Elementalist

Elementalist
Chapter 171 - Eleanor


__ADS_3

“Mooo....di mana ketua bodoh itu?!” Hanna menggerutu kesal.


“Oi....Ryan? Kenapa kalian tidak berangkat bersama sih? Jadi beginikan” ujar Kyra heran.


“Hah? Aku tak ingin mendengar hal tersebut dari orang yang sekamar dengannya ya! Dia bilang ada urusan, mana aku tau bakal terjadi seperti sekarang”


Setelah babak penyisihan berakhir, Five Heavenly Stars Tournament dilanjutkan pada hari berikutnya. Saat ini kesembilan anggota Figment Squadron cemas bukan main sembari melempar pandangan ke segala arah, sebab pemimpin mereka yaitu Arya tidak kunjung terlihat batang hidungnya.


Peraturan resmi turnamen menyatakan jika salah seorang tak hadir maka akan langsung didiskualifikasi, parahnya lagi untuk Ryan dan kawan – kawan. Pertandingan Figment Squadron A berlangsung sangat awal.


Sekitar urutan ketiga, Ryan bingung mengapa bisa bocah itu terlambat saat nyawanya jadi taruhan. Kalau sampai timnya gugur, semua orang tau pasti nasip Arya. Berpikir cepat Ryan akhirnya memberi arahan.


“Kita harus berpencar”


“Huum, baiklah. Aku dan Sierra mencari di podium” Laura bergegas pergi.


“Kami bagian sekitar luar arena” kata Fibetha mengajak Hanna juga Bella.


“Aku bersama Shaqihr memeriksa toilet” Ikey menambahkan.


“Oke, jangan lupa perhatikan waktu baik – baik. Kita harus segera berkumpul ketika dipanggil, Kyra ayo pergi melapor ke panitia siapa tau antara jadwal tim A dan B dapat ditukar”


“Baik”


“SI Uban-san itu....benar – benar.....” deham Ryan pelan sambil terburu – buru.


------><------


“CELAKAAA!!!”


WUSH!


“KYAA!!!”


Arya melesat memaksa kedua kakinya untuk bergerak sampai batas maksimal, menyebabkan angin kencang berhembus menerbangkan banyak barang di tepi jalanan kota Magihavoc. Orang – orang sigap menghindar akibat menyadari bahaya tersebut.


“Hei bukankah itu....White?”


“Permisi! Permisi! Duh....semalam memangnya aku makan apa sih?” gumamnya mengingat waktu tiga jam yang dirinya habiskan di dalam toilet.


Sambil sesekali melirik monitor disekitar, dia menggigit bibir bagian bawah berdoa supaya tidak terlambat. Ketika lokasi arena turnamen mulai nampak dikejauhan, Arya makin semangat. Tetapi sebuah pemandangan keji membuatnya berhenti.


“Gunakan matamu sewaktu berjalan wanita tua!” hardik seorang pemuda kesal.


“M..ma...maaf....saya tidak—“


“DASAR MANUSIA SAMPAH!”


BUAKH!


“Saudaraku, kumohon maafkan beliau”


Arya berhasil menyusul dalam sekejap berdiri menjadi pemisah antara kedua orang yang berselisih tersebut. Mengakibatkan semua warga terkejut bukan main, si pria mengeryitkan dahi merasakan genggaman pada pergelangan kakinya tambah kencang seiring berjalannya waktu.


“Kau pikir siapa—“


“Pergilah, selagi aku masih bicara baik – baik” sorot mata Arya berubah tajam seolah berkata ‘jika melawan kupatahkan tulang – tulangmu’.


“Cih!? Lepaskan! Lain kali urus budakmu dengan benar brengsek! Lihat apa kalian hah!?” serunya sebelum menjauh, wajahnya merah padam campuran murka juga malu.


“Hah....Nenek baik – baik saja?” Arya menghela napas lalu menoleh sembari tersenyum hangat.


“Tuan muda....hamba....”

__ADS_1



“Izinkan aku....”


Arya cekatan memungut belanjaan wanita tua lusuh itu walaupun terus ditolak olehnya, setelah seluruh barang terkumpul. Arya membopongnya seorang diri tanpa kesulitan, mengakibatkan mulut nenek barusan membuka lebar.


“Mungkin kalau menggunakan sihir bisa lebih mudah, tapi kupikir begini akan jauh lebih cepat”


Nyatanya prediksi Arya meleset, tempat tinggal sang nenek berlawanan arah dengan lokasi tujuannya yaitu arena. Berusaha bersabar mengikuti langkah pelan perempuan sepuh tersebut, mereka akhirnya sampai. Ia meletakkan bawaanya tergesa – gesa.


“Terima kasih Tuan Muda....padahal anda sedang terburu – buru tapi aku malah....”


“Ahahaha...tidak apa – apa nek. Tak usah dipikirkan”


“Andai saja semua Witch seperti dirimu...hahaha aku ini bicara apa” si nenek tertawa lemah.


“Psst!? Nek? Aku....Manusia lho....hehehe”


“Eh?”


“Kalau begitu saya permisi, jaga kesehatan ya....sampai jumpa!!!”


Arya meninggalkan wanita tua barusan yang masih memasang ekspresi kebingungan, berbekal siaran monitor. Arya tau kalau sepertinya anggota Figment Squadron lain mampu mengulur waktu, sayangnya giliran tim A akan berlangsung bertepatan setelah berakhirnya pertarungan sekarang.


“Kumohon....sempatlah—WAA!!!”


“Kyaa!!!”


JDUK!


Tiba – tiba secara mengejutkan ada sesosok perempuan berjubah keluar dari salah satu gang, karena telat menyadarinya. Arya gagal mengerem dan terpaksa menubruknya, keduanya jatuh terduduk di tanah sambil memegangi kepala masing – masing.


“Aww....”


Kaget, Arya langsung mengatur napas kemudian mengambil posisi duduk bersila. Matanya memejam seakan menahan sesuatu, orang tadi melirik melalui balik tudung jubah miliknya. Bertanya – tanya dalam hati mengapa anak laki – laki aneh berambut putih ini bermeditasi.


“Hei? Kau baik – baik saja—“


CTAK!


Arya menggenggam erat lengan sang sosok misterius, wajahnya menjadi serius. Mata mereka bertemu, biru dan merah saling menatap satu sama lain. Ia berusaha melepaskan diri tetapi Arya tidak membiarkannya.


“Kau....”


“Ekh....lepaskan....tolo—“


“Teriaklah, agar orang – orang semakin bertanya apa yang dilakukan Elf sepertimu di Magihavoc” volume suara Arya pelan sehingga hanya dirinya serta gadis itu dapat mendengarnya.


DEG!?


“Eh?”


------><------


Ketika benturan sebelumnya, Arya merasa tubuhnya dialiri sensasi sengatan listrik familiar. Sehingga tanpa menunggu lebih lama mencoba menahan perubahan fisiknya sebab bisa menimbulkan kehebohan kalau sampai warga melihat kemunculan makhluk bertelinga panjang menawan di tengah kota.


Tidak memperdulikan wajah terkejut perempuan tadi, dia segera menyeretnya ke gang dekat situ kemudian memojokannya pada tembok. Begitu melihat ciri – ciri mata Rodria Arya memastikan jika sosok dihadapannya benar – benar seorang Elf.


“Bagaimana....”


“Katakan saja diriku sama sepertimu”


“Hah?....kau juga....? Masa sih.....”

__ADS_1


“Duhhh....sebenarnya aku tak punya waktu untuk ini....namun aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja”


“Pfft!? Phuahahaha.....”


Gadis tersebut tertawa lepas mendengar perkataan Arya dan entah mengapa malah membuatnya tambah kesal.


“Apanya yang lucu!?”


“Hahaha...maaf....soalnya aneh saja, kitakan baru bertemu. Kok kau sangat perduli sih....hihihi”


“Bukannya hal wajar jika aku tak mau Elf sepertimu tertangkap lalu diapa – apakan oleh para Witch? Salah ya?”


“Wah wah wah kau menarik sekali, namaku Eleanor. Namamu siapa?”


“Senang berkenalan denganmu, aku—“


Arya gagal menyelesasikan kalimatnya akibat mendengar panggilan terakhir kepada anggota Figment Squadron dari siaran monitor. Ia terduduk lemas bingung harus berbuat apa.


“Kau kenapa?” Eleanor bertanya heran dengan perubahan sikap Arya.


“Eee....sebenarnya....”


Perempuan itu mengangguk – angguk sebelum kemudian bilang kalau dirinya bisa membantu Arya mencapai arena tepat waktu. Hal ini membuat Arya langsung berdiri kemudian memohon sungguh – sungguh.


Eleanor menjelaskan dia bukan melakukan teleportasi, tetapi cuma mendorong Arya dari lokasi sekarang ke tujuan menggunakan tenaga sihir.


“Jadi syaratnya kau minimal memiliki sihir pelindung cukup hebat agar tubuhmu tidak terluka”


“Aku bisa! Tolong bantu aku” Arya menggenggam tangan Eleanor penuh harap.


“Hahaha baiklah, mari kita lakukan”


Setelah mencari posisi pas, Eleanor menempatkan telapak tangan di punggung Arya. Siap menembak kapan saja, perlahan aura gelap merembes keluar dari tubuh pria itu lalu membentuk sesuatu seperti jubah berwarna hitam mirip sayap.


‘Apa – apaan....kekuatan ini!?’


“Eleanor aku siap”


“Ah...i..iya! Hitungan mundur, satu....dua....”


“Aku pasti akan membalas kebaikanmu” kata Arya menoleh tuk terakhir kali.


“Satniel!!!”


PSYUU!!! WUSH!!!


Energi kuat melemparkan Arya ke udara dan dalam hitungan detik ia sudah tidak terlihat lagi. Eleanor tersenyum kemudian membuka tudung yang menutupi kepalanya. Seorang gadis cantik berambut hijau indah panjang serta mata merah khas ras Elf berdiri menatap arah hilangnya anak barusan.



“Iya – iya maaf, berhenti protes dong Sea. Nanti juga bertemu lagi, kesempatan berikutnya kau pasti bertatap muda dengannya oke?”


 


Author Note :


Terima kasih untuk semua dukungan kalian, terutama yg tetap bertahan dan mengerti situasi penulis. Biarkan saja orang - orang munafik dan tidak sabaran meninggalkan cerita ini wkwkwk malah saya senang komunitasnya jadi bersih. Saya pun ingin update tiap hari tapi ya....ada yang namanya skala prioritas.


Oh iya btw, gw seneng bgt baca hate comment skrg wkwkwk. Soalnya rata - rata memperlihatkan kebodohan sendiri, bilang bosan tapi mau habis - habisin waktu buat baca ratusan chapter serta ribuan kata ya....ampun ngakak bgt. Tuolol bgt kan? wkwkwk.


Untuk yg sering spam promosi, panjang - panjang di cerita ini tunggu ya. Sabar, dah tak screenshot. Mau di report ke official Mangatoon/Noveltoonnya, komen lu di hapus tu karena mengganggu. Malah promosi dari reply komentar orang. Gw sampai hafal nama - nama lu, hargai gw sebagai yang punya lapak napa? Pantang menyerah itu bagus, tapi gk cukup sekali lu promosi? Yg lu incar pembaca dari cerita ini kan? Yaa....respectlah sama authornya (bahkan di GC jg skrg mulai, pengen tak hapus jadinya).


Sekali lagi terima kasih atas dukungan kalian, gk bisa gw balesin satu - satu tiap komentar. Arc Divina Academy akan habis 7 chapter lagi jadi selamat menikmati.

__ADS_1



__ADS_2