Elementalist

Elementalist
Chapter 138 - Hancur


__ADS_3

Pukulan telak Arya benar – benar menghancurkan tubuh Greenhook sampai ke intinya, pondasi Agnet milik sang Raja Goblin mengalami kebocoran hebat. Inilah yang menjadi penyebab dirinya tak mampu mempertahankan kondisi perkasa dalam waktu lama di masa depan.



Sosoknya menjadi ringkih bak hewan ternak yang menunggu ajal menjemput, darah merembes dari setiap lubang badannya. Tatapan dingin Arya seketika merubah keyakinannya kalau ternyata malaikat pencabut nyawa itu sungguh – sungguh ada.


“Argh....ukh....gkh....” bicara saja tidak mampu, cuma suara tarikan napas berat yang keluar dari mulutnya.


“AYAH!?”


Melihat kondisi rawan tersebut, seluruh pasukan goblin menyerbu bocah laki – laki tadi. Sekitar seribu makhluk hijau bergigi kuning bergerak ke arahnya sambil mengayunkan senjata. Senyuman sadis menghiasi wajah Arya.


Dia melangkahkan kakinya satu kali, akibatnya hampir separuh kerumunan musuh membeku. Lalu ia berjalan pelan menghancurkan tubuh – tubuh berlapis es itu seakan menikmati tiap kali berhasil melakukannya.


Sisa anak buah Greenhook langsung menjaga jarak, insting memberitahu jika memaksa maju. Maka akan bernasip sama dengan saudara – saudara mereka, tidak memberikan kesempatan musuh berpikir.


Arya melesat, saking cepatnya mata para Goblin tak mampu mengikutinya. Cipratan – cipratan darah sekelebatan mengisi udara, bau amis bangkai juga kian menusuk hidung. Pembantaian massal seorang diri dilakukan olehnya.


“Woaaa....!!!”


Teriakan goblin menggema ke segala penjuru, yakin kalau terus mencoba melawan pasti mati. Mereka mulai berlarian menyelamatkan nyawa masing – masing, tidak memperdulikan nasip kawanan lainnya.


“Hehehe...hyahahaha....hahaha.....hiks....mati....kubilang.....” Arya berdiri di tengah Circular Steppe sembari tertawa layaknya orang gila, namun entah mengapa terdengar lebih seperti ratapan sedih. Ada isakan pelan dalam tiap gelaknya.


Udara dingin berputar kencang mengitari kedua kakinya, sebelum meledak dan menciptakan energi biru terang. Detik berikutnya seluruh wilayah sudah membeku tanpa sisa, goblin – goblin yang berusaha menyelamatkan diri hilang sekejap menjadi serpihan es.


Tidak jauh dari sana, tibalah sepuluh orang laki – laki dan perempuan. Mereka langsung memasang sikap siaga mendapati pemandangan ekstrim itu, salah satu menggelengkan kepala penuh sesal.


“Harusnya kita lebih cepat.....”


“Tempat ini tidak akan pernah sama lagi.....”


“Gio? Perintahmu?” tanya wanita berambut putih.’


“Lakukan persiapan Segel Lambang Sepuluh Penjuru, selamatkan dia bagaimanapun caranya”


“Baik!!!”


Kata – kata Varuq ketika itu menjadi kenyataan, Circular Steppe berubah total. Semua tanaman menjadi hitam akibat sistem dalam mereka mati terkena suhu rendah, orang – orang dikemudian hari menamakan tempat tersebut sebagai Lembah Embun Kematian.


------><------


Sementara diwaktu yang sama, sembilan anak – anak lain mengalami hal serupa pada tempat berbeda. Mereka mengerang kesakitan dengan mata mengeluarkan cahaya terang, seakan dipaksa untuk menyala. Kesembilannya memegang kepala masing – masing.


“Ayah....!? Rasanya mau pecah akh.....!!!”


“Bertahanlan Asuna!”


Gadis berambut hitam yang baru saja memasuki kamar barunya, bertekuk lutut tak kuasa berdiri.


“Ugh....hua.....!!!!”


“Kevin!? Kau harus kuat!”


Seorang anak laki – laki pirang berusaha melepaskan diri dari alat pengekang kedua tangannya.


“Hiks....sakit.....sakit sekali....”


“Tenang Rena, ibu ada disini”


Anak perempuan dengan rambut hijau menangis dipelukan ibu angkatnya.

__ADS_1


“Akh.....siapaun tolong.....”


“Tuan Timothy?!


Bocah berpakaian serba perak memanggil lemah dari balik pintu kamar tidur.


“Kenapa....tiba – tiba pusing begini.....ekh.....”


“Hmm? Lexa?”


Gadis kecil ceria tiba – tiba berhenti mengikuti langkah ayahnya.


“Venna?! Aku....tidak kuat lagi!!!”


“Zayn? Tarik napas dalam – dalam lalu buang semua sakitnya”


Terlihat wanita cantik memegang punggung bocah laki – laki sambil mengalirkan tenaga.


“Aakhhhh......!!!”


“Elizabeth sayang?! Kamu kenapa!?”


Perempuan dewasa bermahkota mendekati gadis manis yang gagal memakan hidangan pada meja dihadapannya.


“Hugh....apa – apaan.....”


“Nona Selena anda sakit?!”


Salah satu pelayan cepat – cepat membantu majikannya yang tak sadarkan diri.


Hari itu. Kesepuluh Elementalist mengalami koneksi, dan Aryalah yang menjadi pusatnya. Amukan dia mengaktifkan kekuatan anak – anak lain secara sepihak. Seolah membangunkan para monster – monster terlelap.


------><------


Para Pengawas Ujian berdiri mengelilingi Arya, sebuah simbol magis muncul pada tanah tempat mereka berpijak. Menunggu aba – aba dari Astral, Varuq melirik pria ramping dengan baju kedodoran dekat dirinya.


“Po? Kenapa kau masih berpakaian begitu?”


“Aku baru membakar semuanya di sini, tidak ada pilihan lain” sahutnya santai.


“Hehehe....bocah....kalian pikir bisa mengikatku menggunakan teknik rendahan?” suara serak berasal dari Arya terngiang keras.


“Heh....kita mana tau kalau belum mencoba” Liquite tersenyum.


“Tekan!” teriak Astral diikuti rekan – rekannya.


“Dasar keras ke—?! Hah!? Tunggu ini—WOAAA KEPARAT....!!!”


Cahaya dari cincin Kesepuluh Pengawas Ujian menyatu lalu membungkus tubuh bocah tersebut, kejadiannya begitu cepat. Saat pengekang telah menghilang, suara itu tidak terdengar lagi, kondisi Arya kembali seperti sedia kala. Ia melangkah lemah berbekal sisa tenaganya.



“Jangan – jangan dia masih dikendalikan!?”


“Biar aku—Gio?“


Astral mengangkat tangan sebagai tanda agar yang lain berhenti, Arya mendekati tubuh Amira. Satu – satunya lokasi tak terselimut es, air matanya sudah kering. Tidak mampu tuk keluar lagi, sambil memeluk tubuh gadis itu. Dia berteriak.


“HUAAA.....HA....!!!.....AMIRA....!!!.....ARGH.....KENAPA....!!!....BUKAN AKU SAJA!!! HIKS......” sampai akhirnya Arya baru berhenti setelah pingsan karena kelelahan.


------><------

__ADS_1


Waktu tetap berlanjut, Arya dirawat selama enam bulan di Rumah Sakit. Dokter mendiagnosis tubuhnya tidak mengalami cedera berat, namun mentalnya benar – benar hancur. Dia cuma diam menatap kosong kamar rawat inapnya.


Para keluarga korban mendapat bantuan dari pemerintah, tetapi dengan syarat menutupi kejadian ini rapat – rapat. Satu tahun kemudian baru kenyataan penyusupan Goblin diumumkan, selama itu Pak Hartoso terus mendampingi putra angkatnya di rumah sakit.


“Reika? Tolong jaga kakakmu ya? Ayah mau ke toilet sebentar”


“Huum”


Si gadis mungil nan polos memainkan boneka miliknya disamping tempat tidur Arya, saking asyiknya dia tidak menyadari kalau kursinya hampir terjungkir balik. Sebelum Reika terjatuh, Arya berhasil menangkapnya. Ia mendekap adik angkatnya yang masih terkejut akibat kejadian barusan.


“Tenang....tenang....kakak disini....aku pasti melindungimu....”


“Kakak...?”


“Aku tidak ingin....hiks....kehilangan siapapun lagi....” isaknya.


Mulai dari sana, Reika membuka diri kepada Arya. Hubungan kakak adik keduanya membaik akibat insiden kursi Rumah Sakit tersebut. Setelah keluar dari perawatan, dia tidak sekolah. Arya mengurung diri di kamar hampir sebulan.


Pak Hartoso memaklumi hal itu dan membiarkannya, sampai suatu hari datang dua orang misterius mengetuk kamar Arya.


“Lihat betapa menyedihkan dirimu, pantas saja temanmu mati”


Mendengar perkataan menyakitkan tersebut, Arya langsung menyerang. Namun digagalkan dengan mudah oleh si pria pembawa pedang kayu. Dalam pertukaran serangan, Arya sadar laki – laki dihadapannya bukan orang biasa.


“Heh! Bocah sombong! Kemarilah biar kupatahkan tulangmu”


“Arya? Kau bertekad tidak akan kehilangan lagi bukan? Kalu beigtu mari ikut bersama kami” sosok misterius satunya menjulurkan tangan.


Shu dan Lee melatih Arya atas permintaan Hartoso, berharap mental anak itu bisa kembali normal. Tetapi betapa terkejutnya kedua pelatih karena dalam waktu singkat Arya menghajar semua murid – murid terbaik mereka kemudian mengajukan syarat melawan masing – masing instruktur bela diri tersebut.


Perlahan tapi pasti, Arya mulai pulih. Dia masuk sekolah seperti biasa, walau banyak rumor beredar namun tetap dijalaninya tanpa berpikiran buruk. Berbekal kejeniusannya, Arya dapat mengejar ketertinggalan materi sampai akhirnya berhasil lulus tepat waktu bersama angkatannya.


Masuk ke Sekolah Menengah Pertama, ada kejadian aneh. Tas miliknya sempat tertukar dengan orang lain, ketika memeriksa isinya. Arya mengangkat sebelah alis, banyak gambar – gambar kartun berbagai warna.


“Hei?! Kau!? Sepertinya punya kita tertukar”


“Hmm?”


“Ahaha maaf aku ceroboh” anak laki – laki berambut kemerahan itu menundukan kepala.


“Tidak apa – apa, aku juga lalai. Ngomong – ngomong soal isi tasmu—“


“Eh? Kau tertarik dengan Anime!? Sebenarnya kita satu kelas, aku Ryan. Salam kenal”


Pertemuan yang seperti ditakdirkan membawa Arya ke hubungan persahabatan erat sampai sekarang. Pernah suatu ketika saat diadakan festival, Arya diajak Ryan pergi bersama.


“Dimana si Wibu sialan itu?” gumamnya kesal.


“Hmm....aku butuh ini....kurasa” sekelebat rambut hitam berjalan melewatinya.


“Ah?! Maaf saya tidak sengaja!” ada juga gadis yang sedang buru – buru bicara.


“Lexa? Kau mau makan seberapa banyak sih!”


“Selena?! Kemari!”


“Elizabeth keren sekali!!!”


Tak pernah disangka, di festival itu Kesepuluh Elementalist berkumpul pada satu tempat. Tapi dengan urusan masing – masing dan belum mengenal satu sama lain.


Author Note :

__ADS_1


AXA :'(



__ADS_2