
“Bagaimana evakuasinya?” Pengawas Varuq bertanya kepada beberapa orang penanggung jawab.
“Sembilan puluh tujuh persen selesai, hanya tinggal mengumpulkan warga – warga yang terpencar akibat ledakan dan lain – lain”
“Bagus. Kinichi? Ingat baik – baik, dalam keadaan darurat bagaimanapun situasinya kau harus mengambil alih komando untuk menyelematkan semuanya.....”
“Aku mengerti....”
Kinichi mengangguk sebelum memperhatikan barisan pengungsi yang berbondong – bondong memasuki pintu masuk Pusat Penelitian, tempat tersebut telah dimodifikasi. Sekarang bangunan – bangunannya telah berubah menjadi kubah transaparan, di dalamnya terdapat sebuah lingkaran sihir berukuran raksasa tempat para penduduk pro Elementalist menunggu harap – harap cemas.
“Ayahmu....sungguh luar biasa....”
“Jangan meremehkan pak tua itu, dia memang terlihat konyol tapi dari eksperimennya kau bisa lihatkan betapa cemerlang isi otaknya?” balas Ryan atas komentar barusan.
“Medis!? Tolong segera kemari!?”
“Ugh....” Diondra memegang perutnya yang mengeluarkan darah sembari dibopong oleh Pengawas Berlin, lukanya akibat bertarung melawan Olivia nampak parah.
“Putri?! Anda sebaiknya jangan terlalu banyak bergerak....”
“Tak usah khawatirkan aku, cepat kirimkan bantuan untuk menjemput Eridan, Alalea, Kizuna, dan Callis—Uhuk!? Uhuk!?”
Usai mendengar penjelasan Diondra atas yang dilihat saat terbang kemari, barulah mereka semua tersadar kalau keempat orang itu belum terlihat batang hidungnya bahkan setelah dilakukannya pengumuman darurat melalui alat komunikasi.
“Ben? Ursa? Ray? Kita harus pergi me—“
DEG....!!!
Julius Varuq terdiam seketika begitu merasakan adanya tekanan luar biasa dari angkasa, perlahan bayangan besar menutupi tiap inchi tanah. Saat ini posisi para Pengawas Ujian kurang baik, Po dan Bianchi mengalami penurunan hebat karena kematian Astral. Sementara dua wanita lain ditambah Romero sengaja diminta untuk melindungi semua yang ada di dalam lingkaran sihir.
‘Sialll....!?’ Varuq bersama tiga temannya cuma bisa mengumpat dalam hati sewaktu menemukan sumber masalah.
Beberapa meter di udara terlihat Reiko melayang sambil menyeringai lebar, sebelah tangannya terangkat dengan ujung jari telunjuk mengacung menciptakan sebuah bongkahan kristal merah muda berujung runcing yang sangat jelas mengincar ke arah mana.
“Kita ketahuan!?”
“Mau lari? Hihihi jangan mimpi....”
“Tim penyihir!? Cepat bantu aku siapkan barrier!?” teriak Ryan panik.
CTAK!? PRANK....!!!
“Hah?”
Ekspresi Reiko berubah gelap sebab ketika hendak mengayunkan tangan tuk menyerang, pergelangannya ditangkap oleh seseorang. Bukan hanya itu saja, jurusnya entah bagaimana menghilang tanpa bekas. Semua penonton di bawah tentu ikut terperangah.
“Bukannya sombong, namun carilah lawan seimbang....”
JDASSS...!!!
Reiko berbalik melancarkan serangan, pukulannya sekali lagi berhasil ditahan dengan mudah. Sementara seluruh kristal yang ia buat untuk menyerang pecah berkeping – keping menjadi partikel kecil sebelum sempat mendarat kepada sang target.
“Walaupun wujud luarmu sangat mirip Onii-chan kenapa....aku sangat ingin menghabisimu ya?”
“Begitukah?” Ten tersenyum kemudian menghempaskan Reiko ke tanah hanya berbekal ayunan pelan.
__ADS_1
“Tuan....?”
“Lanjutkan evakuasinya, selama aku masih ada tidak akan ada yang bisa mengusik kalian....”
“Apa dia....benar – benar Arya?” ujar Nashumi keheranan.
“Jangan bengong saja!? Ayo bergerak!!!”
><
“Mmm...ah....aku bingung cara menjelaskannya bagaimana? Intinya aku di pihak kalian”
“Kalau demikian....cepat kembalikan tubuh teman kami!” Zayn menggeram sembari mengeluarkan senjatanya.
“Jika kau berkata begitu aku jadi terkesan jahat sekali, dasar tidak sopan. Lagi pula aku sudah meminta izin dan diperbolehkan menggunakannya....”
“Omong kosong!”
“Hah....anak – anak zaman sekarang apa semuanya kurang sabaran begini ya? Mau gimana lagi?” Ten mengela napas.
Belum sempat delapan Elementalist bergerak meyerangnya, dia melakukan satu gerakan cepat menyentuhkan telunjuknya ke setiap dahi mereka dalam sepersekian detik. Ledakan ingatan yang menjelaskan segala situasi sekarang menghujam benak pemuda – pemudi tersebut sampai kaki masing – masing melemas saking terkejutnya.
“Paham mengapa aku sulit menyampaikannya? Tunggu dulu....kok buru – buru sekali?”
BUAKH!?
“Ugh!?” Xavier jatuh terjerembak ke tanah dengan sekujur fisiknya terjerat benang entah sejak kapan, setiap ujungnya tersambung pada jari – jari Ten.
“Kuat....banget!”
“Baiklah, karena kalian mulai memahami kondisinya jadilah anak penurut dan tunggu hinga semua perisapannya selesai....”
“Hey!? Tetapi kami—“
WUSH....!!!
“Semuanya....jika gambaran ingatan tadi benar maka....”
“Ya....orang itu....berencana membuka gerbang antar dimensi” kata Asuna menelan ludah berat lalu saling bertukar pandang bersama teman – temannya.
><
“Cih!? Rencana kita gagal....” Louis perlahan membuka matanya.
“Boss!?”
Mira dan James segera mengambil posisi di hadapan Louis, ketiganya melihat ke satu arah yang awalnya tidak ada siapapun di sana kecuali debu yang tertiup angin. Detik berikutnya sosok Ten muncul begitu saja sambil berjalan santai dengan senyum khasnya.
“Mengincar kelemahan lawan memang merupakan teknik dasar dalam berperang, namun aku tak menyangka kau selicik itu....bahkan sampai mengirim mereka....”
“Dan kau menyadarinya serta menggagalkan semua upaya tersebut dalam sekejap....”
“Bagaimana ya? Hawa membunuh yang dikeluarkan terlalu pekat sih....”
__ADS_1
JDUAR!!!
Tanpa peringatan tiba – tiba ada sesuatu jatuh tepat di antara kelompok Louis dan Ten berdiri, saat pengelihatan masing – masing kembali normal akibat terhalang hamburan tanah. Mira maupun James terpengarah melihat Xavier juga Reiko pada posisi terkunci oleh dua pria yang mirip sekali sosok di hadapan mereka.
“SIAALLLL....!?”
Teriakan Reiko menggetarkan tanah sekaligus udara sekitar, tapi sekeras apapun usahanya dia tidak bisa melepaskan diri. Meronta pun kesulitan, keduanya hanya terbujur kaku seolah darah tak mengalir dalam badan sepasang kartu as ciptaan Louis tersebut.
“Nona? Jangan lakukan tindakan tadi lagi, itu mengganggu ketertiban umum....kalau masih keras kepala....biar kucabut saja lidahmu”
“Ada....tiga?” celetuk Mira bingung.
“Kenapa heran begitu? Kalian melakukan eksperimen terhadap Elementalist bukan? Masa tidak pernah melihat klon?”
“Mustahil....orang ini....menangkap Xavier serta Reiko hanya berbekal tiruan dirinya!?” James menatap bolak – balik dua Ten lain di hadapannya.
Masing – masing Ten menyatukan jari tengah maupun telunjuk mereka sebelum berbisik pelan dekat telinga Elementalist pihak Fatum. Awalnya tak terjadi apa – apa sampai tubuh keduanya terus melesak ke tanah secara bertahap.
BRUAK!!!
“ARGHHH.....!?”
“Apa yang—“
“Bukan hal istimewa, aku cuma memerintahkan gravitasi pada area mereka berada ditambah sepuluh kali lipat....”
“Mana ada kekuatan sekonyol itu!” bentak James sambil hati – hati menyiapkan alat kendali jarak jauh satelit khususnya yang tersembunyi di balik punggung.
“Eh....kau yakin sekali, padahal aku bahkan bisa—”
“Mira? James? Kita harus keluar dari sini bagaimanapun caranya....”
“Memerintahkan pembuluh darahmu meledak seperti ini....Bang!” Ten membentuk tangannya seolah pistol lalu menembak bersamaan dengan menyatunya kembali klon miliknya.
PSYASSS! CRAT....!!!
Seluruh lengan James yang memegang alat kendali hancur berkeping – keping, menandakan kalau sedari awal Ten telah menyadari rencanannya. Melihat darah rekannya bercucuran kemana – mana, Mira langsung menyerang Ten menggunakan tongkat cahaya andalannya.
Ten menunduk menghindarinya terus menarik pakaian Mira sampai gadis tersebut masuk ke dalam jangkauannya, namun ketika tendangannya hampir mengenai kepala Mira. Kaki Ten menjadi kaku hingga menyebabkan hembusan angin yang memporak porandakan bangunan di sisi kanan Mira.
“Ehhh....? Nona? Bisakah kau mengatakan padaku alasan mengapa pemilik tubuh ini berusaha keras tak melukai—“
Pandangan Ten menajam saat menyadari kedatangan Louis dengan sabit raksasa siap diayunkan dari belakang punggung anak perempuan itu, terlihat jelas melalui matanya ia tidak ada niatan berhenti menyerang demi melukai Ten meskipun harus ikut membelah sekutunya.
SRATTT....!!!
Author Note :
Sabar ya kawan - kawan, saya masih ada hutang Ujian Kompre dan beberapa urusan urgent lainnya -.-"
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.