Elementalist

Elementalist
Chapter 223 - Cara Keluar


__ADS_3

SRRTT....JDUARRR!!! BOOMM...!!!


Kemunculan sinar kuning menyilaukan menarik perhatian Richard, terlebih lagi kejadian tersebut disusul suara gemuruh layaknya ada badai yang sedang mengamuk. Namun terdapat satu hal lagi alasan ekspresi wajah pria berjuluk Jack The Ripper ini menegang.


Bekas menara pemancar sinyal tempat Atalanta beroperasi terbelah menjadi dua dan jatuh ke tanah, menyebabkan suara debuman keras serta hamburan debu. Richard menyadari kalau perbuatan itu bukanlah tindakan mudah terlebih menghadapi si gadis pemburu, ketika masih mengamati dengan seksama. Bunyi khas arus listrik menggelitik telinganya.


Benar saja, waktu ia menoleh ternyata Kevin sudah berdiri hanya terpisah beberapa meter darinya. Penampilan sang Elementalist Petir mengakibatkan Richard tak mampu menyembunyikan senyum antusias. Sementara Kevin menatap dingin seolah siap bertarung mengerahkan segalanya, mata mekaniknya berputar cepat menemukan target.


“Wah wah wah kau sungguh berhasil mengalahkan wanita menyebalkan tersebut? Cepat juga hihihi...dan wujudmu sekarang cukup menarik bagiku, apakah jurusmu terinspirasi serta memanifestasikan Thunderbird?”



Tanpa mengubris pertanyaan memuakan Richard, Kevin langsung maju menerjang terus melancarkan serangan membabi buta ditambah kecepatan super tinggi. Tapi lawanya tetap tenang, Richard meladeni adu kekuatan menghadapi Kevin menggunakan berbagi trik maupun senjatanya.


“Ahh sesuai dugaanku, melihat dirimu yang terburu – buru nampaknya teknik ini mempunyai batasan waktu tertentu....biar kutebak...hmm....sepuluh menit mungkin....” kata Richard akhirnya sembari mengunci pergerakan Kevin.


Perubahan raut wajah Kevin layaknya jawaban konfirmasi teramat jelas untuk Richard, sekarang yang perlu dia lakukan hanyalah menunggu sampai batas kemampuan Kevin habis. Kevin bisa membaca taktik licik pria dihadapannya cepat – cepat mengumpulkan tenaga demi melancarkan teknik lain.


“Volt Desi—“


“No no no....Nightfall....”


Kepalan tangan Kevin yang hendak menembus jantung musuhnya tiba – tiba menabrak udara hampa, perlahan sosok Richard bertambah kabur digantikan asap kehitaman lalu menyelubungi seluruh pandangan bahkan badan Kevin.


Kevin berdecak kesal karena kehabisan kesabaran, ia mengibaskan kuat lengannya. Berbekal satu ayunan kencang angin berhembus meniup gas pengganggu itu, namun penampakan dibaliknya membuat Kevin kaget bukan main. Seingatnya dia tengah berdiri pada tanah lapang dihimpit hutan lebat tiap sisinya bertarung menghadapi para False Vanguard, tetapi saat ini jelas sekali dirinya berada di sebuah jalanan kuno.


Banyak orang berlalu-lalang disana, menandakan suasana khas senja warga pulang bekerja. Kevin merasa seolah sedang dipaksa masuk ke dalam buku sejarah, sewaktu mengedarkan pandangan waspada. Kevin sesekali menemukan rute rumit akibat jumlah gang kecil sekitar situ.


Entah berapa lama berselang, muncul seorang berpakaian seperti pihak berwajib mengendarai sepeda sambil mengumumkan soal kasus pembunuhan kemarin malam serta mengingatkan mereka supaya berhati – hati.


Mendengar pengumuman tersebut, semua buru – buru menuju rumah masing – masing berniat telah aman beristirahat sebelum sinar matahari benar – benar menghilang. Kevin mencoba menyapa salah satu nyonya berjubah panjang tapi diabaikan, seakan dia tak pernah ada.


“Cih!? Sisa durasi Wakiya Ronin Mode tinggal sedikit, aku harus segera mengalahkan—“


TENG TONG! TENG TONG!


Kevin langsung mematung, tepat ketika dia menoleh kondisi wilayah berubah drastis. Hanya ada cahaya redup lampu minyak sepanjang jalan, bunyi lonceng jam pertanda tengah malam makin menambah suasana mencekam. Kevin mengatur napas tuk menjernihkan pikiran sebelum suara senandung pelan mengusik pendengarannya.



“London Bridge is falling down....


JLEB!


Falling down.....,


JLEB!

__ADS_1


Falling down.....


JLEB!


London Bridge is falling down....


JLEB!


My fair lady....


“Ugh....hoek....!?” Kevin memuntahkan darah segar, tanpa asal usul jelas keluar lima buah linggis panjang menancap ke tubuhnya sampai ia tidak berdaya.


Kevin menyadari luka sebelumnya menghadapi Atalanta kembali terbuka karena tusukan – tusukan benda tajam itu. Dia merintih kesakitan namun tak kuasa bergerak, besi – besi tersebut seolah mengunci persendiannya.


Sebenarnya prediksi Richard hampir tepat, Wakiya Ronin Mode merupakan jurus pamungkas Kevin yang masih jauh dari kata sempurna. Kevin cuma bisa menggunakannya sekitar tujuh menit dalam kondisi prima, sebagai ganti kekuatan besar ini dirinya akan lumpuh sementara kurang lebih dua jam akibat efek sampingnya.


Itulah mengapa dia sangat berjuang keras mengalahkan Richard secepat mungkin, pandangan matanya mulai buram. Kevin menggigit bibirnya sendiri sekuat tenaga agar tetap terjaga, namun seluruh pengelihatannya terus meredup.


------><------


“Kapten?”


“Hmm?”


“Mengapa kau harus mematahkan jarimu saat melawan Zayn di final Ujian Pertama?”


“Apa tidak ada cara lain untuk menetralisirnya?”


“Kecuali kau berhasil membunuh penggunanya kupikir mustahil”


“Bagaimana kalau kita sampai sekarat dan masih terjebak?”


“Maka matilah....”


“HAH!?” teriak Kevin menggebrak meja kesal menerima jawaban lelucon Arya, sampai – sampai menyebabkan pengurus perpustakaan menegur mereka.


“Aku serius, penggunanya pasti menonaktifkan tekniknya saat lawan tewas....”


“Buat apa aku keluar dari ilusi jika sama saja dengan mati!?”


“Konyol bagi sembilan puluh sembilan persen orang, tapi kau mampu” Arya menunjuk tepat menuju hidung Kevin.


“Maksudmu?”


“Begini....dengarkan baik – baik Tuan Storm....”


------><------

__ADS_1


“Berakhir sudah.....” gumam Richard lembut terus berbalik ingin pergi usai melihat darah segar mengalir melalui telinga serta mata Kevin juga memastikan bocah tersebut tidak bernapas lagi.


Di saat – saat krusial ini, Richard terlalu percaya diri. Ia tak sadar kalau tubuh lemas yang ditinggalkan olehnya kejang – kejang dan tersentak secara berkala sambil mengeluarkan cahaya keemasan, begitu hentakan kelima kali Kevin membuka matanya kemudian mengaktifkan Wakiya Ronin Mode lagi.


SRTTT....!


“Hmm...? AP—KAU!? UGH!”


Kevin menyambar leher musuhnya secepat kilat, tanpa memperdulikan tatapan penuh tanda tanya Richard. Dengan cengkraman kuat, Kevin menyeret badan sang False Vanguard di tanah hingga membekas sepanjang puluhan meter.


Lalu untuk penuntasan membawanya melayang ke udara setinggi awan – awan, gemuruh petir menghiasi langit ditambah warna kuning menyilaukan. Detik berikutnya hantaman halilintar ribuan volt menghanguskan si laki – laki berjuluk Jack The Ripper.


“Grand Tesla....!!!”


JGER!!!


Kevin terjatuh bersama jasad lawanya akibat efek samping jurusnya. Ingatan mengenai diskusi bersama di perpustakaan melintas dalam benaknya.


‘Cari cara mengumpulkan energi listrik pada organ tubuhmu yang akan terpicu aktif saat jantungmu berhenti berfungsi. Dengan demikian ia bisa menyetrum dirimu hingga bangkit dari kematian, meski kupastikan itu bukan pengalaman menyenangkan....’


‘Bagaimana jika aku tidak berhasil bangun?'


‘Mmm....entahlah, aku belum memikirkannya. Secara teori persentasi keberhasilannya diatas rata – rata....’


‘Berikan aku bukti konkrit sialan!’


“He....he...he....terima kasih....Kapten....” Kevin berbisik lemah sebelum memejamkan mata sambil tertarik gaya gravitasi bumi.


------><------


“Ketemu!?”


Arya berhasil menyusul kendaraan penculik Reika berkat proses pelontaran unik Kevin, dia berjanji dalam hati kali ini untuk merebut adiknya bagaiamanapun caranya. Arya merogoh sesuatu dari balik kerah bajunya dan mengeluarkan satu buah tongkat hitam tipis.


“Datanglah....penuhi panggilanku....aku butuh bantuan kalian....”


Aura pekat perlahan merembes keluar pada sekitar kulit Arya, bayanganya memisahkan diri menjadi lima sosok makhluk. Dua berwarna hitam pekat, sedangkan sisanya putih berkilau, masing – masing memancarkan kekuatan yang tidak biasa.


“Giuliano, Percivale, Silvesta, Luisa, Zulqar....serang”



WUSH....!!!


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2