Elementalist

Elementalist
Chapter 113 - Fallen


__ADS_3

Kizuna berusaha mengabaikan keriuhan festival dengan memandangi bulan purnama indah yang menghiasi langit malam, dia akhirnya memutuskan untuk duduk sebentar setelah melakukan patroli beberapa kali mengelilingi tempat itu dari atas atap – atap rumah.


Memikirkan tentang kejadian akhir – akhir ini dan juga apa yang akan terjadi ke depannya, tiba – tiba rambut tengkuknya berdiri menandakan sesuatu telah terjadi. Ia menoleh ke belakang tepat di mana menara pengawas kota berada.


Bangunan tersebut dijaga ketat oleh pasukan – pasukan terlatih selama dua puluh empat jam karena merupakan pendeteksi utama kegiatan – kegiatan ilegal di wilayah Zoonatia, sambil mempersiapkan anak panah Kizuna pun melesat ke sana.


Betapa terkejutnya si gadis rubah ketika mendapati para penjaga sudah berhasil dilumpuhkan, belum sempat dirinya melakukan sesuatu untuk merespon. Acara utama kembang api dimulai bersamaan dengan munculnya sebuah sinyal asap berwarna kehijauan di udara.


Lansung saja terjadi kericuhan dari segala penjuru festival, asap tebal mulai membumbung tinggi. Orang – orang yang terkejut berlarian panik menyelamatkan diri. Situasi buruk tersebut memaksa Kizuna mencari bantuan shio – shio wanita lainnya.


‘Serangan?! Benar – benar terjadi sebuah pemberontakan di kota ini?! Sepertinya isu – isu itu benar adanya’


Baru saja dia menemukan lokasi tempat seharusnya teman – temanya berada, terdengar suara ledakan lalu perlahan asap hitam menyelimuti seluruh ruangan di dalam sana. Sesosok orang mencurigakan berhasil menyelinap kabur melalui jendela.


Sambil menggertakan gigi, Kizuna cepat –cepat mencabut anak panahnya. Pupil mata kuning milik rubah itu membidik target penuh konsentrasi, sambil membisikan sedikit mantra. Serangan hebat terbang membelah udara.



‘Tak akan kubiarkan kau lari! Pengacau!’


------><------


“Apa – apaan—!“


“Uhuk – uhuk! Bom asap!?”


Keenam anggota wanita Dua Belas Shio langsung bersiaga, tapi bagaimanapun tetap saja jarak pandang mereka terganggu. Suara lembut menerobos ke telinga masing – masing bagaikan alunan melodi pengantar tidur.


“Kalian sebelumnya menanyakan namaku bukan?—”


“Disitu!”


BRAK!


Tendangan keras Baekho menghantam sesuatu yang ternyata adalah meja, dia berdecak kesal karena gagal mengenai target. Walaupun kuat, Hebihime, Bunny, Baekho, Jilan, Zarane, dan Sheppya tau. Kalau orang ini misterius juga berbahaya.


“Baekho hati – hati! Jangan sembarangan menyerang!” peringat Hebihime.


“Wah wah wah hampir saja tulangku remuk semua, orang – orang biasa memanggilku Arya. Camkan itu baik – baik, sampai jumpa! Hehehe”


Kemudian entah bagaimana semua jendela di ruangan tersebut membuka secara bersamaan, sehingga keenam shio melakukan serangan ke berbagai arah. Cepat – cepat mereka berusaha mengejar namun terpaksa berhenti begitu melihat suasana kota.


“Kita harus mengejarnya!” Bunny bersikeras.


“Sudah tidak mungkin, dia membaur dengan warga sipil. Sheppya segera kirim permintaan bantuan ke Ibu Kota Rimba” perintah Jilan.


“Segera”

__ADS_1


“Hah....laki – laki yang dibawa Bunny ternyata seorang pembuat onar, tapi....nama Arya ini tidak terdengar asing....di mana aku pernah mendengarnya ya?....” Zarane terlihat berpikir.


“Tak ada waktu lagi, ayo segera bantu mengamankan kondisi kota” seru Baekho gusar.


TRING!


Semua orang tiba – tiba melebarkan mata, saling menatap satu sama lain dengan ekspresi kengerian di wajah. Deskripsi – deskripsi yang pernah mereka dengar mengarah ke satu individu, ancaman utama bagi organisasi Fatum.


“Kalian memikirkan apa yang kupikirkan?” Hebihime bergumam pelan.


“SANG ELEMENTALIST ES!? ARYA FROST!??”


------><------


SHHU!


Arya menggeser sedikit kepalanya sehingga terhindar dari anak panah berlapis Agnet kekuningan, bisa dirasakan jelas sorot mata tajam mengunci punggungnya. Si pengejar bergerak cepat melompat dari satu bangunan ke bangunan lainnya.


“Tuan Arya bahaya! Dia setingkat Mythical Werebeast” Rattus berdecit lemas.


“Bertahan, kita akan berusaha lepas darinya”


Tanpa pikir panjang, Arya segera turun ke jalanan ramai nan padat. Menyatu sebisa mungkin dengan para Werebeast di sana, seperti prediksinya. Hujan anak panah berhenti, nampak jelas orang yang mengejar tidak ingin melukai warga sipil.


Beberapa menit kemudian dia menyadari sesuatu, ternyata dirinya masih diikuti padahal kerumunan tersebut seharusnya dapat membuat konsentrasi si pengejar buyar. Namun nyatanya tidak sama sekali.


“Cih! Orang yang benar – benar gigih” desis Arya kesal.


Menggunakan manuver kelas tinggi, Arya berbelok dengan kecepatan mengesankan menuju jalur – jalur tikus yang entah berakhir di mana. Sialnya ia masih merasa dibuntuti.


“T..Tu...Tuan?! Kita mau kemana?”


“Mengalihkan perhatian, kita tidak bisa kembali ke markas sekarang. Itu sama saja mengunci seekor musang di dalam kandang ayam! Bagaimana kalau dia sampai membawa bala bantuan?”


“Jadi....anda....?”


“Huum, setidaknya yang lain berhasil kabur dengan selamat aku tidak apa”


Tak butuh waktu lama, pengejaran berlanjut sampai keluar Kota Klouvi. Anak panah kembali ditembakkan secara acak, perlahan tapi pasti Arya sadar kalau jumlah maupun keakuratannya bertambah baik dari waktu ke waktu.


Sampai titik di mana sepuluh anak panah berlapis Agnet kuning mengejarnya seakan memiliki pikiran sendiri, untuk melarikan diri Arya terpaksa menebang beberapa batang pohon sebagai pelindung agar semua serangan menancap di sana.


Ia juga tanpa lupa memasang jebakan menggunakan benang – benang miliknya, berharap orang itu terjerat dan tidak bisa mengekor terus padanya. Namun anehnya, ketika Arya yakin jebakan tadi berhasil. Seluruh benang perangkap tersebut berubah menjadi abu.


Seolah dibakar oleh api yang teramat panas, ditengah kebingungannya. Rattus tiba – tiba menjadi gelisah, tikus itu tak henti – henti berlari berputar dibalik pakaian Arya. Membuatnya sedikit merasa geli.


“Ada apa Rattus?”

__ADS_1


“Tuan Arya ayo segera berbalik arah! Kita berada di Barat Kota Klouvi!”


“Lalu?”


“Artinya ujung jalan ini buntu! Woaaa ....! Great Whale Belly Ravine!?”



Mata Arya melebar, sekujur tubuhnya merinding begitu melihat jurang selebar lima puluh meter hanya berjarak enam belas kaki dari lokasi ia sekarang. Bergerak karena insting, dia langsung melempar Rattus dan Bai menjauh tepat sebelum anak panah menembus betis kanannya.


Benang – benang mengikat kuat pohon di sana agar Arya tidak terjatuh ke tanah, namun sergapan cepat dari belakang membuat keduannya beguling – guling sampai ke bibir jurang. Itulah pertama kali mereka bertatap muka.


Seorang gadis bertelinga rubah balas menatap Arya sambil menindihnya, dia berusaha berontak tetapi sesuatu berambut nan lembut mengikat kedua pergelangan tangan si Elementalist.


‘Tiga ekor?!’


“Kena kau! Tak akan kubiarkan lari lagi!”


“Hehh....sayang sekali aku harus berhadapan sebagai musuh dengan gadis cantik sepertimu”


“Apa!?—“


JDUK!


Memanfaatkan kelengahan sesaat, Arya menendang perut gadis itu sampai tubuhnya melayang ke angkasa. Kemudian berlari cepat kembali ke hutan, Rattus serta Bai sudah menunggunya di sana.


“Tuan?!”


“Jangan harap!”


WUSH!


“RATTUS!?”


Arya membelokkan tepat waktu anak panah yang mengarah ke Rattus, benda tersebut menancap pada tanah kemudian meledak. Tanpa disangka – sangka mengakibatkan seluruh tepian jurang mengalami longsor, Rattus dan Bai terpental menjauh.


Sementara Arya bersama si gadis pengejar tidak nampak batang hidungnya, tergesa – gesa tikus kecil itu juga si bayi ular putih mencari keberadaan mereka. Nampaklah Arya menggelantung lemah hanya pada sebuah dahan pohon kecil.


Dia berhasil mengikat benang terakhir di sana, sementara tangan sebelahnya menjerat tubuh gadis rubah tadi yang sudah tak sadarkan diri menggunakan benang. Jauh beberapa meter lebih rendah dari posisi Arya sekarang.


“TUAN!? BERTAHANLAH! KAMI AKAN SEGERA MEM—“


“Rattus? Bawalah Bai pulang ke markas, ceritakan situasinya pada yang lain” bisik Arya lemah.


“Ba...baga...bagaimana dengan Tuan?”


“Hmm....aku akan baik – baik saja”

__ADS_1


KRAK!


“TIDAK....!!!”


__ADS_2