Elementalist

Elementalist
Chapter 212 - Teddy Bear


__ADS_3

Arya bersama Efbi melesat menembus hutan belantara tak ingin kehilangan jejak roda kendaraan yang diyakini milik penculik Reika. Beberapa kali mereka menemukan lagi bekas – bekas peradaban Manusia, tiap kali muncul Mutant ataupun Imaginary Animals pengganggu Arya akan akan mencabut pedangnya untuk membersihkan jalan.


WOSHH...!!! KRAKK...!!!


Potongan bongkahan es berceceran dibelakang keduanya, meski nampak tenang sebenarnya Arya terus berpikir serta menyalahkan dirinya atas kasus ini. Seandainya dia lebih memperhatikan mungkin hal demikian dapat dihindari, perasaan itu terus menggerogotinya dari dalam. Para atributnya menyadari suasan hati sang tuan tapi bingung harus berbuat apa.


“Efbi? Masih jauh?” celetuk Arya akhirnya.


‘Tidak terlalu Ayah, jika tidak ada halangan kemudian kita mampu mempertahankan kecepatan kupikir bisa menyusulnya sebentar lagi....’


“Perkiraan jaraknya?”


‘Sekitar lima sampai sepuluh kilometer....’ Efbi menyahut usai mengendus – endus udara.


‘Bagaimana kalau terbang? Aku percaya membawamu kesana hanya cukup beberapa kepakan sayap....’ kata Safira menimpali.


Namun Arya tidak membalas, menurutnya ide tadi mempunyai terlalu banyak resiko untuk dilakukan. Ia berfirasat musuh pasti sudah memperkirakannya terus menyiapkan sesuatu tuk menghalangi, saat asyik berpikir muncul sekelebatan bayangan benda terjatuh melalui sudut mata Arya.


“Efbi? Berhenti sebentar....” Arya menepuknya cepat – cepat.


SRAKK....!!!


Bunyi tanah sewaktu kaki Efbi menahan lajunya memecah kesunyian, berikutnya keheningan tercipta. Cuma terdengar suara burung saling bersahutan di kejauhan, terlinga si serigala bergoyang – goyang pertanda bingung.


‘Ayah? Ada apa?’


“Kau melihatnya?”


‘Hah?’


“Sehelai burung gagak barusan....”


‘Eeee....maaf Ayah, mataku fokus ke arah jalan jadi....’


“Lupakan....mungkin hanya khayalanku saja....mari pergi....”


Efbi menganggukan kepala menurut dan kembali berlari sementara Arya membisu, isi kepalanya berputar sangat cepat menilai beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Pemandangan tadi membuatnya kepikiran juga cemas.


‘Zayn? Kumohon.....selamatlah....susul kami.....buktikan firasat burukku ini salah.....’


------><------


Makin jauh Arya dan Efbi berjalan tambah terasa perubahan bentuk alam sekitar mereka, kota – kota yang ditinggalkan terus berkurang lalu digantikan hutan belantara penuh pohon – pohon raksasa. Entah cuma perasaan atau bagaimana, Arya menilai keduanya sedang menuju dataran rendah.


SPLASH!!! KCIPAK!!! KCIPUK!!!


Benar saja selang beberapa waktu suara langkah Efbi menginjak genangan air mengisi udara, lajunya agak berkurang akibat kedalaman serta lumpur di dasarnya. Arya mengamati seksama ciri – ciri tanaman pada lokasi tersebut.



“Rawa?”


‘Ugh....’


“Efbi? Sebaiknya kamu bekukan pijakan kaki ketimbang susah begini....” Arya menyarankan.

__ADS_1


‘Ahh!? Ayah benar juga!’


Tanpa menunggu lama si serigala melompat kemudian berlari gesit menerobos akar maupun sulur pengganggu, tiap kali Efbi bersentuhan dengan cairan dibawahnya maka semuanya akan membeku sehingga memudahkannya melangkah.


“Apa jejaknya tidak hilang?”


‘Umm...Ayah, lihat. Kendaraan mereka berukuran cukup besar dan meninggalkan jejak yang berdampak di sekelilingnya....’ balas Efbi sembari mengarahkan tuannya memperhatikan beberapa tanaman koyak atau rusak.


“Semoga kita bisa keluar dengan sela—“


SRRRR....!


Arya terkejut sampai hampir terlempar dari punggung Efbi sebab ia mengerem secara tiba – tiba, Arya meringis sebentar sebelum memeriksa sekujur tubuhnya. Untunglah pergelangan tangan miliknya tak keseleo.


“Efbi?”


‘Ayah? Apa itu?’


“Hah? Kau ini bicara ap—eh?”


------><------


Arya tertegun cukup lama menyaksikan kejanggalan dihadapannya sebelum akhirnya menuruni Efbi, dia berjalan mendekat sambili memiringkan kepala dan berjalan mengitari benda yang seharusnya tidak ada disana, sebuah boneka beruang besar dengan corak beragam duduk seolah menghalangi jalan mereka.


“Teddy bear?”


“Ehem – ehem...”


“Hiyy!?”


Sang Elementalist es tersentak kaget begitu tiruan makhluk berbulu menggemaskan tersebut tiba – tiba mengeluarkan suara berdeham gadis kecil. Saking terkejutnya Arya tanpa menunggu segera menjaga jarak sejauh mungkin.


“Tidak, telingamu berfungsi sangat baik....”


“Woaa!? Bonekanya bicara!”


“Kenapa heboh sekali? Belum pernah melihat mainan jago bersilat lidah?”


“Dalam film sih sering tapi—bukan itu masalahnya!?”


“Huh?! Namaku Winnie, tugasku adalah memberimu pilihan mau melanjutkan perjalanan atau berbalik arah....” si beruang membuka kedua lengannya.


“Eh?”


“Jawabanmu?”


“Bukankah sudah jelas?” bisik Arya lalu meraih gagang katananya.


“SALAH BESAR!”


BUM! BAM! BUM! BAM!!!



Usai mengucapkan kalimat barusan Winnie bangkit kemudian menghujani tempat Arya berdiri dengan pukulan membabi buta hingga menyebabkan tanah juga bebatuan berhamburan, Arya meminta Efbi mundur sembari terus luwes menghindar.

__ADS_1


Saat jeda teddy bear itu menarik tangan Arya memanfaatkan kesempatan maju menerobos celah diantara kakinya. Gerakannya sangat cepat sampai air ikut terbelah mengikuti langkahnya, ia mengincar pohon dekat sana dan menebasnya hingga tumbang.


“First Dance; Swinging a Single Sword!”


SLASH!!! KRAK!!! BRUAK!!!


Sesosok bayangan orang berhasil menyelamat diri dari serangan tadi, Arya menyadari lokasi persembunyian pengendali boneka sejak melihat posisi bertahan Winnie yag selalu menjaga belakang punggungnya. Baru hendak menoleh demi mencari keberadaan musuhnya, hujaman tombak datang melalui udara.


TRANGG!!! BRUAKH!!!


Arya sukses menahannya namun kakinya terperosok ke dalam tanah berlumpur sehingga mengakibatkan dia tejebak. Mata Arya melebar melihat perempuan bersenjata pelaku penyerangan tersebut memiliki sebelah sayap pada punggungnya, puas mengetahui keadaan menyedihkan Arya akhirnya dia terbang menjauh lalu mendarat dekat kawannya berada. Seorang anak gadis berambut jingga.


“Lilian brengsek!? Kau berkata akan melindungiku!? Apa – apaan itu tadi!? Jantungku hampir copot ketika dia melesat ke arahku!?”


“Tapikan kau baik – baik saja, lagi pula jika keadaan mendesak pasti boneka beruangmu datang menolong....”


“Jangan banyak alasan!? Mengaku saja kau ingin mendapatkan tawaran promosi sendirian!?” anak perempuan sebelumnya menunjuk hidung wanita bersayap.


“Hadeh....diskuni ini tidak bakal berakhir, sudahlah. Ngomong – ngomong kemampuan Ketua Elementalist ternyata biasa saja, apakah ekspektasiku agak terlalu tinggi?”


“Kau mau aku yang selesaikan atau bagaimana?”


“Terserah....”


“Baik....”


CTAK!


Seketika jentikan jari terdengar, puluhan manik – manik terjatuh entah dari mana di sekeliling tempat Arya terperangkap. Awalnya dia masih berusaha tenang serta berpikir jernih, tetapi semua berubah akibat bau bubuk mesiu teramat menyengat menusuk indra penciumannya.


“Celaka—!“


BOMMMM!!!


Ledakan api setara satu ton dinamit membumihanguskan apapun dalam radius sepuluh meter, kedua False Vanguard saling menatap sebelum mengangguk yakin telah menyelesaikan pekerjaan mereka.


SRRTTT....!!!


Langkah masing – masing terpaksa berhenti ketika mendengar bunyi aneh barusan, waktu asap mulai menghilang nampak dinding pasir telah berdiri kokoh melindungi Arya atas serangan dari arah tiga ratus enam puluh derajat. Perlahan butiran – butiran halus tersebut kembali berjatuhan, rambatan aliran listrik kekuningan sekilas menunjukkan eksistensinya.


“Untung sempat....”


“Apa kubilang, pahlawan lebih baik muncul belakangan. Bukankah dampak dramatisnya sangat terasa? Hehehe....”


“Bodoh! Telat sedikit saja memangnya kau mau bertanggung jawab bicara kepada para gadis kalau sampai Kapten terluka?”


“Ehhh....aku tidak berpikir kesana....waaa....kau sungguh penyelamatku!”


“Menjauh sialan!”


“Kalian?” Arya terperangah menyaksikan tiga pemuda yang tengah berdiri dihadapannya.


Ali masih mengarahkan tangan menuju musuh namun menoleh sambil tersenyum hangat, sementara Kevin dan Timothy bergumul sengit. Saat akhirnya mereka menghentikan kegiatan konyol barusan, keduanya menyapa seolah tak pernah terjad apa – apa.


“Yo Kapten? Maaf kami terlambat....”

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2