Elementalist

Elementalist
Chapter 235 - Departure


__ADS_3

“Huuh....ahh...jadi ini....aroma kota Manusia....”


Seorang pria berpakaian tertutup menghirup udara dalam – dalam ketika akhirnya berdiri di dekat lubang yang tercipta pada dinding berkat ledakan lingkaran sihir, pemandangan sekilas kulit berwarna hijau ditambah ekor serta lidah panjang cukup sebagai pertanda dia adalah Werebeast tulen.



Sementara dirinya menikmati kekacauan kota, rombongan – rombongan Demon kelas teri berjumlah banyak terus bermunculan melalui portal. Tapi sang bunglon tidak terlalu terganggu, sayangnya bau darah segar menyebabkan perutnya berbunyi.


“Kingka?”


“Hmm...? Apa?”


“Aku harus mengingkatkanmu tujuan utama kau berada disana....”


“Heh!? Kau sungguh mengira aku sudi mendengarkanmu mata empat?”


“Berhenti memangilku begitu, aku punya nama. James, bukankah aku sudah mengatakannya sebelumnya?”


“Jangan memerintahku seenaknya Manusia rendahan....” Kingka tertawa mengejek.


“Baiklah, kau tau aku bisa kapan saja mengirimkan rekaman percakapan kita kepada Dua Belas Shio bukan?”


Ekspresi Kingka segera menjadi kaku, tangannya menggenggam kuat alat komunikasi sekitar gendang telingannya hingga sedikit retak. Meskipun mengerti semua ini merupakan rencana demi meraih kemenangan tetap harga dirinya merasa terluka diancam oleh Manusia.


“Kau menang brengsek, beritahu aku jalannya....”


“Nah....apa susahnya mengatakan itu sejak awal? Pergilah lurus ke arah barat lokasimu sekarang” sahut James terdengar puas.


Kingka melangkah menuju udara kosong dan terjun bebas menuju permukaan tanah Elemental City, perlahan wujudnya semakin transparan efek kemampuan kamuflase unik milknya. Jadi tepat setelah sukses mendarat, sosoknya sama sekali tak terlihat.


“Kemari?”


“Yap, jangan lupa mengaktifkan pengacau frekuensi sinyal yang kutitipkan padamu....”


“Caranya?”


“Kau hanya perlu menempelkannya kepada benda apapun sekitar situ....”


“Begini?”


“Bingo, peretasan dimulai....”


CTAK! CTAK! CTAK....!!!


Suara ketikkan James membuat Kingka menggerutu kesal, membayangkan mengerjakan misi sepanjang hari ditemani setan tersebut cukup membuat kepalanya berdenyut menyakitkan. Tiba – tiba gerombolan warga menarik perhatiannya, ia menjilati bibirnya penuh napsu membunuh.


“Oi? Aku sedikit lapar, tidak apa – apa bukan?” tanya Kingka dengan napas memburu.


“Hmm? Bossku ingin meminimalisir korban sipil lho....”


“Persetan untukku....”

__ADS_1


“Ya....terserah sih, yang jelas aku sudah memperingatimu jika sampai ketahuan....nyawamu taruhannya....” James berkata cuek.


“Hihihi...waktunya sedikit cemilan....”


------><------


Alalea termenung memikirkan penjelasan Pengawas Astral, kalau ras Manusia mempunyai kekuatan sebesar itu, mengapa mereka memilih diam dan berlindung dibalik nama besar Elementalist. Astral nampaknya mengerti arah logika sang putri Elf kemudian lanjut memberitahu faktanya.


Manusia pengguna Agnet sangatlah jarang, hanya ada satu banding sejuta kesempatan kemampuan istimewa ini muncul. Jumlah Manusia tidak bisa menjadi patokan anggota Hidden Suzerainity, beberapa memilih hadir ke permukaan seperti pahlawan perang sebelumnya namun kebanyakan memutuskan menutup diri.


Singkatnya adalah bagaimanapun menghadapi ras yang tiap orangnya mempunyai kekuatan merata tetap berat bagi mereka. Itulah dasar sistem Elementalist masih eksis sampai sekarang, perhatian Alalea teralihkan ketika Lee, guru Taekwondo Arya melepaskan tiga sepakan terhadap bongkahan besar reruntuhan bangunan untuk menembak jatuh sekelompok Wyfern.


Laki – laki lain muncul membawa sebuah tombak keemasan, ia melempar benda tersebut lalu berdiri diatasnya sebelum Lee menendang kembali pangkal senjata tadi sehingga si orang barusan melesat terbang ke udara menghabisi tiap makhluk bersayap mengerikan dalam jangkauannya.


“Apa dia mengetahuinya?” celetuk Alalea penasaran.


“Maksud anda Tuan Arya? Tentu lagi pula kedua pembimbingnya ikut termasuk, meskipun saya yakin Tuan Arya juga tidak tau jumlah pastinya...” Astral menunjuk Shu dan Lee.


Alalea kembali mengingat perbincangannya dengan Arya suatu hari seusai latihan, dia iseng bertanya mengenai pendapat Elementalist Es itu tentang Manusia. Arya menjawabnya dengan nada datar sambil mengatakan jika mereka hanyalah pengecut. Dulu ia tak mengerti alasan Arya berkata demikian tapi sekarang Alalea mulai paham perasaan kecewanya.


‘Kalau begitu kaupun sama bukan?’


‘Ketahuilah kau tengah bicara dengan Manusia paling pengecut di dunia....sayangnya mustahil aku menunjukan sikap itu....’


‘Kenapa?”


‘Karena aku punya hal penting yang harus dilindungi....’


“Eh? Iya?”


“Saya malu mengakuinya tetapi sepertinya kami gagal menghubungi para Elementalist, bisakah anda mengirim pesan kepada Tuan Arya agar mereka segera pulang?” pinta Astral sembari menoleh.


“Baik akan ku—“


Jawaban Alalea tercekat di tenggorokan sebab entah dari mana keluar dua sosok Ghoul Rare-Tier menyergap Astral melalui masing – masing sisi berbeda. Tepat sebelum serangan menyentuh kulitnya, Bianchi bersama Liquite datang menghabisi mereka dalam sekejap mata.


“Maaf aku terlambat....”


“Gio....kita butuh bantuanmu....”


“Ya....saya serahkan sisanya ke anda Tuan Putri....”


Alalea memberi anggukan mengerti, ketiga Pengawas Ujian langsung berpencar untuk membantu evakuasi. Sementara Alalea mengumpulkan Agnet alam, ketika menurutnya sudah cukup dia membuka mata sambil membisikan mantra pelan. Seekor kupu – kupu biru perlahan terbentuk melalui telapak tangannya.


“Arya!? Teman – teman!? Aku akan menyampaikannya sekali jadi tolong dengarkan baik – baik....Distrik Perunggu sudah berhasil dilumpuhkan....kalian harus segera kembali....Elemental City....diserang.....” jelasnya terus mengibaskan lengan membiarkan sihir itu pergi mencari orang yang dituju.


------><------


“Safira?”


“Huh!?”

__ADS_1


Arya mengerjap beberapa kali dan menemukan sebuah ruang hampa berwarna putih bersih di sekelilingnya, tak jauh dari lokasinya berdiri terlihat seorang gadis kecil berpakaian serba biru serta memiliki sayap maupun ekor membuang muka.


“Hey dengarlah....aku butuh bantuan—“


“Untuk apa? Agar kau bisa membahayakan nyawamu lagi? Jangan harap!? Pergi sana! Aku malas bicara denganmu!?” sahut Safira ketus tidak membiarkan Arya menyelesikan kalimatnya.


Sang Elemental Dragon masih kesal juga merajuk akibat tindakan semena – mena Arya dalam memasuki tahap Lord, meskipun sebenarnya ketiga atribut miliknya sama – sama menentang keputusan tersebut. Safira adalah yang paling keras menolak idenya karena mengetahui batas kemampuan fisik Arya belum mampu menahan besar tingkat kekuatan Elementalist.


Jangankan Lord, seratus persen Master saja ia masih terseok – seok. Jika bukan disebabkan oleh pengurangan drastis sudah Arya lakukan mungkin kejadian seperti saat di Zoonatia dapat terulang kembali. Sejujurnya dia sadar akan kesalahannya namun menurutnya kalau teman – temanya berhasil selamat itu semua lebih dari cukup.


“Disanalah letak kesalahan pola berpikirmu dasar otak udang! Sesekali pentingkan dirimu sendiri!” Safira membentaknya usai mendengar isi benak Arya barusan.


“Kau tau—“


“Berhenti membantah! Mereka telah siap dan dewasa! Tidakkah kau mengerti betapa kecewanya kawan – kawanmu dianggap bagaikan beban!?”


Arya terdiam, si Elementalist menelan ludah berat mencoba mencerna ucapan Safira ini. Dia ada benarnya, mungkin sudah waktunya Arya membiarkan para rekannya berdiri sejajar bersama. Bukannya mengambil posisi paling depan kemudian berperan layaknya tameng.


“Safira....kau adalah harapan satu – satunya, kontak dengan Elemental City terputus. Mustahil mengharapkan alat telerpotasi, Ultra mengalami cedera cukup parah ditambah kehabisan tenaga selesai terbang ke sini.


Kecepatanmu sangat dibutuhkan....Ayahku, Paman, Bibi, Kemala, juga semua penduduk dalam bahaya. Kumohon....aku minta maaf atas seluruh kesalahanku....” bisik Arya membungkukkan kepala tulus.


“Hehhh....berjanjilah satu hal kepadaku....” Safira menghela napas panjang.


“Apa?”


“Kau tidak akan menanggung semua beban itu sendiri lagi di pundakmu....”


“Aku mengerti....”


Ketika kesadaran Arya sampai pada tubuh aslinya, Safira sudah siap berdiri dihadapannya dalam wujud naga. Mata birunya menatap tajam seakan menagih pernyataan Arya sebelumnya, Arya menoleh terus menemukan sembilan Elementalist lain telah siap berangkat.


Luka masing – masing sukses diobati oleh Rena maupun Selena, kondisi mereka perlahan pulih serta dipenuhi semangat demi mengurus masalah baru yang tengah merundung lokasi tujuan berikutnya. Tiap orang buru – buru menaiki badan Safira lalu berpegangan kuat – kuat sementara Arya bertengger di atas kepalanya.


“Teman – teman....maaf, aku sungguh menyesal....”


“Kenapa tiba – tiba kau bilang begitu?” celetuk Asuna heran.


“Tenanglah....masih belum terlambat, semua bakal baik – baik saja....” Timothy berusaha mencairkan suasana.


“Aku mohon bantuanya....kali ini....kupercayakan punggungku kepada kalian....”


“IYA!!!” jawab mereka lantang.


WUSHH....!!!


Safira mengepakkan sayap dan melesat ke angkasa dengan kecepatan mengerikan, bahkan Arya sendiri pertama kali merasakan sensasi mobilitas tertinggi sang naga. Safira menembakkan api kebiruan melalui mulut sehingga membentuk cincin membara terang, dia melewatinya kemudian mengakibatkan setiap inci tubuhnya membara sekaligus menambah daya lajunya seperti Novis dahulu. Para Elementaslist berangkat menuju medan pertempuran tuk melindungi tempat yang mereka sebut sebagai rumah dan orang – orang terpenting bagi diri masing – masing.



^^^

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2