tak yakin Timothy mampu menghadapi musuh layaknya dua False Vanguard tadi, sementara Arya menatap kosong kedepan. Menekan keinginanya melakukan hal serupa dengan Kevin, perlahan ingatanya dulu kembali mengisi kepalanya.


“Ugh....aku....kalah....” ujar Asuna tidak percaya.


“Ha. Ha. Ha. Haa!!! Hanya segini?” Timothy tertawa puas.


“Ekh!? Besi karatan tengik.....”


“Hei!? Hei!? Hei!? Sebentar Nona manis!? Dilarang menggunakan kekerasan fisik apalagi menghanguskan sesuatu!?”


Mereka semua tengah berkumpul di Kantin Pusat Penelitian, Timothy diberikan sebuah papan catur baru sebagai hadiah ulang tahun oleh keluarga angkatnya. Ia lalu mengajak bertanding semua orang dan menang telak, bahkan saat melawan Eridan maupun Kinichi yang tergolong jenius strategi.


Ternyata para ras lain mempunyai permainan mirip hanya terkadang bidaknya berbeda, cukup perkenalan singkat Alalea, Callista, Kizuna, dan kawan – kawan menguasainya secepat kilat. Timothy masih terkekeh geli sambil menatap sombong atas keperkasaanya, tiba – tiba dirinya mendapati Arya duduk jauh sendirian membaca suatu buku.


“Kapten!? Kemarilah! Temani aku satu ronde....”


“Hmm? Aaaa....terima kasih, aku menolak....” sahut Arya cuek kemudian menghabiskan minuman digelasnya.


“Ohhh? Apa ini? Kau takut?” Timothy tersenyum mengejek.


Langkah Arya yang hampir pergi berhenti, dia menutup bukunya dan menoleh. Timothy menelan ludah sedikit menyesali perbuatannya namun ternyata Arya tidak melakukan apa – apa melainkan mendekat terus duduk.


“Aku telah berusaha memberimu muka....terserah saja”


“Heh?! Mari lihat....”


Beberapa waktu berselang, ekspresi bangga Timothy digantikan wajah kaku. Arya mengalahkan hanya dalam dua puluh langkah, membuat gelak tawa para penonton pecah. Timothy tak terima lalu meminta permainan ulang, kejadian terus terulang sampai cukup dengan sepuluh langkah permainan langsung berakhir. Bahkan teman – teman mereka sudah pergi hanya menyisakan keduanya saja.


“Sekakmat....”


“Ugh....oaaaa!? Sekal lagi!? Sungguh yang terakhir!?”


“Aku malas, bukankah sebelumnya aku sudah peringatkan? Aku sengaja menolak agar kau mendapat perhatianya yang selalu kau inginkan tersebut, nyatanya kau menggali kuburanmu sendiri....” gumam Arya bangkit hendak pergi.


“Bagaimana mungkin semua taktiku terbaca....” Timothy mengerang.


“Timothy? Kau cerdas, tapi kau seperti buku ini. Mudah dibaca....juga rapuh bagaikan kertas.....”


Timothy memaksa dirinya kembali pada masa sekarang, keluar dari memori pahit kekalahan beruntunnya menghadapi Arya. Dia selalu punya satu tujuan, melewati Kaptennya itu terus merebut seluruh perhatian cuma baginya seorang diri.


“Mudah dibaca dan rapuh katanya.....heh!? Aku merupakan Elementalist Besi dasar sial.....” bisiknya menyeringai, warna sekujur tubuhnya perlahan berubah perak.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2