Elementalist

Elementalist
Chapter 176 - Green Witch


__ADS_3

JDUAR!


Ledakan dari arah tempat para Penyihir Agung berada menyadarkan Merlin, sang Orange Witch segera berdiri di tengah kepanikan podium penonton. Ribuan massa beralalu lalang berusaha keluar secepat mungkin akibat aura intimidasi kuat kelima sosok berzirah tadi.


Merlin berlari sambil mengarahkan payung miliknya ke leher, “PANITIA!!! LAKUKAN EVAKUASI UNTUK ORANG – ORANG! SIAPAPUN YANG MASIH SAYANG NYAWA TINGGALKAN TEMPAT INI SEKARANG!!!”.


Akibat sihir pengeras suara, teriakan Merlin menggelegar ke segala penjuru. Beberapa petugas memberikan anggukan satu sama lain sebelum bergegas mengikuti arahan gadis tersebut, sedangkan penyihir – penyihir tingkat tinggi asal lima akademi memilih tuk menetap.


Terutama karena mereka ingin mengetahui nasip masing – masing Kepala Sekolah, situasi arena benar – benar kacau. Seluruh siaran pada monitor mati serentak, asap hitam membumbung tinggi sehingga membuat penduduk Magihavoc bertanya – tanya akan apa gerangan yang sedang terjadi.


“Sihir Kuno.....sebenarnya siapa identitas asli bocah itu....White.....”


“Senior!?” Olivia muncul begitu saja dari udara kosong.


“Ikuti aku ke sana! Kita harus membantu Friska dan Morgiana”


“Tapi....bagaimana dengan pusaka – pusaka sihir?”


“Mereka ada dalam jangkuan para tua bangka, jangan terlalu dikhawatirkan. Kelimanya dapat diandalkan, tujuan utama kita sekarang hanya satu. Menangkap atau membunuh si biang keladi keparat”


“Dimengerti”


Kedua Seven Arcenciel Witch melompat lalu melayang anggun memasuki debu serta aura gelap arena tanpa pernah tau kalau tindakan tersebut merupakan kesalahan fatal dalam insiden ini.


------><------


“Ryan!? Jelaskan maksud—“


“Berisik, apa kalian masih belum mengerti situasinya?”


Dalam keributan dampak penggunaan sihir kunor Arya, Ryan berhasil melumpuhkan semua anggota The Figment Squadron yang lengah kala itu. Ia kemudian melucuti peralatan sihir mereka dan mengakhiri dengan memasangkan sihir pengekang pada sekujur tubuh pemuda – pemudi barusan.


“BERHENTI BERCANDA!!! BUKANKAH KITA PUNYA IMPIAN UNTUK—HPMH....!!!“


“Kaulah yang harus bangun, tujuan awal kami kemari memang demi hari ini” ujar Ryan dingin sambil menyebabkan mulut Ikey terkunci hanya menggunakan ayunan kecil tangannya.


“Bohong....” Fibetha berbisik penuh arti.


“Hehehe....hahaha....masak sih kalian sungguh berpikir aku dan Arya menganggap pertemanan kecil kita serius. Ayolah, kalian hanya bidak catur juga batu loncatan”


“Ryan....kau!?” kata Hanna berapi – api.


“Tatapan bagus, pertahankan itu baik – baik hingga kita bertemu lagi. Sampai jumpa....Figments....hihihi....” Ryan tersenyum sebelum menyusul sahabatnya ke medan pertempuran.


------><------


“Aluxium!? Apa kau benar – benar seorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai Penyihir Agung Class Exorcist!? Lakukan sesuatu padanya!!!” Rhilore membentak kesal sembari beradu serangan fisik melawan Percivale.


“Dia bukan Undead biasa! Jangan samakan makhluk panggilan sihir kuno dengan keroco – keroco satu kali pukul yang biasa kau hadapi!!! Hentikan ocehanmu karena itu tidak membantu sedikitpun!!!” balas Aluxium sengit kemudian menunduk menghindari tusukan.


“Bagaimana keadaan saudara Iruphior?”


“Pikirkan dulu nasip kita Pak Tua!”


“Oi Payne!? Apa kau punya—“


Sang wanita Necromancer cuma diam tak merespon, Loyal Knight – Percivale memiliki kombinasi pertahanan juga serangan berimbang. Berbekal perisai dan tombaknya meladeni keempat Penyihir Agung sekalipun masih bukanlah hal sulit.



Pada satu kesempatan, dia membenturkan kedua senjatanya hingga mengakibatkan gelombang kejut kuat. Mau tak mau memaksa mundur masing – masing kepala sekolah, melihat momentum tersebut. Percivale bergerak cepat ke lokasi pusaka sihir berada tuk memenuhi permintaan tuannya.


Waktu berusaha menggapai salah satu, lengannya terdorong mundur akibat pembatas tidak kasat mata. Namun si Ksatria menolak menyerah, kali ini ia memaksa untuk kali kedua. Percikan sihir mulai menyelebungi tubuhnya.

__ADS_1


“Jangan biarkan makhluk itu mencuri barang – barang bernilai tinggi di sana!”


“Bicara mudah! Swolb Niar!!!"


SYUU!!! DAARRR!!!


“Ups....maaf ya....tapi kalian tidak boleh mengganggu....”


“Apa!? Siapa?!”


“Halo....sudah lama ya....hehehe”


Sesosok berjubah hadir melindungi Percivale, sebuah payung hijau berasap bertengger manis di pundaknya. Menandakan kalau serangan Rhilore tadi lenyap menabrak benda tersebut, perlahan orang misterius barusan menunjukan wajah dibalik tudung pakaiannya.


“Green Witch....Eleanor Roseed!?”


“Biasa saja dong, kenapa kalian begitu terkejut?”


“Kenapa kau bisa berada di sini!?”


“Hmm...? Aku hanya menilai bakat – bakat muda ras Witch, memangnya tak boleh?”


“Sialan....jangan pikir kau bisa berbuat sesuka hatimu!” Rhilore menggertakan gigi murka.


“Ohh....berhenti membual, tanpa si tua Iruphior kalian mampu melakukan apa? Empat lawan satu sekalipun aku optimis menang” ejek Eleanor menutup payungnya.



“Kaukah dalang dibalik penyerangan ini?” Deviar bertanya serius.


“Tentu bukan, seperti kubilang sebelumnya. Aku hanya lewat, tetapi karena menurutku akan menarik. Kuputuskan memberi bantuan sedikit hihihi”


“Nampaknya dirimu terlalu sombong wahai Green Witch” bisik Aluxium sinis.


------><------


Merlin, Olivia, dan Ryan tiba bersamaan di dalam arena, kedua kelompok ini saling pandang satu sama lain. Ekspresi keterkejutan menghiasi wajah Olivia, sebab merasa familiar melihat wajah Arya.


“Kamu....White....kalian orang yang sama!?”


“Ahahaha....kau baru menyadarinya?” tanya Arya balik.


“Maksudku....aku memang tidak terlalu memperhatikan turnamen tapi—“


“Kau pernah berinteraksi dengannya?” Merlin memotong penasaran.


“Eee....ya senior ingatkan soal....”


Olivia menjelaskan tentang keterlambatanya ketika dimintai tolong mengawasi tubuh Merlin beberapa waktu lalu. Sementara Ryan mendekat ke belakang tubuh Arya dan berbisik. “Dasar brengsek! Kau menyembunyikan fakta memiliki sihir kuno bahkan dariku!?”.


“Apa aku punya kewajiban memberitahumu?”


“Cihhh....”


“Di mana mereka?”


“Telah aku urus”


“Bagus, kita tidak bisa melibatkan—“


“Hey!? Katakan siapa kalian sebenarnya dan tujuan datang ke Magihavoc!” seru Merlin lantang.


“....”

__ADS_1


“Tidak mau bicara ya”


“Pastikan kau merebutnya”


WUSH!!!


Bertepatan dengan Merlin mengangkat tangan, Ryan mengeluarkan sapu sihir kemudian melesat terbang ke tempat pusaka – pusaka hadiah turnamen berada. Saat itu juga keempat gadis barusan tersadar.


‘Mereka ingin mencuri.....’


“Jangan harap!”


Morgiana menggunakan satu hentakan kaki menerjang si anak laki – laki berambut kemerahan, tetapi sebelum berhasil menyentuhnya. Pukulan keras membuat sang Warlock kembali mendarat pada permukaan arena.


Memar yang terlihat menyakitkan menyelimuti lengannya, Giuliano sekali lagi berdiri di samping tuannya. Seakan kejadian barusan tidak pernah terjadi, sepersekian detik berikutnya Merlin langsung memberikan perintah.


“BERPENCAR! LINDUNGI BARANG – BARANG BERHARGA ITU!”


“Absolute King - Zulqar”


“King’s Authority!”



Seketika aura hitam membentuk sebuah lapisan mengelilingi seluruh wilayah arena dalam waktu singkat, gagal keluar menyebabkan Merlin, Friska, Morgiana, dan Olivia kembali ke posisi semula sambil saling menempelkan punggung membelakangi masing - masing.


“Aku berterima kasih karena kalian sudah datang kemari, jadi aku tidak perlu repot – repot mencari”


“Kater!”


“Hacep!”


“Laggnat!”


“Hutnur!”


JDUAR! JDUAR! JDUAR! JDUAR!


Keempat sihir barusan menghantam pelindung namun tak memberikan efek samping sedikitpun, malah serangan mereka seolah terlihat diserap olehnya.


“Jahatnya....kalian....tidak boleh pergi begitu saja dong”


“Kau....menjebak kami....”


“Hah? Kalian sendiri yang datang kemari ingat?” Arya menggaruk – garuk kepalanya heran.


“Segera hilangkan sekarang juga!!!” teriak Morgiana.


“Hanya ada satu pilihan untuk melakukannya, yaitu mengalahkanku. Ini akan menjadi pertarungan empat lawan empat yang menarik”


“White....” Friska menatap matanya dalam – dalam.


“Ahh....maaf belum memperkenalkan diri dengan benar. Nama asliku bukanlah White, tetapi Arya Frost. Elementalist Es. Senang bertemu kalian”


Fakta tersebut menampar wajah keempat gadis di situ, mereka bahkan seperti tak bisa mengekspresikan keterkejutannya.


“Elementalist....” bisik Merlin lirih.


“Yap, ayo kita selesaikan semua yang kita mulai....Merlin” Arya mengakhiri sambil menarik keluar Mandalika.


Author Note :


Dukung Author melalui Karyakarsa.com/ AryaFP (gk usah dikasi spasi). Karya Karsa merupakan platform mediasi fans agar bisa menunjukan apresiasinya secara langsung pada konten creator. Di sana kalian dapat memberi makan author untuk tetap bisa bertahan hidup di akhir bulan (All Hail Mahasiswa!). Harganya pun dijamin terjangkau sesuai pasar. Jangan lupa dijadikan Elementalist sebagai favorit supaya gk ketinggalan updatenya dan berikan bintang lima. Terima Kasih ^_^

__ADS_1


__ADS_2