Elementalist

Elementalist
Chapter 183 - Lelaki Tulen


__ADS_3

Arya mengenakan pakaian kaos oblong putih yang dikombinasikan celana jeans masih dengan ekspresi wajah mengantuk. Ia keluar, mengunci pintu kamar dan melangkah lunglai. Beberapa menit lalu ada suara ketukan membuatnya terbangun dari tidur indahnya.


Setelah memeriksa, ternyata tidak ada siapa – siapa. Hanya nampak satu pucuk surat tergeletak di lantai, selesai membaca isinya. Arya pun segera bergegas memenuhi permintaan tertera dalam benda tersebut.


“Hoamm....mengapa para Pengawas memanggiilku sepagi ini?” dia menguap lebar.


Sesampainya ke Ruang Latihan, tanpa pikir panjang Arya masuk begitu saja. Ia mengernyitkan dahi bingung. “Kok gelap seka—“


PRITTT!!! TUTUTTT!!!


“SELAMAT DATANG KEMBALI!!!”


“WOAAA!”


Arya terlonjak kaget serta buta sesaat karena bunyi keras barusan juga lampu yang tiba – tiba menyala. Butuh waktu untuknya mencerna situasi, kesembilan Elementalist lain telah bersedia demi menyambutnya.


“Eh? Kalian....”


“Hahaha Kapten!? Ayo masuk, kami sangat merindukanmu” Tiimothy menariknya penuh semangat.


“Oi oi oi sabar—“


Sebuah meja berukuran cukup besar menghiasi ruangan, bentuknya serasi dengan sepuluh kursi kayu di sekitarnya. Arya didudukan pada salah satunya kemudian dihidangkan sajian – sajian makanan dan minuman.


Mereka semua bersikap seolah tak pernah terjadi apa – apa, hingga Arya sempat berpikir kalau kepergian selama enam bulannya memang bukan suatu hal yang perlu diambil pusing oleh kawan - kawannya.


“Semestinya aku tau, Pengawas Ujian mana mungkin menggunakan surat tuk memanggilku. Ada apa sih? Kapan kalian pulang? Tidakkah seharunya akulah yang mengucapkan selamat datang?”


“Hahaha agak membingungkan memang, secara kebetulan kami pulang berbarengan tengah malam tadi dari misi – misi berbeda”


“Ahh....begitu ya....Mmm? Apa? Tatapan kalian berlima membuatku merasakan firasat buruk” celetuk Arya melirik para gadis.


“Heh? Kami tak mengerti apa yang kau bicarakan” Selena membalas manis.


“Maksudku—Eh? Sebentar!? Kalian mau apa dengan tali dan selotip di tangan? HIYY!?”


Disitulah Arya tersadar kalau dia gagal menggerakan tubuh untuk lepas dari kursinya, lama kelamaan Asuna, Rena, Elizabeth, Lexa, dan Selena terus mendekat sembari memasang senyum sinis. Sampai akhirnya Arya sudah tidak terlihat lagi akibat dikerumuni oleh mereka.


“K...ka...kalian bercandakan? Ayolah teman – teman aku—TIDAAKK!!!”


GEDEBUK! GEDEBAK! GUBRAK!!!


“Maaf Kapten, ini diluar kemampuan kami” Timothy, Kevin, Zayn, serta Ali tak punya pilihan selain memalingkan pandangan.


------><------


“Kalian boleh masuk lagi” Elizabeth membuka pintu sambil berusaha menahan tawa.

__ADS_1


Ketika empat Elementalist laki – laki kembali ke Ruang Latihan, ekspresi wajah masing – masing bak orang tersambar petir. Itu disebabkan oleh tempat di mana seharusnya Arya duduk sebelumnya telah berisikan perempuan lain.



‘CANTIK SEKALI!??’


“Pfft!? Huahaha” tawa Lexa memecahkan suasana.


“OII!? BERHENTI TERTAWA!? KENAPA KALIAN MENDADANI AKU SEPERTI INI!? DAN APA – APAAN RAMBUT PALSU PANJANG MENGGANGGU DI KEPALAKU!?”


“Hehehe hukuman pantas untukmu, tapi....penampilannya membuat harga diriku sebagai perempuan sedikit terluka” Selena memperhatikan tubuh Arya dari bawah sampai atas.


“Kau benar” timpal Rena mengangguk setuju.


JEPRET!!!


“Hufth!?....akan kukirimkan foto ini kepada Reika, hihihi” Asuna segera membuang muka selesai mengambil gambar.


“ASUNA JANGAN BERANI – BENARI DIRIMU—EKH!?“


Arya tak sempat menyelasaikan kalimatnya karena Elizabeth melakukan terjangan lalu bergelantung pada lehernya, “Kak Aryaaa....!? Aku sudah memimpikan sejak lama memiliki kakak perempuan! Menikahlan denganku...!!! Much....”.


“Berisik sekali....”


“Woaaa.....kalian berempat tolong aku dong!!!” Arya menjerit histeris, wajahnya makin memerah. Malu akibat bertambahnya jumlah orang datang ke situ.


“Kapten? Sehari....saja! Berpura – puralah menjadi pacarku—“ pinta Timothy penuh harap.


BUAKH!


“Tidak secepat itu manusia besi! Nona manis, aku memang belum mengenalmu tapi—“


“Dinginkan kepala kalian dasar bodoh!!!” Arya menendang Kinichi hingga terpental jauh.


“Ahh....aku tau cara membuatnya semakin menarik” celetuk seseorang.


“Sial!?”


Pucat pasi, Arya memperhatikan Alalea mendekat. Ia tau pasti apa yang dipikirkan sang Putri Elf, perlahan gadis tersebut menyelinap lalu merangkul Arya dari belakang. Tubuh Arya mengeluarkan cahaya terang dan bertransformasi seketika, membuat gemuruh kumpulan orang di hadapanya kian membesar.


“Alalea!? Kau—“


“Hehehe rasakan balasan atas perbuatanmu kemarin, wekkk!!!” Alalea menjulurkan lidah jahil.


“Ahh....nampaknya aku salah terlahir sebagai wanita” Callista berusaha menahan darah yang mengucur dari hidungnya.


“Tidakkk!!! Siapapun hentikan kegilaan ini!!???”

__ADS_1


------><------


“Ke...na...pa....benda terkutuk....ini....tak....mau....le....pas!!!” Arya menjambak rambutnya sendiri.


“Dibiarkan saja, nanti terlepas sendiri. Bukankah mereka sudah bilang itu menggunakan bahan perekat khusus?” usul Zayn.


“Bicara saja sih gampang, karena dirimu bukan korban”


Arya tengah duduk bersama Elementalist pria lainnya untuk makan malam, tetapi akibat penampilan uniknya. Semua pandangan dari berbagai penjuru terkunci ke arahnya, membuat tubuh Arya bergidik ngeri tiap kali mendapati orang – orang memelototinya dengan konsentrasi tingkat tinggi.


Suara tekikik yang berasal dari meja para gadis menyebabkan telingannya memanas, dia meyipitkan mata penuh dendam sambil bergumam pelan, “Lihat saja nanti, akan kubuat kalian mendapat balasan berkali – kali lipat!!!”.


“Namun hukumannya tidak terlalu buruk Kapten”


“Tak terlalu buruk dengkulmu” sahutnya sinis menatap Timothy kemudian menjaga jarak dengannya.


“Hey tenanglah, maksudku semuanya masih tergolong manusiawi. Kudengar mereka lebih ceria karena kali ini tumben kau tidak membawa pulang perempuan lain kemari”


‘Aku juga mendengar hal sama’ Ali menambahkan.


“Bagaimanapun tetap saja! AKU LELAKI TULEN DASAR SIAAALLLL!!!” gerutu Arya mengacak – ngacak rambut sendiri dengan gusar.


------><------


Sehabis makan malam, seorang anak kecil pembawa pesan menyampaikan kepadanya kalau Pengawas Astral meminta ingin bertemu. Jadi akhirnya Arya berpisah bersama rombongan yang lain tuk menghadap.


Arya segera masuk ketika diizinkan, Astral duduk memunggunginya sebab sedang mencari suatu buku pada rak – rak di belakang meja kerjanya. Sewaktu ia berbalik, Arya sempat menangkap perubahan ekspresi sekilas.


“Terima kasih sudah mau datang Tu—saya baru tau kalau anda memiliki hobi—“


“Bisakah kita tidak membicarakannya?” potong Arya, urat sarafnya pelipisnya berkedut kesal.


Tau suasana hati Arya buruk, Astral tak berkomentar lebih jauh. Dia menyodorkan sepucuk surat berlambang menarik kepada Arya, sang Elementalist Es membolak balik benda tersebut beberapa kali sebelum membukanya begitu dipersilahkan.



Perlahan matanya menyusuri kata demi kata, tapi malah membuat raut wajah Arya terus bertambah buruk. Ketika sampai diakhir bocah itu bertanya pelan, “Pengawas....asal laporan ini....”.


“Sesuai tebakan anda, situasi Central Ocean teramat pelik. Gemuruh perang bisa pecah kapan saja, terutama disebabkan ekspansi besar – besaran Faksi Laut ras Werebeast yang bertujuan membentuk pemerintahan baru.


Ada tiga Mythical Werebeast di luar Dua Belas Shio memimpin pergerakan pasukan air siap tempur paling mengerikan tersebut. Sehingga mulailah terjadi senggolan antara mereka dengan pihak satunya”


“Kerajaan Dasar Laut....atau lebih dikenal sebagai Kota yang Hilang....Atlantos???” bisik Arya melebarkan mata.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2