
“Kau yakin mau menjaga jarak sejauh itu sampai kita keluar?” Arya menoleh sambil bertanya.
Saat ini keduanya telah memasuki gua yang mereka temukan di dasar Great Whale Belly Ravine, membawa masing – masing satu obor. Arya dan Kizuna berjalan menyusuri lokasi tersebut mengikuti arah arus sungai.
Tetapi tanpa alasan jelas gadis itu menjaga jarak sekitar lima meter dari Arya, membuat Arya cuma bisa menghela napas sebelum menggelengkan kepala heran. Terjadi sebuah dilema pada diri Kizuna, ia ingin segera kembali dan melaporkan semua kejadian kemarin malam.
Namun untuk melakukannya dia harus melewati gua ini terlebih dahulu, sementara rasa geli kepada makhluk – makluk berwajah seram di sana membuat tubuh perempuan yang hanya menghabiskan waktu di kuil hampir selama hidupnya bergidik ngeri.
Karena terpaksa Kizuna pun memutuskan mengikuti Arya hingga keluar gua, namun harga dirinya menolak keras dan membuat terbentuknya jarak diantara keduanya. Dia juga masih sedikit kesal akibat dipermainkan oleh Arya beberapa waktu lalu.
“Terserah kau sajalah, jangan sampai tertinggal lho”
Arya melanjutkan langkahnya dengan mantap, gua itu memiliki langit – langit tinggi juga udara lembab yang disebabkan oleh keberadaan sungai misterius di dasar Great Whale Belly Ravine. Hal ini menjadikan tempat tersebut sebagai rumah nyaman untuk kelelawar.
Tentu bukan hewan bernama kelelawar biasa pada umumnya, mereka memiliki tubuh seperti serangga disertai empat buah mata. Juga mulut berbentuk capit yang terus meneteskan cairan berwarna kehijauan.
Arya mulai sedikit mengerti perasaan Kizuna setelah melihat dengan mata kepala sendiri, beberapa diantaranya langsung terbang menjauh ketika menyadari keberadaan dua orang asing di rumah nyaman mereka. Sisanya memilih diam memperhatikan.
Ternyata panjang tempat itu tak sesuai prediksi. Terbukti begitu berjalan mungkin sekitar satu jam, belum ada tanda – tanda pintu keluar. Akibat jalan yang harus dilewati penuh tikungan berkelok – kelok ditambah kontur tanah buruk membuat tenaga keduanya terkuras lebih cepat.
Akhirnya Arya memilih duduk untuk beristirahat sejenak, disusul oleh Kizuna beberapa menit kemudian. Kesunyian menyelimuti mereka, cuma terdengar derak kayu api unggun buatan Arya dan aliran air sungai.
Entah karena lelah atau apa, tanpa sadar Kizuna terlelap. Gerakan tiba – tiba membuat si gadis rubah siaga, dia mendapati Arya sudah berdiri di sebelahnya sambil menyodorkan bungkusan yang terbuat dari daun.
Begitu dibuka, nampaklah hidangan ikan hasil tangkapan sebelumnya. Kizuna mengerjapkan mata puluhan kali, seolah berusaha memahami situasi itu. Pandangan mereka kemudian bertemu.
“Kau tidak mau? Atau tidak suka?”
“Terima kasih...” bisiknya setelah terdiam beberapa saat.
“Huum sama – sama” Arya kembali ke posisi semula.
“Tapi jangan salah sangka....berbuat baik padaku tidak mengubah kenyataan kalau dirimu adalah pemberontak yang harus ditahan”
“Iya – iya tentu, berusahalah”
Jawaban enteng Arya membuat dirinya semakin kesal, Kizuna tak pernah tau menyantap ikan dalam kondisi seperti sekarang sangatlah nikmat. Saat sedang asyik menjilati jari – jari tangannya, suatu cairan menetes pada tengkuk putih bersih si gadis rubah.
Ia mendongak lalu mematung seketika, sekitar lima ekor kelelawar penghuni gua balas menatapnya sambil memperlihatkan mulut terbuka lebar. Sepertinya aroma ikan bakar menarik perhatian mereka.
“KYAAA!!?”
“WOAA?!”
BRUK!
__ADS_1
Arya terlambat merespon sehingga ikut terjatuh akibat lompatan ketakutan Kizuna ke arahnya, wanita tersebut merangkul tangan orang yang menjadi target penangkapannya malam tadi, tubuhnya gemetar hebat tak mampu mengendalikan diri sendiri.
“K..ka..kau tidak apa – apa? Itulah mengapa aku bilang sebelumnya tidakkah kau berdiri terlalu jauh?” tanya Arya sedikit gelagapan akibat teriakan mengagetkan Kizuna.
“Ugh...hiks...hiks....”
“Hey—“
“Tidak....!!! K..ku..kumohon....jangan pergi....aku takut sekali huuu....” Kizuna merengek sendu.
“Hah....apa boleh buat?”
Arya terus mengelus kepala Kizuna sampai akhirnya dia menjadi lebih tenang, saking nyamannya Arya punya firasat kalau gadis itu sempat tertidur sejenak.
“Pfft!? Hehehehe....”
“Mmm? A...ap..apa yang kau tertawakan dasar bodoh!” Kizuna langsung terbangun.
“Tidak ada....hehehe....hanya saja....setelah kupikir – pikir selain kucing, rubah ternyata bisa imut juga yaa....” gumam Arya terkikik geli.
------><------
Kemudian Arya beserta Kizuna melanjutkan perjalanan mereka, namun kali ini tanpa ada jarak sedikitpun. Setelah insiden air liur kelelawar Kizuna terus menempel pada Arya sampai – sampai dia merasa kewalahan.
Sekarang posisi keduanya berakhir dengan Arya berjalan di depan sambil memegang obor sedangkan Kizuna memegang erat bagian belakang bajunya, mengekor sungguh – sungguh seakan anak anjing yang takut kehilangan induk.
“Nee...? Ngomong – ngomong apakah namamu benar Kizuna?”
“Terdapat sebuah ukiran pada busur milikmu, jadi kupikir....”
Si gadis cuma membisu, tak menunjukkan respon sedikitpun terhadap pertanyaan Arya. Namun telinga rubah miliknya bergerak – gerak seolah mengisyaratkan kalau sebenarnya dia bimbang harus menjawab atau tidak.
“Tapi karena itu juga aku menyadari kalau busur tersebut sangat berharga untukmu, untung saja tak kujadikan bahan bakar api unggun. Salah ya? Maaf sebelumnya telah melihat – lihat barang milikmu tanpa izin” nampak raut wajah bersalah Arya diterangi cahaya obor.
“Emm emm, tidak. Kau benar, namaku memang Kizuna” sahutnya lembut sambil berbisik.
“Sungguh? Syukurlah! Aku sempat bingung harus memanggilmu apa sampai sekarang”
“Eee...k..ka..kau sendiri?”
“Arya”
“A-ri-ya?” ulang Kizuna berusahaa mencari ejaan yang benar.
“Mungkin sedikit sulit bagimu tapi begitu juga sudah tidak apa – apa”
“Nama yang aneh....”
__ADS_1
“Aku tidak ingin mendengar kata – kata itu darimu Nona” Arya menghela napas lelah.
Secara mengejutkan Arya berhenti sehingga Kizuna menabrak punggungnya, belum sempat dia protes karena rasa nyeri pada hidung. Indera tubuhnya juga menyadari sesuatu, perlahan mereka mengintip di tikungan terakhir dan melihat cahaya terang menerobos masuk ke dalam.
“JALAN KELUAR?!” teriak keduanya sambil saling menatap satu sama lain lalu berlari sekuat tenaga.
Udara segar langsung memenuhi paru – paru Arya dan Kizuna, muak mencium bau lembab gua membuat hal tersebut begitu nikmat. Pepohonan serta sungai jernih nan bersih menyambut mereka, tetapi rasa senang itu menguap sama cepat dengan kedatangannya.
“Kita....ada di mana....???”
“Mana aku tau, kalau kau sendiri yang merupakan penghuni tempat ini saja tak tau. Apalagi aku?” balas Arya menepuk jidat.
Lokasi tempat berdiri mereka terlihat seperti berada di kaki sebuah gunung, namun anehnya lingkungan di sana nampak belum terjamah oleh siapapun. Tanaman juga air masih sangat asri.
“Apa kita....terlempar ke dunia lain?”
“Jangan bodoh, kau terlalu banyak mengkhayal” Kizuna menegurnya.
“Itulah mengapa cerita ini bergenre fantasi”
“Kau mengatakan sesuatu?”
“Tidak, aku cuma menyampaikan pikiranku saja kok. Kau punya pendapat lain yang jauh lebih baik?” tanya Arya balik.
“Ahh, ahh” si gadis rubah menggeleng – geleng kebingungan.
Arya mulai berjalan mengitari tempat baru itu, merasakan tanah, air, dan tanaman di sekitar sana. Lelah sebab tak menemukan sesuatu yang istimewa dia pun memutuskan duduk pada permukaan sebuah batu berukuran cukup besar.
“Tetapi aku bisa memastikan satu hal”
“Apa?”
“Pasti ada kehidupan di sekitar tempat ini”
“Dan kenapa kau menyimpulkan begitu?”
“Sungainya, orang – orang selalu membuat pemukiman dekat sumber mata air sejak zaman dahulu. Masa hal sederhana macam itu saja kau tidak ta—WOAA!?”
TRING!
“Hmm? Arya!? Hei!? Kemana perginya si pria menyebalkan, oi Arya? Di mana kau!? Cepat keluar dan berhenti bercanda! Ini tidak lucu!” panggil Kizuna sambil menoleh ke sana ke mari.
Author Note :
*Sumpah Mangatoon kocak kali, masa kata "t3t3k bengek" di chapter 108 disensor :'v Padahal jelas - jelas itu ada maknanya di KBBI lho, *** masa gw dikira mengatakan kata - kata tidak senonoh sih? Astaga sumpah kocak banget deh editornya. Yang pikirannya kotor elu kali wkwkwk.***
__ADS_1
Bonus buat orang - orang yang sudah mendukung cerita ini melalui vote, terutama untuk penyumbang tabungan votenya selama sebulan itu keren bgt sih, bisa masukin cerita yang gk pernah update dua bulan ke posisi 14 udh luar biasa. Apalagi saingan cerita di 20 besar rangking rata - rata readnya udh diatas 1 juta semua. Saya salut sama kalian, terima kasih telah menyukai dan mendukung cerita ini. Mungkin kedepannya bakal ada bonus lagi kalau Elementalist sering masuk di rangking 10 besar (Iyaa walaupun itu sulit mengingat kebanyakan selera pembaca disini adalah roman picisan). Sekali lagi thank you semua! Hiks! Jadi terhura (ekspresi makan enak diawal bulan).